Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Antology 11


__ADS_3

"Aku benar-benar sangat penasaran mengenai dua orang itu. Apa benar mereka ada dalam gua tersebut?" Tanya Deuxter saat ia bersama Loujze dan Huebert sedang berada di sekitar bibir hutan Sekai di tengah perjalanan mereka menuju Desa Timur.


"Entahlah. Tapi saat kita kesana dua hari yang lalu, kita hanya diperbolehkan sampai mulut gua saja," Huebert menjawab.


"Apa kemarin kau merasakan keberadaan mereka, Loujze?" Deuxter bertanya.


"Aku tidak bisa merasakannya. Mungkin karena posisinya terlalu jauh dari mulut gua," Loujze menjawab dari samping Huebert.


"Aneh sekali. Bahkan Tuan Val dan Nona Lily yang tidak akan pernah melepaskan Tuan Aksa dan Tuan Nata dari pengawasan mereka itu saja juga ditinggal tanpa penjelasan sama sekali," celetuk Deuxter kemudian.


"Tapi mungkin karena pengalaman Tuan Val dan Nona Lily yang jauh lebih banyak, hingga mereka berdua bisa tetap tenang. Jauh berbeda dengan Tuan Couran dan Nona Rafa." Huebert menambahi.


"Benar. Mereka terlihat sangat kuatir. Tapi bila benar apa yang dikatakan mereka bahwa Tuan Aksa dan Tuan Nata sedang merencanakan sesuatu, mengapa mereka tidak terlihat tertarik dengan hal tersebut? Itu hal yang sangat-sangat mencurigakan," Loujze menambahi yang segera disetujui oleh kedua rekannya.


Tak berapa lama kemudian merekapun sampai di area penangkaran hewan, khusus burung dan serangga yang dibangun tak jauh dari area perkebunan karet dan bambu. Tepat di mulut Hutan Sekai.


Dan saat trio pemburu itu mendekat, mereka langsung tahu bahwa Selene sedang berada di tempat itu karena Serigala Peraknya terlihat sedang terduduk nyaman di bawah sebuah pohon di depan rumah kayu yang cukup besar dan luas.


Meski disekitar tempat itu ramai berlalu lalang para Yllgarian, namun hanya keberadaan trio pemburu itu saja yang menarik perhatian Serigala Perak tadi. Hingga membuat serigala itu berdiri seraya mengibaskan-kibaskan ekornya menatap trio pemburu itu mendekat.


"Ada apa, Popo?" tanya Selene yang berada tak jauh dari rumah kayu tadi saat melihat serigalanya yang tiba-tiba berdiri.


"Selamat siang, Tuan Selene," sapa Loujze dari kejauhan.


"Oh, kalian sudah kembali?" Selene terlihat sedikit terkejut mendapati trio pemburu yang ada di belakangnya.


"Anda sedang melakukan pemeriksaan di penangkaran ini?" Kali ini Deuxter yang bertabya ketika mereka bertiga sudah cukup dekat dengan Selene dan Serigala Peraknya.


"Benar. Selagi melewati wilayah ini," jawab Selene kemudian.


"Apa Anda hendak menuju ke tempat Fla?" tanya Loujze seraya mengusap kepala serigala Selene.


"Benar. Apa kalian juga akan menuju kesana?" Selene terlihat mulai merapikan baju dan membersihkan kotoran di ujung celananya.


"Kami juga akan kesana. Kalau begitu kita bisa kesana bersama-sama," sahut Huebert kemudian.


"Oh, kebetulan saya datang kemari hanya berdua saja dengan Popo. Dan sekarang saya jadi punya lebih banyak teman berbincang diperjalanan," jawab Selene sambil mulai tersenyum.


"Apa Anda menggunakan kereta besi itu untuk datang kemari?" Loujze menunjuk ke arah sebuah kereta besi tanpa atap, dengan dua kursi di bagian depan dan satu kursi panjang dalam posisi berjajar dibelakangnya.


"Benar," jawab Selene cepat.


"Kereta besi ini milik Anda? Hebat sekali." Loujze terlihat kagum sambil mendekat dan memperhatikan kereta besi tersebut dengan seksama.


