
Mereka menunggu sampai kembali kerumah Lily sebelum membuka dan memastikan apa yang dititipkan Oracle kepada mereka. Dirumah itu hanya ada mereka berempat saja. Lucia dan Jean ditemani Fla sedang berbelanja untuk makan malam nanti. Sedang trio pemburu sedang keluar berburu. Mereka berempat duduk memutari meja diruang tengah.
"Apa ini?" Teriak Nata terkejut saat membuka kotak kayu tersebut. Yang juga mengejutkan Lily dan Val.
"Laptop dan Handphone?!" Teriak Aksa kaget. "Selama ini relik legendaris yang menunggu kedatangan ku itu adalah fosil dari Laptop kerjaku dan Handphone Nata yang sudah berusia tiga ratus tahun. Takdir telah mempermainkan ku" tambahnya seraya mengeluarkan benda elektronik itu dari dalam kotak kayu.
Tampak Lily dan Val penasaran dengan kedua benda dari sang Oracle tersebut. Terlebih Val yang terlihat sangat tertarik dengan benda yang bahannya belum pernah dia lihat sebelumnya itu.
"Sekarang coba tarik kembali perkataananku yang waktu itu. Kan sekarang kau sudah memegang relik legenda" ujar Nata menggoda Aksa.
"Aku tak akan memperbolehkanmu menggunakan laptop ku untuk streaming film lagi" jawab Aksa dengan tatapan tajam ke arah Nata.
"Yah, sisi baiknya kita punya barang elektronik sekarang" ujar Nata.
-
"Kau pikir berapa abad Transistor dan LED bertahan saat tidak digunakan?" Tanya Aksa saat ia, Nata, Lily, dan Val berada di kereta dalam perjalanan kembali ke desa setelah selesai mencari tumbuhan obat di hutan, dua hari kemudian.
Aksa dan Nata berencana akan tinggal di desa Dyms lebih lama lagi. Disamping untuk mencari informasi mengenai sang Oracle lebih banyak lagi, juga untuk menanti situasi di wilayah kotaraja agar sedikit mereda.
"Harusnya bila tidak lembab atau karat yang bisa menimbulkan arus pendek sih, benda itu masih mungkin bekerja dengan baik" ujar Nata berucap saat Aksa mengeluarkan handphone nya dari dalam tas. Mereka masih menyembunyikan benda pemberian sang Oracle ini dari yang lain kecuali ke Lily dan Val yang sudah terlanjur mengetahuinya.
"Sepertinya masih mulus" ujar Aksa terlihat memeriksa handphone itu dengan teliti.
__ADS_1
"Coba mana lihat" pinta Nata seraya mencoba untuk menyalakannya. Kemudian terlihat benda itu mulai berkedip dan kemudian mengeluarkan cahaya dan suara.
Terlihat Lily dan Val makin penasaran melihat benda pemberian Oracle itu.
"Wah. Coba besok tulis review dengan lima bintang buat merk Handphone itu" ujar Aksa asal.
"Signalnya blank, juga batreinya tidak akan bertahan lama. Bagaimana sang Oracle menjaga benda ini agar tidak mengalami oksidasi?" ujar Nata setelah memeriksa handphone ditangannya itu.
"Apa itu sebenarnya Nat?" Tanya Val akhirnya karena sudah tak bisa menahan rasa penasaran nya terhadap benda yang seperti batu kaca bersinar itu.
"Apa itu sebuah kristal? Atau semacam batu Arcan?" Kali ini Lily yang terlihat menduga-duga.
"Bukan. Ini alat untuk berkomunikasi di dunia kami" jawab Nata seraya memberikan handphone itu ke Val untuk dilihat lebih jelas.
"Benar sekali Val, alat ini dibuat tanpa menggunakan sihir. Tapi ilmu pengetahuan"
"Bagaimana bisa membuat kristal ini bersinar tanpa menggunakan sihir?" Tanya Val makin penasaran setelah dia memberikan handphone tadi ke Lily untuk dilihat.
"Suatu saat akan kutunjukan caranya, hanya tidak mungkin dalam waktu dekat. Karena benda ini terbuat dari benda-benda yang belum bisa dibuat dengan pengetahuan saat ini" jelas Nata kemudian.
"Tapi bagaimana sang Oracle bisa mendapatkan barang-barang kita ini? Apa dia mempunyai sihir pemanggil antar dunia? Apa Jasvar itu semacam Kun Lun dari dunia kita?" Aksa tiba-tiba bertanya karena masih belum terpikirkan caranya. Sedang Lily masih terlihat membolak-balik handphone yang ada ditangannya itu dengan heran.
"Logisnya sih, kurasa portal kemarin mengirim sebagian barang-barang kita tidak tepat waktu" ujar Nata.
__ADS_1
"Jadi maksudmu apakah kita telah menciptakan real-life Dolorean?" Tanya Aksa terdengar bersemangat.
"Secara teori, bila kita mampu melewati batasan ruang dan realita, tidak menutup kemungkinan kita juga akan melewati batasan waktu" ujar Nata yang sama sekali tidak dipahami oleh Lily dan Val.
"Itu berarti bisa jadi mesin Pemecah Partikel itu ikut terlempar kemari?" Aksa menduga-duga.
"Bisa jadi. Atau jangan-jangan lambang aliran Musvar itu terinspirasi oleh mesin Pemecah Partikel" ujar Nata yang mencoba mencocok-cocokan dengan perkiraannya.
"Benar juga. Memang kalau kita pisah-pisah mesin itu memang punya tiga gelang. Dan gambar yang disebut dengan bukit Jasvar terlihat seperti kotak modulatornya" Aksa ikut mencari pembuktian.
"Bila saja kita tahu dimana bukit Jasvar itu berada. Atau dimana laptop dan handphone ini ditemukan, kemungkinan kita juga bisa menemukan mesin Pemecah Partikel itu" ujar Nata berandai kali ini.
"Sayangnya yang tahu hal itu sudah almarhum" ucap Aksa lesu saat mereka mulai memasuki gerbang desa Dyms.
-
Jalanan di gerbang desa ini tidak semakin sepi semenjak dimulainya ibadah pemakaman sang Oracle seminggu yang lalu. Sudah hari ke tiga rombongan pengungsi terus mengalir berdatangan ke desa Dyms. Ini dikarenakan peperangan di kotaraja semakin memburuk. Mereka yang mengungsi adalah penduduk yang sudah tidak memiliki apapun, karena desa dan kota mereka hancur setelah menjadi medan pertempuran dua kubu yang saling berebut wilayah.
Posisi desa Dyms yang berada di wilayah timur laut yang merupakan dataran tinggi dan sedikit mendapat perhatian dari kerajaan ini, merupakan pilihan yang paling baik untuk tempat berlindung sementara bagi para pengungsi. Juga karena desa ini adalah semacam tempat spiritual dengan ada nya sang Oracle. Yang dipercaya akan membawa perlindungan dan nasib baik.
"Memang selalu saja rakyat yang tidak memiliki daya yang menjadi korban dalam sebuah peperangan" ujar Val kemudian.
"Maka dari itu aku membenci peperangan" timpal Nata.
__ADS_1
-