Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
21. Bertemu Sang Raja


__ADS_3

Pagi harinya mereka dikejutkan oleh puluhan prajurit yang datang menghampiri ke kediaman Lucia. Mereka diundang raja untuk datang ke istana.


"Jadi ini tentang apa tuan Orland? Kenapa kami juga harus ikut menemui raja?" Tanya Nata tampak kuatir.


"Apakah putri Lucia menceritakan tentang kami kepada raja?" Tanya Aksa yang sama kuatirnya.


"Aku tidak menceritakan apapun tentang kalian berdua" jawab Lucia, "tapi aku menceritakan tentang nona Lily kepada paman Sebastian. Itu karena beliau tidak mau melepaskan tanah Pharos tersebut karena menghawatirkan keselamatanku." Lanjutnya dengan pembelaan. "Maka dari itu aku harus menceritakan keberadaan nona Lily agar paman merasa tenang melepaskan ku. Maaf kan saya nona Lily" tutupnya dengan penyesalan dan rasa bersalah.


"Tidak apa-apa putri" jawab Lily dengan lembut.


"Jadi alasan utama raja hanya ingin bertemu dengan Lily saja. Jadi kita tidak perlu ikut kan?" Nata mencoba untuk menghindar.


"Sebuah kehormatan bisa berjumpa langsung dengan raja" ucap Jean kemudian.


"Serem tau, harus ketemu dengan raja. Mana kita tidak tau tatakrama kerajaan. Bisa-bisa kita dipenggal lagi karena berlaku tidak sopan terhadap raja"


"Oh, benar juga" timpal Jean yang baru sadar akan hal tersebut.


"Raja mengundang semua orang tanpa kecuali. Menolak undangan raja sama saja berlaku tidak sopan terhadap beliau" kali ini Cornelius yang berucap.


"Yang jelas nanti kalian diam saja dan ikuti apa yang kami lakukan" saut Jean kemudian.


"Mengawatirkan" jawab Aksa.


Dan tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai juga di gerbang istana kerajaan. Mereka menaiki kereta kuda bangsawan milik Lucia yang panjang dan mewah. Di dalam kereta kuda itu ada Aksa, Nata, Lily, Jean, dan Lucia. Sementara Orland dan Cornelius menaiki kereta kuda dibelakangnya.


"Wow, megah sekali. Berapa lama mereka membangun istana ini?" Tanya Aksa saat mereka melewati gerbang istana yang tampak megah.


"Dua belas tahun" jawab Jean.


"Lama juga"


"Sedang itu menara apa?" Tanya Nata saat mendapati menara yang tinggi menjulang di sebelah barat istana.


"Itu menara dari kuil Bintang Jatuh" masih Jean yang menjawab.


"Oh, kuil Bintang Jatuh. Apakah menara itu digunakan sebagai pengamat bintang?" Tebak Nata.


"Benar. Disini para pendeta dari kuil Bintang Jatuh menggunakan bintang untuk meramal masa depan" jawab Jean.

__ADS_1


"Ramalan horoskop?" Celetuk Aksa bertanya.


"Maksudmu?" Tanya Jean yang tidak mengerti apa yang diucapkan Aksa.


"Apa mereka mengambar peta langit?" Tanya Nata kemudian.


"Benar" kali ini Lily yang menjawab. Nata tampak mengangguk paham.


"Orang-orang itu memakai pintu kulkas sebagai tameng, Nat" ucap Aksa tiba-tiba saat melihat beberapa prajurit yang berjaga dipinggiran jalan membawa sebuah perisai dari plat besi dengan ukuran nyaris sebesar tubuhnya.


-


Kemudian mereka memasuki aula megah sebelum menuju ke ruang tahta. Tampak beberapa pendeta tua berdiri disekitaran aula tersebut.


Dan hal yang membuat rombongan Aksa dan Nata terkejut adalah; para pendeta tua itu langsung berlutut saat melihat keberadaan Lily yang berjalan diantara rombongan.


Melihat beberapa pendeta tua yang langsung berlutut, membuat prajurit dan beberapa orang yang mungkin adalah pegawai istana atau bangsawan yang sedang berada ditempat itu ikut berlutut.


"Silahkan nona Lilian" ujar salah satu penjaga pintu ruang tahta yang mempersilahkan Lily masih dengan posisi berlutut.


