
Dan setelah 9 hari kemudian, terowongan setebal 8 kali kereta kuda yang menembus Dinding Sekai itu pun selesai dibuat.
Yvvone dan para Yllgarian nyaris tidak percaya dengan apa yang telah Nata lakukan, meski pun mereka menyaksikannya sendiri. Bahwa sedikit demi sedikit, lubang yang dibuat di bukit tersebut akhirnya menembus. Dan ujung dari lorong tersebut adalah tanah subur yang memiliki warna serba hijau dan menyegarkan.
Mungkin pemikiran pesimis tentang melubangi sebuah bukit, ditambah kecepatan waktu yang diperlukan Nata untuk berhasil menembus bukit tersebut, yang membuat mereka terkejut.
Berbeda dengan orang-orang yang selama ini berada didekat Nata. Batasan untuk mereka melakukan penilaian akan sebuah pekerjaan, sekarang sudah tidak sama seperti orang pada umumnya.
Meski pun mereka juga masih sering dibuat ternganga dengan hasil yang dibuat Nata, yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Sedang orang-orang dari desa Fla tampak benar-benar takjub dan juga gembira. Karena kini desa mereka dekat dengan kota yang akan dibangun oleh Nata dan yang lain.
"Ayo, kita kejutkan warga desa" ucap Fla mengajak yang lain untuk menuju ke desa. Sesaat setelah kereta bor itu dikeluarkan, dan para pekerja telah selesai membuat penyangga beton disekeliling pintu terowongan bagian sisi timurnya.
Tidak terlalu jauh jarak dari pintu terowongan itu ke desa Fla. Hanya saja karena medannya yang terjal dan naik-turun, maka butuh waktu lebih lama untuk sampai ke desa tersebut.
Dan jelas cerita Fla tentang jalan baru di sisi barat itu menggegerkan warga desa. Tak lama ayah Fla yang juga kepala desa, bersama beberapa warga yang penasaran, tampak datang untuk melihat pintu terowongan tersebut. Namun hanya dari jauh saja.
Karena menurut ayah Fla, tidak baik bertandang bila mereka belum menyiapkan apapun untuk diberikan sebagai hadiah perkenalan.
Sementara trio pemburu bersama para Yllgarian yang sudah mulai mereka kenal secara akrab, bergegas menuju ke hutan Sekai di sisi selatan tak jauh dari pintu terowongan baru tersebut.
"Dengan begini, anda sekalian sudah tidak perlu kuatir lagi berburu selama anda menunggu ditempat ini" Nata berucap saat kemudian ia ikut serta makan siang bersama para Yllgarian, di perkemahaan mereka bersama Yvvone, Siegfried, dan pekerja pembuat terowongan.
"Terima kasih tuan Nata. Saya sendiri hampir tidak bisa mempercayainya. Meski melihatnya dengan mata kepala sendiri. Bahwa anda membuat jalan menembus bukit persis seperti apa yang anda ucapkan" ucap Farel si macan kumbang.
"Itu semua juga karena bantuan dari nona Yvvone yang sangat penting dalam mempercepat pekerjaan ini" jawab Nata yang tampak kesusahan dalam mengunyah potongan daging.
"Kau mau mengejek ku di depan para Bijak? Jelas yang ku lakukan hanya mendorong kereta aneh itu maju. Dan membersihkan sisa debunya" ucap Yvvone yang terlihat jengkel. Sekarang gadis Aeron itu sudah mulai berbicara secara biasa dengan Nata. Itu karena dalam sembilan harinya membantu, ia mulai bertambah akrab dengan Nata.
Tampak Seigfried menahan tawanya di belakang Yvvone. Ia merasa senang gadis Elf itu kesusahan.
__ADS_1
Lalu kemudian trio pemburu sengaja melanjutkan menuju ke sisi timur melalui gua di bukit lereng timur. Dan mengejutkan Go, karena mendapati trio pemburu itu sudah berada di dalam gua lagi. Dan kemudian lebih terkejut lagi ketika ia tahu Nata sudah melubangi Dinding Sekai.
"Kalian baru dua minggu pergi, sekarang sudah ada jalan menembus dari tengah?" Terdengar Go menggeleng pelan, sudah tidak merasa biasa dengan hal-hal mengejutkan dari Nata dan Aksa.
"Mungkin sebentar lagi juga akan dibuat jalur dalam yang memutar ke sisi selatan gunung ini untuk sampai ke tanah Pharos" ujar Loujze saat mereka berempat sedang berdiskusi di rumah tempat tinggal Go.
"Ya, kurasa itu cukup membantu para penambang yang kurang beragam hiburan ditempat ini" jawab Go kemudian. "Apakah benar-benar banyak, perubahan yang sudah terjadi di tanah mati itu? Aku jadi penasaran" Tambahnya kemudian seraya menatap keluar jendela.
"Sesekali datanglah ke wilayah tengah, bi. Sekarang sudah ada jalan yang lebih cepat kan?" Saran Loujze pada bibi nya.
"Benar. Disana sudah ada sungai yang jernih dan mengalir. Bangunan juga sedang dalam pengerjaan" Deuxter terlihat bersemangat menjelaskan pada Go.
"Dari pada semua itu, aku lebih tertarik dengan kereta yang dapat melubangi Dindin Sekai itu" saut Go memotong.
"Oh, itu maksud bibi" ucap Deuxter yang salah sangka.
-
Tampak hampir seluruh warga desa berada di depan rumah Fla, yang mana adalah rumah kepala desa tersebut. Mereka tampak gembira menyambut kedatangan Lucia dan Nata yang ditemani oleh Jean, Caspian, dan juga Yvvone. Yang ikut karena penasaran dengan desa dibalik bukit tersebut.
