Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Antology 12


__ADS_3

Di kediaman Amithy di dataran tinggi Kota Selatan. Yang kini disebut dengan area Stasiun Atas itu sudah berkumpul sebelas orang yang terlihat duduk mengelilingi meja panjang di ruang tengahnya.


Sebelas orang itu termasuk Amithy dan Parpera, seorang gadis Seithr penjaga pribadi Amithy.


Lalu sembilan yang lainnya adalah orang-orang yang bertanggung jawab di berbagai bagian di Kota Selatan tersebut.


Ada Diana dan Thomas sebagai penanggung jawab keamanan kota. Kemudian dua pria Morra dengan pakaian seorang pengerajin yang bertanggung jawab di bidang pekerjaan umum. Lalu seorang pria Narva berpakaian mewah dengan potongan rambut panjang terikat ke belakang sebagai pengawas perdagangan di kota tersebut.


Setelah itu ada seorang wanita Morra satengah baya yang bertugas untuk melakukan pencatatan kependudukan, dan juga seorang perempuan Narva, wakil Amithy dalam menjalankan pemerintahan Kota.


Kemudian yang terakhir ada seorang pria Morra selaku perwakilan dari para suku, dan seorang wanita Narva kepala cabang Botanikal yang sedang mengadakan rencana kerja penghijauan di sebagian wilayah di kota tersebut.


"Seperti yang mungkin sudah kalian dengar sebelumnya, bahwa situasi di wilayah Provinsi di selatan semakin memburuk, sekarang ini," ucap Amithy membuka pertemuan tersebut. "Dan setelah mengadakan beberapa kali pertemuan dengan pengurus di kedua Povinsi baru itu, kita sepakat untuk menahan sebagian rencana kerja untum wilayah tersebut. Terlebih yang terlalu jauh dari wilayah Pusat ini," lanjutnya menjelaskan.


"Dan oleh karena itu, untuk beberapa wilayah di Provinsi Timur sementara ini akan kita bantu." Amithy melanjutkan ucapannya. "Atau secara sederhananya, wilayah itu akan berada di bawah kepemimpinanku. Yang berarti juga akan jadi tanggung jawab semua pengurus pemerintahan di Kota Selatan ini," ucapnya lagi menambahkan.


Terdengar beberapa orang mulai merubah ekspersi dan beberapa terlihat saling bertukar pandang mencoba untuk berkomunikasi dengan orang di sebelah mereka.


"Aku tahu hal ini pasti akan menambah beban pekerjaan kalian. Aku juga sadar bahwa kita sendiri juga masih kekurang untuk menjalankan tempat ini." Amithy kembali berucap mencoba untuk membuat yang lain mengerti. "Tapi kita tidak memiliki pilihan lain selain ikut turun tangan secara langsung. Dan bukan hanya wilayah kita saja. Wilayah yang lain juga akan mendapat peran masing-masing untuk membantu wilayah baru kita," tutupnya dengan wajah yang terlihat berharap semua orang mau mengerti dan mau bekerjasama membantu.


"Maaf menyela," ucap Diana menyela seraya mengangkat tangannya ke atas. "Dan wilayah mana saja yang akan kita bantu urus, Nyonya Amithy," lanjutnya dengan pertanyaan setelah ia menurunkan tangannya.


"Kita akan mengurusi Distrik satu dan Distrik dua yang berada paling demat dengan wilayah kita." Amithy menjawab. "Mateus akan benar-benar melepaskan wilayah tersebut untuk kita urus. Dan dia akan mulai fokus untuk mengurus Distrik Tiga dan Distrik Empat," jelasnya kemudian.


"Dua Distrik itu setara empat wilayah Estat. Dan menurut saya, itu akan jadi permasalahan yang cukup menyulitkan untuk kami melakukan penjagaan wilayah." Kali ini Thomas yang berucap.


"Coba bicarakan lagi dengan Tuan Cedrik untuk meminjam orang dari wilayah lain. Sementara aku juga akan membicarakan hal ini lebih lanjut dengan Orland," ucap Amithy menjawab.


"Baik, Nyonya Amithy saya akan segera menghibungi Ketua setelah ini," balas Thomas kemudian seraya mengangguk kecil.


