
"Jadi semua ini adalah peralatan dari dunia kalian?" Couran bertanya saat ia berada disamping Nata yang sedang memeriksa kotak besi berwarna hitam yang lebih tinggi dari tubuh Nata, dan terdengar mengeluarkan suara mendengung halus seperti puluhan lebah.
"Benar, tuan Couran" Nata menjawab setelah selesai memastikan beberapa kaca gelap berbingkai logam yang memiliki gambar seperti simbol bergerak-gerak, terletak di salah satu sisi kotak bezi tersebut.
"Dan semua ini tidak menggunakan sihir sama sekali?" Luque bertanya dari belakang Nata, mencoba melihat apa yang sebenarnya Nata lakukan dengan simbol-simbol tersebut.
"Benar. Alat-alat ini bergerak menggunakan listrik, nona Luque" Nata menjawab seraya berjalan menuju ke salah satu tabung logam besar berwarna perak mengkilat dengan beberapa garis berwarna hitam-kuning dibagian sisinya. "Tapi semua ini bukan alat yang umum digunakan kehidupan sehari-hari. Ini adalah alat khusus untuk ilmuwan" ucapnya kemudian melanjutkan.
"Ilmuwan?" Couran tidak mengerti arti kata tersebut.
"Semacam cendikia. Jadi alat-alat ini digunakan sebagai alat bantu untuk mencari tahu kebenaran dan membuktikan sebuah teori ilmu pengetahuan" Nata menjawab lagi. "Bisa di ibaratkan seperti alat yang digunakan oleh para pendeta Bintang Jatuh untuk menggambar peta bintang" jelasnya kemudian.
"Oh, aku mengerti" Couran menjawab sambil mengangguk pelan.
"Yak, selesai" tiba-tiba terdengar Aksa dari seberang ruangan. Di depan alat dengan tiga gelang yang saling bersinggungan.
"Bagaimana, Aks?" Nata bertanya seraya berjalan ke tengah ruangan. Menuju kursi panjang dimana Lily sedang duduk bersama Rafa.
"Semua tampak normal. Entah bagaimana mereka melakukannya, tapi selama ratusan tahun dalam segel sihir itu, tidak ada komponen yang berubah dari semua alat ditempat ini. Seolah waktu membeku begitu saja" Aksa terlihat kagum.
"Segel sihir memang juga menyegel pergerakan waktu" celetuk lirih Yvvone yang sedari tadi terus berkeliling ruangan yang di sebut Laboratorium oleh Aksa itu. Dan kali ini ia berucap dari atas panggung besi di sisi kiri ruangan.
"Lalu, mesin pemecah partikelnya?" Nata yang tidak mendengar ucapan Yvvone melanjutkan pertanyaannya kepada Aksa.
"Dalam kondisi sempurna. Hanya saja kita butuh lebih banyak generator lagi, bila ingin menyalakannya dan melakukan pengecekan" Aksa menjawab seraya menjatuhkan tubuhnya ke kursi tepat disebelah Rafa.
"Benar juga. Hanya untuk melakukan running system analysis saja, kita memerlukan setidaknya 300 megawatts, yang mungkin setara dengan empat ratusan generator kecil itu" Nata terlihat menjambak rambutnya sendiri kebelakang karena kesal, seraya duduk di salah satu sandaran kursi di depan Aksa.
"Meski dengan pemangkasan energi dari kabel Superkonduktor, tetap kita masih butuh setidaknya setengah terawatts untuk menyalakan mesin ini secara penuh. Benar-benar pe-er banget, deh" Aksa juga terdengar sedikit frustasi sambil menyandarkan tubuhnya ke belakang.
"Jadi, apa kalian bisa pulang kembali ke dunia kalian?" Lily bertanya dari sebelah Rafa.
"Bisa, tapi mungkin akan butuh waktu yang cukup lama" Aksa menjawab dengan lesu.