"Perkenalkan nama saya Khan. Saya adalah kepala desa disini. Namun sebelumnya ijinkab saya mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan putra saya satu-satunya, sampai bisa kembali ditempat ini" ujar pria Morra setengah baya dengan berewok tebal membungkuk dihadapan Lucia dan Nata.
"Tidak perlu sungkan tuan Khan" jawab Lucia dengan buru-buru mengangkat tubuh kepala desa itu.
Mereka berempat berada di dalam ruang tamu rumah keluarga Fla. Lucia, Nata, Khan, dan Fang. Sementara Jean, Caspian, dan Yvvone menunggu diluar. Bersama para warga yang terlihat mencoba mencuri dengar ptmbicaraan yang terjadi di dalam, dengan cara menempelkan telinga mereka pada daun pintu, dinding rumah, dan berdiri sedekat mungkin dengan jendela.
"Maafkan kami yang tidak buru-buru datang untuk menyapa. Sampai harus anda sekalian yang bersusah payah datang ke tempat kotor seperti ini" ucap sang kepala desa dengan tulus.
"Tidak perlu seperti itu tuan Khan. Disini jauh lebih baik dibanding padas kering di wilayah tengah sana" Lucia menjawab.
"Kami juga belum menyiapkan hadiah untuk diberikan kepada anda sekalian"
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot tuan Khan, kami pikir kami sudah menemukan hadiah tersebut" kali ini Nata yang berucap.
"Apakah maksudnya adalah tanah ini?" Khan tampak menelan ludah, kuatir.
"Oh, bukan. Bukan seperti itu maksud saya tuan Khan. Maksud saya adalah sekarang kami memiliki tetangga yang bisa membantu kami kedepannya" Nata buru-buru menjelaskan maksudnya. Sebelum kesalah pahaman tersebut bertambah.
"Kami tidak ingin mengambil tanah yang sudah anda sekalian garap sejak turun menurun. Kami hanya ingin menjalin hubungan. Karena tempat ini adalah wilayah yang subur, dan dapat menghasilkan bahan pangan yang kami butuhkan" Lucia menambahi. Menjelaskan maksud mereka.
"Kami juga tidak berniat mencampuri urusan desa kalian, tapi mungkin kami akan melakukan sedikit perubahan dibidang pertanian, dan membangun beberapa fasilitas untuk mempermudahkan dan menguntungkan kedua belah pihak" Nata melanjutkan ucapan Lucia. "Dan karena kami bergantung dari hasil pertanian kalian, maka bila dibutuhkan kami juga akan mengirimkan para pekerja kami yang ada di wilayah barat untuk membantu anda sekalian disini" tutupnya kemudian.
Terdengar suara kasak-kusuk diluar rumah terdengar sampai kedalam. Dan setelah Khan berdeham keras, suara-suara diluar langsung tidak terdengar lagi.
Kemudian terlihat Khan membenahi posisi duduknya. "Meskipun secara aturan kerajaan tanah ini sekarang sudah menjadi milik anda, namun anda tidak mengambilnya dari kami secara paksa. Padahal kami hanyalah kumpulan petani yang tidak tahu cara bertarung atau mempertahankan diri. Tapi malah anda dengan sopan meminta bantuan kami. Saya sebagai kepala desa yang mewakili kehendak para penduduk desa ini, sudah memutuskan. Bahwa kami akan menyerahkan seluruh desa ini, termasuk dengan kami semua kepada anda. Kami semua akan patuh dan mengabdi kepada anda" ucap Khan yang mengejutkan Lucia dan Nata.
"Anda tidak perlu melakukan hal tersebut tuan Khan. Kami benar-benar tidak akan mengambil tanah ini dari kalian. Seperti apapun bentuknya" Lucia segera menjawab agar Khan tidak salah paham lagi.
"Saya percaya ucapan anda, nona Lucia. Tapi kami sudah membicarakan dan merencanakan hal ini sebelumnya. Setelah mendengar cerita dari Fla dan juga Fang" ucap Khan meyakinkan Lucia tentang keputusannya.
"Benar saya menyetujui keputusan ketua Khan. Maksud saya kepala desa secara penuh" ucap Fang menambahi.
"Tapi bukankah keputusan tersebut terlalu cepat?" Ujar Lucia lagi. Terlihat masih ada rasa tidak enak hati menerima keputusan besar Khan tersebut.
"Kami hanya seorang petani. Dahulu leluhur kami memutuskan untuk menetap disini adalah agar aman dari mara bahaya. Dan setelah itu kami jadi terkurung dari dunia luar. Kami tidak tahu menahu tentang apapun yang terjadi diluar sana" ucap Khan kemudian. "Jadi, bila kami yang kurang dalam segala hal ini menjadi tetangga anda yang setara, maka yang ada malah anda lah yang akan dirugikan. Karena anda akan terus menerus membantu kami, tapi tidak dengan sebaliknya" lanjut Khan yang mencoba menjelaskan sisi masuk akal dari keputusannya tersebut.
"Baiklah bila memang itu keinginan seluruh desa. Maka saya akan dengan senang hati menerima anda semua bergabung bersama kami" jawab Lucia kemudian setelah ia yakin, bahwa sudah tidak mungkin lagi merubah keputusan Khan.
"Kalian sudah mendengarnya, nona Lucia telah menerima kita" ucap Khan tiba-tiba dengan volume suara sedikit lebih kencang. Dan kemudian terdengar suara-suara riuh diluar rumah tersebut.
Lucia tersenyum mendengar hal tersebut.
-
__ADS_1