
"Jadi apa yang sebenarnya telah terjadi, Yah?" tanya Cornelius saat ia sudah berada di ruang kerja kediamanan ayahnya di Kota Tengah sehari kemudian.
"Tentang apa ini? Kau tiba-tiba saja masuk dan bertanya seperti itu?" Tampak Orland meletakan buku yang tengah ia baca di atas mejanya. Saat mendapati anaknya yang tiba-tiba masuk dalam ruang kerjanya bahkan tanpa menyapa terlebih dahulu.
"Tentang Aksa dan Nata. Caspian tidak mau memberitahukannya padaku. Aku beranggapan Lucia yang memintanya. Dan aku yakin bahwa ayah pasti mengetahui hal ini," jawab Cornelius tanpa berbasa-basi seraya meletakan kedua tangannya di atas meja kerja Orland. Terlihat sedikit kesal.
Sedangkan Orland hanya terdiam dan kemudian menghembus nafas panjang. "Duduklah dulu," ucapnya kemudian.
"Jadi Ayah memang tahu tentang mereka?" tanya Cornelius yang terlihat semakin kesal, seraya mengeyakan tubuh ke atas salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Iya, aku tahu tentang mereka. Dan kenyataan yang sebenarnya adalah, dua orang itu hilang sekarang. Dan tidak dapat di ketemukan," jawab Orland yang juga tampak tidak ingin membuang waktu dengan berbasa-basi.
"Hilang? Apa maksudnya? Bagaimana bisa?" Cornelius segera menegakan tubuhnya. Terkejut dan tidak mengerti dengan apa yang baru saja Orland bicarakan.
"Menghilang. Tuan Couran dan Nona Lily ada bersama mereka saat tiba-tiba mereka menghilang. Dan itulah yang mereka katakan. Mereka juga sama tidak tahunya dengan kita. Kenapa dan bagaimana nya," jawab Orland mencoba menjelaskan.
"Menghilang begitu saja? Bahkan saat bersama dengan Nona Lily?" Cornelius terlihat masih tidak mengerti bagaimana hal tersebut bisa terjadi.
"Tuan Val dan Nona Yvvone telah memastikan tidak ada sihir yang mungkin digunakan untuk menculik atau mencelakai mereka berdua dari jauh, bila kau juga penasaran akan hal tersebut," lanjut Orland memberi informasi yang lain.
"Apa itu berarti mereka telah kembali ke dunia mereka sendiri?" Cornelius terlihat menduga-duga setelah berhasil menerima penjelasan dari Orland.
"Entahlah? Tapi itu juga sebuah kemungkinan yang bisa saja terjadi," jawab Orland yang terlihat sedikit ragu.
Cornelius terdiam sejenak, mencoba untuk mencerna kebenaran yang tiba-tiba dan tidak di harapkan itu. "Lalu kenapa ayah tidak memberi tahukan ku tentang hal ini? Apa Ayah hendak menyembunyikan hal ini selamanya bila aku tidak bertanya seperti sekarang?" Kali ini Cornelius mulai mengungkapkan kekesalannya.
"Maaf, Aku tidak memberitahukannya pada mu karena aku tidak ingin kau menjadi panik," jawab Orland dengan hembusan nafas panjang. "Aku dan Lucia sengaja masih merahasiakannya pada yang lain, karena kami memiliki harapan bahwa mereka akan kembali atau kami bisa menemukan mereka lagi," lanjutnya memberikan alasan.
Cornelius kembali terdiam. Kembali memberi jedah untuk memikirkan semua ucapan ayahnya. Serta meredakan emosinya yang sempat meningkat.
"Berarti sekaranglah saatnya untuk kita berhenti berharap bahwa mereka akan kembali dan membantu kita menyelesaikan masalah ini," ucap Cornelius kemudian. "Kita harus segera mengadakan pertemuan untuk membuat rencana baru," tambahnya lagi.
"Ya, itu sudah aku, Lucia, dan Caspian bicarakan sejak dari seminggu yang lalu. Tapi karena Lucia masih merasa bahwa mungkin mereka akan kembali, jadi kami menundanya terlebih dahulu," jawab Orland yang terlihat lesu.
"Ini sudah hampir satu bulan, semenjak mereka menghilang, kita sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Yah," ucap Cornelius yang terlihat mulai kembali emosi.