"Baguslah. Setidaknya aku bisa lebih lama lagi tinggal bersama dengan kalian" tiba-tiba Luque mendesak duduk di samping Aksa dan membuat kursi yang hanya cukup untuk tiga orang itu jadi terasa sesak karenanya.
"Anda, masih bisa bisa tinggal ditempat ini meski mereka sudah tidak berada di tempat ini, Primaval" Rafa menanggapi ucapan Luque seraya mencoba membenahi posisi duduknya yang terdorong oleh Aksa.
__ADS_1
"Buat apa? Aku kemari hanya tertarik dengan mereka berdua saja" Luque menjawab dengan cepat.
"Kenapa sekarang perkataan anda jadi mirip seperti Aksa, nona Luque?" Nata segera menimpali ucapan Luque tersebut.
"Memang bagaimana perkataan Aksa?"
"Berucap tanpa berpikir, apakah itu sopan atau tidak" Nata menjawab.
"Hei, siapa yang seperti itu?" Terdengar Aksa tidak terima.
Dan pertengkaran kecil mereka bertiga pun terjadi.
"Jadi seperti apa dunia tempat anda berasal, tuan Aksa?" Tiba-tiba Rafa bertanya saat tampaknya Aksa, Nata, dan Luque sudah mulai lelah beradu argumen.
"Disana jelas tidak ada sihir" saut Aksa cepat dengan nada yang terdengar bangga. "Dunia kami dipenuhi dengan alat-alat berdasar dari ilmu pengetahuan yang mempermudahkan kami untuk melakukan aktivitas" lanjutnya menjelaskan.
"Jadi duniamu itu dipenuhi dengan kereta-kereta besi?" Mali ini Luque yang bertanya.
"Ya, kurang lebih seperti itu. Kami juga membangun bangunan dari logam dan kaca, yang tingginya mungkin melebihi tinggi bukit Dinding Sekai itu" Aksa masih bercerita dengan terlihat bangga.
"Benarkah?" Rafa terlihat antara tidak percaya dan juga kagum disaat yang beramaan.
"Ya aku juga mau melihatnya" celetuk Yvvone tiba-tiba dari atas panggung logam tadi.
"Aku juga mau" Luque terdengar berucap ceria seraya mengangkat tangannya.
Aksa menuju ke meja yang menempel di sisi tembok di ujung kiri ruangan, tepat dibagian bawah panggung logam. Yang kemudian diikuti oleh yang lain.
Lalu ia mulai menyalakan salah satu kaca gelap persegi berbingkai hitam, yang kemudian memunculkan gambar berwarna cerah, serupa dengan Laptop yang sering ia bawa-bawa.
"Ini disebut Komputer" Aksa menjelaskan kepada Rafa seraya duduk dikursi berkaki tunggal yang memiliki roda dibagian bawahnya.
"Komputer?" Terdengar Rafa mengulangi ucapan Aksa.
"Benar, kegunaannya sama seperti Laptop ku" jelas Aksa lagi. Yang kini mulai menggerakan sesuatu berbentuk seperti gundukan batu berwarna hitam. Seukuran setengah genggaman tangan Aksa. Dan memiliki cahaya berwarna biru dibagian bawahnya.
Semua orang tampak terheran-heran saat menyadari bahwa gerakan benda aneh ditangan Aksa itu, selaras dengan gerakan salah satu simbol di dalam kaca berbingkai dihadapannya.
__ADS_1
"Apa komputer ini memiliki tugas yang berbeda dengan Laptop anda, tuan Aksa? Mengapa kita harus melihat gambar dunia anda dari tempat ini?" Rafa terlihat kritis bertanya dari samping tempat duduk Aksa.
"Berbeda tugas? Tidak juga. Fungsi komputer ini sama seperti Laptopku. Tapi karena ukuran Harddisk-nya tidak terlalu besar, maka gambar dan video ku simpan di dalam server backup" Aksa menjelaskan, yang tidak bisa dimengerti sama sekali oleh Rafa. "Laptop ku itu hanya berisi program-program saja" ucapnya lagi yang masih tidak membuat Rafa paham.