"Wow, Lily memang benar-benar seorang legenda ternyata" ucap Aksa.


Sesampainya diruang tahta, tampak seorang pria dengan baju ksatria beraksen kuning emas mengkilap dengan jubah beludru indah berwarna merah. Juga sebuah mahkota dikepalanya, tampak duduk diatas tahta diujung ruangan. Itu adalah pakaian yang dikenakan raja saat sedang menyambut tamu penting. Tampak delapan orang berdiri dihadapannya.


Tampak Jean menahan tubuh Aksa saat ia dan Nata hendak ikut berlutut.


"Selamat datang kembali nona Lilian sang Kilat Putih" ujar sang raja seraya menegakan badannya. Yang diikuti oleh orang-orang yang tadinya berlutut kini kembali berdiri.


"Semoga raja hidup sejahtera" ucap Lily yang kemudian berlutut dihadapan sang raja. Yang kali ini diikuti oleh orang-orang dalam rombongan Lily.


Kali ini Jean menarik tubuh Aksa turun berlutut yang diikuti oleh Nata kemudian.


"Bangkitlah" ujar sang raja kemudian. "Tak kusangka aku masih bisa bertemu dengan anda nona Lilian. Dan apakah benar anda muncul lagi karena permintaan sang Oracle?"


"Benar raja muda. Saya kembali ke dataran tengah ini karena sang Oracle yang meminta. Dan untuk menghilangkan segala kesalah pahaman yang mungkin terjadi, bahwa saya tidak kembali untuk kerajaan ini"


"Wow, Lily tegas sekali berkata seperti itu pada sang raja" bisik Aksa.


"Saya mengerti nona Lilian. Saya paham akan hal tersebut. Saya memanggil anda kemari karena ingin menyambut anda dan rekan anda. Sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih kami karena sudah menjaga Lucia selama ini"

__ADS_1


"Terima kasih kembali, saya menghargai hal tersebut"


"Dan untuk kedepannya, saya mohon anda masih bersedia untuk melindungi Lucia"


"Saya akan melakukan segala hal yang saya mampu untuk melindungi tuan putri"


"Terima kasih. Saya bersyukur dan merasa tenang bila Lucia ada bersama anda"


-


Dan setelah beberapa perbincangan tentang keadaan sekarang dan harapan-harapan, akhirnya mereka meninggalkan istana.


"Untung raja tidak memperhatikan kita. Ia hanya fokus terhadap Lily saja"


"Putri, boleh saya bertanya"


"Apa itu nona Lily?"


"Siapa Seithr disebelah Yang Mulia raja tadi?"


"Oh, itu tuan Seifer, penasehat baru paman Sebastian"


"Tadi ada kaum Seithr? Kok aku tidak memperhatikan ya? Padahal aku pengen lihat bagaimana perawakannya"


"Itu karena pria Seithr itu ada di sebelah Yang Mulia raja. Dan kalian bahkan menatap tahta saja tidak berani" ucap Jean.


"Kan tidak ada yang bilang kalau kita boleh menatap kedepan. Takutnya nanti dianggap tidak sopan, terus kalau sampai kami di penggal bagaimana?"


"Tentang tuan Seifer, kenapa nona Lily menanyakannya?" Lucia menyela dengan pertanyaan.


"Kekuatan aliran Jiwa nya besar dan menekan. Mungkin dia seorang Magus, atau bahkan seorang Sage"


"Benarkah? Tapi meskipun beliau seorang Seithr, namun beliau terlihat masih muda. Hebat sekali dengan usia nya sekarang ia sudah setingkat Magus"


"Memang kenapa dengan orang itu Lily?" Tanya Nata yang melihat sepertinya ada yang menggagu Lily.


"Aliran Jiwa yang dimilikinya mengingatkan ku akan sesuatu hal" jawab Lily yang masih terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Lalu apakah mungkin anda bisa memberikan saya ijin untuk melihat perpustakaan istana, putri?" Aksa menyela dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Akan aku usahakan Aks, tapi sebelumnya, aku mau kalian bertemu dengan kerabat-kerabat ku terlebih dahulu. Kurasa mereka perlu untuk di yakinkan"


-


__ADS_2