"Ya, itu karena kereta besi ini sangat mudah dikendalikan." Selene menjawab. "Dan harganya cukup murah kalau kubilang. Tidak lebih mahal dari kereta kuda pada umumnya, tapi jauh lebih kuat dan tahan lama karena terbuat dari besi dan tanpa kuda penarik," lanjutnya seraya berjalan mendekati kereta besi tersebut.


"Pantas saja setibanya di sini beberapa hari yang lalu, kami sering sekali mendapati bentuk kereta besi ini berlalu lalang di jalanan di wilayah Pusat. Ya, mungkin tidak terlalu hanyak di sisi Timur ini." Deuxter berucap seraya berjalan mengikuti Selene.


"Karena tergolong murah, jadi beberapa orang yang mampu, dan para pedagang pasti memilih membeli kereta ini dibanding kereta kuda biasa," ucap Selene menanggapi. "Ya... mungkin kekurangan terbesar dari kereta besi ini adalah, tidak akan terlalu berguna di luar wilayah kita. Karena menggunakan bahan bakar cair untuk menggerakannya. Yang hanya dibuat di wilayah ini saja," lanjutnya menjelaskan.


"Oh, apakah bangunan seperti tabung besi mengkilat yang ada di tempat Anda itu?" tanya Loujze yang kini sudah duduk di kursi belakang kereta besi tersebut, bahkan sebelum Selene mempersilahkannya.


"Benar. Tempat pendingin gas itu juga ada di dekat Desa Timur sana. Hanya ada dua tempat penghasil bahan bakar cair di wilayah ini." Selene menjelaskan saat ia sudah duduk di kursi kemudi kereta besi tersebut.


"Oh, aku belum pernah melihat yang di Desa Timur." Huebert berucap seraya mengenyakan diri di kursi belakang bersama Loujze dan Serigala milik Selene. Sementara Deuxter duduk di kursi depan di sebelah Selene.


"Tempat itu baru saja selesai di bangun minggu-minggu ini. Tempatnya tak jauh dari bangunan Pendingin," ujar Selene menjawab.


"Oh, bangunan dingin yang berbentuk seperti mata bor itu? Aku tahu itu," sela Loujze dengan bersemangat.


"Ya tempat itu." Selene mulai menyalakan pembakaran kereta besi tersebut. Dan tak lama berselang, kereta besi itu mulai bergetar pelan.


"Luar biasa tempat ini berkembang pesat meski baru kami tinggal kurang dari sebulan saja," sahut Huebert di sebelah serigala Selene yang tampak duduk menyandar dengan santai di kursi belakang.


"Bahkan tanpa campur tangan Tuan Aksa dan Tuan Nata." Deuxter menambahi.


"Ya, saya tidak akan mengatakan kalau perkembangan ini tanpa campur tangan mereka juga." Selene menjawab saat kereta besi yang mereka tumpangi itu mulai berjalan.


"Maksud Anda?" Loujze tampak penasaran.


"Itu karena Tuan Nata dan Tuan Aksa sudah menyelesaikan rencana kerja sepuluh tahuanan mereka untuk wilayah ini, bahkan sebelum Kerajaan Rhapsodia ini di umumkan," jawab Selene menjelaskan.


"Ya, itu terdengar seperti mereka berdua." Deuxter menyeletuk.


"Benar. Tapi sayangnya wilayah selatan tidak dapat mengikuti panduan rencana kerja tersebut," ucap Selene kemudian. "Semua pekerjaan ku di wilayah itu, tidak ada yang tepat waktu. Semuanya meleset. Yang membuat biaya pembangunan jadi membengkak," tambahnya yang seolah sedang berkeluh kesah.


"Ya, disana memang masih sangat kacau bila dibanding dengan wilayah ini," sahut Loujze menanggapi.

__ADS_1


"Bicara soal Tuan Aksa dan Tuan Nata, apakah Anda mengetahui sesuatu, Tuan Selene?" Deuxter bertanya topik yang lain.


"Apa kalian merasa curiga?" Bukannya menjawab, Selene malah balik bertanya. Dan Pertanyaan tersebut hanya di jawab dengan anggukan oleh Deuxter.


