
"Mereka adalah para Juara dari kerajaan Urbar yang memiliki senjata mistik" ujar Anna saat mengenali beberapa orang yang baru saja tiba di atas kapal tersebut.
Anna kemudian menarik pedangnya. "Aku akan menghadapi mereka" ujarnya kemudian seraya bersiap untuk turun kebawah.
"Kau gila? Mereka bertiga. Meski kau juga memiliki senjata mistik, tetap saja tiga banding satu" Nikolai terlihat tidak setuju Anna turun kebawah sendirian. "Aku juga akan ikut" tambahnya kemudian.
"Apa kau gila? Kau tidak memiliki senjata mistik. Kau mau mati konyol?" Sergah Anna dengan keras.
"Maaf merusak moment so sweet kalian, tapi kita memang harus melawan mereka secara bersamaan. Dalam sebuah pertempuran itu kalau kita bisa lima lawan tiga kenapa harus tidak?" Aksa menyela pertengkaran kecil Anna dan Nikolai.
"Aku tidak menyarankan kau untuk ikut bertarung, Aks" ujar Val tiba-tiba. "Meski sekarang kau sudah memiliki pistol dan menggunakan baju pelindung tahan api itu. Kau tetap tidak akan menang melawan mereka" imbuhnya kemudian.
"Meski aku benar-benar tidak ingin ikut bertarung melawan god-tier bosses itu, tapi aku sudah sepenuh hati mencoba memberanikan diri ikut serta. Dan kau bukannya memuji ku malah menjatuhkan mentalku" Aksa berucap seraya menyentuh dadanya dengan wajah kecewa yang dibuat-buat. "Apa kau menyarankan untuk aku melarikan diri dari kapal ini?" Tanyanya kemudian.
"Bila memang begitu, aku akan menghadang mereka semua untuk memberi waktu anda sekalian melarikan diri dari kapal ini" Anna tampak menawarkan diri.
"Apa kau sudah gila!" Saut Nikolai cepat.
"Tenang saja, nona Anna. Sang maha sakti tuan Valastrum yang melegenda ini punya cara untuk menyeimbangkan pertarungan ini" ujar Aksa kemudian.
"Menyeimbangkan pertarungan ini?" Anna terlihat tak mengerti.
"Benar. Saya bisa menyeimbangkan pertempuran ini. Tapi saya memerlukan persiapan cukup lama untuk melakukannya" Val menjawab. "Maka dari itu anda sekalian tetap harus bisa menahan mereka sebelum persiapan tersebut selesai" lanjutnya menjelaskan.
"Bukankah itu sama saja kau menyuru kami... maksudku mereka untuk bunuh diri, Val" saut Aksa cepat.
Tanpa menanggapi ucapan dari Aksa, Val segera mengambil sebuah kubus keramik berukir rumit dari dalam tas nya diujung ruangan. Kubus keramik itu hanya sebesar dua kepalan tangan.
Kemudian Val menggeser bagian atas kubus tersebut, dan memasukan tangannya kedalam. Yang mengherankan dan mengesankan Aksa adalah, tangan Val masuk sangat jauh kedalam kubus kecil itu. Seolah ada ruang yang lebih besar dari bentuk fisik kubus tersebut.
Dan saat Val menarik tangannya, tampak digengamannya sebuah pisau yang bentuk bilahnya melebar dibagian ujung. Val menyerahkan pisau tersebut kepada Aksa, dan lalu memasukan tangannya kedalam kubus itu lagi.
Anna, Nikolai, dan Rafa terlihat tegang saat melihat pisau yang di genggaman Aksa tersebut. Pikiran mereka liar menebak-nebak.
Yang kedua, Val menarik keluar sebuah tombak berbentuk seperti anak panah besar tanpa bagian ekor. Sangat sederhana. Namun bila diperhatikan dengan seksama ada semacam ukiran seperti ular yang membentuk sebuah lingkaran pada mata tombaknya. Dan juga pada bilah pisau yang dipegang Aksa.
Kemudian Val kembali menutup kubus tersebut dan memasukannya lagi ke dalam tas nya. Tampak pandangan Aksa berbinar-binar mengikuti pergerakan kubus itu sampai akhirnya masuk kedalam tas.
