
Sehari setelah bertolak dari kota Zeraza rombongan Aksa dan Nata tiba di jalur lereng tebing. Ditempat dimana mereka menemukan tubuh Pietro yang pingsan sebelumnya.
Kali ini mereka juga melihat sesosok di tengah jalan. Tapi bukan tergeletak tak berdaya seperti Pietro, melainkan berdiri tegak menghadang jalan.
Lily menghentikan kereta kudanya. Jean dan Caspian berhenti di depan kereta kuda tersebut.
"Siapa kau? Kenapa menghadang jalan kami?" Teriak Caspian bertanya. Tangannya sudah siap pada gagang pedang di pinggangnya. Ia merasa ada yang tidak beres dengan pria dihadapannya itu.
Pria itu tidak menjawab, perlahan ia mengangkat kedua tangannya kedepan dan tiba-tiba tanpa jedah, sebuah bola api meluncur dari udara tepat di depan tangannya melewati Caspian dan Jean menuju kearah kereta kuda.
Belum Caspian dan Jean bereaksi, sebuah bola cahaya berwarna biru terang meluncur dari arah kereta kuda menghantam bola api tersebut. Yang menimbulkan ledakan dengan suara yang menggaung diantara lembah.
Bola cahaya itu berasal dari Lily. Setelah Caspian dan Jean menatap kebelakang tampak Lily sudah dengan tongkat ditangannya memasang kuda-kuda bertarung dari tempat duduk kusir.
"Apa itu tadi? Fireball?" Celetuk Aksa terlihat terkejut tapi juga terdengar bersemangat.
Belum Caspian dan Jean bersiap untuk menghadang serangan kedua, pria itu sudah mulai menyerang kembali.
Kali ini ada puluhan bola api yang melaju bersamaan mengarah ke kereta kuda. Bola api itu melaju dengan jalur laju yang tidak berpola.
Dan untuk menghadapinya Lily dengan cekatan mengangkat tongkatnya kedepan dan sebuah cahaya tipis bersinar dihadapannya serupa tembok kaca menghalau sebagian besar bola api yang mengarah pada kereta kuda mereka.
Namun beberapa bola api yang lolos menghantam tanah dan beberapa menghantam roda kereta. Membuat kereta roboh dan mengejutkan kuda-kuda yang kemudian berlari liar tidak tentu arah. Melewati kuda Caspian dan Jean menuju ke arah pria yang menyerang mereka tadi.
Dengan sigap Lily yang berada di dalam kereta segera menarik Lucia, Aksa, dan Nata keluar dari kereta.
Dan tak lama setelah itu kereta hancur berkeping-keping terhantam bola api besar yang dikeluarkan oleh pria itu beberapa saat sebelumnya.
Kuda penarik kereta berlari panik menyelamatkan diri. Sementara Caspian dan Jean segera turun dari kuda mereka dan berlari menghampiri sosok Lucia, Nata, dan Aksa yang tersungkur di tanah setelah ditarik keluar oleh Lily.
Sedang Lily sudah siap dengan kuda-kuda menghadapi pria penyerang mereka itu.
"Anda baik-baik saja putri?" Jean memastikan keadaan Lucia sambil membantu gadis itu bangkit berdiri.
"Iya aku baik-baik saja"
__ADS_1
"Siapa kau? Dan apa sebenarnya tujuan mu?" Caspian bertanya yang kali ini sudah ikut bersiap di sebelah Lily.
Setelah diperhatikan dengan seksama pria itu adalah seorang Morra. Dengan jubah berwarna merah yang menutupi sebagian dari tubuhnya. Dan mengenakan celana kulit yang biasa dipakai oleh para pemburu.
Masih belum berkata-kata, pria itu kembali mengangkat tangannya dan puluhan bola api mulai muncul lagi diudara diantara mereka.
"Ini memang benar-benar petarungan dunia fantasi yang aku tunggu-tunggu. Tapi tidak dalam posisi berbahaya seperti ini juga" ucap Aksa yang bercampur antara rasa bersemangat dan rasa takut.
Lily dengan lincah menghalau semua bola api yang dilemparkan kearah mereka dengan menebas dan menembakinya dengan sinar putih dari tongkatnya.
Caspian dan Jean memutuskan untuk maju memperpendek jarak dengan penyerangnya. Hal yang paling masuk akal untuk melawan penyihir jarak jauh seperti sekarang.
