Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
18. Pedagang Azzure


__ADS_3

"Terima kasih karena kalian telah menyelamatkan saudara dan srigala saya" ucap pemuda itu berterima kasih setelah Andele selesai menjelaskan semua padanya. "Nama saja Selene, saya adalah kakak Andele. Kami adalah bagian dari pedagang keliling Azzure" ujar Selene yang kemudian memperkenalkan diri dengan sopan.


"Kau seorang penjinak binatang?" Tanya Deuxter yang terlihat menyadarinya.


"Benar. Saya seorang penjinak" jawab Selene.


"Jarang sekali" imbuh Huebert.


"Penjinak?" Tampak Nata penasaran.


"Orang yang mempunyai kemampuan untuk melatih binatang agar dapat membantu manusia" jelas Deuxter.


"Pawang" gumam Aksa.


"Apa itu berhubungan dengan kekuatan sihir? Aliran Jiwa semacam itu?" Tanya Nata dengan berbisik ke arah Deuxter disebelahnya agar Selene tidak curiga dia menanyakan hal-hal umum yang tidak perlu ditanyakan.


"Benar, mereka menggunakan aliran jiwa mereka untuk berhubungan langsung dengan aliran jiwa para binatang" jawab Deuxter juga dengan berbisik.


"Oh, jadi sihir bisa digunakan dengan cara seperti itu juga" ucap Nata sambil mengangguk kecil seolah baru saja paham akan suatu hal.


"Berati kau adalah penjinak yang hebat. Karena mampu membuat Srigala Perak yang terkenal buas, jadi sejinak itu" timpal Loujze kemudian saat mendapati Selene yang terlihat penasaran kenapa Nata dan Deuxter berbisik-bisik.


"Saya belum dapat dikatakan hebat" jawab Selene mengalihkan perhatiannya ke Loujze.

__ADS_1


"Jadi tidak semua pedagang keliling Azzure itu adalah pedagang?" Nata bertanya kali ini tidak dengan berbisik.


"Betul, itu dikarenakan kami adalah nomad yang sering berpindah dalam rombongan besar. Jadi kami memerlukan beberapa orang dengan kemampuan beragam agar dapat bertahan saat kami jauh ditengah tanah yang tak berpenghuni" jawab Selene seraya sedikit membungkuk menerima segelas teh hangat dari Lucia.


"Lalu untuk apa Penjinak dalam sebuah rombongan?" Tampak Aksa bertanya penasaran dan tidak memperdulikan apakah pertanyaannya dapat menyinggung Selene.


"Biasanya disamping untuk membantu berburu, seorang penjinak juga bertugas melakukan penjagaan terhadap rombongan dengan memanfaatkan para binatang saat malam atau saat berada di daerah-daerah tertentu" jelas Selene masih dengan sopan.


"Oh, cara yang efisien" Aksa tampak mulai paham. "Kita butuh penjinak dalam party kita Nat" ujarnya kemudian yang diacuhkan oleh Nata.


"Bila kalian berkenan, kalian bisa ikut kami keperkemahan rombongan kami di sisi utara sungai ini. Kami memiliki beberapa barang yang mungkin tidak seberapa, tapi cukup untuk membalas kebaikan yang sudah kalian berikan.


"Tidak perlu sampai seperti itu. Kami tidak memerlukan apapun lagi. Kami sudah cukup sekarang." jawab Lucia sopan.


"Dan juga pasti kau akan kerepotan berjalan bersama anak kecil di jalan yang mulai petang ini seorang diri sambil membopong Srigala Perak itu" ujar Loujze kemudian.


"Benar juga" Tampak Deuxter menyadari.


"Apakah perkemahan kalian jauh dari sini?" Tanya Jean kemudian.


"Tidak. Kita akan sampai sebelum langit benar-benar gelap" jawab Selene.


-

__ADS_1


Dan benar ucapan Selene, sebelum matahari mulai menghilang dibalik pepohonan hutan, mereka sudah melihat pendaran cahaya oranye dilangit tak jauh di depan mereka. Pendaran cahaya api unggun.


Tak lama kemudian terlihat api unggun yang dinyalakan dipinggiran sungai. Dikelilingi oleh beberapa orang yang tampak sibuk berbincang dan berlalu-lalang. Terlihat ada lima belas orang termasuk anak-anak dan wanita.


Mereka adalah Pedagang keliling Azzure yang dimaksud Selene. Rombongan itu terlihat besar. Karena di sekeliling api unggun tersebut tampak terlihat tiga kereta besar yang masing-masing ditarik oleh empat ekor kuda. Dua gerobak kecil yang masing-masing ditarik seekor keledai. Kemudian empat kuda yang mengangkut tas-tas kain yang tampak membumbung keatas.


Melihat Selene dan Andele datang, mereka langsung bergegas menghampiri menyambut dengan wajah-wajah lega. Kemudian Selene menceritakan semuanya dan memperkenalkan rombongan Nata dan Aksa.


-


"Terima kasih kalian sudah menolong anak perempuan kami. Saya Lumire. Saya adalah pemimpin rombongan ini" ucap seorang pria bertubuh besar dengan brewok lebat yang terlihat angker itu mengenalkan diri seraya membakar racikan tembakau dalam sebuah pipa berwadah "Ini adalah istri saya, Fatima. Dan mereka semua adalah sanak keluarga saya" tambahnya lagi dengan suara yang lantang seraya mengangkat pipa tembakau itu ke mulutnya.


Tampak semua yang ada disitu mengangguk sopan setelah diperkenalkan. Terlihat empat perempuan yang mana salah satunya terlihat lebih muda dari yang lain. Kemudian delapan laki-laki yang tiga diantaranya adalah pemuda dan sisanya pria dewasa. Termasuk Lumire. Dan juga dua anak laki-laki dan satu perempuan. Anak-anak kecil itu tampak tertarik melihat Lily yang berdiri disamping Jean, yang kemudian melambai kecil ke mereka dengan senyuman.


"Silahkan duduk kalian semua, saya akan menyiapkan makanan dulu" ujar sang istri seraya pergi meninggalkan api unggun.


"Tak perlu sampai seperti ini nyonya Lumire" ujar Lucia yang langsung direspon Aksa dengan tatapan sinis.


"Perkenankanlah kami menjamu kalian sebagai teman berharga kami" jawab Lumire kemudian.


"Anda baik sekali tuan Lumire, terima kasih banyak. Kami akan menghormatinya dengan tidak menyisakannya sedikitpun" ujar Aksa kemudian yang dibalas Lucia dengan melotot.


Tak lama kemudian senyum diwajah Aksa dan Nata mulai merekah, saat hidangan satu persatu mulai berdatangan. Seperti sebuah hidangan pesta. Banyak dan beragam.

__ADS_1


__ADS_2