"Sudah saya kira bukan hanya saya saja yang merasakan hal tersebut," ucap Selene yang terlihat sedikit lega itu sambil tetap memperhatikan jalanan di hadapannya. "Tapi sayangnya saya juga tidak mengetahui apa-apa tentang hal tersebut sama seperti kalian," ujarnya menambahkan.


"Saya bahkan baru tahu dari Nyonya Katarina seminggu setelah mereka berdua mengunci diri dalam gua." Selene melanjutkan. "Itupun karena Nyonya Katarina dan Nona Ellian juga baru saja tahu dari Tuan Couran beberapa hari sebelumnya."


"Benar-benar mencurigakan," ucap Deuxter menanggapi.


"Terlebih lagi, tidak pernah ada sama sekali pembahasan atau penjelasan tentang masalah mereka berdua dalam pertemuan Kabinet." Selene menambahkan.


"Itu lebih mencurigakan lagi." Kali ini Huebert yang berucap.


"Bahkan Tuan Orland, dan Sang Ratu sendiri seperti menghindari tema pembicaraan tersebut," ujar Selene kemudian saat mereka baru saja melewati persimpangan jalan menuju Desa Timur dan Kota Tengah.


"Berarti sudah diputuskan bahwa kita harus menyelidiki hal ini, Dex, Hue," ucap Loujze kemudian yang terdengar lebih seperti memerintah dari pada menyimpulkan.


"Iya, aku setuju." Deuxter dan Huebert menjawab nyaris bersamaan.


-


Sore harinya di kediaman Khan di Desa Timur, upacara adat untuk pernikahan Fla dan Livia diadakan.


Upacara itu hanya terdiri dari beberapa ritual pendek yang tidak memakan waktu lama.


Tampak pula Fla dan Livia hanya mengenakan pakaian adat leluhur desa mereka. Yang berupa kemeja dan celana berwarna putih dengan motif kotak berwarna biru di beberapa tempat, dirangkap dengan jubah panjang yang masih memiliki warna dan motif yang sama, untuk Fla.


Sedang Livia mengenakan gaun terusan berwarna putih dengan motif bunga berwarna merah, yang juga dirangkap dengan jubah panjang yang memiliki warna dan motif yang sama.


Acara itu hanya dihadiri oleh warga yang tinggal atau berasal dari Desa Timur, Desa Sekai di pesisir timur, dan beberapa Yllgarian yang juga tinggal atau berasal di sekitaran wilayah tersebut.


Tamu yang benar-benar berasal dari luar hanya beberapa saja. Salah satunya adalah Selene dan keluarga Lumire. Sedang trio pemburu tidak dihitung sebagai orang luar karena selama ini tempat tinggal mereka berada di pemukiman para penambang di kaki gunung Sekai tak jauh dari mulut Hutan Sekai.


Tampak semua tamu saling menyapa dan berbincang setelah memberi selamat kepada Fla dan Livia. Mereka menikmati jamuan makan malam yang terpaksa digelar di halaman belakang, karena kediaman Khan tidak cukup besar untuk menampung sekitar 50 tamunya.


Tampak acara tersebut juga digunakan oleh beberapa orang untuk sekaligus menyapa teman mereka yang sudah lama tidak bersua karena harus berpindah tempat untuk mengejar kehidupan yang lebih baik.


Luke salah satunya. Tanpa sengaja ia melihat sahabat lamanya di antara para tamu di halaman belakang itu saat sedang menikmati hidangan.


"Hei, Maria. Bagaimana keadaanmu? Kudengar kau keluar dari Hutan dan menetap di wilayah Kota Selatan?" Luke menyapa dan menghampiri gadis Yllgarian Macan Kumbang yang sedang duduk di bangku kayu seraya menikmati minuman dalam gelasnya itu.


"Apa itu Penghijauan?" tanya Luke setelah mengeyakan diri di bangku di samping Maria.


"Mudahnya adalah kami mencoba menanam tumbuhan di tanah padas itu." Maria mencoba menjelaskan maksud dari perkataannya tadi.


"Sepertinya tugas yang berat," sahut Luke menanggapi.


