Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
19. Aksa Beraksi


__ADS_3

Dari utara terlihat sebuah angin yang berputar mengangkat air, bergerak menuju ke arah kapal besi Aksa berada.


"Apa itu tornado?" Aksa bertanya seraya mendekat jendela kaca.


"Iya itu tornado" ujar Anna membenarkan.


"Apa itu sesuatu yang alami?" Tanya Aksa lagi yang melihat curiga kearah pusaran angin yang berjalan prlan namun pasti kearahnya.


"Bukan. Itu hasil dari senjata mistik mereka. Pergerakan aliran Jiwanya terasa" ujar Rafa kemudian dari sebelah Aksa.


"Benar-benar sebuah cheat" Aksa tampak bersemangat.


"Kalau sudah begini, biarkan saya yang mengurusnya, tuan Aksa" Anna berucap mengajukan diri untuk menangani nya.


"Hm, kurasa aku juga ingin melihat kemampuan senjata mistik milik anda, nona Anna" ujar Aksa kemudian.


.


Aksa, Rafa, Anna, dan Val tampak sudah berada di dek lantai satu. Saat tornado itu semakin mendekat. Anna berdiri diujung depan kapal dengan pedang terhunus kedepan.


Tampak kapten wanita itu memejamkan matanya dan mulai merapal. Tak pama kemudian kristal di pedang Anna mulai bersinar biru terang.


Anna membuka matanya, kemudian mulai memasang kuda-kuda. Ia menggenggam erat gagang pedangnya dengan tangan kanan. Kemudian dengan sekuat tenaga ia menyabetkan pedangnya dari bawah keatas menghadap ke tornado yang bergerak mendekat itu.


Dan hal ganjil mulai terjadi. Tiba-tiba sebuah pilar air muncul begitu saja tepat dibawah tornado tadi. Dan dengan seketika membuyarkan putaran angin tersebut dengan suara seperti saat ombak menghantam batu karang.


Aksa bertepuk tangan kecil melihat hal tersebut. "Benar-benar mengagumkan, nona Anna. Memang tidak ada bosannya melihat bagaimana sihir bekerja" ujarnya kemudian.


Anna menghembuskan nafas panjang dan menyarungkan pedangnya lagi dengan sekali gerak. Kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Aksa dan yang lain.


Seperti rintik hujan dampak dari pecahnya air di udara tadi mulai mengguyur mereka.


-


"Anda lihat kapal berwarna putih di belakang itu?" Ujar Anna menunjuk, saat mereka sudah kembali berada di dalam ruang anjungan. "Sihir tadi pasti berasal dari kapal itu" tambahnya kemudian.

__ADS_1


"Bagaimana anda bisa begitu yakin, nona Anna?" Aksa terlihat sedikit penasaran.


"Karena itu adalah kapal Adimral besar kerajaan Urbar. Saya mengenalnya" Anna menjawab dengan nada yang terdengar penuh dendam. "Orang itu yang bekerja sama dengan Tyrion untuk menghancurkan usaha penyeberangan kapal milik saya dulu" tambahnya kemudian yang semakin terdengar penuh dendam.


"Oh, begitu ternyata" Aksa mengerti bagaimana perasaan Anna terhadap si Admiral besar itu. "Sisa berapa kapal lagi, Raf?" Tanya Aksa kemudian kepada Rafa.


"Kira-kira masih tujuh belas kapal lagi, tuan" jawab Rafa langsung.


"Baiklah kalau begitu kita akan tenggelamkan enam belas kapal yang lain dulu, dan menyisakan kapal putih itu untuk yang terakhir" ujar Aksa kemudian.


Namun tak berselang lama, kapal berwarna putih yang berada dibarisan paling belakang yang sedang mereka bicarakan itu, tiba-tiba bergerak maju dengan kecepatan tinggi.


Terlihat angin kencang meniup layarnya, ditambah ombak bergulung mendorong tepat dibagian belakang kapal tersebut.


"Sepertinya anda tidak bisa menyisakan kapal itu untuk yang terakhir. Karena kapal itu sekarang mulai bergerak kemari" Kali ini Nikolai yang berucap seraya menunjuk kearah kapal putih tersebut


"Cepat sekali. Kapal mereka dipakein NOS, apa? Ga sekalian diceperin terus dikasih lampu biru dikolong jangkarnya?" Aksa mulai terdengar mengoceh sendiri.


"Bagaimana, tuan Aksa?" Nikolai menunggu perintah dari Aksa.


"Apa anda yakin, tuan Aksa?" Nikolai memastikan perintah Aksa.


"Tenang saja, tuan Nikolai. Kapal ini terbuat dari logam paling keras didunia ini" jawab Aksa dengan percaya diri.


