
Dua minggu setelah rencana selesai dibuat dan di susun, mereka mengadakan pertemuan lagi.
"Baiklah saudara sekalian. Jadi dua hari yang lalu datang pengantar surat dari kotaraja ke desa Baltra yang kemudian oleh warga diantarkan ke perkemahan ini" ucap Nata membuka pertemuan.
"Tertulis dalam surat tersebut bahwa sekarang tanah Pharos sudah berhasil lepas dari wilayah Elbrasta. Sekarang status tanah Pharos adalah tanah bebas" lanjut Nata yang disambut oleh tepuk tangan kecil dari orang-orang yang menghadiri.
"Dan juga seminggu setelah surat itu ditulis, putri Lucia akan melakukan prosesi pelepasan tahtanya, berarti besar kemungkinan hal itu sudah terjadi sekarang" tambah Nata yang membuat orang-orang berhenti bertepuk tangan mendengarnya. Mereka juga masih menyayangkan putri Lucia turun tahta.
"Lalu rencananya kami akan menuju ke kotaraja. Disamping untuk mencari keperluan kita yang masih kurang, juga rencana kami akan menemui para bangsawan dan memintanya bergabung dengan kita" ucap Nata kemudian.
"Kami hanya akan berangkat bertiga saja. Aku, Aksa, dan Lily. Karena Val masih harus memantau tehnik pembuatan barang yang memerlukan kedetailan tinggi. Maka dari itu kita akan membagi tugas mulai sekarang"
"Untuk pemburu dari Tirgis. Loujze, Huebert, dan Deuxter kini tugas kalian adalah melakukan hubungan dengan desa Tirgis untuk mendatang kan material mentah logam Dracz secara bertahap. Juga beberapa hal lain yang akan ku jelaskan setelah ini"
"Baik" ucap Deuxter yang diikuti oleh anggukan kepala Loujze dan Huebert.
"Sementara tuan Couran akan bertugas mengawasi semua proses pengerjaan tersebut secara keseluruhan agar mengikuti waktu perencanaan"
"Serahkan padaku"
"Sementara tuan Haldin dan nona Ellian akan tetap bertanggung jawab atas tugas kalian sebelumnya"
"Aku paham" jawab Ellian yang terlihat serius. Sementara Haldin hanya mengangguk paham.
"Baiklah kalau begitu, kemungkinan kami akan kembali kurang lebih dua bulan lagi"
"Dan kapan kalian akan berangkat?" Tanya Couran kemudian.
"Besok pagi"
"Baiklah kalau begitu hati-hati dijalan"
-
__ADS_1
Setelah melakukan segala hal yang diperlukan, Aksa, Nata dan Lily bersiap untuk menuju ke kotaraja menemui Lucia. Sudah tiga bulan berlalu semenjak mereka meninggalkan kediaman keluarga Bartholomew.
-
Seminggu kemudian mereka bertiga sampai lagi di kediaman keluarga Bartholomew. Dari sana mereka diantar Cornelius menuju ke kotaraja. Seperti yang sudah direncanakan oleh Lucia.
-
Empat hari setelah mereka bertolak dari kediaman keluarga Bartholomew, mereka sampai di perbatasan wilayah kotaraja. Sehari lagi perjalanan untuk sampai ke kotaraja.
Namun meski begitu tembok besar kotaraja sudah terlihat dari jauh, membentang sepanjang garis cakrawala disisi utara. Terlihat lebih lebar dari tembok kotaraja Estrinx.
Cornelius menggunakan kereta kuda nya sendiri sementara rombongan Nata dan Aksa juga menggunakan kereta kuda mereka sendiri. Dan disamping itu ada sepuluh penjaga keluarga Bartholomew yang menunggang kuda mengiring disamping kereta kuda mereka.
Sementara tepat dibelakangnya ada satu lagi kereta kuda milik keluarga Bartholomew, yang berisi kepala pelayan pria, dan 3 pelayan wanita. Dan peralatan untuk berkemah.
-
Karena hari sudah mulai gelap mereka bermalam di sabaha sebelum kotaraja ini. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Nata, Aksa, dan Lily membuat tenda-tenda kecil disekitar kereta kuda mereka, sementara Cornelius beristirahat di dalam kereta kudanya.