"Jadi saya akan pinjamkan ini pada kalian untuk bertahan" ujar Val kemudian menyerahkan tombak kepada Nikolai, dan pisau kepada Rafa.
"Ini?! Nibelung dan Vajra?!" Nikolai, Anna, dan Rafa hampir berteriak secara bersamaan melihat dua senjata di kedua tangan Val tersebut.
__ADS_1
"Sebentar Val. Itu tadi kotak apa? Sihir spacial? Jadi selama ini kau punya Inventory Box dan tidak pernah bilang-bilang? Kau pasti karakter broken, punya cheat skill lain selain metal bending yang kemarin" Aksa tampak terkesan dengan hal yang lain.
"Itu kotak sihir Shuuran. Kota itu dibuat hanya untuk menyimpan senjata buatanku" Val menjawab.
"Dan juga mana bagianku? Apa kau cuma punya dua senjata mistik?" Imbuh Aksa seraya mengarahkan tangannya ke Val.
"Percumah, senjata mistik tetap tidak akan bisa digunakan oleh orang yang tidak memiliki kemampuan pengendalian aliran Jiwa" jawab Val kemudian.
"His... ga seru amat sih" saut Aksa kemudian.
-
Anna, Nikolai, Rafa tampak turun dari anjungan menghadapi tiga Juara dari kerajaan Urbar itu. Aksa dan Val berada dibelakang mereka. Tampak Val seperti merapal sesuatu. Ia sedang melakukan persiapan.
"Oh, lihat siapa ini? Sang ratu bajak laut" ujar seorang wanita Morra berpotongan rambut sangat pendek, dengan pakaian seorang bangsawan pelaut berwarna putih biru. Lengkap dengan jaket panjang yang juga berwarna putih.
"Ikhties" ujar Anna dengan wajah kesal. Tangannya sudah mencengkeram erat gagang pedang.
"Jadi selama ini kau bersembunyi di tanah mati?" Tanya perempuan bernama Ikhties itu.
"Menyerahlah sekarang. Sebelum semuanya terlambat" kali ini pria Morra dengan tatanan rambut licin kebelakang yang tampak membawa pedang bergagang emas itu, berucap.
"Apakah itu kau, Dragcoz? Kau terlihat seperti piala pajangan saat mengenakan pakaian bangsawan seperti itu" Anna menjawab ucapan pria bernama Dragcoz itu.
"Seharusnya kalian lah yang segera menyerah. Lihat, bahkan tiga puluh kapal kalian tidak mampu menandingi satu kapal ku ini" Anna melanjutkan ucapannya. "Gunakan baju putih kalian sebagai bendera untuk menyerah" imbuhnya lagi.
"Kau jangan sombong dulu, wanita binal" Ucap Ikhties yang tampak terpancing emosi, dan dengan cepat melesat maju.
Tampak Ikhties mengambil pedang yang tidak terlalu panjang dari balik jaket putihnya, dan menghunuskan ke arah Anna.
Anna memasang kuda-kuda untuk menyambut serangan Ikhties. Dan begitu pedang mereka berdua beradu, ombak terlihat memecah disisi kiri dan kanan kapal.
Dan hal tersebut seperti sebuah tanda bahwa pertarungan dimulai. Dragcoz dengan pedang panjang bergagang emasnya segera melompat menerjang maju, yang langsung dtanggapi oleh Nikolai dengan tombak mistiknya.
Sementara pria berbusur panah yang ada di belakang segera memasang busurnya dan menembakan peluru angin kearah Rafa.
Rafa dengan cekatan melompat kebelakang kemudian membuat pelindung sihir untuk menangkis serangan sihir lawannya. Begitu selesai segera Rafa mengarahkan pisau pinjaman dari Val itu ke depan. Dan setelah merapal sesuatu, dari sekitar pisau itu muncul bola api berwarna biru yang kemudian meluncur kearah pria berbusur panah itu.
Meski menggunakan pisau, namun Rafa yang pada dasarnya bukan seorang petarung, menggunakannya sebagai pengganti sebuah tongkat sihir.
Sementara Val masih terlihat merapal sesuatu. Aksa berada disebelahnya dengan memegang sebuah tameng berwarna hitam di tangan kiri dan sebuah pistol ditangan kanan. Tampak ia sedang membidikan pistolnya ke arah pria berbusur panah untuk membantu Rafa. Dan setelah ia yakin akan sasarannya, segera ia melepaskan tembakan.