"Ya, aku juga berpikir demikian. Maka dari itu, lusa depan, sebelum kita melakukan pencatatan dan pendaftaran ulang, kita akan melakukan pertemuan untuk memberitahukan perihal kenyataan ini kepada yang lain," ucap Orland menceritakan rencananya. "Setidaknya kepada para pemimpin, dan mulai membuat rencana yang baru," tambahnya kemudian.
"Dan bagaimana tanggapan Lucia tentang hal tersebut?" Cornelius bertanya dengan sedikit kuatir.
"Sudah jelas tidak baik. Sekarang ini dia sedang menyalahkan diri karena tidak bisa menjadi seorang pemimpin yang baik," jawab Orland yang terlihat kasihan kepada Lucia.
"Ya, hal itu sudah ku duga. Tapi sekarang ini, sudah tidak jalan kembali untuknya. Lucia sudah tidak bisa mundur lagi," sahut Cornelius kemudian.
"Itu sudah jelas. Apa lagi dengan keadaan di Elbrasta yang seperti sekarang ini. Para Bangsawan itu tidak akan melepaskannya begitu saja," Orland tampak setuju dengan ucapan Cornelius.
"Lalu bagaimana dengan Ratu Daisy, sekarang?" tanya Cornelius yang terlihat penasaran.
"Maksud mu terhadap masalah Grevier?" tanya Orland memastikan.
"Benar. Sekarang ini bangsawan kerajaan Elbrasta sudah mulai terpecah karena keberadaan Ratu mereka di tempat kita," Cornelius kembali menyandarkan tubuhnya kebelakang. Tampak sudah tidak terlalu emosi.
"Hari ini tadi kepala keluarga Bangsawan Nix dan Chordian, datang untuk bertemu Lucia dan Ratu Daisy," jawab Orland kemudian.
"Apa mereka datang untuk meminta Ratu Daisy?" tanya Cornelius menebak.
"Benar, kita bisa saja mengembalikan Sang Ratu ke Elbrasta. Tapi dengan kondisi sekarang yang masih rawan ini, kemungkinan besar Sang Ratu dan dua putranya akan berada dalam bahaya," ucap Orland mulai bercerita. "Dan Lucia sudah pasti tidak akan menyetujui hal tersebut. Jadi rencananya adalah, kita akan mengembalikan Sang Ratu, saat Grevier telah benar-benar menguasai kotaraja," lanjutnya menambahi.
"Tapi kemungkinan bangsawan terpecah akan semakin besar, bila kita tetap menahan Sang Ratu di tempat ini seperti sekarang," ucap Cornelius yang mulai kembali mempertanyakan keputusan yang diambil oleh ayahnya dan juga Lucia. "Dan jelas akan mengundang banyak bangsawan yang akan menentang wilayah kita," tambahnya kemudian.
"Iya , hal itu jelas akan terjadi," sahut Orland yang mulai bangkit berdiri, dan berjajan mendekati Cornelius.
"Apa kita sudah siap untuk menghadapi peperangan lain? Bila kita terus saja mencoba mencarinya seperti sekarang ini?" tanya Cornelius yang lebih seperti sebuah peringatan.
"Ya, aku juga sadar akan hal itu. Tapi setidaknya untuk wilayah utara kita masih bisa mengandalkan tembok benteng Gerbang Utara untuk bertahan," ucap Orland yang sekarang mulai duduk di salah satu sofa di hadapan Cornelius.
"Tapi tetap itu tidak benar, Yah. Kita harus mengerti posisi kita saat ini dan mengambil atau melepaskan hal yang seharusnya kita lakukan," sahut Cornelius menanggapi ucapan Orland.
Sedang Orland hanya mengangguk pasrah, "Iya, aku mengerti itu," ucapnya kemudian.
-
-
__ADS_1
"Katakan Luc, seburuk apa keadaannya sekarang ini?" tanya seorang wanita Narva setengah baya dengan resah, kepada Lucia di ruang tamu kediaman Lucia.
"Bibi tidak perlu menguatirkan hal tersebut," Lucia menjawab drngan senyuman. Mencoba sebisa mungkin menenangkan wanita setengah baya tersebut.
"Aku tahu semua ini akan membawa masalah buatmu dan kerajaan ini," ucap wanita yang dipanggil bibi oleh Lucia itu, masih terlihat resah.
"Jangan dengarkan kata-kata bangsawan tadi, mereka hanya mencoba untuk memanfaatkan keadaan yang tengah terjadi, untuk kepentingan mereka sendiri, Bi," ucap Lucia lagi masih mencoba menenangkan sang bibi.
