Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
23.5. Antology Story : Hari Libur Aksa VI


__ADS_3

Akhirnya Aksa dan Lily memutuskan untuk bermalam di perkemahan keluarga Lumire. Sementara trio pemburu menuju ke desa Fla. Mereka akan bermalam dulu di desa tersebut, sebelum besoknya berangkat menuju pesisir timur.


Sedang Ellian dan Selene sudah memiliki tempat untuk bermalam disekitar bibir hutan tersebut.


"Jadi apakah urusanmu sudah selesai dengan para Yllgarian tersebut, Lily?" Tanya Aksa saat mereka sudah duduk mengelilingi api unggun bersama keluarga Lumire menunggu makan malam dihidangkan.


"Sudah" Lily mengangguk.


"Jadi anda dari hutan Sekai, nona Lily?" Tanya Lumire yang juga duduk bersama mereka menunggu makan malam.


"Benar, tuan Lumire. Dari dua hari yang lalu"


"Apakah para Yllgarian itu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru mereka?" Tanya Lumire lagi.


"Kami Yllgarian, cepat beradaptasi dengan hutan" jawab Lily kemudian.


"Lalu bagaimana hasilnya? Apa mereka setuju?" Kali ini Aksa yang bertanya kepada Lily.


"Mereka setuju untuk melakukan penebangan pohon setelah aku menjelaskan ulang penjelasan yang pernah kalian berikan padaku. Dan mereka akan mengirim hasil kayunya secara berkala kepada bagian pembangunan. Hanya saja, mereka belum bisa menentukan jumlahnya. Mereka masih harus menimbangnya lagi" Lily menjelaskan.


"Apa anda meminta mereka menebang pohon dalam hutan Sekai? Bukankah setahuku, Yllgarian adalah bangsa yang selalu menjaga kelestarian alam? Kenapa mereka mau untuk menebangi pohon?" Lumire memotong dengan pertanyaan kepada Aksa.


"Anda tahu kenapa kita harus menjaga alam, tuan Lumire?" Aksa balik memberi pertanyaan kepada Lumire.


"Agar alam tidak rusak dan mati?" Jawab Lumire dengan ragu.


"Bukan. Sebenarnya alam itu sangat kuat, tuan Lumire. Mereka tidak bisa mati. Dan ketika mereka rusak, mereka punya Auto-Regen yang bisa membenahi diri mereka sendiri" ucap Aksa kemudian.


"Jadi untuk apa kita harus menjaga alam?" Tanya Lumire meski ia tidak mengerti beberapa ucapan Aksa.


"Kita menjaga alam adalah untuk melindungi diri kita sendiri, tuan Lumire. Kita ambil contoh tanah ini. Saat tanah ini tidak terjaga dan dianggap mati, siapa yang dirugikan? Kita manusia yang tinggal di tempat ini. Atau saat kita membiarkan sungai tersumbat karena pohon tumbang atau karena endapan ranting. Maka suatu hari nanti akan datang banjir, dan lain sebagainya yang merugikan kita sendiri" jelas Aksa yang di tanggapi Lumire dengan anggukan paham.


"Dan untuk itu, memelihara alam bukan berarti membiarkan alam hidup dengan begitu saja. Mereka kekuatan liar, kita akan hancur dilibas mereka" tambah Aksa seperti sedang mendongeng. "Sama hal nya dengan penebangan pohon. Penting untuk mengurangi jumlah pohon pada batas tertentu, bila kita ingin tinggal di dalam hutan"

__ADS_1


"Karena apa?"


"Karena kita harus memastikan bahwa lantai hutan cukup terkena sinar matahari. Bila tidak, tanah yang lembab dan terlalu banyak menggandung air, dapat mengakibatkan longsong suatu hari nanti. Apa lagi hutan Sekai berada disebuah lereng gunung" jawab Aksa menjelaskan. "Ya, tapi tidak perlu kita perdulikan bila kita tidak tinggal di dalam hutan" imbuhnya.


"Seperti itu ternyata. Pengetahuan anda memang sangat luas, tuan Aksa. Meski anda masih begitu muda. Dan setiap kali berbicara dengan anda dan tuan Nata, pandangan dan wawasan saya selalu bertambah" ujar Lumire yang membuat Aksa jadi berlagak.


"Dan untuk bantuan dari segi prajurit, apakah mereka setuju tentang hal itu, Lily?" Aksa melanjutkan pertanyaannya yang tadi tersela oleh Lumire.


"Bila untuk membantu pembangunan yang ada disekitar hutan, mereka masih setuju. Tapi untuk membuat pasukan tempur, mereka tidak menyetujuinya" jawab Lily kemudian.