"Tidak juga. Menurutku itu adalah tugas yang menyenangkan," ucap Maria menjawab. "Kau mampirlah sesekali ke Kota Selatan. Sekarang tempat itu jadi sangat ramai da? sibuk. Tidak kalah dengan Kota Tengah," lanjutnya yang terlihat antusias.


"Begitukah?" Luke terlihat bahagia untuk sahabatnya itu. "Lalu bagaimana tanggapan manusia di wilayah itu?" tanyanya kemudian.


"Mereka yang telah lama tinggal di wilayah ini, jauh lebih ramah dan terbuka dibanding dengan para pendatang," ucap Maria menjawab. "Tapi bukannya mereka tidak ramah, aku hanya merasa bahwa mereka...."


"Segan?" potong Luke menebak.


"Bukan. Tapj lebih ke takut terhadap kita, para Yllgarian," jawab Maria kemudian.


Luke terlihat mengangguk kemudian meletakan tangan kanannya kebelakang untuk menyangga beban tubuhnya. "Tidak heran juga. Yllgarian punya reputasi yang tidak begitu baik dengan manusia sejak ratusan tahun yang lalu, dan pasti pandangan seperti itu tidak bisa begitu saja dihilangkan," ucapnya kemudian. "Apa lagi tampang kita, yang tidak dapat disangkal cukup menakutkan bagi manusia. Lain cerita kalau itu Nona Lily. Siapa yang tidak jatuh hati dengan kelinci yang mengemaskan seperti beliau?"


"Hahaha... hati-hati kalau bicara, Luke. Kau bisa hangus tersambar Kilat Putih," sahut Maria sambil tertawa. "Tapi ngomong-ngomong aku tidak melihat Nona Lily. Apa beliau tidak bisa hadir? Kudengar kabarnya Tuan Aksa dan Tuan Nata sedang melakukan sesuatu di dalam gua di dasar Ceruk Bintang. Apa Nona Lily juga ikut bersama mereka berdua, atau beliau harus berjaga di sekitar gua itu?" tanyanya kemudian dengan penuh rasa penasaran.


"Tidak, Nona Lily tidak ikut bersama Tuan Aksa dan Tuan Nata. Beliau kini berada bersama para Bijak di dalam Hutan Sekai." Luke mencoba memberikan informasi yang ia tahu kepada sahabatnya itu.


"Oh, benarkah? Aku tidak mendengar kabar tentang hal tersebut," ujar Maria yang benar-benar tidak mengetahui hal tersebut. "Sepertinya aku sudah terlalu lama meninggalkan hutan. Kurasa aku harus sesekali berkunjung ke dalam hutan lagi," ujarnya kemudian.


"Apa kau sudah merasakan nyaman di lingkungan para manusia, sekarang ini? Sampai tidak pernah berkunjung lagi ke hutan," tanya Luke dengan nada bercanda.


"Ya, bukan begitu juga. Aku tidak sepertimu yang sudah sangat lama berbaur dengan manusia," ucap Maria kemudian. "Kadang aku masih harus menyesuaikan diri dengan mereka. Hingga kami di Kota Selatan memiliki komunitas kecil Yllgarian untuk tempat berkeluh kesah dan saling membantu bila kami memiliki masalah yang tidak mungkin di selesaikan oleh bantuan manusia," lanjutnya bercerita.


"Ya, mungkin kau benar. Mungkin rasanya memang seperti itu. Dulu aku tidak mengalami hal tersebut karena aku adalah seorang budak. Aku bahkan tidak merasa memiliki masalah di kala itu," jawab Luke masih dengan nada bercanda.


"Maaf, Luke. Bukannya aku ingin mengingatkanmu akan pengalaman buruk itu." Maria merasa menyesal telah mengangkat hal yang mengingatkan Luke pada masa kelamnya.


"Tidak apa. Tak perlu dirisaukan," sahut Luke cepat. "Aku sudah menerima dan melepaskan kenangan itu, jadi aku tidak merasa sedih atau marah bila mengenang hal tersebut. Karena hari ini adalah hari ini. Hari bahagia kedua sahabatku," ucapnya lagi menambahkan.