"Tidak apa-apa, karena sekarang kita mengetahui kabar Grevier, aku bisa tinggal di tempatnya," ucap sang bibi yang bermaksud tidak mau merepotkan Lucia lebih banyak lagi.
"Tidak perlu, Bi." Lucia mendekat dan kemudian menggenggam tangan sang bibi. Mencoba meyakinkan wanita setengah baya itu. "Sudah kubilang jangan pikirkan tentang hal tersebut. Bibi, Alexander, dan Eden akan tetap berada disini sampai kak Grevier berhasil mengambil alih kotaraja dan memastikan semuanya aman," ucapnya yang mulai terdengar sedikit memaksa.
"Tapi, Luc...." potong sang bibi kemudian.
"Bibi pasti tahu dengan kondisi seperti sekarang ini, menuju ke tempat kak Grevier akan sangat berbahaya, bukan saja untuk Bibi, tapi juga untuk Alexander dan Eden," sahut Lucia membalas ucapan sang bibi dengan segera.
"Ya, aku tahu akan hal itu. Tapi tetap saja karena hal ini, akan banyak keluarga bangsawan yang berdiri untuk melakukan perlawanan tehadap kerajaan ini. Sementara sekarang ini kau masih di pusingkan dengan masalah pemberontakan di wilayah baru mu di selatan," jawab sang bibi yang terlihat balik menggengam tangan Lucia erat-erat.
"Sudah ku bilang, Bibi tidak perlu memikirkannya. Sekarang istirahatlah dulu. Kita tunggu perkembangannya satu-dua minggu lagi," ucap Lucia seraya mengusap lengan sang bibi dengan penuh perhatian.
Terlihat wanita setengah baya itu diam menatap Lucia dengan wajah yang masih terlihat resah. Namun tak lama kemudian mulai menarik nafas panjang saat tampak dari mata Lucia bahwa keponakan perempuannya itu, tidak akan merubah keputusannya. "Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan berdebat dengan mu lagi tentang masalah ini," ucap sang bibi kemudian. "Aku akan mendengarkan mu, dan menunggu perkembangannya," tambahnya lagi.
"Baguslah kalau begitu," ucap Lucia dengan senyum lega tampak mengembang di wajahnya.
"Baiklah, aku permisi dulu kalau begitu," ucap sang bibi pamit.
"Selamat beristirahat, Bi," jawab Lucia kemudian, sebelum ia pun ikut meninggalkan tempat itu menuju ruang kerjanya.
.
Tampak Lucia memasuki ruang kerjanya dengan lunglai dan segera menjatuhkan diri berebah ke atas sofa panjang di tengah ruangan. Tidak memperdulikan keberadaan Jean yang tengah duduk di sofa di seberangnya.
Terlihat Jean menghembuskan nafas panjang saat melihat Lucia membujur tengkurap di atas sofa di hadapannya.
"Anda baik-baik saja Yang Mulia?" tanya Jean yang terlihat sedikit kuatir.
"Selalu aneh mendengarkan mu memanggil Yang Mulia, terhadapku," dengung Lucia dari balik bantalan sofa.
"Anda akan membuat baju Anda kusut," sahut Jean memperingatkan Lucia.
"Itu tidak benar. Hal ini sudah dapat di tebak datangannya bahkan sebelum kerajaan ini berdiri," ucap Jean menjawab. Berusaha menyakinkan bahwa yang diucapkan Lucia itu tidak benar.
"Kurasa aku tidak akan pernah bisa menjadi seorang Ratu yang baik," keluh Lucia masih dengan wajah yang menghadap ke bantalan sofa.
"Kurasa Anda adalah Ratu yang baik," ujar Jean yang mencoba menyemangati Lucia.
"Apa Ratu yang baik akan mengambil keputusan yang seperti sekarang ini, Jean?" tanya Lucia yang kali ini mulai memutar tubuhnya menghadap ke arah Jean. Meskipun masih dalam posisi terebah di atas sofa.
"Menurut saya Ratu yang baik adalah yang mengerti benar tentang dirinya sendiri. Tentang kelebihan dan kekurangannya," ucap Jean kemudian. "Juga tahu apa yang ia mau," lanjutnya yang masih mencoba untuk menyemangati Lucia.