"Kupikir mereka setuju, karena kulihat kau keluar bersama tiga jendral tadi" terlihat kekecewaan dimata Aksa.


"Mereka memang sudah memiliki kelompok Yllgarian muda yang terlatih bertempur, tapi mereka tidak setuju kelompok tersebut dibawah kepemimpinan manusia"


"Padahal aku sudah memikirkan senjata yang keren buat mereka. Bayangkan pasukan burung yang melayang dengan Granat dan Machine Gun, bisa jadi Elite Air Force, kan?


"Atau pasukan kelelawar dengan perpaduan Grappling Hook dan Electric Taser. Udah jadi kaya Batman aja kan?


"Atau pasukan beruang dengan Axe-Gun, yang bakalan jadi pasukan Beserk, sapu bersih.


"Atau pasukan banteng dengan Kevlar dan Chainsaw-Gun. Wah, manteb banget padahal" Aksa mulai mengoceh tidak jelas yang tidak dipedulikan oleh Lily dan Lumire. Dan kemudian baru berhenti saat disela oleh datangnya hidangan untuk makan malam. Yang merubah minatnya dengan segera.


-


"Berarti setelah ini kau akan pergi ke tempat Nata?" Tanya Aksa lagi kepada Lily saat mereka sudah selesai makan malam.


"Benar. Karena masalah yang harus ku urus di wilayah tengah ini sudah selesai, maka aku harus segera ke selatan" Lily menjawab seraya membersihkan bajunya dari remahan makanan.


"Meskipun aku tidak meragukan kemampuan gadis yang mendapatkan julukan Penyihir Bulan itu, untuk melindungi Nata. Tapi walau bagaimanapun juga, itu tetap tugas ku" tambah Lily kemudian.


"Siapa Penyihir Bulan? Parpera?" Tanya Aksa yang hanya di jawab Lily dengan anggukan pendek. "Wah, gadis itu punya tingkatan tertinggi di assosiasi?" Terdengar Aksa tidak percaya.


"Maksud anda tingkatan tertinggi di assosiasi?" Terdengar ada hal lain lagi yang menarik minat Lumire.

__ADS_1


"Jadi di assosiasi penyihir dikotaraja itu mengenal tingkatan dalam kemampuan menggunakan sihir. Mereka menggunakan istilah urutan penomoran. Seperti tingkatan empat, tiga, dua" jelas Aksa. "Tapi untuk tingkatan tertinggi, mereka tidak menyebutnya dengan tingkat pertama. Tapi mereka menyebutnya dengan nama Penyihir Bulan" lanjutnya kemudian.


"Sebenarnya, dari mana anda mengetahui semua hal tersebut?"


"Aku membaca hampir seluruh buku di perpustakaan istana"


"Hampir seluruh buku di perpustakaan istana?" Terdengar Lumire terkejut dengan pengakuan Aksa itu.


Aksa hanya mengangguk dengan tersenyum.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini, Aks?" Tanya Lily seraya mulai membersihkan tongkat sihirnya dengan kain.


"Aku akan membantu Val dan tuan Haldin menyelesaikan gondola menuju ke dasar Ceruk Bintang. Disamping membantu Lucia untuk menyiapkan yang dibutuhkan kota" jawab Aksa yang sudah mulai bersandar pada salah satu roda kereta yang ada di dekat api unggun tersebut.


Lalu keheningan terjadi. Saat setelah Lumire harus membantu istrinya berbenah dan meninggalkan Aksa dan Lily berdua.


"Lily?" Ucap Aksa yang tampak sedang menatap langit malam.


"Ya?" Jawab Lily masih membersihkan tongkat sihirnya.


"Sepertinya kami akan membuat senjata" ucap Aksa kemudian. Lily menghentikan kegiatannya dan menatap ke arah Aksa. Meski tetap diam.


"Kita membutuhkannya. Untuk bisa bertahan dari kekuatan yang ada di dunia ini" Aksa masih menatap langit malam yang penuh bintang. "Tapi aku tidak bisa menjamin. Apakah senjata yang akan kami buat, nantinya akan berujung pada penghancuran dunia ini atau tidak" tambahnya lagi.


Lily kemudian tersenyum kecil melihat kekuatiran Aksa. "Lakukan lah apa yang menurut kalian benar. Hanya itu yang bisa ku katakan padamu saat ini" ucar kelinci itu dengan lembut.


-


Ke esokan harinya mereka berdua menumpang kereta kuda anggota keluarga Lumire yang hendak menuju ke tempat Selene di wilayah barat.


Dan akhirnya perjalanan petualangan Aksa, selesai dalam waktu tiga hari.


-

__ADS_1


__ADS_2