
Setelah seharian penuh diperjalanan, Lugwin akhirnya tiba di Yahld, tempat tinggal pamannya Eldmo. Kereta kuda nya disambut oleh paman dan bibinya yang terlihat kuatir saat memasuki pekarangan kediaman keluarga Salton.
"Bagaimana kabar mu Lug?" Ujar Eldmon saat mereka sudah duduk diruang tamu.
"Baik, paman" jawab Lugwin.
"Apa yang terjadi selama tiga minggu ini Lug? Apa kau makan dengan teratur? Tubuhmu terlihat lebih kurus" kali ini bibinya yang bertanya tampak kuatir.
"Saya makan dengan teratur bibi, mungkin karena sekarang saya lebih sering bergerak saja jadi terlihat lebih kurus" jawab Lugwin dengan senyum agar bibinya berhenti menghawatirkan dirinya.
"Jadi apa yang terjadi Lug, dari mana kau selama tiga minggu ini? Kami semua cemas. Kudengar gerbang kotaraja mulai ditutup oleh Dux Laurent"
"Saya baik-baik saja paman. Ada yang hendak saya bicarakan dengan paman" ujar Lugwin yang kemudian menceritakan apa yang sedang terjadi dan apa yang telah ia alami selama tiga minggu ini.
-
"Apa tadi yang kau bicarakan?" Terdengar Eldmo terkejut tak percaya atas cerita dan penjelasan Lugwin.
"Seperti yang anda dengar paman, dihari saat sang Oracle wafat saya mendapat mimpi. Beliau datang kepada saya, dan memberitahukan bahwa saya harus menghentikan perang ini" ujar Lugwin mengulangi.
"Apa kau sedang bercanda?"
__ADS_1
"Saya menuju ke desa Dyms untuk memastikannya. Saya datang ke Yahld ini langsung dari desa Dyms, paman Matiu bahkan masih ada disana sekarang"
"Apa? Matiu? Apa yang sebenarnya dia pikirkan?" Terdengar Eldmo tidak percaya.
Sedang Lugwin hanya terdiam tidak menjawab. Saat ini ia dipenuhi dengan rasa dilema karena harus berbohong kepada pamannya tentang rumor sang Oracle itu. Gadis itu sedang berusaha untuk melawan perasaan bersalahnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan untuk menghentikan peperangan ini?" Tanya Eldmo kemudian setelah ia mendapati wajah Lugwin yang tampak tertekan. Ia tak tahan melihat keponakannya berwajah seperti itu.
"Oracle sudah memberikan perintahnya secara detail tentang apa yang harus saya lakukan" jawab Lugwin dengan tatapan lurus menatap meja yang ada dihadapannya. Ia tidak berani memandang pamannya.
"Dan apa itu?" Tanya Eldmo penasaran.
"Pertama beliau meminta saya untuk mengumpulkan para bangsawan dan membentuk sebuah aliansi" jawab Lugwin lagi dengan sedikit pelan, berhati-hati dengan reaksi yang akan ditunjukan oleh Eldmo.
"Benar paman. Beliau berkata bahwa aliansi ini yang nantinya akan menghancurkan kedua Dux itu dan menghentikan perang ini" Lugwin membalas.
Eldmo mengangkat kedua tangannya kemudian menyibak rambutnya kebelakang. Wajahnya tampak gusar.
"Apa paman tidak mempercayaiku?" Tanya Lugwin kemudian dengan nada ragu.
Eldmo menatap Lugwin dengan wajah lelahnya, "Bukan begitu Lug. Tapi hal ini memang bukan hal yang masuk akal. Dan siapa lagi yang akan kau ajak untuk bergabung dengan aliansi ini?" Ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Pertama-tama adalah para keluarga cabang dari keluarga Estros paman"
Eldmo menutup mata dan menghela nafas panjang mendengar jawaban dari Lugwin, "Dan anggap lah bila memang mereka mau untuk bergabung, lalu apa yang akan kau lakukan? Mereka adalah keluarga yang tidak memiliki prajurit. Para prajurit yang mereka punya adalah penjaga kota, prajurit bayaran, dan para penduduk yang dilatih seadanya saja. Bagaimana kau bisa membandingkannya dengan kekuatan kedua Dux itu?"
"Bila mengenai hal tersebut biar saya yang mengurusnya nanti, yang terpenting adalah saya butuh bantuan paman untuk ikut mendukung aliansi ini. Dan juga membantu meyakinakan keluarga yang lain untuk bergabung" ucap Lugwin dengan nada memohon.
"Lugwin, apa yang sebenarny sedang kau lakukan" gumam Eldmo seraya menyandarkan tubuhnya kebelakang.
"Saya hanya akan semalam saja disini paman, besok saya kan menuju ke kediaman Dux Aldrico di Khelo" tambah Lugwin kemudian.
"Kau hendak ke kota Khelo besok? Istirahatlah dulu, perjalanan ke sana butuh waktu satu setengah hari, kau baru saja sampai hari ini" kali ini sang bibi yang berucap kuatir mendengar rencana Lugwin.
"Karena sudah tidak ada waktu lagi bi, jangan kuatir aku akan baik-baik saja" jawab Lugwin menenangkan.
"Apa kau sungguh-sungguh?" Kali ini Eldmo yang terdengar tak percaya.
Lugwin hanya menjawab dengan anggukan pasti.
Terlihat Aldmo menghelai nafas panjang. Ia menyerah, "Baiklah kalau begitu, akan ku coba untuk menghubungi keluarga yang lainnya juga" ucap Eldmo kemudian mengikuti permintaan Lugwin.
"Terim kasih paman"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu beristirahat lah sekarang, besok akan jadi perjalanan yang panjang lagi buatmu" sang bibi segera mengantar Lugwin menuju kamarnya.
-