"Kalau begitu berarti aku memang bukan seorang Ratu yang baik," jawab Lucia lagi sambil mengarahkan pandangannya ke lampu gantung di langit-langit di atas ruangan tersebut.
"Mungkin Anda harus mencoba untuk fokus dan memastikan lagi, apa yang sebenarnya Anda inginkan." Terlihat Jean memberikan masukan kepada Lucia.
"Jangan salah. Selama ini aku selalu melakukan apa yang aku inginkan, Jean," jawab Lucia dengan tatapan yang menerawang seolah menembus langit-langit ruangan. "Tapi bila hanya dengan melakukan hal itu saja, tetap tidak akan membuat aku langsung menjadi seorang Ratu yang baik. Dan buktinya sekarang," ucapnya lagi menambahkan.
"Selama ini aku hanyalah seorang putri manja yang selalu mengandalkan dua pemuda itu. Dan tanpa mereka berdua aku memang bukan siapa-siapa," lanjut Lucia yang terdengar pasrah.
"Anda jangan terlalu meremehkan diri Anda sendiri, Yang Mulia," jawab Jean yang terlihat kuatir dengan ketidak percaya dirian Lucia.
"Bukan, Jean. Seperti katamu tadi, aku hanya sedang mencoba melihat kelebihan dan kekurangan ku sendiri. Dan seperti itulah keberadanku sekarang," jawab Lucia yang terlihat serius dan bersungguh-sungguh.
Kemudian keheningan mulai terbentuk dalam ruangan tersebut. Semua orang terdiam. Lucia terlihat sedang memikirkan segala hal yang ada di kepalanya saat ini. Sementara Jean tetap diam untuk memberi waktu pada Lucia.
"Apa mereka akan kembali, Jean?" tanya Lucia kemudian memecah keheningan.
"Saya kira bila mereka mampu untuk kembali, mereka pasti akan melakukannya," jawab Jean kemudian.
"Aku meragukan hal itu. Pada dasarnya tujuan utama mereka adalah mencari jalan untuk dapat kembali ke dunia mereka," ujar Lucia yang masih menatap ke arah langit-ldngit ruangan.
"Tapi saya rasa, bukan sifat mereka yang pergi tanpa berpamitan dan tanpa menyiapkan segala sesuatunya. Memastikan semua akan berjalan dengan baik ketika mereka pergi," balas Jean yang mencoba memberikan pendapat serta alasanya terhadap ucapan Lucia sebelumnya.
"Apa kau pikir seperti itu?" tanya Lucia yang terlihat tak acuh menanggapi ucapan dari Jean.
__ADS_1
"Anda ingat bagaimana mereka berusaha untuk memastikan wilayah ini berjalan dengan baik, saat mereka hendak pergi meninggalkan tempat ini menuju kota Guam dan Yanah Suci?" ucap Jean mencoba mengingatkan Lucia.
"Mungkin karena kali ini mereka memiliki kesempatan? Mungkin mereka sudah bosan mendengar rengekanku? Dan mencoba pergi secara sembunyi-sembunyi, karena takut aku akan kembali menahan mereka dengan memanfaatkan segaja hal yang bisa membuat mereka tetap tinggal?" jawab Lucia mencoba mengungkapkan pendapatnya. "Oh, ternyata aku juga seorang Ratu yang egois," sahutnya kemudian, seperti baru sadar akan suatu hal.
Jean tampak kembali membuang nafas panjang. "Saya rasa, lebih baik Anda juga beristirahat terlebih dahulu, Yang Mulia. Besok Anda harus membahas tentang wilayah Utara dengan Caspian dan Tuan Orland," saran Jean kemudian.
"Kurasa kau benar, Jean. Tapi aku rasa aku akan mandi dulu untuk mendinginkan kepalaku yang panas saat ini, sebelum beristirahat," jawab Lucia kemudian seraya bangkit berdiri dari sofa panjangnya. Dan kemudian bersama Jean mulai meninggalkan ruangan tersebut.
-
-
Dua hari kemudian, di kediaman Lucia di kota Tengah, pertemuan dengan para pemimpin wilayah dan para kabinet pun diadakan.
Pertemuan itu dihadiri oleh dua puluh lima orang. Selain Lucia dan Jean, ada lima pemimpin wilayah dan lima wakilnya, kemudian ada lima Bijak Yllgarian, delapan anggota kabinet, dan delapan pemimpin pasukan, serta dua perwakilan kelompok Bintang Api.
