Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
31. Sebuah Jebakan I


__ADS_3

Begitu api ledakan itu lenyap, yang terlihat kini hanya asap, arang, dan sisa api kecil yang masih membakar kayu dan kain diantara puing-puing dari gedung pertemuan dan bangunan yang ada di area sejauh tiga rumah disekeliling gedung tersebut.


Tampak Lily tepat waktu menahan tubuh Aksa dan Nata sebelum terhempas jauh, dan memasang sihir pelindung berwarna putih kebiru-biruan yang berbentuk seperti kubah menutupi dirinya, dan kedua pemuda tersebut. Membuat mereka bertiga bisa bertahan dari ledakan tadi tanpa luka yang cukup serius.


Sedang tak jauh dari posisi Lily tadi, terlihat Val berdiri dengan sihir pelindung berwarna biru terang menyelubungi tubuhnya.


Selain itu juga tampak diantara puing dan reruntuhan, puluhan tubuh prajurit yang hangus terbakar. Beberapa masih ada yang bergerak dan merintih.


Caspian yang tidak sempat masuk dalam perlindungan sihir Lily, tampak tergeletak diatantara puing cukup jauh dari pusat ledakan. Tubuhnya terlempar oleh kekuatan dari ledakan tadi. Terlihat setengah dari pakaiannya meleleh.


Tampak pula sosok Percival tengkurap diantara puing tak jauh dari tempat Caspian tergeletak. Dan sama seperti Caspian, bagian belakang baju besi nya juga meleleh.


Val segera berlari ke arah Caspian untuk memeriksa keadaannya. Sedang sosok Rafa tidak dapat ditemukan disekitaran tempat tersebut. Begitu juga Chris dan ksatria bertombak. Dua sosok itu seolah lenyap ditelan api saat berada diudara sebelum ledakan itu terjadi.


Sementara Helen yang tadi sempat berlari masuk dan berlindung ke dalam kereta tempur yang kemudian terlempar menjauh itu, tampak hanya mengalami luka ringan. Kini kereta tempur tempatnya berlindung itu sudah berada nyaris sejauh sepuluh rumah dari gedung pertemuan.


Lily tampak sedang memastikan keadaan Nata dan Aksa yang kini hanya terduduk lemas dihadapannya. Mereka berdua tidak dapat berkata-kata. Mereka hanya duduk, sama seperti setelah mereka berhasil selamat dari penyergapan oleh penguna batu Arcane di lereng bukit Karan.


Nata mengejap-ngejapkan matanya saat Lily memanggil namanya dan Aksa. Telinganya masih mendengung karena suara ledakan yang sangat kencang tadi.


Sementara Aksa terlihat memandang berkeliling, saat kemudian ia mulai sadar tidak ada Rafa disekitaran mereka. Dengan segera Aksa bangkit berdiri, dan meski sedikit sempoyongan ia mulai berjalan seraya berteriak memanggil-manggil Rafa.


Tak lama kemudian prajurit Pharos yang bertugas berjaga di sekeliling kota, mulai berdatangan. Dan dengan arahan dari Helen, mereka mulai melakukan penyelamatan terhadap para prajurit yang masih bisa bertahan, dan para penduduk yang menjadi korban di sekitar area ledakan tersebut.


Ada tiga penyembuh dikota tersebut. Yang terlihat mulai sibuk melakukan pertolongan pertama pada para korban.


Sementara para penyihir tanah membantu menyisir dan menyingkirkan puing-puing bangunan, mencari para korban yang mungkin tertimpa reruntuhan.


Val juga ikut membantu memindahkan puing-puing yang terbuat dari logam.

__ADS_1


Aksa terlihat sangan kuatir seraya masih meneriakan nama Rafa selama para penyihir bekerja menyingkirkan puing dan reruntuhan.


Sedang Nata kini duduk di ambang pintu masuk kereta tempur yang baru saja datang, seraya menatap berkeliling. Ia merasa telah melakukan kesalahan karena tidak dapat memperkirakan hal ini. Ia merasa kecolongan sekali lagi. Setelah serangan kejutan yang berhasil membakar desa di pesisir timur.


Nata mulai terlihat geram. Ia tampak sangat marah. Bukan terhadap pihak kerajaan Urbar, namun lebih kepada dirinya sendiri.


"Tidak semua hal dapat kita selamatkan. Kau tau itu kan?" Tiba-tiba terdengar suara Lily dari samping kereta tempur tersebut.


"Tidak ku sangka mereka akan senekat ini. Bila saja aku tidak terlalu menganggap remeh masalah ini dan terlalu percaya dengan perkiraanku, mungkin aku akan menyadari serangan ini. Dan bisa mengantisipasinya" Nata menjawab dengan wajah kecewa.


"Kau hanya manusia, Nat. Baru delapan belas tahun" Lily menjawab. "Kalian bukan utusan dewa yang sempurna, meski sang Oracle melihat bahwa kalian adalah hal penting untuk kelangsungan dunia ini" tambahnya kemudian.