"Kau benar. Hari ini adalah hari ini. Hari yang penuh kebahagiaan." Maria terlihat kembali bersemangat dan antusias seperti sebelumnya. "Kau harus benar-benar datang ke Kota Selatan, Luke. Di tempat itu ada Gugus suku yang memiliki kemampuan meracik teh herbal yang sangat lezat. Kau harus mencobanya," ucapnya kemudian mencoba mengundang Luke.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengunjungimu akhir pekan depan," balas Luke kemudian.


"Baiklah, akan kutunggu." Maria terlihat tersenyum gembira.


-


-


Sehari kemudian di wilayah Gerbang Selatan. Tampak seorang wanita dan pria Morra sedang berjalan menyusuri area perdagangan yang terletak di ujung selatan wilayah tersebut.


Tampak sebuah tongkat sihir kayu sepanjang lengan pria dewasa dengan sebuah permata berwarna hijau di bagian atasnya menggantung di pinggang masing-masing dari kedua orang itu. Tergantung seperti cara petarung menggantungkan sebuah pedang.


Dan meski pakaian mereka berdua tidak seragam, namun orang akan dengan mudah mengenali mereka sebagai seorang Penyembuh. Dua Penyembuh dari kelompok Serikat Petarung Bintang Api. Diana dan Thomas.


Mereka berdua cukup terkenal di wilayah Kota Selatan sejak kelompok Bintang Api membuka markas cabang di kota tersebut.


Itu dikarenakan mereka berdua adalah seorang Penyembuh yang handal dan cekatan. Yang mana baru sebulan pertama mereka berada di wilayah tersebut, mereka sudah beberapa kali menyelamatkan nyawa orang yang tinggal di wilayah itu.


Kemudian oleh karena jarangnya seorang Penyembuh di wilayah kerajaan Rhapsodia secara keseluruhan, membuat reputasi mereka berdua kian hari kian meningkat. Hingga kini tidak ada orang yang tidak mengenal Sepasang Penyembuh Kota Selatan itu.


"Kurasa kita perlu membicarakan hal ini dengan Nyonya Amithy." Diana, seorang wanita Morra dengan paras yang cantik dan rambut coklat panjang yang disanggul ke atas itu berucap di tengah perjalanan mereka keluar dari area perdagangan yang sibuk.


"Apa ini masih omong kosong tidak terima tentang masalah Bar kemarin?" Thomas, seorang pria Morra berwajah tirus, dengan potongan rambut cepak itu membalas dengan wajah yang terlihat malas.


"Benar. Kenapa? Apa kau tidak terima tentang aku yang tidak terima?" Diana menanggapi dengan nada dan tatapan sinis ke arah Thomas.


Kini mereka sudah keluar dari area Perdagangan dan berjalan menuju ke alun-alun kota.


"Kau tidak mabuk saja sudah aneh. Kurasa bukan ide yang bagus meminta Nyonya Amithy untuk membuka sebuah Bar di kota ini," sahut Thomas tidak memperdulikan ucapan sinis Diana.


"Kenapa Tuan Pietro tidak membukan cabang di Kota Selatan ini? Aku rindu minum di Bar nya." Kini giliran Diana yang tidak memperdulikan ucaian Thomas.


"Tidak perlu menjadi dramatis seperti itu," ucap Thomas kemudian. "Bukankah kau tetap bisa minum minuman beralkohol di wilayah ini? Seperti alkohol tidak dijual sama sekali di wilayah ini," lanjutnya dengan nada sedikit jengkel.


"Minum alkohol di Bar, jelas berbeda dengan minum di rumah sendiri," sahut Diana sewot.


"Aku tidak mengerti dimana bedanya? Tetap saja kau akan mabuk bila minum berlebih." Thomas terlihat seperti sedang mencari jalan keluar dari sebuah masalah yang pelik.


"Ya, buat kau yang sukanya teh herbal, jelas tidak akan mengerti kenikmatan minum di sebuah Bar. Sensasinya berbeda dengan saat kau minum di rumah sendiri," jawab Diana mencoba memberikan penjelasan serta alasannya.


"Memang kenapa dengan Teh Herbal? Sama-sama membuat hangat tubuh, teh herbal jelas jauh lebih sehat dibanding alkohol," sahut Thomas yang merasa sedikit tidak terima. "Dan jauh lebih cocok dengan seorang Penyembuh seperti kita, kan?" tambahnya kemudian.