Mereka duduk di depan sebuah meja panjang dengan sepuluh kursi di masing-masing sisinya, dan beberapa tambahan kursi di sekitarnya.
"Pada kesempatan kali ini aku ingin mengumumkan sesuatu, namun sebelum itu aku ingin meminta maaf karena tidak mengatakan hal ini secepatnya," ucap Lucia membuka pertemua tersebut. "Mungkin ada sebagian dari Anda sekalian yang sudah mengetahui tentang masalah ini. Ini mengenai perihal Aksa dan Nata," lanjutnya kemudian.
"Kenyataan bahwa dua orang itu tidaklah mengunci diri di dalam gua. Tetapi menghilang," ucap Lucia menambahkan. Yang dengan segera memicu reaksi beberapa orang yang tampak terkejut mendengar hal tersebut. Mereka yang sudah mengetahuinya juga terlihat sedikit tidak nyaman mendengarnya lagi.
"Sebelum kita melanjutkannya, aku ingin meminta maaf karena merahasiakan masalah ini sampai sekarang. Semua itu adalah ide dari ku. Aku merasa, mereka mungkin akan kembali dalam waktu dekat ini, sehingga untuk menghindari keributan aku memutuskan untuk merahasiakan hal ini," ucap Lucia meminta maaf dan sekaligus mencoba menjelaskan alasan di balik keputusannya tersebut. "Namun aku sadar, bahwa sudah sebulan lebih mereka tidak kunjung kembali. Dan masalah di wilayah kita semakin lama semakin memburuk. Jadi hari ini aku putuskan untuk mengatakah semua ini pada kalian, dan segera menentukan perubahan rencana. Dalam rangka menyelesaikan masalah ini," lanjutnya kemudian, yang hanya ditanggapi dengan kesunyian dari yang lain.
"Baiklah, hanya itu yang ingin aku bicarakan. Kuharap kalian mau mengerti. Untuk masalah bagaimana kedua pemuda itu hilang, akan kita bahas nanti. Sekarang yang terpenting adalah melakukan sesuatu untuk menangani masalah yang kita hadapi," ucap Lucia lagi. memecah keheningan. "Untuk itu silahkan, Paman," lanjutnya kemudian mempersilahkan Orland mengambil alih pertemuan tersebut.
"Baiklah, saya akan mulai pertemua kali ini. Jadi sekarang kita memiliki dua masalah utama yang sedang kita alami," ucap Orland memulai pertemuan tersebut. "Masalah dengan wilayah selatan, dan masalah dengan wilayah utara." Tampak ia menjedah ucapannya sementar. "Untuk masalah dengan wilayah utara, saat ini kita akan tetap memilih untuk tidak mengikuti permintaan dari beberapa keluarga bangsawan kerajaan Elbrasta. Meski ada kemungkinan mereka akan melakukan serangan untuk mengambil Ratu secara paksa, namun kemungkinan tersebut sangatlah kecil, dan kita masih memiliki Gerbang Utara untuk menahannya," ucapnya panjang lebar menjelaskan.
Sementara yang lain hanya terdiam menyimak ucapan Orland dengan seksama.
"Jadi untuk sementara ini wilayah utara tidak terlalu mendesak dibanding dengan wilayah selatan," ujar Orland kembali melanjutkan. "Dan untuk masalah di wilayah selatan, rincinya akan saya serahkan kepada Nyonya Amithy," lanjutnya yang mempersilahkan Amithy untuk menjelaskan.
"Jadi untuk masalah yang terjadi di wilayah selatan sekarang ini adalah tentang keamanan wilayah dari para pemberontak. Yang disamping membuat penduduk ketakutan, juga membuat rencana pembangunan kita terhambat," sahut Amithy mengambil alih pertemuan.
"Dan oleh karena itu, yang wilayah selatan perlukan sekarang ini adalah menghentikan para pemberontak tersebut," ucap Amithy melanjutkan. "Tapi, saat ini kita tidak terlalu memiliki cukup prajurit untuk menghancurakan mereka, dan sekaligus berjaga di perbatasan wilayah kerajaan Joren dan kerajaan Augra," lanjutnya menjelaskan.
"Apakah tidak ada cara lain untuk mengatasi hal tersebut? Seperti membuat senjata mungkin?" Nadir tampak menyela ucapan Amithy.
