Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Antology 16


__ADS_3

"Apa kabar Anda, Primaval?" Tiba-tiba datang beberapa orang bertamu ke tenda milik Aksa dan Nata di dasar jurang Ceruk Bintang, yang kini di tinggali oleh Luque dan Rafa.


"Oh, tumben sekali kalian kemari? Malam-malam begini?" Luque terlihat terkejut mendapati tamu di malam hari seperti sekarang ini.


Tampak mereka adalah Mateus, Nadir, dan beberapa orang dari selatan. Keseluruhan berjumlah delapan orang, termasuk beberaia prajurit penjaga.


"Kami baru saja menghadiri pertemuan di kediaman Yang Mulia Ratu, di kota Tengah. Dan kami dengar Anda masih berada di tanah ini, jadi kami memutuskan untuk menyapa Anda," ucap Mateus menjelaskan maksud kedatangannya seraya membungkuk kecil diikuti oleh yang lain.


Mereka berdelapan hanya berdiri di hadapan Luque di dalam tenda tersebut.


"Oh, perhatian sekali kalian. Terima kasih atas perhatian kalian," jawab Luque dengan sopan dan anggun.


"Yang Mulia Ratu baru saja memberitahukan pada semua orang tentang apa yang sebenarnya terjadi terhadap Tuan Aksa dan Tuan Nata." Mateus berucap lagi.


"Oh, begitu. Apa selain ingin mengapa ku, kalian juga ingin menangakan sesuatu mengenai hilangnya Nata dan Aksa?" tanya Luque kemudian tanpa basa-basi.


"Benar Primaval. Alasan lain kami kemari adalah untuk memastikan sesuatu menyangkut hal tersebut," jawab Mateus yang juga tidak mencoba bertele-tele.


"Memastikan apa?" tanya Luque kemudian.


"Sebelumnya kami sudah bertanya pada Tuan Couran mengenai kronologi hilangnya Tuan Aksa dan Tuan Nata." Kali ini giliran Nadir yang berucap. "Dan karena sekarang Nona Lily berada di dalam Hutan Sekai dan tidak dapat ditemui, sedang Tuan Val dan Nona Yvvone sudah memastikan bahwa tidak ada senjata mistik dan batu Arcane yang digunakan, maka kami ingin menanyakan kepada Anda, apa mungkin Anda tahu penyebab hilangnya mereka berdua?" lanjutnya kemudian panjang lebar.


"Dan apakah mereka mungkin akan kembali?" sahut Mateus menambahi. "Karena saat ini Tuan Val dan Nona Lily terlihat sangat tenang. Mungkin sang Oracle pernah mengatakan sesuatu kepada mereka. Dan karena Anda juga pernah bertemu dengan sang Oracle dan pernah membicarakan tentang mereka berdua, jadi..."


"Apakah sang Oracle juga mengatakan sesuatu padaku tentang mereka berdua begitu?" tanya Luque memotong ucapan Mateus yang bertele-tele.


"Benar seperti itu." Mateus menjawab sambil mengangguk.


"Apakah penjelasan panjang lebar sebelumnya itu, sebenarnya kalian ingin bertanya apakah aku tahu bahwa Aksa dan Nata akan kembali lagi?" Luque bertanya memastikan.


"Benar, maksud kami memang seperti itu. Maaf bila kami terlalu bertele-tele," jawab Mateus lagi seraya meminta maaf.


"Dan bila mereka tidak kembali, bagaimana? Apa kalian akan menyerah dan ikut pergi meninggalkan kerajaan ini?" Alih-alih menjawab, Luque malah memberi pertanyaan kepada Mateus dan yang lain.


"Bukan begitu yang kami maksud. Kami hanya ingin sebuah kepastian. Kami tidak ingin bergantung pada harapan semu, yang mengatakan bahwa mereka akan kembali suatu hari kelak." ucap Nadir kemudian.


