
Empat hari setelah penyerangan ke kota Nezarad, rombongan Aksa dan Nata mulai bersiap meninggalkan kota tersebut untuk kembali menuju ke Wilayah Pharos.
Disamping rombongan tersebut, ikut pula sang Gadis Suci bersama mereka. Yang ketika di kabarkan sehari yang sebelumnya, membuat semua orang terkejut. Tidak para pendeta Tanah Suci, ataupun pasukan dari wilayah Pharos.
Itu karena mulai dari aliran kepercayaan Tanah Suci itu berdiri sampai sekarang, Gadis Suci tidak pernah sama sekali meninggalkan tanah tersebut. Sekitar 300 tahun lamanya.
"Jadi apa rencanamu kali ini, Aks?" Nata bertanya saat mereka sedang mengemas tenda mereka. Beberapa saat sebelum bersiap meninggalkan wilayah kota Nezarad.
"Bukannya kau bilang untuk mencari tau kenapa aku mau menolong Rafa dan kenapa nona Luque tidak mau" Aksa menjawab sambil melipat tempat tidur gantungnya.
"Lalu?"
"Terlihat jelas mengapa demikian. Itu karena Rafa bukan teman nona Luque. Jadi tujuanku ini adalah untuk mendekatkan nona Luque dengan Rafa, supaya mereka berteman. Kalau sudah berteman, pasti nona Luque mau menyembuhkan tangan Rafa tanpa meminta imbalan. Bagaimana briliant kan ide ku?" ucap Aksa menyombong.
"Wah, benar-benar rencana yang sangan megah dan agung" Nata berucap seraya memuji secara berlebihan. Dan dengan cepat merubah ekspresi wajahnya menjadi malas. "Apa kau tidak sadar? Katanya 'terlihat jelas'?" Tanyanya kemudian dengan nada mencemooh.
"Hei, jangan berani-beraninya kau mengeritik rencanaku. Kau bahkan tidak mau membantu apa-apa untuk masalah ini" Aksa terlihat tidak terima menerima ejekan dari Nata.
"Baiklah kalau begitu. Semoga berhasil dengan rencanamu" ucap Nata kemudian.
-
Akhirnya rombongan dengan 4 kereta tempur pun meninggalkan kota Nezarad. Masih meninggalkan beberapa prajurit dan kereta penghancur untuk berjaga di kota tersebut.
Tampak seluruh warga dan juga para klerus berkumpul di depan gerbang kota untuk melepas kepergian figur penting mereka.
Para klerus di larang untuk ikut oleh Luque karena ditugasi untuk menjaga penduduk kota. Mereka di janjikan bahwa kepergiannya bukan untuk selamanya.
Luque berada di dalam kereta yang sama dengan Aksa, Nata, Lily, Val, Rafa, dan trio pemburu. Juga 14 prajuri dan penyihir lainnya.
Mereka semua berdua puluh tiga duduk berjajar pada kedua sisi dinding kereta. Berjajar 12 orang di sisi kanan dan 11 orang di sisi kiri. Yang kedua barisan tersebut saling berhadapan.
Lili, Val, trio pemburu, Rafa, dan 6 prajurit lainnya duduk dalam satu baris. Dihadapan mereka duduk Luque, Aksa, Nata, dan 8 prajurit lainnya.
Tampak Luque yang duduk disebelah Aksa terlihat sangat menempel. Bahkan membuat orang yang tidak sadar pun akan jadi memperhatikan.
__ADS_1
"Apa yang kali ini tuan Aksa lakukan? Kenapa Primaval jadi seperti itu kepadanya?" Loujze berbisik kepada Deuxter yang berada di sebelahnya.
Sedang Rafa yang duduk berjarak 5 orang ke sisi kanan dihadapan Aksa dan Luque itu, terlihat hanya diam saja. Gadis Seithr itu menyandarkan tubuhnya kebelakang dengan tongkat sihir berada diantara pangkuannya. Pandangannya hanya mengarah pada dinding diatas kepala prajurit yang duduk tepat dihadapannya.
Sementara Aksa hanya diam dengan wajah memelas disamping Luque. Tampaknya ia mulai sedikit menyesali keputusannya membawa Gadis Suci ikut serta ke tanah Pharos.
-
Mereka mengambil jalur laut agar lebih cepat. Yaitu menuju lurus ke utara ke wilayah Damcyan, lalu dengan kapal, yang hanya butuh beberapa jam saja, menuju langsung ke pelabuhan kota Barat.
Sedang bila mereka melewati jalur darat, maka mereka harus memutar lebih lama kearah timur laut menuju wilayah Ignus baru kemudian ke wilayah selatan Pharos.
Mereka memerlukan waktu sekitar empat hari untuk akhirnya tiba di pelabuhan kota Zu di pesisir utara Damcyan. Itu karena mereka harus singgah dan bermalam di kota Guam dan kota Fu terlebih dahulu.