"Lalu apa kita juga akan membantu wilayah-wilayah itu dalam hal bahan pangan untuk para penduduk, atau bantuan keuangan untuk para pekerja di bawah pemerintahan, Nyonya Amithy?" Giliran perempuan Narva wakil dari Amithy bertanya.


"Kurasa tidak perlu, Amanda. Distrik Satu, wilayah kota Varun itu sudah cukup berkembang. Hampir penduduknya sudah memiliki pekerjaan. Malah harusnya wilayah itu dapat memberikan bantuan untuk Distrik Dua," jawab Amithy kemudian seraya mencoba memberi penjelasan.


"Baiklah bila memang begitu. Tapi apakah pemerintahan dua Distrik itu akan tetap kita pegang secara langsung, Nyonya?" tanya perempuan yang dipanggil Amanda itu.


"Sayangnya memang harus kita pegang langsung, agar tidak jadi semakin rumit. Setelah ini coba kau hubungi Maeve atau Mateus untuk membicarakan masalah ini lebih detail." Amithy menjawab sekaligus memberikan perintah.


"Saya mengerti, Nyonya," jawab Amanda kemudian.


"Mungkin yang perlu menjadi perhatian tentang masalah membantu dua Distrik itu adalah mengenai pengawasan pada bidang-bidang yang sedang dalam tahap pembangunan." Amithy kembali mencoba memberikan gambaran besar untuk tugas yang akan mereka jalani itu. "Seperti pembangunan jalan dan fasilitas yang masih belum selesai, atau tentang pengolahan lahan yang masih belum diberlakukan, atau mungkin masalah aturan kependudukan yang masih belum mengikuti panduan yang berlaku." lanjutnya memberi contoh.


"Ya, saya mengerti maksud Anda. Nyonya Amithy." Perempuan Morra yang bertugas mengurusi pencatatan kependudukan itu angkat bicara. "Jadi tugas kami yang utama adalah menyelesaikan segala hal yang masih belum selesai di kedua Distrik tersebut, di semua bidang, saya rasa seperti itu bukan?" lanjutnya menambahi.


"Benar, Nyonya Kandis. Untuk bantuan selain hal yang belum selesai itu tadi, bisa kita nomor dua kan," jawab Amithy yang terlihat senang karena anak buahnya mengerti dan mau bekerja sama.


"Sedang untuk kelompok Botanikal, saya tidak akan langsung meminta Anda untuk membagi tugas dengan cabang di wilayah Distrik Satu dan Distrik Dua, Nona Tia." Amithy kembali berucap. Kali ini kepada perempuan bernama Tia, kepala cabang Botanikal. "Saya akan bicarakan dengan Nona Ellian. Dan biar Nona Ellian sendiri yang akan memberikan tugas kepada Anda sekalian secara langsung," lanjutnya kemudian.


"Saya mengerti, Nyonya Amithy," Tia, perempuan Narva dengan pakaian seorang Druid itu menjawab cepat.


"Dan kalau boleh saya membagikan informasi kepada Anda sekalian, tentang hal yang saya rasa cukup penting untuk diketahui yang lainnya." Diana menambahi seraya mengangkat tangannya ke atas. "Bahwa menurut kabar dari wakil ketua kami, Nona Margaret, Provinsi Timur yang sekarang ini ia pegang, kemungkinan besar telah disusupi oleh mata-mata," lanjutnya kemudian tanpa menunggu tanggapan dari yang lainnya.


Terlihat beberapa orang terlihat kaget dan tampak kuatir, sementara beberapa diantaranya seperti sudah menduga akan hal tersebut.


"Ya, aku juga sudah mendengar tentang hal itu." Amithy menanggapi. "Aku tidak ingin kalian menjadi kuatir, gelisah, atau terlalu waspada. Yang perlu kalian lakukan adalah berhati-hati terhadap orang-orang yang sebelumnya bekerja untuk kerajaan Urbar atau untuk pemerintahan Estat. Meski itu Estat Ignus sekalipun. Aku tidak meminta kalian mencurigai mereka secara berlebih, atau bahkan menghindari dan membenci orang-orang itu. Tapi setidaknya jaga bicara kalian saat bersama mereka," himbaunya kemudian.


"Baik, Nyonya," jawab yang lain nyaris bersamaan.