"Baiklah, aku akan katakan pada kalian, kalau aku tidak tahu. Tapi coba dengarkan perkataanku ini baik-baik, aku pikir Tuan Val dan Nona Lily akan tetap berada di tempat ini, meskipun kedua pemuda itu tidak kembali lagi kemari," ucap Luque kemudian. "Karena meski bagaimana pun kerajaan ini adalah wilayah yang diperjuangkan oleh Aksa dan Nata. Jadi secara tidak langsung kerajaan ini adalah peninggalan dari Aksa dan Nata. Dan jelas Tuan Val dan Nona Lily akan tetap berusaha untuk melindunginya. Jadi jangan menganggap bahwa mereka berada di tempat ini karena sedang menunggu Aksa dan Nata kembali," lanjutnya menjelaskan.


"Baik, Primaval. Kami mengerti," sahut Mateus dan yang lain dengan cepat dan hampir bersamaan.


"Aku percaya, meski aku tidak mengenal kalian cukup lama, tapi bila Aksa dan Nata mau bekerja bersama dengan kalian, berarti aku yakin kalian adalah orang-orang yang memiliki potensi. Karena aku percaya mata Aksa dan Nata jeli melihat bakat yang tersembunyi," tambah Luque kemudian.


"Kami tersanjung, Primaval. Dan maafkan kami telah mengganggu Anda selarut ini," ucap Mateus yang terlihat mulai bersemangat lagi.


"Aku tidak merasa terganggu." jawab Luque kemudian.


"Baiklah kalau begitu kami permis terlebih dahulu." Mateus dan yang lain membungkuk pendek sebelum kemudian meninggalkan tenda tersebut.


Luque menghembuskan nafas panjang.


"Anda memang pantas menyandang gelar Gadis Suci, Nona Primaval." Tiba-tiba terdengar Yvvone berucap seraya masuk ke dalam tenda.


"Aku tidak mengerti, apa yang kau maksud, Nona Yvvone?" tanya Luque yang terlihat santai. Itu karena selama ia dan Rafa pindah ke tenda Aksa dan Nata, Yvvone sering datang dan pergi sesuka hati, yang membuatnya sudah terbiasa.


"Ucapan Anda tentang melihat bakat atau potensi orang-orang itu tadi. Yang kedua bocah itu lihat adalah orang-orang yang cukup pandai untuk dapat menjajankan rencananya. Mereka tidak perduli dengan melihat bakat potensi orang. Apa lagi Nata," sahut Yvvone yang terlihat sedang berusaha menahan tawa.


"Elf memang tidak mengerti tentang bagaimana berbicara lebih baik dan memuji seseorang bisa meringankan beban dan merubah kehidupan seseorang," balas Luque seraya menggelengkan kepala pelan menatap gadis Elf mungil tersebut.


"Benar, itu hal yang paling aneh yang tidak dapat ku pahami dari manusia," sahut Yvvone seraya berjalan menuju meja tengah yang tak jauh dari generator listrik berada.


"Kurasa menguping bukanlah kebiasaan dan hobi mu, jadi ada perlu apa kau kemari, Nona Yvvone?" tanya Luque yang kemudian duduk di seberang Yvvone yang sudah lebih dulu duduk di depan meja di sebelah generator listrik.


"Mungkin Anda lupa. Tapi sebelum dua bocah itu menghilang, aku sudah tinggal ditempat ini, Nona Primaval," sahut Yvvone seraya mengeluarkan SmarthPhone dari tas kecil di pinggangnya


"Bukan, kau tidak tinggal ditempat ini, Nona Yvvone, tapi aku dan Rafa. Kau hanya datang untuk mengisi tenaga mainanmu itu," sahut Luque kemudian.


"Ya, itu Anda tahu. Aku memang hendak mengisi ulang tenaga Smarthphone ku. Tapi saat aku tiba di depan pintu, tampak Anda sedang ada tamu, jadi tidak sopan kalau aku langsung masuk saja, kan?" jawab Yvvone kemudian menjelaskan mengapa dia bisa mendengar semua pembicaraan Luque sebelumnya.