Dan kemudian kapal besi tersebut mulai bergerak cepat kearah kapal putih yang juga bergerak cepat menuju kearah mereka.


"Bersiaplah untuk menabrak mereka sebegitu mereka membelokan haluan" Aksa memerintah Nikolai ketika jarak kapal mereka dengan kapal lawan sudah tidak terlalu jauh.


"Aye" ujar Nikolai yang terlihat bersiap didepan roda kemudi.


Dan saat jarak antar kedua kapal itu tak lebih dari setengah panjang kapal besi tersebut, kapal putih itu tiba-tiba berbelok arah sedikit ke kiri untuk menghindari tabrakan.


"Sekarang, tuan Nikolai! Pepet terus!" Perintah Aksa yang langsung di tanggapi Nikolai dengan ikut membelokan haluan kapal ke kiri. Yang membuat dua kapal itu berserempetan sisi samping.


Terlihat dari ruang anjungan, lima orang berada diatas dek kapal putih tersebut. Dan tampak diantaranya ada yang mengenali dan dikenali oleh Anna.

__ADS_1


"Tembakan meriam pengait sebelah kiri! Jangan sampai mereka melewati kita tanpa ada lecet sedikit pun" teriak Aksa kemudian.


Segera meriam pengait ditembakan. Dan dari posisi sedekat itu, besi pengaitnya menembus jauh kedalam kapal lawan. Menyebabkan kekacauan di bagian dalam kapal tersebut.


"Putar haluan ke kanan, tuan Nikolai!" Dengan segera Aksa memerintah Nikolai untuk berbelok ke kanan.


Begitu kapal besi tersebut berbelok arah, jarak segera terbentuk diantara dua kapal tersebut. Dan begitu rantai pengait tadi sudah mencapai batas panjangnya, dengan tekanan dari kedua kapal tersebut membuat dinding sisi kanan kapal berwarna putih itu terkoya dengan begitu saja.


"Putar haluan sekali lagi kearah kapal itu, tuan Nikolai" perintah Aksa masih belum selesai. "Tarik rantai pengait dan siapkan untuk kembali menembak secepatnya" kali ini ia memerintah melalui corong besi ke lantai B1 tempat meriam-meriam itu berada.


Kapal Aksa berbelok arah dan langsung kembali menerjang ke arah kapal yang bagian sampingnya tampak semakin parah itu. Karena dampak dari kecepatan kapal tersebut membuat koyakannya semakin membesar.


Tampak plat besi bergerigi di bagian depan kapal besi tersebut mulai naik keatas. Namun disaat sudah mulai dekat dengan kapal kerajaan Urbar tersebut, tiba-tiba ombak berubah arah dan mendorong kapal besi Aksa kesamping.


"Oh, dia main curang lagi. Dikira lagi main Mario Kart, apa?" Ujar Aksa sedikit jengkel. "Tembakan meriam pengait bagian depan!" Perintahnya kemudian.


Tampak besi pengait yang baru diluncurkan itu, masih sempat menembus bagian belakang kapal putih tersebut. Menghancurkan ruangan kapten. Dan karena tenaga dorongan kesamping dari ombak tadi cukup besar, membuat besi pengait itu ikut tertarik kebelakan dan kemudian mengoyak bagian belakang kapal tersebut.


"Meriam pengait sebelah kanan, tembak!" Aksa masih belum selesai.


Delapan besi pengait ditembakan kearah kapal putih yang sudah tampak acak-acakan tersebut. Dan tiga diantara besi pengait itu menghantap sisi kapal yang tidak terkoyak.


"Jalan kan kapal menjauh, tuan Nikolai. Kapal ini sudah tidak akan bisa mengejar kita. Bila dipaksa pasti akan semakin hancur" Aksa memberi perintah. "Kita masih harus menghancurkan enam balas kapal lagi" imbuhnya.


"Baik, tuan Aksa"


Dan kapal besi itu kini mulai berjalan menjauhi kapal putih tadi tanpa mengalami kerusakan apapun. Mereka melaju menuju ke kapal-kapal kerajaan Urbar yang lain.


"Ada yang datang" tiba-tiba Rafa berbicara. Dan tak lama kemudian tiga sosok mendarat diatas dek kapal besi tersebut tepat di depan ruang anjungan.


Jatuh dari langit, dua pria dan satu wanita. Semuanya adalah Morra. Namun mengenakan pakaian para bangsawan.


Yang dua pria tampak memegang sebuah busur dan pedang panjang. Sedang yang wanita tidak tampak membawa apapun.


"Mereka turun dari mana? Di drop dari pesawat?" Ucap Aksa seraya mencoba mencari-cari sesuatu diatas langit.

__ADS_1


-


__ADS_2