"Namun meski kita diminta untuk membantu mengurusi Distrik-Distrik itu, tapi kita masih bertanggung jawab penuh atas wilayah ini. Jadi jangan sampai urusan wilayah ini jadi terbengkalai," tambah Amithy sebelum kemudian menutup pertemuan tersebut.


-


-


Tampak Ellian sedang duduk di depan meja kerjanya di tempat tinggalnya di sekitaran Bukit Waduk. Terlihat sangat serius menatap ke arah buku yang ada di hadapannya. Dan kemudian terdengar ia menghembuskan nafas panjang sambil menutupkan telapak tangan ke kedua matanya.


"Kenapa, El? Sudah tiga kali kau menghembuskan nafas panjang seperti itu, apa kau sedang bersaing dengan suara air terjun di luar sana?" tanya Katarina dari sofa yang diletakan dekat dengan pintu masuk.


Suara deru air terjun memang terdengar samar dalam ruangan tersebut. Hal itu bukan hanya karena bangunan tempat tinggal Ellian dan Katarina itu berdiri cukup dekat dengan danau buatan tempat air terjun itu terjatuh, juga karena bangunan tempat tinggal mereka itu terbuat dari kayu yang tidak terlalu kedap suara. Bukan bangunan tembok seperti rumah-rumah pemukiman pada umumnya, di wilayah kerajaan tersebut.


"Sekarang ini aku sedang tidak ingin bercanda, kak," ucap Ellian dengan suara berat. Wajahnya terlihat lelah. Kantung mata mulai samar muncul diantara kerutan.

__ADS_1


"Apa ini soal anggota Botanikal yang diperbantukan di wilayah selatan itu?" Katarina mencoba menebak.


"Benar, mau dilihat seperti apapun, mereka itu seorang Cendikia. Kalau kata Tuan Aksa seorang Ilmuwan," sahut Ellian yang mulai sewot. "Menjadikan mereka sebagai pekerja fisik itu, disamping akan menya-nyiakan pengetahuan mereka, juga tidak akan banyak membantu. Fisik mereka sangat lemah," lanjutnya uring-uringan.


"Tapi sekarang ini kita memang sedang kekurang orang dan punya banyak hal yang harus dikerjakan." Katarina menjawab dengan tenang. Tampak ia sedang sibuk menumbuk sesuatu dalam wadah tembikar seukuran dua kali telapak tangannya.


"Maka dari itu aku tidak bisa tidak terima, atau sekedar mengeluh," balas Ellian cepat. "Hal ini membuatku frustasi!" serunya kemudian seraya mengacak rambutnya dengan kedua tangan.


"Pekerja di bagian lain juga mengalami hal yang serupa, El. Malah bersyukur tempat kita memiliki segala peralatan dan cara yang tidak memerlukan banyak pekerja untuk menjalankannya." Katarina terlihat berbikiran positif .


"Selama ini kita buru-buru menyelasaikan semua pembangunan sistem otomatis rancangan Tuan Aksa itu, memang agar bisa segera ditinggal. Jadi orang-orang kita bisa melakukan penelitian lanjutan," sahut Ellian yang terdengar tidak terima atas ucapan Katarina sebelumnya. "Lihatlah barang-barang dari Tuan Aksa itu sampai sekarang masih berada di sana belum tersentuh sama sekali. Untuk seorang Botanikal ini adalah sebuah penyiksaan," ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah benda di atas lemari kayu di ujung ruangan.


Benda tersebut berbentuk seperti teropong bintang yang terpasang pada sebuah kaki besi. Namun bukannya menghadap ke atas, kaca yang berukuran besarnya malah menghadap kebawah. Dan terlihat dua kaca lagi berbentuk lingkaran terpasang dibagian paling bawahnya.


"Kau terlalu berlebih, El. Kenapa kau tidak mencoba meminum Teh Herbal yang biasa kau tawarkan kepadaku setiap saat aku merasa emosi?" Katarina memberikan masukan dengan tenang, seraya mulai memindahkan seperti sebuah adonan berwarna hijau kemerahan dari wadah tembikarnya ke dalam cawan. "Lagi pula selama bocah itu belum keluar dari tempat persembunyiannya, apa kau bisa dan mengerti cara menggunaan alat-alat itu?" lanjutnya kemudian.