"Kau ini apa hanya memperdulikan mainan itu saja? Apa kau tidak ada sedikit rasa kuatir bahwa mungkin Aksa dan Nata tidak akan pernah kembali?" tanya Luque yang terlihat sedikit jengkel terhadap Yvvone.


"Kekuatiran ku di dunia sekarang ini adalah, orang-orang yang ingin mengumpulkan gelang Scion, dan bila Smartphone ini kehabisan tenaganya. Hanya itu saja, tidak ada yang lain," sahut Yvvone dengan ringan. "Apa lagi kuatir kepada mereka berdua, yang bahkan Anda, Nona Lily, Tuan Val saja menanggapinya dengan santai. Apa Anda pikir saya seperti orang-orang itu? Saya tahu mereka pasti kembali, saya bisa merasakan dari cara kalian bertiga menanggapi hal ini," lanjutnya kemudian.


"Baik, terserah kau saja, Nona Yvvone," balas Luque dengan nada malas. "Oh iya, apa kau melihat Rafa?" tanyanya kemudian.


"Aku tidak melihatnya. Mungkin dia ada di tebing dekat dengan Stasiun Gondola," jawab Yvvone kemudian.


"Di tebing? Malam-malam begini?" Luque terlihat sedikit bingung.


"Akhir-akhir ini dia memang sering berada di tempat itu. Sepertinya kepergian si Aksa itu membuatnya terpukul," ucap Yvvone kemudian.


"Ya, aku dapat membayangkan bagaimana perasaannya," balas Luque yang terlihat bersimpati.


"Tadinya aku ingin menghiburnya, tapi karena aku tidak mengerti tentang perasaan manusia, jadi lebih baik tidak ku lakukan." Yvvone terlihat mulai sibuk memasang alat pengisi tenaga Smartphone nya ke generator listrik.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, aku akan menyusulnya, terima kasih," ucap Luque yang kemudian beranjak keluar Tenda.


"Sama-sama, Gadis Suci," balas Yvvone tanpa menatap ke arah Luque.


-


"Hei, apa yang kau lakukan disini, Nona Rafa?" Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Rafa, saat dia sedang duduk sendiri di sebuah tebing di sisi timur wilayah Ceruk Bintang, tak jauh dari Stasiun Gondola berada. Menatap bintang di langit yang tanpa rembulan.


"Anda mengejutkan saya, Primaval" Rafa menyentuhkan tangan kirinya ke dada.


"Sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan Primaval lagi, Nona Rafa" Luque berjalan mendekat dan kemudian duduk tepat di sebelah Rafa.


"Maafkan saya. Saya sudah terbiasa memanggil Anda seperti itu," ucap Rafa sambil menunduk kecil.


"Sekarang sudah malam, apa yang sedang kau lakukan di tempat ini?" tanya Luque seraya meletakan kedua tangannya ke belakang untuk menyangga tubuhnya saat menatap ke langit malam.


"Sedang mengamati bintang saja. Saya tidak bisa tidur malam ini, Prima... maksud saya, Nona Luque." Rafa menjawab seraya kembali menengadahkan kepalanya ke angkasa.


"Apa kau masih meresahkan tentang Aksa dan Nata yang mungkin sudah kembali ke dunianya?" Luque bertanya lagi tanpa menatap ke arah Rafa.


"Bu-bukan itu. Saya malah merasa senang, akhirnya mereka bisa kembali ke dunia mereka lagi. Bertemu dengan keluarga dan orang-orang yang mereka sayangi." Rafa menjawab dengan tergagap.


"Kau tidak perlu menyangkalnya di hadapan ku. Sudah wajar bila kau merasa resah dan tidak senang bila mereka kembali ke dunia mereka. Aku pun merasa tidak suka bila mereka harus meninggalkan dunia ini," kali ini Luque menatap ke arah Rafa, meski masih dalam posisi tubuh miring ke belakang karena sedang menatap langit.


"Anda juga merasa seperti itu?" Rafa terdengar ragu bertanya.