Tampaknya Jean menggunakan sihir yang pernah ia tunjukan kepada Aksa dan Nata. Karena terlihat plat besi pelindung nya menyala biru redup.
Jean berlari tepat di depan Caspian. Sementara bola api pria berjubah merah itu tidak meninggalkan bekas apapun setelah menghantam tubuh Jean. Dan seolah tidak terhentikan Jean terus berlari maju memperpendek jarak.
"Wah, sihir Jean ternyata hebat sekali" kali ini Nata berucap kagum melihat Jean.
Sementara dibelakang Jean, Caspian tampak sudah siap dengan pedangnya yang terhunus. Dan begitu dirasa sudah dalam jangkauan serangnya, Caspian melakukan lompatan tinggi melewati tubuh Jean mengarahkan pedangnya ke pria lawan mereka itu.
Dan tiba-tiba muncul yang seolah di dorong dari dalam tanah, tembok batu mencuat tepat dihadapan pria itu menangkis serangan Jean dan Caspian secara bersamaan.
Dan dari titik buta Jean dan Caspian, dari balik tembok batu yang baru saja muncul dari dalam tanah itu, meluncur beberapa bola api yang menukik mengarah ke Jean dan Caspian yang tidak siap.
Walau mencoba menghindari dan menahannya, namun bola api itu masih menghantam tubuh Jean dan Caspian. Caspian yang tadi melompat diudara karena tidak memiliki tempat untuk berpijak, terpelanting kebelakang karena serangan bola api itu tadi.
Kemudian pria itu melompat mundur menjaga jarak saat tembok batu itu mulai tenggelam lagi kedalam tanah.
"Apa yang baru saja kita saksikan Nat?"
"Benar, seperti sedang melihat film dengan visual efek"
Caspian kembali berdiri dan memasang kuda-kuda disebelah Jean. Sementara Lily berada di belakang mereka melindungi Aksa, Nata, dan Lucia.
"Dia membuat sihir api dan tanah dengan cepat dan efektif" ujar Caspian menilai.
__ADS_1
"Dan dilihat dari gerakannya, pria itu seorang petarung yang berpengalaman. Mungkin mantan penyihir petarung" tambah Jean yang juga menilai.
"Jangan-jangan kau adalah pemimpin bandit Midas? Si Tangan Terkutuk?" Tebak Caspian.
"Apa kau hendak membalas dendam anak buah mu yang kami tangkap?" Kali ini Jean yang bertanya.
Mendengar ucapan tersebut membuat pria yang sedari tadi diam membisu ini mulai angkat bicara.
"Aku kemari bukan untuk melakukan hal remeh seperti itu. Aku kemari untuk membunuh gadis itu" ucap pria itu kemudian seraya menunjuk kearah Lucia.
"Benar dugaan ku, dia mengincar Lucia. Nona Lily, tolong bawa mereka menjauh dari sini sementara kami berdua akan menahan pria itu" ucap Caspian memberitahukan rencananya.
"Baiklah" jawab Lily cepat. Dan kemudian segera menuju kearah Aksa, Nata, dan Lucia, kemudian mengajaknya lari meninggalkan tempat itu.
"Kalian kira bisa lolos dari tempat ini begitu saja? Kalian salah besar. Kalian semua akan mati disini" ucap pria itu dengan suara berat yang mengancam. Yang meski hanya dengan mendengarnya saja sudah membuat Aksa dan Nata merinding.
"Terutama kau Lucia Elbrasta! Kau akan mati disini untuk menyelesaikan semuanya!" Pria itu melanjutkan berteriak sebelum kemudian terdengar suara gaduh dari balik tebing.
"Suara apa itu?" Caspian sudah mulai kuatir.
"Seperti banyak orang yang berteriak-teriak dari kejauhan" ucap Aksa kali ini seraya fokus mencari tahu.
Tak lama kemudian munculah asal dari suara-suara tersebut.
"Mugger?!" Tampak Lily terlihat terkejut.
"Apa kita akan mati disini Nat?"
"Aku masih perjaka"
"Aku bahkan belum pernah pacaran"
Puluhan manusia dengan perawakkan seperti buaya mengenakan pakaian para pemburu mulai berlari menyerbu dari sisi tebing di kanan menuruni lereng ke tempat dimana Lucia, Nata, dan Aksa berdiri.
-
__ADS_1