
"Apakah tuan Haldin bisa memberi kami material yang paling kuat yang pernah tuan tahu?" Tanya Nata kemudian saat Ia, Val, Deuxter, Huebert berada dalam ruang kerja Haldin.
"Material terkuat? Mungkin Baja Zilion. Tapi itu sangat mahal" ucap Haldin sambil mencoba mengingat-ingat.
"Kita bisa menggunakan logam Dracz. Kurasa mineral itu kuat dan murah" usul Deuxter tiba-tiba.
"Benar saja logam Dracz murah, karena terlalu kuat logam itu sangat sulit diolah. Jadilah tidak terlalu banyak orang yang menggunakannya. Hanya pandai besi kelas atas yang menggunakannya untuk dasar membuat senjata para pahlawan di jaman peperangan dulu. Bahkan karena sekarang sudah jarang peminatnya, ku dengar di perbukitan di utara wilayah Estrinx ada tambang logam tersebut yang sekarang terbengkalai" jelas Haldin.
"Benar, tambang itu ada di bukit di dekat desa kami Tirgis" saut Deuxter membenarkan.
"Bila memang anda kesulitan untuk mengolahnya, saya akan ajarkan cara untuk mengolah logam itu dengan lebih mudah" kali ini Val menawarkan diri.
"Benarkah? Anda tau cara mengolah mineral itu?" Tampak Haldin mengangkat kepalanya kearah Val yang jauh lebih tinggi darinya meski sekarang mereka sama-sama dalam posisi duduk.
"Benar"
"Baiklah kalau begitu, sudah kita putuskan akan menggunakan logam tersebut. Apakah kalian bisa membantuku untuk mendapatkannya?" Kali ini Nata bertanya kepada Deuxter dan Huebert.
"Bisa, dari pesisir timur ini menuju ke desa kami hanya butuh waktu kurang dari seminggu saja" jawab Deuxter.
"Apakah kalian berencana berangkat dari sini?"
"Untuk menghemat waktu, karena bila kita menunggu kembali ke Baltra lagi, maka akan memakan waktu yang lebih lama dengan jarak yang lebih jauh"
"Baiklah kalau begitu, bawalah uang logam Estrinx pemberian Lugwin kemarin"
"Berarti kami akan berangkat besok pagi" kali ini Huebert yang berucap.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih kalian. Lalu untuk mineral kuat, apakah ada mineral yang lebih kuat lagi dibanding logam Dracz tadi tuan Haldin?" Nata melanjutkan perbincangannya dengan Haldin.
"Ada. Cristal Cyla. Cristal itu terbentuk secara alami dan tak ada yang bisa mengolahnya tanpa bantuan sihir" Haldin kembali menjelaskan.
"Jangankan mengolahnya, cristal itu bahkan tidak bisa di haluskan tanpa sihir tingkat menengah" tiba-tiba seseorang pemuda Morra dengan bandana dan apron dari kulit berwarna kusam sama seperti yang dikenakan para pandai besi kota Albas kemarin, masuk kedalam ruangan kerja Hidan dan berucap yang mengejutkan yang lain.
"Perkenalkan dia Matyas. Murid ku" ucap Haldin memperkenalkan pemuda itu.
"Maaf mengejutkan anda semua, saya Matyas" pemuda itu memperkenalkan diri seraya melepas bandanan dan apronnya.
"Dan dimana kita bisa mendapatkan cristal itu?" Nata kembali bertanya tentang cristal yang di sebut-sebut oleh Matyas tidak dapat dihaluskan dengan sembarang sihir itu tadi.
"Di pesisir timur wilayah Pharos" jawab Matyas seraya ikut duduk di salah satu kursi dalam ruangan tersebut.
"Apakah di wilayah gunung di wilayah timur Pharos?" Tanya Nata kemudian.
"Beruntung sekali kita"
"Beruntung? Mineral itu tidak ada harganya"
"Apa karena susah untuk diolah juga?"
"Benar. Untuk apa kita membuat alat dengan daya tahan tinggi kalau bukan untuk senjata. Dan dengan biaya dan usaha untuk membuatnya maka secara pasti harga akan bertambah tinggi, lalu siapa yang akan mampu membelinya?" Matyas menjelaskan.
"Benar juga. Tapi saya tidak akan membuatnya menjadi senjata. Ada guna lain dari alat dengan daya tahan tinggi selain untuk senjata"
"Dan apa itu tuan Nata?" Kali ini Haldin yang bertanya tampak tertarik dengan apa yang akan dibuat oleh Nata.
__ADS_1
"Anda akan melihatnya nanti"
-
Agar mendapat cara paling efektif untuk mengerjakan peralatan tersebut, Nata kemudian mengusulkan kepada Haldin untuk membuat Atelir di daerah disekitar tanah mati. Dan tampak Haldin menyetujui hal tersebut.
Kemudian dengan hanya meninggalkan beberapa orang untuk mengurus Atelir kota Esta tersebut, sisa anggota kelompok Bintang Timur ikut semua bersama Haldin menuju ke Baltra. Sementara Deuxter dan Huebert bertolak menuju keutara. Menuju ke desa Tirgis.
Genap seminggu dari keberangkatan Nata menuju kota Esta, sekarang ia sudah kembali lagi ke desa Baltra bersama 20 pengerajin Bintang Timur dan puluhan kereta kuda untuk mengangkut segala perbekalan mereka.
Kemudian kelompok Bintang Timur membuat perkemahan sementara di wilayah perbatasan tanah Pharos, berjarak dua hari dari desa Baltra. Menunggu rombongan Aksa dan Couran kembali dari tanah Pharos tersebut.
-
Dua hari kemudian datang Ellian dan serikat botanikal nya. Mereka berjumlah 15 orang dengan 3 kereta kuda. Mereka juga membuat kemah bersama dengan kelompok Bintang Timur.
Selama menunggu rombongan Aksa datang, Nata sudah mulai membuat segala hal yang diperlukan mereka secara mendasar. Yang dibantu oleh kelompok Bintang Timur dan serikat botanikal. Para penduduk desa Baltra sukarela membantu mereka dengan mengirimi mereka bahan makanan seminggu sekali.
-
Sepuluh hari kemudian Deuxter dan Hueber sampai dengan dua kereta kuda berisi penuh dengan material mentah logam Dracz.
-
Dan sepuluh hari setelahnya tampak rombongan Aksa muncul dari balik pagar bukit wilayah tanah Pharos. Saat 20 pengerajin Bintang Timur sudah dapat melakukan tehnik dasar pengolahan logam Dracz yang diajarkan oleh Val. Dan serikat botanikal sudah memiliki rumah kaca dan mulai melakukan percobaaan pembudidayaan tanaman-tanaman penting.
Tampak diatas kereta kuda rombongan Aksa terdapat berbagai macam hal. Mulai dari kulit bulu hewan, bebatuan, dan beberapa bingkusan dari kulit pembungkus. Aksa tampak melambai-lambai saat melihat ada perkemahan di tempat itu.
__ADS_1
-