"Seperti tidak adil rasanya. Penantianku selama itu, hanya untuk waktu sebentar saja. Rasanya seperti saat kau memesan Froyo tuan Edward. Penantian lama saat makanan itu dibuat, hanya untuk habis dalam sekian waktu saja." Luque berucap seraya kembali menatap ke langit malam.


"Apa selama ini Anda menunggu kedatangan mereka, Nona Luque? Apa karena sang Oracle memerintahkan Anda untuk menunggu mereka?" Rafa kembali bertanya. Kali ini terdengar lebih tegas. Karena ia merasa penasaran.


"Bukan. Tapi kau pasti akan menertawakan ku bila kau tahu alasan yang sebenarnya." Luque tertawa kecil.


"Saya tidak akan pernah menertawakan alasan Anda, Nona Luque. Karena untuk menunggu selama itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Pasti ada hal yang sangat penting yang mendasari keputusan anda tersebut." Rafa terlihat serius dalam ucapannya.


"Kau lihat bintang utara itu? Bintang itu adalah Polaris. Dia adalah satu-satunya bintang yang tidak pernah bergerak dari posisinya." Luque berucap sambil menunjuk ke sebuah bintang di angkasa. "Dahulu kala, nenek ku pernah bercerita. Bahwa Polaris sebelumnya adalah seorang dewi. Ia diminta oleh kekasihnya yang tengah melakukan perjalanan ke ujung langit untuk menunggu di tempat tersebut sampai kekasihnya itu kembali," ucapnya bercerita.


"Saya juga pernah membaca tentang dongeng tersebut." Rafa membalas seraya ikut menatap bintang yang ditunjuk Luque.


"Aku melakukan hal yang sama seperti Polaris itu. Aku menunggu dengan tidak beranjak sama sekali dari kota Nezarad, selama hampir tiga ratus tahun. Hanya supaya aku tidak melewatkannya" ucap Luque kemudian dengan tatapan yang seolah menembus melewati gelapnya langit malam.


"Meski konyol rasanya, karena ucapan sang Oracle adalah sesuatu yang sudah pasti terjadi. Jadi harusnya meski aku tidak mencoba menunggunya, kami pasti akan bertemu, kan?" Lanjut gadis Narva itu dengan senyuman, meski matanya tidak menunjukan bahwa ia sedang bergembira.


"Apa sang Oracle memberitahukan bahwa orang itu akan menjadi.. eng.. pasangan hidup Anda?" Rafa bertanya ragu dan terlihat salah tingkah.


Sementara Rafa hanya mengangguk dengan wajah malu.


"Bukan. Sang Oracle tidak berkata bahwa orang dari dunia lain itu akan menjadi pasangan hidup ku." Luque berucap lagi masih dengan senyuman yang seperti ingin tertawa. "Meski nyatanya aku langsung jatuh cinta begitu aku bertemu dengan Aksa untuk pertama kalinya," ucapnya kemudian yang tampaknya ia sengaja untuk menggoda Rafa.


Sedang Rafa terlihat hanya terdiam dengan wajah yang mulai memerah.


"Kenapa, Nona Rafa? Ada masalah dengan hal itu?" Luque bertanya dengan senyuman jahilnya.


"Ti-tidak. Tidak ada apa-apa, Nona Luque. Saya hanya merasa kagum kepada Anda yang berani mengakui hal tersebut dan bertindak." Rafa terlihat menjawab dengan sedikit panik.


"Apa itu berarti kau juga menyukai Aksa namun tidak berani mengakuinya dan tidak berani untuk bertindak?" Luque terlihat bahagian menggoda Rafa.


"Bu-bukan demikian. Saya hanya merasa kagum terhadap Anda. Itu saja. Tidak lebih." Rafa menjawab dengan panik.


"Kau lucu sekali, Nona Rafa." Luque akhirnya tidak tahan dan mulai tertawa.


"Anda jahat sekali menggoda saya seperti itu, Nona Luque." Terlihat Rafa menekuk wajahnya melihat Luque tertawa lepas.


