Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
17. Rencana Melubangi Dinding


__ADS_3

Esok paginya, Nata tiba-tiba mengajak trio pemburu menuju ke tempat perkemahan kelompok Bintang Api dan rombongan Lumire, di dekat bukit Dinding Sekai.


Masih sangat pagi. Bahkan langit masih berwarna biru gelap. Dan matahari masih berbentuk semburat merah di langit timur.


Rombongan Fla pun memaksa ikut, dan al hasil sembilan orang termasuk Nata berangkat menuju ke timur.


Trio pemburu menaiki kuda, sementara yang lain berjejalan dalam kereta kuda milik Nata, yang kali ini sudah mengalami perubahan lagi.


Kali ini dengan memasang lokomotif kecil di bagian depan sebagai pengganti kuda penarik.


Dari bawah lokomotif itu terdapat tabung besi yang memanjang ke belakang sampai diantara dua roda belakang kereta. Dari situ ada dua tabung besi lagi melintang, yang akhirnya menjadi poros roda kereta. Dan terlihat tabung besi tersebut berputar saat kereta berjalan. Nata sempat menyebutnya 'Gardan', saat Deuxter bertanya.


Dan kemudian terdapat dua roda lagi pada tabung lokomotifnya. Yang juga sama memiliki tabung besi melintang. Hanya saja lebih tipis. Dan tabung besi itu tersambung dengan tongkat besi kearah tempat duduk kusir. Ujung dari tongkat besi tersebut juga berbentuk seperti roda. Yang membuat bingung orang-orang, kenapa Nata memasang roda diatas, di depan tempat duduk kusir.


Tapi menurut Nata roda itu adalah alat kemudi. Jadi saat roda di depan kusir itu di putar ke kanan, maka roda depan kereta tersebut akan berbelok kekanan, ataupun sebaliknya. Saat diputar kekiri, maka roda akan berbelok ke kiri. Aksa memberi nama kereta itu sebagai : Epoc Mk 4.8 Automaton.


"Sebenarnya ada alasan apa kita pergi pagi-pagi begini, tuan Aksa?" Tanya Deuxter dengan volume suara yang sedikit lebih keras. Untuk mengimbangi suara desis lokomotif yang cukup mengganggu.


"Sepertinya aku punya ide" jawab Nata dengan volume suara yang sama dengan Deuxter.


"Ide apa, tuan Nata?"


"Terinspirasi dari cerita kalian, aku berniat untuk membuat gua di bukit Dinding Sekai menembus ke desa Fla"


"Membuat apa?" Terdengar beberapa orang bertanya nyaris bersamaan, untuk meyakinkan mereka tidak salah dengar.


Sementara kereta Nata berjalan menuju kearah sebuah tebing panjang membentang memenuhi sebatas pandang cakrawala. Itu lah yang disebut bukit Dinding Sekai. Meski masih dari jauh, susunan bukit yang menggaris dari utara ke selatan itu, sudah terlihat.


-


Tak memerlukan waktu lama, mereka sudah tiba di sebuah perkemahan yang memiliki tenda-tenda yang dipasang mengelilingi susunan batu bekas api unggun. Tampak kereta kuda juga berjajar rapi dibelakang tenda-tenda tersebut.

__ADS_1


Terlihat dua orang pria dengan pakaian seprang ksatria dan pakaian seorang prajurit, melambaikan tangan saat melihat rombongan Nata datang.


Mereka adalah Sigurd dan Saul, anggota dari kelompok Bintang Api, yang tampaknya sedang mendapat giliran untuk jaga malam.


"Tuan Nata, kenapa pagi-pagi benar datang kemari?" Tanya Saul, seorang pria Morra dengan perawakan atletis, setelah Nata dan rombongan mendekat.


"Lama tidak bertemu, tuan Deuxter, tuan Huebert, dan tuan Loujze" kali ini pria dengan baju jirah, menyalami trio pemburu.


"Apa saya bisa bertemu dengan tuan Cedrik?" Ucap Nata kemudian.


"Oh, silahkan" balas Saul kemudian.


-


Mereka akhirnya berbincang bersama dengan Lumire sekalian. Dan setelah mengenalkan rombongan Fla, Nata segera masuk ke topik utama kenapa ia datang ketempat itu pagi-pagi.


"Saya ingin melubangi bukit itu untuk membuat jalan tembus ke sisi sebelahnya" ucap Nata menyampaikan maksudnya.