Disamping untuk beristirahat dan mengisi ulang bahan bakar, Nata juga perlu bertemu dengan Vossler yang berada di kota Fu. Untuk membicarakan tentang situasi di wilayah Tanah Suci dan kota Guam. Yang kemudian malah mendapat kabar buruk bahwa sedang terjadi pemberontakan di wilayah kerajaan Elbrasta.
Sementara Luque terlihat sangat menikmati perjalanan tersebut. Ia menanyakan apapun yang ia tidak ketahui disepanjang jalan. Juga segala hal aneh buatan Aksa dan Nata yang ia temui. Seperti tungku lokomotif yang dibangun di kota Fu untuk mempermudah pembangunan kembali gerbang kota, sampai kapal besi di pelabuhan Damcyan saat mereka hendak melakukan penyeberangan.
Gadis itu juga terlihat sangat gembira saat dapat menebak sesuatu yang hanya pernah dilihatnya dari buku atau dari cerita orang-orang.
-
"Sudah lama sekali aku tidak melihat lautan" Luque berucap saat ia dan Aksa sedang berdiri di atas dek depan kapal, yang sedang berlayar menuju ke pelabuhan kota Barat wilayah Pharos.
"Anda terlihat sangat menikmati perjalanan ini, nona Luque" Aksa berucap setelah memerhatikan wajah Luque yang tampak tersenyum puas melihat kearah batas cakrawala ditengah lautan.
"Matahari senja di tengah laut seperti ini memang pemandangan yang yang tiada duanya" Luque berucap lagi seraya meletakkan seluruh berat tubuhnya ke kedua tangan nya yang menggenggam erat pagar besi pelindung disekitaran dek tersebut. "Terima kasih telah membuat penawaran kepadaku, tuan Aksa" tambahnya kemudian.
"Karena kita akan mulai menjadi teman, jadi panggil aku tanpa menggunakan tambahan tuan" Aksa menjawab sedikit jauh belakang Luque.
"Berarti itu juga berlaku pada mu. Jangan memanggilku dengan tambahan nona" Luque ganti berucap. Ia masih menatap matahari yang perlahan mulai turun ke batas cakrawala, membelakangi Aksa.
"Kalau yang itu, aku tidak bisa melakukan" Aksa dengan segera menolak.
"Kenapa?" Luque segera berbalik arah menghadap Aksa.
__ADS_1
"Karena anda jauh lebih tua dari ku" jawab Aksa cepat.
"Kau juga memanggil Lily pada nona Lilian. Dan hanya Val kepada tuan Val. Padahal mereka juga lebih tua dari mu" Luque berucap tidak terima.
"Benar juga. Mungkin karena aku merasa dekat dengan Lily dan Val" terlihat Aksa mengangguk-angguk kecil.
"Kalau begitu, berarti jelas sudah bahwa kau harus memanggilku tanpa tambahan kata nona, agar kita bisa lebih dekat lagi" Luque berucap lagi.
Aksa terlihat berpikir sebentar. "Baiklah kalau begitu. Mulai saat ini aku akan memanggil mu, Luq" ucapnya kemudian.
"Baik Aksa" jawab Luque dengan senyum mengembang.
"Tapi sepertinya, Nata akan tetap memanggilmu menggunakan tambahan nona. Karena orang itu memang sedikit kolot" ucap Aksa kemudian.
-
Sedangkan dalam anjungan, satu tingkat dibelakang dek tempat Aksa dan Luque berada, tampak Rafa sedang berdiri di depan jendela kaca ruangan tersebut. Menatap kearah luar.
"Apa yang sedang kau lihat, nona Rafa?" Tanya Lily yang mengejutkan Rafa.
"Hanya pemandangan, nona Lily" ucap Rafa cepat dengan terlihat sedikit panik.
"Tidak biasanya kau tidak berada di sebelah Aksa?" Pertanyaan Lily berlanjut.
"Beliau sedang bersama Primaval sekarang. Sepertinya tengah membicarakan hal yang penting. Saya tidak ingin mengganggu mereka" Rafa menjawab dengan sedikit tergesa.
"Anda tidak perlu merasa seperti itu terhadap Aksa, nona Rafa. Anda boleh mengganggunya kapanpun anda mau" Tiba-tiba Nata menyeletuk dari belakang Rafa. Di ambang pibtu masuk anjungan. "Omongan yang dianggap penting oleh Aksa itu, paling hal ga jelas tentang film, game, dan ilmu pengetahuan" lanjutnya kemudian.
"Kalian berdua sama saja. Tidak kah kau sadar, Nat?" saut Lily menanggapi ucapan Nata tersebut.
"Tapi aku tidak seaneh Aksa" Nata terlihat membela diri. "Jadi yang ingin ku katakan adalah, jangan merasa kalau anda adalah orang asing terhadap kami, nona Rafa. Jangan merasa terlalu sungkan. Katakan apa yang ingin anda katakan. Dan bila tanpa sengaja hal tersebut menyinggung perasaan. Segeralah meminta maaf" tambahnya panjang lebar.
Rafa terlihat diam memikirkan ucapan Nata tersebut. Sambil tanpa sadar menatap dua sosok yang sedang berbincang di ujung dek depan.
-
__ADS_1