Suara tawa Luque terdengar menggema hingga ke lembah di bawah tempat mereka duduk.


"Tapi sebenarnya, yang Oracle katakan ke padaku adalah; Akan ada orang yang bukan berasal dari dunia ini datang menemui ku suatu hari nanti. Orang yang akan membawa perdamaian di Tanah Suci," Luque menjedah ucapannya untuk menghela nafas dalam. "Dan orang itu yang kelak akan menyudahi kehidupan abadi ku," lanjutnya kemudian dengan senyum yang kembali terangkat tipis di bibir.


"Maaf. Menyudahi kehidupan Anda?" Rafa mencoba memastikan atas apa yang baru saja ia dengar.


"Kau pasti sudah pernah mendengar bahwa aku dapat hidup lama karena kekuatan penyembuh ku, kan?" Alih-alih menjawab pertanyaan dari Rafa, Luque malah balik bertanya.


"Iya, saya mendengar tentang hal tersebut." Rafa mengangguk.


"Tapi hal tersebut tidaklah benar. Aku bahkan bukan seorang penyembuh, baik dulu maupun sekarang." Luque berucap lagi menjelaskan.


"Tapi saya melihat anda menyembuhkan banyak prajurit saat berada di Tanah Suci." Rafa menimpali.


"Itu bukan sihir penyembuh." Luque menjawab cepat.


"Lantas?" Rafa terlihat penasaran. Karena ia tidak pernah mendengar ada sihir atau cara untuk menyembuhkan seseorang, selain sihir penyembuh atau bidang ketabiban.


"Aku masih ingat benar. Dua hari sebelum aku genap berusia tujuh belas tahun, aku tengah berlatih sihir dengan guruku. Saat itu tiba-tiba Mahan Staan itu muncul tak jauh dari tempat kami berlatih." Luque mulai bercerita seraya kembali menatap ke langit malam. "Dan entah bagaimana, mulai sejak itu aku berhenti menua. Jangankan menua, aku berhenti bertumbuh," ucapnya lagi menjelaskan.


"Berhenti bertumbuh?" Rafa semakin tidak bisa mengikuti ucapan Luque.

__ADS_1


"Aku menyadarinya setelah tiga tahun kemudian. Perawakan ku tidak berubah sama sekali. Aku tidak bertambah tinggi atau bertambah tua. Bahkan rambutku tidak bertambah panjang." Luque melanjutkan ceritanya tanpa memperdulikan pertanyaan Rafa. "Dan beberapa tahun sebelumnya, aku juga menyadari bahwa aku memiliki kemampuan sihir yang aneh," jeda gadis itu kemudian untuk membenahi posisi duduknya.


Sedang kali ini Rafa tidak mencoba untuk memotong ucapan Luque. Ia hanya diam sambil mendengarkan cerita gadis itu dengan serius.


"Awalnya ku pikir itu adalah sihir penyembuh. Sampai pada suatu hari, tanpa sengaja aku menggunakan sihir tersebut pada sebuah benda mati. Sebuah kapak yang tidak sengaja patah saat ku gunakan untuk memotong kayu bakar" Luque kembali bercerita. "Dan anehnya sihir 'penyembuh' ku itu, bisa mengembalikan kapak yang tadinya rusak, menjadi seperti sedia kala," lanjutnya lagi.


"Benarkah?" Rafa terdengar tidak percaya.


"Kau mungkin pernah mendengar rumor tentang aku yang bisa membuat aliran Jiwa dalam kota Nezarad tidak pernah habis meski kota tersebut menggunakan formasi sihir untuk memasang pelindung, kan?" Luque bertanya lagi.


"Jangan bilang, Anda bahkan bisa mengembalikan aliran Jiwa seperti sedia kala?" Rafa terlihat semakin tidak percaya.


"Benar. Aku bahkan bisa mengembalikan aliran Jiwa seperti sedia kala." Luque menjawab cepat.


"Sulit dipercaya," ucap Rafa seraya mengeleng pelan. "Baru kali ini saya mendengar hal yang seperti itu," tambahnya yang masih terlihat tidak percaya.


