
"Jadi bagaimana menurut kalian?" Nata bertanya pada Lily dan Val setelah ia selesai menjelaskan rencananya dan Aksa kepada mereka berdua.
Mereka sedang berada dalam tenda mereka di dasar Ceruk Bintang, malam hari setibanya dari kota Meso.
"Boleh aku bertanya alasannya? Dan kenapa sekarang?" Lily memberi pertanyaan sebelum menjawab.
"Dan mengapa harus menjatuhkan kerajaan Urbar dan menguasai Tanah Suci?" Val menambahi.
"Pertama, kami memang sudah berniat untuk menjatuhkan kerajaan yang memiliki para penguasa yang tidak berduli terhadap rakyatnya itu" Nata mulai menjelaskan dari tempat duduknya di depan Lily dan Val. "Dan bila kerajaan seperti itu menguasai kota paling berpengaruh di wilayahnya, maka hal buruk akan terjadi. Entah untuk rakyatnya sendiri ataupun orang lain" tambahnya.
"Kedua, karena Tanah Suci itu memiliki cukup besar pengaruh dan masa. Jadi menguasainya adalah langkah awal yang paling masuk akal untuk melakukan perubahan" Nata melanjutkan penjelasannya.
"Dan kenapa kalian tiba-tiba perduli tentang hal seperti ini? Tentang masalah orang-orang daratan selatan, juga tentang melakukan perubahan" Val bertanya lagi.
"Mungkin kalian akan menertawakan hal ini. Tapi seperti yang kalian tahu, selama ini kami melakukan segala sesuatunya dengan setengah hati. Kami hanya sekedar bermain-main untuk mengisi waktu selama kami mencari cara agar kami dapat pulang ke dunia kami. Kami melakukan hal yang kurang lebih semau kami sendiri" Nata mulai bercerita.
"Lalu?" Lily bertanya singkat.
"Kami merasa, kami butuh tujuan selama berada di dunia ini. Tujuan lain selain mencari cara untuk kembali ke dunia kami. Sebuah garis untuk membuat kami tetap fokus" Nata melanjutkan. "Bila tidak, kami akan melakukan sembarang hal. Dan dengan ilmu pengetahuan yang kami punya, hal tersebut bisa jadi akan membahayakan banyak orang" imbuhnya kemudian.
"Juga karena sang Oracle tidak memberi kalian kisi-kisi tentang apa yang seharusnya kami lakukan, maka kami rasa kami akan menentukannya sendiri. Menentukan jalan ninja kami" saut Aksa tiba-tiba. "Dan untuk melakukannya, kami akan mulai ikut campur dalam masalah dunia ini. Mencoba meningkatkan potensi kami, yang mungkin itulah hal yang selama ini dilihat oleh sang Oracle dari kami. Potensi seorang pahlawan yang akan membawa kemakmuran di atas dunia ini" Aksa menambahi dari mejanya didepan laptop.
"Dan kenapa baru sekarang?" Lily bertanya lagi mengacuhkan ucapan Aksa.
"Belakangan ini kita mengalami banyak hal. Juga banyak korban berjatuhan. Aku tidak mencoba menyalahkan diri sendiri" Nata terlihan menjedah. "Tapi ketika aku sadar bahwa aku masih bisa membuat rencana yang lebih baik lagi, disitulah aku jadi merasa gagal. Itu karena selama ini aku hanya menganggap membangun kota di tanah mati ini adalah sebuah permainan belaka" jawabnya kemudian.
"Ya, meski itu hanya persepsi kami pribadi. Dan bukan berarti karena kami berusaha untuk menyelamatkan orang, lalu membuat kami jadi penyandang Messiah Complex" Aksa kembali menambahi. "Pada dasarnya kami masih tidak begitu perduli sih. Hanya kali ini, kami memerlukan misi. Bila tidak, bisa-bisa kami berubah menjadi penghancur dunia ini. Kan repot jadinya" tambahnya kemudian.
"Sudah biarkan Nata yang menyelesaikan sisa penjelasan ini, Aks. Ucapan mu tidak bisa kami pahami" ucap Lily kemudian. Yang dibalas dengan tatapan sinis dari Aksa.
"Maka dari itu sudah kami putuskan untuk menjatuhkan kerajaan Urbar dan mengambil alih tanah Suci" Nata melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Apa kalian tidak ingin menggunakan wilayah ini untuk melakukannya?" Lily terdengar penasaran.
"Rencana ini akan berakibat besar untuk wilayah ini. Terutama untuk Lucia. Gadis itu masih belum dewasa untuk melihat hal ini. Apa lagi untuk menerima dampaknya" Nata kembali menjelaskan alasan dari keputusannya tidak mengikut sertakan Lucia.