"Kalau mengenai hal itu, Tuan Aksa sudah meninggalkan sedikit catatan tentang cara menggunakannya. Kita bisa mencoba-cobanya sendiri. Karena bila dilihat dari bentuknya yang tidak memiliki mekanik sama sekali, kurasa akan aman-aman saja untuk kita pelajari sendiri." Ellian menjawab mencoba mencari pembenaran.


"Kalau aku, aku tidak akan serakah dan buru-buru, El. Kita baru saja mendapatkan pengetahuan tentang apa itu, Aeroponik?" Tampak Katarina mulai sibuk menambahkan air dalam adonannya tadi, yang kemudian mulai mengusapkannya ke wajahnya. "Lalu Stek, Cangkok, Okulasi, aku bahkan baru tahu bahwa menggabungkan tanaman itu mungkin untuk dilakukan. Kita bisa membuat pohon tomat berbuah kentang. Yang bahkan Druid dengan kekuatan sihir yang dasyat saja tidak bisa melakukannya," ucapnya kemudian masih terlihat sibuk meratakan adonannya tadi keseluruh wajah.


Sementara Ellian semakin terlihat frustasi mendapati sifat kakaknya yang tenang dan santai dalam menanggapi masalahnya itu.


"Bahkan buah seperti Berry, Lemon, dan Mentimun seperti ini bisa digunakan untuk mempertahankan kemudaan dan kecantikan kulit wajah," ucap Katarina lagi masih sibuk dengan adonan di wajahnya. "Aku masih merasa kewalahan dengan semua hal itu," lanjutnya kemudian.


"Kurasa benar kata kakak." Ellian terlihat bangkit dari kursinya.


"Benarkan, semua hal tadi juga membuatmu kewalahan, kan?" tanya Katarina yang kali ini sudah mulai membujurkan tubuh mengisi panjangnya sofa.


"Benar kata kakak, aku harus minum Teh Herbal untuk menenangkan diri," sahut Ellian seraya berjalan menuju ke arah lemari pendek di sebelah meja kerjanya.


"Ck... Lalu kapan kau akan mengambil peralatan baru dari si tua bangka itu?" tanya Katarina memulai tema pembicaraan baru.


"Peralatan apa? Pompa air bertenaga listrik itu?" tanya Ellian yang terlihat sedang sibuk menyedu teh.


"Iya, pompa itu sudah harus kita pasang untuk wilayah Kota Selatan dalam minggu ini," ucap Katarina menjawab.


"Bagaimana kalau kakak yang mengambilnya sendiri. Sepertinya jadwal ku padat minggu ini," balas Ellian.


"Kenapa mesti aku? Kau minta dia antarkan saja," sahut Katarina yang terdengar tidak suka.


"Apa dia kenal dengan para pengerajin Bintang Timur yang bekerja disana?" tanya Katarina tiba-tiba.


"Tia perempuan dewasa, kak. Dia bisa bertanya dan memperkenalkan diri sendiri," jawab Ellian seraya menyeruput Teh hangat dari gelasnya.


"Tapi orang-orang Bintang Timur itu kasar-kasar dan tak tahu sopan santun. Biar aku saja yang kesana kalau begitu, mereka tidak akan berani kepadaku." Katarina berucap setelah terdiam sebentar.


Ellian tampak memutar mata melihat kelakuan kakaknya itu. "Ya, kalau begitu, kuserahkan pada kakak," jawabnya kemudian dengan nada kesalnyang ditahan.


"Aku akan kesana besok pagi," sahut Katarina cepat seraya memejamkan matanya seolah sedang menikmati suasana.


-


-


"Hm.. bagaimana hasilnya, Matyas?" tanya Haldin saat ia dan lima orang pengerajin sedang mengadakan pertemuan di ruang tengah Atelir utama Bintang Timur.


"Semuanya selesai tepat waktu, Pemimpin. Dan tidak ada kekurangan bahan material. Semuanya sesuai dengan perhitungan," jawab Matyas kemudian.


"Syukurlah, bisa jadi masalah besar bila kita sampai salah menghitung jumlah material," ucap Haldin kemudian.


"Dan berhubungan dengan masalah kekurangan bahan material tersebut, beberapa pekerjaan terpaksa harus dihentikan. Setidaknya sampai kita mendapatkan bahan material yang kita butuhkan," ucap Matyas melanjutkan laporannya.