"Aku sendiri pun tidak pernah mendengar hal seperti ini sebelumnya," jawab Luque kemudian. "Dan baru setelah seratus tujuh puluh sekian tahun kemudian, sang Oracle datang memberitahukan ku, bahwa sihir yang ku miliki adalah sihir waktu," tambahnya menjelaskan, yang membuat Rafa terkejut dan semakin bertambah tidak percaya.


"Jadi maksud Anda, Anda tidak menyembuhkan luka para prajurit itu. Namun Anda memundurkan 'waktu' tubuh para prajurit itu ke saat sebelum mereka terluka?" Rafa bertanya dengan wajah yang seolah berharap semua itu bohong.


"Benar. Meski ada batasan jumlah dan panjang 'waktu' yang dapat dimundurkan." Luque menjawab.


"Benar-benar luar biasa. Saya kira selama ini konsep dari sihir Ruang dan Waktu itu hanya dapat digunakan untuk sebuah formasi sihir atau alat mistik saja. Tak menyangka bahwa sihir itu bisa digunakan oleh manusia." Rafa terlihat sangat antusias.


"Aku sendiri juga tidak habis pikir saat mengetahuinya." Luque berucap seraya menggeleng pelan. "Dan lebih parahnya lagi, sang Oracle menjelaskan bahwa sihir itu akan membuatku abadi, di saat aku sudah benar-benar tidak tahan lagi dengan kehidupan panjang ku ini," ucap gadis itu kemudian.


Mendengar ucapan Luque, dan melihat raut wajahnya saat berbicara, membuat Rafa sadar bahwa Luque adalah seorang tawanan. Gadis itu dipenjara oleh waktu, untuk tinggal selamanya di dunia ini. Dan hal itu membuatnya sangat sedih.


"Jadi sang Oracle mengatakan pada Anda bahwa orang dari dunia lain yang akan menemui Anda itu, bisa membuat Anda tidak lagi menjadi abadi?" Rafa bertanya lagi. Terlihat ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Dahinya tampak berkerut, mencoba menahan untuk tidak membuat wajah sedih dihadapan Luque. Yang mungkin akan membuat Gadis Suci itu menjadi lebih sedih.


"Bukan. Lebih tepatnya, orang itu yang akan mengakhiri kehidupan panjang ku ini." Luque menjawab cepat dengan senyum getir terlihat di wajahnya. "Tapi kurasa tidak buruk, untuk mengakhiri hidup ditangan orang yang dicintai, kan?" ucapnya lagi mencoba untuk tersenyum lebih lebar.


Rafa tiba-tiba saja meneteskan air matanya meski masih tetap terdiam dan tidak merubah raut wajahnya.


"Nona Rafa, kau menangis? Apa ada perkataanku yang salah?" Luque terlihat terkejut.


"Mengapa Anda menceritakan hal tersebut kepada saya, Nona Luque? Hal tersebut membuat hati saya terluka. Membuat saya sangat sedih, hanya dengan memikirkannya saja." Rafa berucap masih dengan air mata yang terus berjatuhan, meski wajahnya tidak sedang menangis.


"Maafkan aku sudah memberimu beban dengan cerita ini, nona Rafa." Luque berucap seraya menyeka air mata di pipi Rafa dengan tangannya.


"Aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba aku menceritakan hal ini padamu. Tidak ada seorang pun yang tahu tentang hal ini, kecuali aku dan sang Oracle sendiri," ucap Luque yang kembali menatap ke arah bintang. "Dan sekarang kau," susulnya dengan senyum kecil.


Sementara Rafa tidak berkata apapun. Ia hanya terdiam masih mencoba menangani rasa sedihnya mendengar cerita Luque tadi.


"Mungkin karena suasana dan kenyataan bahwa kedua orang itu telah pergi." Luque kembali berucap. "Tapi kurasa, itu karena sekarang aku sudah menganggap mu menjadi sahabatku. Jadi secara tidak sadar aku menceritakan hal tersebut kepada mu. Sekali lagi maafkan aku, nona Rafa" lanjutnya kemudian.