"Untuk pembuatan Kereta Tempur saat ini wilayah Estrinx tidak dapat memenuhi kebutuhan logam Dracz yang kita perlukan. Sedang untuk senjata api tidak ada masalah dalam pembuatannya, namun tetap kita bergantung pada banyaknya prajurit untuk menggunakannya," jelas Amithy kemudian. "Dan saya kira, mulai mempersenjatai prajurit baru yang kita ambil dari orang-orang selatan itu dengan senjata api, cukup beresiko," lanjutnya menambahkan.
"Saya juga setuju. Sekarang ini menurut kabar yang kami terima, mereka telah mulai memasang mata-mata diwilayah kita." Cedrik menyahut menyetujui ucapan Amithy. "Dan kemungkinan yang pertama mereka lakukan adalah, mencari kelemahan kita dan mencuri pengetahuan tentang persenjataan kita," ucapnya memberikan pendapat.
"Benar. Maka dari itu saya mengusulkan untuk kita mulai memusatkan kekuatan untuk mengalahkan para pemberontak di suatu wilayah tertentu," ucap Amithy menambahi.
"Berarti kita akan melepas wilayah yang lainnya?" tanya Mateus memastikan.
"Benar," jawab Amithy cepat.
"Saya juga setuju." Caspian ikut berbicara. "Kita bisa mengambil alih wilayah itu kembali seiring dengan bertambahnya kekuatan pasukan yang kita punya," ucapnya kemudian.
"Dan berapa lama perkiraan kita mungkin akan kembali mengambil alih semua wilayah yang kita punya?" Mateus bertanya kepada Caspian.
"Mungkin dua atau tiga tahun," jawab Caspian cepat.
Ruangan mulai terdengar berisik. Beberapa orang tampak saling berbisik menanggapi ucapan dari Caspian tersebut.
"Karena tidak seperti wilayah utara yang memiliki tembok benteng. Bila kita tidak melakukan hal tersebut, wilayah kita tidak akan bertahan lebih dari satu tahun," ucap Caspian yang segera menjelaskan alasan di balik ucapannya tadi.
"Tapi kalau begitu, kita akan memulai perang baru untuk wilayah selatan. Dan itu tidak akan sebentar." Lucia tiba-tiba berucap.
"Benar. Yang Mulia." Caspian menjawab dengan cepat.
"Jadi, kita akan mulai menarik pasukan kita dari wilayah perbatasan paling jauh dari wilayah pusat, dan mulai berkonsentrasi melakukan pembersihan pemberontakan di wilayah yang paling dekat dengan wilayah Pusat ini," ucap Caspian kemudian mencoba menjelaskan rincian dari rencananya kepada Lucia. "Dan setelah berhasil, kita akan mulai membangun perlindungan dan mulai melakukan pembersihan pemberontak di wilayah lainnya secara bertahap, hingga nantinya kita berhasil menyamhil alih wilayah kita yang sebelumnya kita lepas," lanjutnya lagi panjang lebar.
Lucia terlihat diam berpikir. "Tapi bila seperti itu, berarti kita tidak berbeda dengan kerajaan-kerajaan lain di wilayah selatan ini. Berperang demi wilayah. Wilayah yang bahkan bukan milik kita sebelumnya," ucap Lucia kemudian.
"Tapi Yang Mulia, kita sudah mengakui wilayah-wilayh tersebut sebagai wilayah kita saat kita mengumumkan diri sebagai sebuah kerajaan. Dan bila kita kehilangan wilayah tersebut, itu sama saja dengan kita merendahkan diri kita di hadapan kerajaan lain." Kali ini Orland yang berucap mencoba memberi penjelasan kepada Lucia.
Lucia kembali terlihat diam berpikir. "Ya, aku tahu itu," jawabnya kemudian dengan berat hati. "Dan apakah ada yang keberatan dengan rencana ini? Apakah ada yang memiliki ide atau rencana yang lain?" tanya Lucia memastikan.
Semua orang terlihat saling bicara, namun tidak ada yang mengajukan keberatan atau mengajukan rencana yang lain. Tampaknya mereka semua sudah sepakat bahwa rencana tersebut adalah rencana terbaik yang mereka bisa lakukan saat ini.
"Baiklah kalau memang semua orang setuju. Kita akan menjalankan rencana ini," ucap Lucia kemudian memutuskan. "Untuk rincinya, kita akan melakukan pembahasan terpisah setelah ini. Dan sekarang pertemuan ini dibubarkan. Selamat siang," tutupnya seraya beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
-