__ADS_1
Pria berbusur panah itu berhasil menghindari serangan bola api dari Rafa. Namun tidak menyadari serangan yang baru saja dilancarkan oleh Aksa. Peluru yang ditembakan Aksa itu meluncur ke arah kaki pria tersebut. Namun begitu hendak menyentuh kulitnya, peluru tersebut berbelok arah menghantam lantai dek dan terpental. Tampak angin bertiup cepat membungkus tubuh pria berbusur itu seperti sebuah zirah.
"Sial. Benar-benar tidak mempan" ujar Aksa kemudian.
Karena sadar Aksa sedang mengincarnya, pria berbusur panah itu melepaskan panah anginnya ke arah Aksa yang ada disebelah Val.
Panah angin itu mengenai Aksa dengan telak. Namun panah angin itu tidak berhasil menembus tameng Aksa. Hanya mendorong tubuh Aksa kebelakang hingga menghantam anak tangga.
Karena pria berbusur tadi membidik Aksa, sekarang ia jadi sadar bahwa Val sedang melakukan rapalan untuk sebuah sihir. Hal itu meresahkannya. Dan segera ia membidik sosok Val yang tampak berdiri tegak dengan lengan sedikit terbuka kesamping. Memejamkan matanya.
Namun Rafa segera meluncurkan banyak bola api kearah pria berbusur panah tersebut, untuk mencegahnya menembak Val. Dan berhasil. Pria itu membatalkan serangannya ke arah Val dan melompat menghindari bola api yang Rafa keluarkan.
"Drag, Ik, Elf itu sedang merapal sesuatu" teriak pria berbusur panah itu memberi tahu kedua temannya.
.
Sementara Nikolai tampak bertarung sengit dengan Dragcoz. Pedang lawannya itu dapat melepaskan pisau angin dari arah tebasannya. Yang tidak jadi masalah, karena pisau angin itu tidak dapat menembus pakaian pelindung yang Nikolai kenakan.
Sedang setelah mendengar teriakan dari temannya tentang Val, Dragcoz segera mencari celah untuk meloloskan diri dari Nikolai dan menyerang Val.
Melihat gelagat lawannya, Nikolai segera menutup jalan dengan memutar tombaknya seperti sebuah baling-baling di depan tubuh. Cahaya seperti kilat terlihat melompat-lompat saat tombak itu diputar. Menutup semua celah untuk Dragcoz melewatinya.
.
Sama halnya dengan Ikhties. Setelah mengetahui keberadaan Val, perempuan itu juga tampak mencari celah untuk melewati Anna dan menyerang Val. Ia juga merasa resah terhadap sihir yang akan di keluarkan oleh Val.
Namun Anna dengan cekatan menghadang setiap gerakan yang Ikhties lakukan.
"Mengapa kau terlihat pucat seperti itu, Ik? Apa kau sedang mabuk laut?" Ucap Anna saat mengamati wajah lawannya yang terlihat gelisah.
"Siasat licik apa yang sedang kau jalankan?" Ikhties masih belum dapat menembus pertahanan Anna.
"Tidak selicik kalian, yang melakukan tuduhan palsu untuk merusak citra diri seseorang" Anna menjawab santai.
Wajah Ikhties berubah merah dan terlihat kesal. Ia mencoba memandang sekeliling untuk mencari cara untuk melewati Anna. Dan kemudian ia menemukan sebuah cara.
Tiba-tiba perempuan itu mengangkat pedang pendeknya dan merapal sesuatu. kemudian berlari, namun tidak kedepan, melainkan ke samping menuju pinggiran kapal.
Anna tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Ikhties menjauh ke pinggiran kapal, saat kemudian perempuan itu tadi melompat keluar kapal.
Anna yang terkejut, mengikuti berlari ke pinggiran kapal untuk melihat apa yang terjadi terhadap Ikhties.
__ADS_1
Namun belum Anna sampai dipinggiran kapal, tiba-tiba muncul sebuah tiang air yang melemparkan sosok Ikhties kembali ke kapal dan mengarah ke posisi dimana Val sedang merapal.
-