Rafa tampak terkejut mendengar ucapan Luque yang menganggap dirinya sebagai sahabat. Dan dengan segera Rafa mulai menangis tersedu. Yang membuat Luque semakin bingung, dan kemudian memeluk tubuh Rafa yang tampak tidak akan berhenti menangis dalam waktu dekat itu.


Suara tangis Rafa terdengar menggema hingga ke lembah di bawah tempat mereka duduk.


"Oh, dan juga, jangan beritahukan hal ini kepada yang lain, ya? Biar ini jadi rahasia kita berdua saja" ucap Luque kemudian saat Rafa sudah terlihat hanya sesenggukan saja.


Rafa hanya mengangguk. "Saya juga punya sesuatu yang jngin saya ceritakan pada Anda, Npna Luque," ucapnya kemudian seraya menegakan tubuh melepaskan diri dari pelukan Luque.


"Apa?" tanya Luque yang terkejut mendapati sikap Rafa yang tiba-tiba berubah itu.


"Karena Anda sudah menganggap saya sebagai sebagai sabat Anda, maka saya juga akan menceritakan rahasia yang saya punya pada Anda," ucap Rafa yang terlihat serius.


"Hahaha... tidak perlu. Kau tidak harus melakukan itu untuk membalas apa yang sudah kulakukan," sahut Luque yang mulai kembali tertawa.


"Tidak. Saya harus mengatakannya pada Anda." Rafa terlihat benar-benar serius. "Sebenarnya saya merasa sedih, marah, dan kecewa dengan kepergian Tuan Aksa yang tiba-tiba seperti sekarang ini. Itu karena saya juga mencintai Tuan Aksa," tambahnya kemudian seraya menatap tajam ke arah Luque yang hanya terdiam.


"Oh. Kukira kau akan bicara apa, ternyat itu," sahut Luque yang terlihat kembali pada posisi duduknya semula dengan santai. "Kalau itu sih bukan sebuah rahasia. Semua orang juga sudah tahu," tambahnya kemudian sambil membenahi posisi bajunya yang kusut.


"Eh? Maksud Anda?" Rafa terlihat bingung dengan maksud ucapan Luque.


"Semua orang pasti sudah bisa menebaknya dari tingkah lakumu terhadap Aksa," ucap Luque mencoba menjelaskan.


"Benarkah? Selama ini? Apa tingkah laku saya terlalu mencolok?" Rafa terlihat panik. Wajahnya mulai terlihat memerah.


"Kau itu. Ku pikir kau akan menceritakan sesuatu yang benar-benar rahasia. Sekarang aku jadi merasa dipermainkan," sahut Luque kemudian seraya membuang pandangannya dari Rafa ke arah langit malam.


"Bukan begitu maksud saya Nona Luque.


"Tapi, kau tidak tidak perlu kuatir. Karena selama aku masih hidup, berarti mereka pasti akan kembali," ucap Luque masih dengan tatapan ke arah langit. "Karena perkataan Oracle tidak pernah salah," tambahnya kemudian yang kali menatap Rafa dengan senyuman.


"Sekarang sebagian kecil hati saya jadi berharap mereka untuk tidak pernah kembali," ucap Rafa lirih.


"Kalau kau merasa bersedih dan kasihan kepada ku, bagaimana kalau ketika Aksa kembali, kau coba bujuk dia untuk mau menikah dengan ku?" sahut Luque kemudian sambil kembali menatap bintang.


"Ma-maksud, Anda?" Rafa bertanya tergagap, karena tidak dapat menjawab pertanyaan Luque.


Kemudian terdengar Luque mulai tertawa melihat reaksi dari Rafa. Yang lalu diikuti oleh Rafa yang juga ikut tertawa. Dan suara tawa mereka terdengar hingga ke lembah di bawah tempat mereka duduk.

__ADS_1


-


__ADS_2