Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
18. Pelepasan Tahta II


__ADS_3

Setelah itu dua hari kemudian Lucia bersama Jean dan pamannya menuju ke kediamannya di kotaraja. Sehari setelah empat bangsawan yang hadir kemarin, kembali ke kotaraja. Mereka sudah siap untuk menemui paman Lucia. Raja pengganti saat ini. Untuk memberitaukan keputusannya melepas tahta.


Banyak bangsawan yang mendengar kedatangan Lucia ke kotaraja segera datang menghampiri ke kediamannya. Hingga membuat Lucia mulai kualahan.


Dan di sore hari nya, saat Lucia selesai menemui seorang Dux setelah makan siang, ia berhasil melarikan diri dari bangsawan-bangsawan lain setelah itu. Dengan bersembunyi di pekarangan belakang kediamananya.


Lucia duduk disebuah bangku yang tampak tersembunyi dibalik sebuah pohon rindang tepat di sebelah pintu gerbang pekarangan. Itu adalah tempat yang dulu ia gunakan untuk bersembunyi dari para pelayan dan pengurusnya saat ia sedang tidak ingin bertemu mereka semua. Tiga tahun sudah ia meninggalkan kediamannya ini.


Lucia sedang bernostalgia mengenang tempat ini. Saat kemudian terdengar suara dari ujung pekarangan.


"Selalu bersembunyi ditempat yang sama itu bukan ide yang bagus bila tujuannya agar tidak mudah ditemukan oleh orang lain" seorang ksatria Narva yang tidak lebih tua dari Lucia muncul dari balik pagar. Bajunya perak mengkilat dengan garis biru terang melintang dibagian dadanya yang juga sama mengkilatnya.


"Lama tak jumpa Caspian. Eh, maksud ku Kepala Ksatria Bangsawan Caspian" ucap Lucia yang tampak sedikit terkejut mendapati ksatria muda bernama Caspian itu.


"Bagaimana kabarmu Lucia?" Tanya Caspian tidak menggunakan bahasa sopan. Rambutnya berjatuhan menutupi mata saat ia menunduk menatap Lucia.


"Selalu lebih baik ditiap kali kita bertemu" jawab Lucia dengan ceria.


"Sukurlah kau jadi lebih bersemangat" jawab Caspian seraya ikut duduk disebelah Lucia.


Ksatria muda bernama Caspian ini adalah satu-satunya teman kecil yang Lucia punya. Dia adalah anak dari bangsawan berpengaruh di istana. Dan hanya dia yang berani dan selalu berucap tanpa menggunakan bahasa sopan kepada Lucia.

__ADS_1


"Jadi bagaiman keadaanmu Cas?"


"Cerah penuh harapan. Apa kau sudah siap mengambil alih tahta? Apa ini saat-saat terakhir aku bisa memangilmu dengan sebutan kau atau dengan nama?"


Lucia tersenyum samar, kemudian menatap Caspian dengan serius lalu berkata, "Aku kemari untuk melepas tahta"


"Eh? Apa?! Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Tampak reaksi Caspian yang sudah diduga oleh Lucia.


"Tidak ada sesuatu yang terjadi. Aku hanya ingin memulai hal baru dengan membuat kota mandiri di tanah Pharos" jawab Lucia dengan tanpa beban kemudian.


"Apa kau sudah gila Luc?!"


"Yang benar saja? Setelah hilang selama 3 tahun, tiba-tiba kau muncul dengan menyerahkan tahta dan ingin membangun kota di tanah mati?"


"Ceritanya panjang Cas" ucap Lucia yang kemudian mulai menceritakan segalanya ke ksatria muda itu.


-


"Wah, itu cerita gila Luc. Kupikir aku sudah tidak akan pernah mendengar cerita tentang kelakuan aneh mu selepas kau hilang selama tiga tahun belakangan" ucap Caspian yang masih mencoba dengan keras untuk mempercayai cerita Lucia tersebut.


"Aku tahu. Nanti akan ku kenalkan kau dengan teman-teman ku. Pasti setelah kau mengenalnya, hal yang ku ceritakan tadi tidak akan terdengar gila lagi" jawab Lucia.

__ADS_1


"Dan siapakah mereka itu? Apa latar belakangnya? Dimana kau bertemu mereka? Apakah mereka seorang bangsawan?" Tanya Caspian kemudian berturut-turut dengan rasa penasaran dan tampak kuatir.


"Kenapa kau jadi bawel seperti orang tua, Cas?" Lucia membuat wajah sebal.


"Habis kau ini terlalu naif, suka melakukan sesuatu tanpa berpikir ulang terlebih dahulu" saut Caspian cepat yang langsung membuat Lucia diam tersipu. Lucia sadar bahwa ia memang orang yang seperi itu, jadi pantas bila Caspian menghawatirkannya.


"Oh iya Cas, apa kau punya kenalan seorang pedagang yang bisa membantuku untuk menilai bahan-bahan mentah untuk membangun tembok atau jalan batu?" Tanya Lucia membelokan topik.


"Apa kau sungguh-sungguh bertanya seperti itu?"


"Benar, aku butuh perkiraan nilainya untuk persiapan dana yang harus ku kumpulkan"


Terlihat Caspian menghembuskan nafas pelan, "Kurasa aku punya kenalan yang tahu tentang hal tersebut"


"Bisakah kau mengenalkannya pada ku?"


"Bisa saja tapi sekarang dia berada di kota dermaga di pesisir pantai barat, di kota Zeraza"


"Baiklah, bila semua urusan di kotaraja sudah selesai maukah kau memperkenalkanku padanya?"


"Kau ini, benar-benar serius ya?" Tanya Caspian meyakinkan diri sekali lagi. Yang hanya di jawab Lucia dengan anggukan cepat.

__ADS_1


__ADS_2