"Apa yang cocok dengan seorang Penyembuh? Teh Herbal? Kau pikir Penyembuh itu orang-orang dengan gaya hidup sehat?" Diana menggeleng pelan. "Justru karena aku Penyembuh maka aku tidak perlu kuatir dengan apa yang aku makan atau minum. Aku tinggal sembuhkan," ucapnya melanjutkan.


Thomas hanya terdiam seraya balik mengelengkan kepala mendengar ucapan Diana itu.


.


Setelah tiba di alun-alun kota, mereka berdua singgah di sebuah kedai yang menjual makanan khas suku Selatan, untuk makan siang. Kota Selatan ini memang dipenuhi dengan jenis makanan, jenis kerajinan, dan kebudayaan dari beragam suku yang berasal dari selatan.


Hal itu dikarenakan, sekarang ini Kota Selatan adalah tempat tinggal bagi 5 suku dari Daratan Selatan. Suku-suku yang sebelumnya berdiam diri di wilayah kerajaan-kerajaan selatan yang tidak diakui atau telah mengalami penindasan dan diusir oleh penguasa tempat tinggal mereka sebelumnya. Dan berakhir meminta perlindungan dan tempat untuk tinggal di wilayah Kota Selatan tersebut.


Dan setelah banyak menampung pengungsian suku-suku dari selatan tersebut, tepat setelah Kerajaan Rhapsodia resmi berdiri, lima suku juga resmi menjadi bagian dari Kota Selatan.


Lima suku itu adalah suku Tempest, suku Rufaga, suku Erupcio, suku Terratrem, dan suku Ciclo.


Dan karena dibangun dengan pondasi budaya yang beragam, area dalam Kota Selatan pun menjadi tidak seperti area kota pada umumnya. Terutama dalam posisi membangun tempat tinggal. Dimana tiap suku memilih membangun tempat tinggal mereka secara berkelompok yang kemudian membuat semacam perkampungan kecil dalam Kota tersebut. Yang akhirnya disebut dengan Gugus.


Total ada 7 Gugus secara keseluruhan dalam kota tersebut. Lima yang pertama sudah jelas adalah Gugus dari lima suku. Lalu kemudian ada Gugus untuk para Yllgarian, dan yang terakhir adalah Gugus yang diisi oleh orang-orang militer. Meski masih ada orang-orang yang membangun tempat tinggal mereka diluar Gugus-Gugus tersebut, namun jumlahnya sangat kecil. Dan biasanya hanya gedung pemerintahan dan fasilitas umum seperti stasiun, pasar, serta alun-alun yang dibangun di luar Gugus.


.


Dan tak lama kemudian seorang pemuda Morra dengan pakaian seperti seorang pemburu datang menghampiri Diana dan Thomas saat mereka berdua baru saja selesai dengan porsi makan siang mereka.


"Kalian berdua ada di sini ternyata, aku mencari kalian kemana-mana." Pemuda Morra itu berucap dengan sedikit kehabisa nafas. Yang menandakan ia baru saja berlarian.


"Kenapa, Hall? Apa ada masalah yang tengah terjadi?" Thomas bertanya terlihat penasaran.


"Tidak, tidak ada masalah. Tapi tadi ada untusan Nyonya Amithy yang datang untuk mengundang kalian menghadiri pertemuan di kediaman beliau siang ini," jawab pemuda yang dipanggil Hall itu kemudian.


"Oh, siang ini?" Thomas terlihat malas.


"Apa lagi yang ingjn beliau bicarakan sekarang?" Diana terlihat cukup penasaran.


"Dan jangan berpikiran untuk benar-benar mengajukan ide membuka Bar di tempat ini kepada Nyonya Amithy, saat pertemuan nanti, Di," ujar Thomas memberi peringatan.


"Iya, iya, aku tahu. Jangan kuatir, aku tidak akan mengajukan pendapat konyol tersebut kepada Nyonya Amithy," sahut Diana dengan wajah malasnya.

__ADS_1


"Itu kau sadar, kalau ide mu itu konyol," celetuk Thomas, yang hanya dibalas oleh Diana dengan tatapan sinis.


-


__ADS_2