"Ya, mungkin karena selama ini aku merasa bukan utusan dewa atau orang yang terpilihan, maka aku merasa tidak memiliki tanggung jawab, dan hanya melakukan hal ini dengan setengah hati. Ujungnya banyak nyawa hilang dengan begitu saja" Nata menjawab lagi dengan lebih suram.


"Nyawa mereka bukan tanggung jawab kalian" Lily kembali berucap saat kemudian terdengar seorang penyihir pria berteriak dari reruntuhan gedung pertemuan.


"Ada orang disini. Cepat! Sepertinya dia masih hidup!" Teriak penyihir itu meminta pertolongan.


Mendengar hal tersebut, Aksa juga segera datang menghampiri. Berharap itu Rafa dan berhasil selamat.


Dan ternyata harapan Aksa terjawab. Setelah puing-puing berhasil disingkirkan dari atasnya, tampak sosok Rafa yang tergeletak di dalam sebuah ceruk kecil diatas tanah. Sebagian besar tubuhnya terbungkus oleh selimut yang terbuat dari tanah.


Bagian kepala dan lengan Rafa yang tidak tertutup, tampak bersimbah dengan darah. Namun jelas terlihat bahwa gadis itu masih bernafas.


Aksa sangat bersyukur mendapati Rafa selamat. Namun setelah para penyihir berhasil mengeluarkan tubuhnya dari selimut tanah itu, tampak lengan kanannya sudah tidak ada lagi.


Dibagian pangkal dari lengan kanan Rafa yang tersisa, tampak sebuah lempengan yang terbuat dari bebatuan yang menjepit dan menahan agar tidak ada darah yang keluar dari lengan tersebut.


Pemandangan tersebut membuat Aksa merasa sedih dan sekaligus marah. Karena ia tau, tidak ada dari ilmu kedokteran yang ia kuasai, atau kemampuan sihir para penyembuh dari dunia ini, yang dapat menumbuhkan kembali tubuh manusia yang sudah terpotong. Yang berarti bahwa mulai sekarang, Rafa akan menjalani hidupnya hanya dengan satu tangan saja.

__ADS_1


Aksa membantu mengangkat tubuh Rafa ke atas tandu dan segera mengusungnya menuju ke tenda darurat para penyembuh tak jauh dari tempat itu. Perasaannya bercampur aduk, antara lega dan juga jengkel.


"Tolong siapkan kain dan air bersih. Juga alkohol. Bawa ke tenda darurat" pinta Aksa kepada salah seorang prajurit yang ada di dekatnya.


.


"Bersiaplah untuk kemungkinan adanya sebuah serangan, nona Helen" ucap Nata memberi perintah kepada Helen masih dari ambang pintu kereta tempur tempatnya duduk. Wajahnya terlihat letih.


"Saya sudah memerintahkan lima puluh prajurit berjaga di pintu gerbang sekarang" Helen menjawab. Terlihat darah merembes diperban di lengan kanannya.


"Kabari wilayah Eblan dan Ceodore untuk mengirim bantuan dan juga untuk bersiaga. Kita tidak tahu apakah mereka juga berencana menyerang wilayah-wilayah lainnya atau tidak" Nata berucal lagi seraya memijat bagian pangkal hidung diantara mata nya. Seperti sedang merasa pusing.


"Saya, mengerti" jawab Helen tegas.


"Aku merasa sangat marah sekarang, Nat" tiba-tiba Aksa muncul memotong percakapan Nata dan Helen. Ia baru saja selesai membantu para penyembuh menangani luka di lengan Rafa.


"Aku tahu" jawab Nata masih memijat bagian pangkal hidung diantara mata. "Tolong beri aku waktu sehari ini saja. Karena sekarang aku juga merasa sangat marah. Aku tidak ingin memikirkan rencana apapun saat aku sedang marah" imbuhnya kemudian.


Mendengar ucapan Nata, Aksa tidak berkata apapun, dan kemudian langsung pergi meninggalkan tempat itu begitu saja. Dengan wajah penuh emosi.


"Apa kalian akan baik-baik saja?" Helen bertanya ragu kepada Nata.


"Ya, kami tidak apa-apa, nona Helen. Tak perlu kuatir" jawab Nata kemudian. "Maaf, tapi saya permisi dahulu, nona Helen. Saya ingin beristirahat sejenak. Kita akan membicarakan rencana apapun itu nanti malam saja" imbuhnya seraya beranjak memasuki kereta tempur tersebut, dan kemudian membujurkan tubuhnya diatas bangku panjang yang ada di dalam.


Helen hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Dalam diam Helen merasa kuatir kepada kedua pemuda itu.


Sementara Aksa kini berada di dalam tenda darurat, duduk disebelah Rafa yang sudah tampak jauh lebih baik setelah penyembuh melakukan pertolongan pertama kepadanya. Luka di pangkal lengannya sudah menutup.


Sama seperti Nata, Aksa juga mencoba untuk tidak melakukan apapun dalam kondisinya yang sedang emosi seperti sekarang. Ia mulai meletakan seluruh berat tubuhnya pada sandaran kursi seraya menutup matanya. Ia juga perlu untuk menenagkan diri.

__ADS_1


-


__ADS_2