-
Pagi harinya mereka melanjutkan perjalanan mereka. Matahari belum terlalu nampak saat rombongan mereka memulai perjalanan agar tidak terlalu malam untuk sampai kotaraja.
"Sepertinya ada yang menjemput kita" ujar Lily yang duduk di depan disamping Aksa, tengah hari kemudian.
"Siapa?" Tampak Nata melongok ke depan untuk mencari tau. Terlihat debu mengepul di ujung jalan di depan mereka. Dan tak lama kemudian terlihat kilatan-kilatan cahaya hasil dari pantulan baju besi yang terkena sinar matahari.
"Sepertinya ksatria kerajaan" ujar Lily kemudian sambil seraya memelankan laju kereta kudanya.
"Wah, ksatria kerajaan sungguhan" ujar Aksa yang terlihat berbunga-bunga.
Ada sekitar 30 ksatria menunggang kuda yang datang menjemput mereka. Dan setelah salah satu dari mereka turun dan bertemu dengan Cornelius, mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka menuju kotaraja dalam iring-iringan yang lebih ramai lagi.
__ADS_1
-
Hari sudah mulai gelap saat mereka tiba didepan pintu gerbang tembok benteng kotaraja. Tidak banyak yang bisa dilihat karena situasi yang sudah mulai gelap. Juga karena prajurit yang ketat berjaga dan tak nampak orang berlalu lalang sama sekali.
Tapi hal itu tidak meredakan rasa kagum Nata dan Aksa melihat konstruksi gerbang dan tembok yang terlihat megah tersebut. Dan juga puluhan ksatria dengan jirah besi berdiri berjejer di pinggir kiri kanan jalan.
"Seperti adegan dalam film-film aksi fantasi ya?" ujar Nata yang kali ini ikut duduk di depan kereta kuda disamping Lily dan Aksa.
"Benar. Seperti game-game RPG Fantasy Classic" tanggapan Aksa yang tidak jauh berbeda dari Nata.
Meskipun cahaya bulan hanya terlihat separuh, namun jalanan masih terlihat terang. Sepanjang jalan utama yang Nata dan Aksa lewati terdapat tiang-tiang lentera minyak yang cukup untuk membuat jalanan selalu terlihat terang.
Lily hanya tersenyum saat melihat Nata dan Aksa bertingkah seperti orang kampung yang baru pertama melihat kota besar. Mereka menunjuk segalah hal yang menarik perhatian mereka di sepanjang jalan yang mereka lewati.
"Kotaraja memang sesuatu sekali ya" ujar Nata.
"Mungkin karena kota ini lebih besar dari kota yang teakhir kita singgahi" ucap Lily kemudian.
"Benar. Dilihat dari manapun kota ini memiliki skala sepuluh kali lipat lebih besar dalam segala aspek dibanding kota-kota besar yang pernah kita singgahi sebelum ini" jawab Aksa dengan tatapan yang selalu bergerak keberbagai arah disepanjang jalan.
-
Kemudian mereka tiba di sebuah gerbang lagi meski mereka sudah ada di dalam tembok kotaraja ini. Tampak seorang ksatria penjaga gerbang menghampiri dan berbicara dengan Cornelius.
"Mengapa masih ada gerbang lagi di dalam tembok kotaraja? Apakah kotaraja ini memiliki tembok kota berlapis?"
"Benteng yang tadi kita masuki adalah tembok benteng yang baru dibangun. Dulu benteng kotaraja adalah tembok ini" jelas Lily kemudian.
Tak berapa lama penjaga itu memperbolehkan mereka untuk lewat. Namun Iring-iringan prajurit tadi tidak ikut masuk. Hanya ada dua prajurit berkuda yang mengiringi mereka di balik gerbang tersebut.
Tak lama kemudian sebuah kastil megah mulai terlihat.
"Terlihat mewah. Apakah itu rumah Lucia di kotaraja? Atau itu adalah istana kerajaan?" ujar Nata menduga-duga saat mendapati bangunan yang terlihat besar dan mewah.
__ADS_1
"Semoga ada air hangat untuk berendam seperti di rumah Cornelius kemarin" saut Aksa kemudian bersamaan dengan kereta kuda mereka yang menikung masuk.