"Saya dengar juga, bahwa rencana Nona Go untuk membuka pertambangan di barat Saronia itu gagal." Seorang pengerajin dengan bandanan lusuh ikut menambahi.


"Apa kita perlu mencari material pengganti untuk membuat beberapa peralatan tersebut, Pemimpin?" Seorang pengerajin yang lain yang duduk di sebelah kanan Matyas memberikan pendapat.


"Kurasa kita memang harus mencoba untuk menggantinya. Namun jangan dulu membuatnya secara masal," jawab Haldin menanggapi pendapat tersebut.


"Baik. Saya mengerti, Pemimpin," jawab pengerajin tersebut.


"Maaf, Pemimpin." Tiba-tiba seorang pemuda Morra yang sepertinya adalah pengerajin pemula, memotong jalannya pertemuan tersebut. "Anda kedatangan tamu dari kelompok Botanikal, Pemimpin," lanjutnya kemudian menjelaskan.

__ADS_1


"Oh, itu pasti Ellian. Ambilkan pompa air untuk wilayah Kota Selatan itu dari gudang. Lalu berikan padanya, dan katakan aku sedang ada rapat bulanan. Dia bisa langsung membawa pompa tersebut kalau tidak ingin menunggu," ucap Haldin kemudian memberikan perintah.


"Tapi, beliau bukan Nona Ellian. Melainkan Nyonya Katarina," balas pengerajin pemula itu, yang langsung membuat semua orang yang ada di dalam ruang tengah tersebut terlihat terkejut.


"Eh... Apa yang baru saja kau katakan? Katarina kemari?" Tampak Haldin tidak percaya dengan perkataan pengerajin pemula itu tadi.


"Benar, Pemimpin. Dan beliau datang sendiri," jawab pengerajin pemula itu dengan cepat.


"Ada angin apa sampai ia mau datang ke tempat ini?" Haldin terlihat benar-benar penasaran.


"Sudah, temui dulu Nyonya Katarina. Tidak baik membuat wanita menunggu," ucap Matyas menambahi.


"Ba- baiklah kalau begitu. Aku akan menemuinya dulu. Lanjutkan pertemuan ini tanpa ku," jawab Haldin yang terlihat sedikit canggung saat berjalan meninggalkan ruangan itu sambil mencoba merapikan pakaiannya.


-


"Kau datang kemari Katarina?" ucapan yang Haldin keluarkan ketika ia mendapati Katarina sedang duduk di salah satu kursi di ruang depan Atelir Utama itu.


"Iya, Ellian sedang sibuk saat ini. Jadi tidak bisa datang kemari," jawab Katarina dengan nada sedikit ketus.


"Tapi kau bisa memerintah salah satu dari anggota Botanikal untuk datang kemari," balas Haldin yang mulai duduk di kursi di depan Katarina.


"Aku kuatir, orang-orang mu tidak akan sopan pada mereka saat ku utus untuk datang kemari. Jadi lebih baik aku datang sendiri. Karena tidak mungkin orang-orang mu berani tidak sopan kepadaku," ucap Katarina panjang lebar.


"Ya, baiklah terserah kau saja. Anak buahku sedang mengambiil pompa itu dari gudang, tunggu sebentar," ucap Haldin kemudian.


"Dan itu ku bawakan hasil panen bulain ini. Jangan bilang bahwa kami hanya meminta dan tidak pernah memberikan apa-apa pada kalian," ujar Katarina dengan ketus seraya menunjuk ke arah sebuah gerobak kayu tertutup kain yang terlihat dari pintu masuk.


"Tidak ada yang akan bilang seperti itu, Kat." Haldin mendengus pelan mendengar ucaoan Katarina tadi.


"Kita tidak pernah tahu, kan?" ucap Katarina masih tidak mau kalah.


"Ya terserah kau lah," jawab Haldin yang tidak mau memperpanjang masalah tersebut. "Lalu bagaimana keadaan kelompok Botanikal sekarang ini? Kudengar mereka diperbantukan di wilayah selatan sana," tanyanya kemudian memulai topik perbincangan baru.


"Benar. Sekarang ini Ellian sedang kerepotan menghadapinya." Katarina menjawab. "Kau sendiri, bagaimana keadaan mu? Kudengar kau kebanjiran kerjaan disini? Apa kau kurang tidur? Lihat badan mu terlihat kurus kering seperti itu," tambahnya dengan rentetan pertanyaan.


