
"Apa yang tengah terjadi, bi? Bagaimana bibi bisa sampai di tempat ini?" Lucia bertanya kepada seorang wanita setengah baya, beberapa waktu setelah ia sudah berada di kediamannya di barat kota Tengah.
Lucia kedatangan 7 orang siang itu. Mereka menggunakan kereta kuda lusuh dengan atap terbuat dari kain tenda melengkung, yang ditarik seekor kuda.
Rombongan tersebut terdiri dari 2 ksatria Morra, 3 pelayan perempuan Morra, bibinya, dan kemudian 2 sepupunya. Mereka semua tampak sedang menyamar dengan menggunakan pakaian rakyat biasa.
"Ceritanya cukup panjang, Luc. Aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi saat tiba-tiba, beberapa ksatria penjaga keluarga istana muncul dan membawa kami keluar dari dalam istana" wanita dengan rambut kuning yang disanggul kebelakang itu bercerita.
Kini Lucia dan bibinya, istri dari pamannya yang menjabat sebagai raja kerajaan Elbrasta itu, sedang berbincang berdua di kamar tamu tempat peristirahatan wanita setengah baya itu selama berada di tempat tersebut.
"Yang ku tahu dari para ksatria itu adalah pasukan Roxan dan Voryn berhasil menembus istana" wanita itu melanjutkan ucapannya. Sementara terlihat Lucia mendengarkan dengang seksama. "Dan setelah itu kami terus dikejar-kejar oleh mereka" tutupnya kemudian.
"Benarkah? Dari yang saya dengar, keluarga istana berhasil ditangkap dan dijadikan sandra oleh para pemberontak" Lucia menanggapi dengan menceritakan yang ia tahu.
"Tidak. Kami tidak pernah tertangkap. Dari awalnya kami sudah melarikan diri bahkan sebelum mereka sempat menemukan kami" sang bibi menjawab lagi.
"Ini sudah hampir tiga minggu, bi. Di mana saja selama ini bibi berada?" Lucia bertanya lagi. Terlihat kekuatiran di wajahnya.
"Kami berjalan hampir lima hari dari kotaraja melewati lembah kabut. Kemudian karena kesehatan Eden yang semakin memburuk, kami terpaksa tinggal sebentar di salah satu tempat tinggal keluarga Rachel, pelayan ku. Tak jauh dari kota Albas" sang bibi mulai bercerita kembali.
"Kami tinggal selama kurang lebih sepuluh hari di tempat tersebut. Memastikan Eden benar-benar bisa kembali untuk melakukan perjalanan. Karena kami memang berniat untuk datang kemari.
"Kami sebisa mungkin tidak menampakan diri sama sekali. Seraya menanti kabar dan berharap bahwa kami tidak perlu kemari dan bisa kembali ke kotaraja.
"Namun sampai akhirnya pasukan Voryn mulai melakukan pencarian di sekitar kota Albas, kami tidak mendapat kabar bagus apapun dari kotaraja. Dan kemudian lima hari yang lalu kami memutuskan untuk menuju ke tempat ini" sang bibi menutup penjelasannya.
__ADS_1
"Apa kabar yang bibi ketahui?" Lucia bertanya dengan sedikit ragu.
"Aku mendengar kabar tentang apa yang terjadi terhadap paman mu. Tapi aku masih belum mendengar kabar tentang Grevier. Apa kau tahu sesuatu, Luc? Bagaimana keadaan paman mu? Bagaimana keadaan Grevier?" Sang bibi kembali menjawab. Tampak kesedihan terlihat di mata wanita setengah baya tersebut.
Lucia terlihat tidak nyaman mendengar ucapan dari sang bibi itu.
"Kau tak perlu kuatir, Luc. Karena sebagai istrinya, aku merasa paman mu belum meninggal. Aku meyakini hal itu" sang bibi berucap setelah menyadari sikap dan raut wajah Lucia yang terlihat sedih dan kuatir.
"Ya, bi. Saya juga berdoa untuk hal tersebut. Tapi sayangnya, sampai saat ini kami juga tidak mengetahui kabar tentang kak Grevier" Lucia menjedah ucapannya. Kemudian menatap kearah bibinya, dan mulai berkata-kata lagi.
"Tapi sebelumnya saya mau meminta maaf terlebih dahulu, karena tidak bisa berbuat banyak untuk kerajaan. Karena banyak hal, yang membuat saya tidak mungkin dengan sesuka hati melakukan sesuatu" Lucia terlihat menjedah lagi ucapannya. "Sekarang yang bisa saya lakukan hanyalah memberi bibi, Alexander, dan Eden tempat untuk berlindung. Mohon bibi mau mengerti akan hal tersebut" lanjutnya kemudian.