"Kami tidak ingin memaksanya untuk melakukan hal ini. Lagi pula wilayah ini pada dasarnya memang kami bangun untuknya. Jadi kami tidak merasa memiliki" Nata menamhahi.
"Aku sadar itu. Kalau iya, pasti kalian sudah membuat rumah seperti kebanyakan orang yang ada di wilayah ini, bukan malah tetap menggunakan tenda seperti ini" ucap Lily seraya menunjuk arah tanah.
"Pada dasarnya kami juga tidak berniat tinggal di dunia ini untuk seumur hidup. Itu juga salah satu alasan kenapa kami tidak membangun rumah" Aksa menyahut.
"Tapi, bukankah putri Lucia tidak akan melepaskan kalian dengan mudah?" Val kembali bertanya.
"Ya, itu sudah jelas. Sifatnya memang seperti itu. Maka dari itu kami akan membuat siasat agar gadis itu memilih. Antara mau untuk mengembangkan wilayah ini, atau memilih untuk melepas kita" ucap Nata kemudian. "Dan bila ia memilih untuk melepas kita, itu berarti kita akan melakukannya sendiri seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya" tambahnya lagi.
"Tidak masalah untuk ku" Lily menjawab seraya menyilangkan tangannya kedepan dada.
"Kurasa apapun yang kalian lakukan tidak akan merubah hal yang telah dilihat oleh sang Oracle. Jadi kami akan selalu mengikuti kalian" Val menambai.
-
"Mengapa kita harus membuat semua ini dengan terburu-buru, tuan Aksa?" Rafa bertanya saat ia diminta untuk membantu memeriksa ulang tumpukan buku pagi hari berikutnya.
"Karena sudah tidak ada waktu lagi" Aksa menjawab. "Setelah ini aku akan bertemu dengan tuan Couran. Kau bawa buku-buku ini ke tempat percetakan. Dan minta Fla menggandakan setidaknya dua copy" tambahnya lagi.
"Apa kita akan pergi lagi setelah ini? Kita baru saja tiba kemarin" Rafa terlihat penasaran.
"Bukan kita, tapi aku dan Nata" Aksa menjawab masih dengan kepala menghadap ke tumpukan kertas diatas mejanya. Tampak ia sedang memilah kertas tersebut.
"Anda berdua?" Rafa bertanya lagi.
"Berempat. Val dan juga Lily" Aksa menjawab masih belum menatap Rafa.
__ADS_1
"Kalian berempat? Hendak kemana kalian berempat? Apakah ada tugas dari tuan putri?" Rafa masih belum puas dengan jawaban pendek Aksa.
"Kami akan meninggalkan tanah ini" jawab Aksa kemudian.
"Apa?! Anda ingin meninggalkan tanah ini?" Rafa terlihat terkejut. "Kenapa? Hendak kemana anda berempat?" susulnya dengan banyak pertanyaan.
"Mungkin ke selatan" jawab Aksa asal.
"Meski sekarang saya adalah gadis cacat, tapi ijinkan saya untuk tetap mengikuti anda, tuan Aksa. Saya berjanji tidak akan merepotkan anda" ucap Rafa kemudian. Yang membuat Aksa menghentikan pekerjaannya dan menatap kearah Rafa.
"Bukannya aku tidak ingin kau ikut karena kau telah kehilangan lenganmu. Tapi sebenarnya, aku ingin kau tinggal untuk menggantikan ku ditempat ini" Aksa mencoba untuk menjelaskan.
"Tidak. Saya tidak mau" saut Rafa cepat dengan nada kesal.
"Eh, nyolot lagi"
"Saya akan tetap mengikuti kemanapun kalian berdua pergi" ucap Rafa lagi. Tatapan matanya tajam menatap mata Aksa.
Aksa membalas tatapan gadis berambut hitam itu. "Kau ini tidak jera apa, sudah kehilangan lengan seperti sekarang?" ucapnya kemuduan.
"Tidak" saut Rafa lagi dengan cepat.
Aksa menghela nafas panjang "Lagi pula aku juga sangsi kalau kami akan dilepas semudah itu oleh Lucia" terdengar ada nada pasrah dalam ucapan Aksa.
"Saya juga berharap putri Lucia berhasil menahan anda berdua ditanah ini. Namun bila memang anda berdua harus pergi, maka saya akan ikut" Rafa seperti sedang menegaskan.
Aksa menatap Rafa dalam diam. Kemudian tanpa berkata apapun Aksa mulai memasukan buku-buku diatas mejanya kedalam sebuah tas selempang, yang kemudian menyerahkannya kepada Rafa. Dan setelah itu ia berjalan pergi begitu saja.
Rafa hanya tersenyum kecil seraya menggantungkan tas tadi dipundak kirinya, kemudian berjalan mengikuti dibelakang Aksa.
-
__ADS_1