"Aku memang sudah seperti ini sejak dari dulu, Kat. Lagi pula bukan aku yang membuat alat-alat di tempat ini. Tugasku hanya mengatur," ucap Haldin membalas. "Tapi sama seperti Ellian, sekarang kami juga sedang kekurangan tenaga kerja. Namun meski begitu kami harus tetap memenuhi kebutuhan peralatan tertentu. Bahkan ketika rencana pembuatan tambang baru untuk sumber material di batalkan, kami masih harus tetap dapat menghasilkan peralatan tersebut, entah bagaimana caranya," lanjutnya yang terdengar seperti sedang berkeluh kesah.


"Kau bisa menjelaskannya kepada Tuan Orland bila memang tidak memungkinkan untuk dibuat. Beliau pasti mau mengerti." Katarina memberikan saran.


"Hal itu akan susah untuk dilakukan, karena peralatan yang harus kami selesaikan itu berhubungan dengan penjagaan dan pembanginan wilayah baru di selatan," jawab Haldin kemudian. "Bila yang berhubungan dengan pembangunan, mungkin masih bisa kami tangguhkan sebentar. Namun untuk peralatan tempur seperti senjata dan baju pelindung, hal tersebut tidak dapat menunggu," tambahnya menjedah.


"Sementara itu jumlah parjurit kita terus bertambah. Yang memang sudah seharusnya seperti itu agar dapat menghadapi para pemberontak dan kemungkinan serangan dari kerajaan lain." Haldin melanjutkan ucapnya. "Bahkan itu semua sudah termasuk dengan menghentikan pembuatan kerta besi dan kereta tempur, juga kapal besi." Terdengar Haldin menghembuskan nafas panjang dengan wajah yang terlihat lelah.


"Apa dua bocah itu belum juga keluar?" tanya Katarina yang memaksudkan Aksa dan Nata.


"Belum." Haldin menjawab cepat.


"Apa pekerjaan mereka penting sekali sampai tidak dapat disela? Sekarang keadaan wilayah ini sedang genting." Katarina terlihat sewot.


"Entahlah. Tapi kata Couran mereka masih belum menjawab," ucap Haldin menjawab.


"Bocah-bocah aneh itu memang kadang sangat menyebalkan. Tidak dapat dimengerti." Katarina masih terlihat sedikit sebal dengan tingkah laku Aksa dan Nata itu.


Tak lama kemudian, dari arah pintu yang menuju ke dalam Atelir, seorang pengerajin muda muncul dengan mendorong kereta kecil berisi alat berbentuk kubus yang terbuat dari logam.


"Oh, itu pompa mu sudah datang," ucap Haldin kemudian.


"Baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu," ucap Katarina yang mulai bangkit berdiri dari tempat duduknya.


"Sebentar, Kat," sahut Haldin yang tiba-tiba berjalan menuju ke dalam, dan meninggalkan Katarina seorang diri menunggu di ruang depan.


Tak lama kemudian, Haldin kembali muncul dengan kotak kayu selebar setengah lengan pria dewasa.


"Ini, kemarin aku membuat alat untuk menggantungkan tongkat sihir yang dapat dengan mudah dilepas dan digantungkan kembali. Kupikir karena Druid juga seorang penyihir, jadi mungkin alat ini bisa berguna buatmu." Haldin menyerahkan kotak tersebut kepada Katarina. "Aku membuatnya berdasar dari rancangan Aksa untuk Nona Rafa. Jadi mungkin saja juga tidak akan terlalu berguna untuk mu," tambahnya lagi dengan nada kuatir, kalau-kalau Katarina tidak menyukainya.


"Baiklah. Meski Druid tidak menggunakan tongkat sihir, tapi kita lihat nanti apakah benda ini berguna untukku atau tidak," ucap Katarina yang terdengar canggung. "Terima kasih," susulnya kemudian.


"Oh, baiklah," jawab Haldin yang juga ikut terdengar canggung.


"Aku pamit," ucap Katarina seraya berjalan meninggalkan ruangan tersebut bersama dengan kereta dorong berisi pompa dan kotak kayu pemberian Haldin.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan," balas Haldin singkat.


-


__ADS_2