"Aku juga tidak terlalu suka mengambil foto dengan Smartphone, jadi tidak ada gambar tentang dunia ku di dalamnya" kali ini Nata yang berucap masih dari kursi ditengah ruangan.
"Padahal itu hal yang.sangat berguna, malah disia-siakan" celetuk Yvvone yang tampak tidak terima Nata tidak memanfaatkan kemampuan Smartphone yang kini sudah resmi menjadi miliknya itu.
Aksa mulai menampilkan beberapa gambar diam dan gambar bergerak dari kaca berbingkai tersebut. Gambar tentang dunianya dan Nata.
"Indah sekali. Apa cahaya itu berasal dari lampu seperti yang ada ditempat ini?" Rafa terlihat kagum melihat gambaran menara-menara yang bersinar berkilauan, menjulang tinggi hingga nyaris menyentuh awan.
"Benar. Itu adalah LED" jawab Aksa seraya memberikan alat aneh dalam genggamannya itu kepada Lily di sebelahnya, yang tampak sudah paham dengan cara penggunaannya. Dan kemudian mempersilahkan gadis kelinci itu untuk duduk ditempat duduknya, sementara ia berdiri dan berjalan mundur. Memberi ruang untuk yang lain agar supaya dapat lebih dekat melihat gambar-gambar tersebut.
"Jadi lampu seperti itu bukan hanya berwarna putih dan kuning saja? Unggu juga ada?" Celetuk Couran dari samping Rafa yang juga terlihat kagum. "Sulit dipercaya semua hal tersebut bukan dibuat dengan sihir" tambahnya kemudian.
"Kami juga membuat bukan hanya kereta besi dan kapal besi, tapi juga angkutan yang dapat melayang dan terbang ke angkasa" Aksa masih mencoba untuk menyombongkan diri
"Benarkah?" Yvvone terlihat meragukan ucapan Aksa.
"Mulai yang kecil tidak berawak sampai yang sebesar kapal laut" Aksa menjawab tenang dengan wajah angkuhnya.
"Lalu bagaimana caranya benda-benda itu bisa melayang bila kalian tidak menggunakan sihir?" Yvvone terdengar tidak terima.
"Benar aku juga penasaran" kali ini Luque yang berucap.
"Apakah benda-benda itu menggunakan gaya angkat dari reaksi udara?" Rafa tampak menebak.
"Benar sekali. Meski ada berbagai cara untuk membuat benda berat melayang di udara, tapi intinya memang adalah gaya angkat dari reaksi udara" Aksa terlihat bangga Rafa bisa menebak hal tersebut.
"Kalian bicara apa sih? Aku tidak mengerti" Yvvone menggelengkan kepalanya tampak tidak tertarik dengan perbincangan Aksa dan Rafa. Lalu berjalan pergi melihat berkeliling area dibawah panggung besi tersebut.
"Jadi apa setelah ini kau akan membuat kapal angkasa itu, Aks?" Couran bertanya kemudian.
"Tentu saja, tuan Couran. Apalah artinya bila dunia fantasy tanpa adanya airship?" Aksa menjawab dengan bersemangat meski tidak ada orang yang bisa mengerti maksud dari ucapannya itu.
"Bagaimana cara menyalakan benda ini, Aks? Ini sama seperti komputer-komputer itu, kan?" Tanya Yvvone dari ujung meja di depan salah satu alat setinggi setengah tubuh pria dewasa berbentuk seperti kotak kerangka besi dengan kaca gelap berbingkai menempel dibagian atas kerangka tersebut. "Oh, yang ini apa? Kenapa ada air di dalamnya?" Tambahnya lagi saat ia mencoba mengintip ke bagian tengah kerangka tersebut.
__ADS_1
"Hei, Yvvone turun dari situ! Itu Cutting Laser sekaligus Multi-material 3D Printer, jangan menyentuh benda itu sembarangan. Kau bisa terbakar!" Teriak Aksa seraya berlari menuju ke arah Yvvone.
-