"Anda selalu saja datang dengan hal-hal yang tidak terpikirkan" ujar Lumire dengan tawa renyahnya.


"Benar. Saya ingin membuat jalur menuju hutan di lereng selatan gunung Sekai"


"Lalu, apa yang bisa kami bantu dengan hal tersebut?"


"Aku tidak mau membantu untuk menggali dinding tersebut" saut Ende tiba-tiba. Yang tampak duduk disebelah Margaret, sedang menyeruput teh hangat dari gelasnya. Yang baru saja dibagikan oleh Fatima.


"Tidak, nona Ende. Meski kita tidak memiliki para penyihir saat ini, tapi saya tidak meminta anda untuk melakukan hal yang tidak anda sukai" jawab Nata, yang juga ikut menyesap teh pemberian istri Lumire.


"Lalu, kenapa anda menemui kami?" Kali ini Margaret yang bertanya.


"Jadi, seperti yang kalian tahu. Bahwa sekarang ada tiga ratus Yllgarian di perkemahan bawah" ucap Nata yang dijawab anggukan oleh yang lain.

__ADS_1


"Dan sebenarnya mereka hanya ingin menyeberangi tanah ini menuju ke selatan. Tapi karena pengerjaan jalur kereta ke selatan yang sedang dikerjakan oleh Aksa, membuatnya jadi sangat sulit untuk melalui tanah ini dengan berjalan kaki" jelas Nata kemudian.


"Oh, benar juga" Margaret berucap seraya mengangguk paham.


"Maka dari itu saya akan menyarankan kepada para Yllgarian tersebut untuk menunggu Aksa kembali, dan kemudian mengantar mereka ke selatan dengan kereta uap" Nata kembali berbicara. "Tapi Aksa kembali masih sekitar satu setengah bulan lagi. Dan itu akan jadi masalah dengan kebutuhan makan mereka" lanjutnya kemudian.


"Lalu, rencana anda?" Kali ini Cedrik yang bertanya.


"Jadi, rencana saya adalah agar para Yllgarian itu bisa mencari kebutuhan makanan mereka di hutan selatan gunung Sekai tersebut. Dan bukan di hutan diluar tanah ini, yang bisa menimbulkan masalah untuk mereka, juga untuk kita" ucap Nata yang kemudian meletakan gelas kayu nya disamping tempatnya duduk bersila.


"Oh, benar juga. Hal itu bisa menimbulkan masalh juga buat kita" ucap Cedrik sambil terlihat menimbang.


"Benar. Dan juga karena sepertinya para Yllgarian itu tidak nyama tinggal disekitar manusia, terutama para prajurit dan ksatria Elbrasta, jadi saya p.berpikir untuk memindahkan perkemahan mereka kemari. Disamping akan lebih mudah juga menuju hutan Sekai, bila nanti jalan tembus itu selesai. Bagaimana menurut kalian?" Nata mengakiri ucapannya dengan pertanyaan dan wajah yang terlihat serius.


"Kurasa itu ide adalah yang bagus, tuan Nata. Lagi pula akan lebih menyenangkan bila tempat ini menjadi ramai" jawab Lumire tanpa jedah berpikir. Karena Lumire sudah menduga arah dan ujung dari pembicaraan Nata.


"Mungkin hanya sementara saja, tuan Lumire. Dan juga untuk anda tuan Cedrik. Saya meminta tolong untuk menjaga serta mengawasi para Yllgarian tersebut, selama anda dan kelompok anda melakukan penjelajahan dan pembersihan wilayah tengah ini"


"Baiklah, serahkan pada kami" jawab Cedrik cepat.


"Terima kasih" Nata mengangguk kecil kearah Lumire dan Fedrik.


"Sudah, jangan bicara terus. Ayo, sarapan sudah siap" Fatima tampak menyela.


"Wah, saya sudah tidak sabar. Sudah lama saya tidak makan masakan nyonya Fatima" Raut wajah dan nada bicara Nata langsung berubah, setelah mendengar ucapan Fatima tentang sarapan.


"Apa jangan-jangan alasan anda kemari pagi-pagi adalah agar bisa sarapan bersama keluarga tuan Lumire, tuan Nata?" Terdengar Loujze bertanya menuduh.


"Memang kau tidak kangen masakan nyonya Fatima, Loujze?" Terlihat Nata menatap Lujze dengan sinis.


"Ya, kangen juga sih" jawab Loujze yang ditimpali tawa oleh yang lain.

__ADS_1


-


__ADS_2