"Aku mengerti benar posisi dan perasaan mu, Luc" sang bibi berucap seraya menyentuh punggung tangan Lucia yang berada diatas meja. "Aku kemari tidak memintamu untuk melakukan apapun, Luc. Cukup beri dua saudara mu itu perlindungan. Itulah yang ku minta dari mu" lanjutnya lagi.
"Untuk hal tersebut, bibi tidak perlu meminta atau berharap. Karena saya pasti kan melindungi bibi, Alexander, dan Eden sekuat yang saya bisa" Lucia menjawab dengan cepat.
"Ini hasil dari kerja keras semua orang, bi. Bukan hanya karena saya seorang" Lucia menjawab dengan wajah yang sudah kembali tersenyum.
"Tapi dulu, ku kira kau sudah tidak berpikiran jernih dengan keputusanmu melepas tahta dan menuju ke tanah mati ini. Tapi sekarang, dari yang kudengar, kau bahkan berhasil mengalahkan kerajaan Urbar di daratan selatan"
"Ya, kami melalui banyak hal disini, bi. Semua yang ada sekarang ini berasal dari perjuangan kami semua. Bukan hanya keringat, tapi juga darah dan nyawa"
"Sekarang kau sudah jadi lebih dewasa, Luc. Syukurlah" sang bibi terlihat tersenyum dengan lega.
-
__ADS_1
"Bagaimana, pangeran? Apakah anda menyukainya?" Tanya Jean yang sedang berada di ruang makan bersama dua saudara laki-laki lucia dan tiga pelayan mereka.
Tampak pula Aksa, Nata, Rafa, dan Luque ditempat tersebut. Mereka semua sedang makan siang bersama. Bersepuluh di meja panjang dengan 12 kursi.
Termasuk dengan para pelayan yang awalnya bersikeras menolak untuk duduk makan semeja dengan junjungan mereka. Tapi setelah mendapat paksaan dari yang lain dan ijin dari salah satu junjungan mereka, yaitu saudara sepupu Lucia, akhirnya mereka pun mau untuk makan semeja bersama.
"Kalian tidak perlu memanggilku pangeran. Karena aku belum menjadi seorang pangeran" ujar seorang bocah laki-laki bedusia 14 tahun, yang sedang menyuapkan sendokan sop ikan kedalam mulutnya.
"Apa kau bukan keturunan sah, sang raja?" Tiba-tiba Aksa menyelutuk bertanya.
"Aksa, jaga cara bicaramu!" Jean segera menghardik keras dengan tatapan tajam. Tubuhnya terlihat sudah setengah berdiri. Bila tidak terhalang oleh meja makan, Jean pasti sudah melancarkan tinjunya ke wajah Aksa.
"Tidak apa-apa, nona Jean" bocah tadi berucap dengan tenang. "Aku memang bukanlah seorang pangeran yang sah, meski aku adalah anak sah dari sang raja. Setidaknya sampai lima tahun lagi. Saat beliau sudah melakukan sumpah Penobatan Bintang" jawabnya kemudian dengan masih terlihat sopan dan tidak terpancing.
"Oh, Penobatan Bintang. Tapi bukannya ayahmu anak asli dari raja sebelumnya? Kukira hal itu hanya berlaku untuk raja yang bukan darah keturunan asli Elbrasta" Aksa menjawab sambil mengangguk kecil. Seperti baru saja memahami sesuatu.
"Apa itu Penobatan Bintang, Aks?" Kali ini Nata yang bertanya dari seberang meja.
"Itu adalah salah satu ritual yang dilakukan oleh seorang raja yang menjabat karena menikahi keturan perempuan raja sebelumnya. Selama raja belum melakukan ritual tersebut, ia tidak memiliki hak penuh sebagai seorang raja. Salah satunya adalah anak nya tidak akan menjadi seorang putra mahkota" Aksa menjelaskan.
"Itu adalah aturan kerajaan, tentang seorang raja yang bukan berasal dari darah daging raja sebelumnya. Atau sering disebut dengan Raja Kehormatan. Biasanya dari saat sang raja naik tahta sampai pada Penobatan Bintang, membutuhkan waktu antara lima atau enam tahun" Rafa disebelah Nata ikut menambahi penjelasan Aksa. "Tujuan hal tersebut dibuat adalah, karena rakyat perlu pembuktian bahwa raja tersebut memang layak untuk memimpin. Bila tidak, masih ada kemungkinan kedudukan raja tersebut akan digantikan oleh sanak keluarga yang lain" lanjutnya panjang lebar.
"Oh, jadi itu semacam masa Probation" Nata mengangguk paham.
"Benar. Bayangkan jadi raja aja ada masa percobaannya segala" celetuk Aksa seraya menyuapkan sendok kedalam mulutnya.
__ADS_1
-