
Sehari setelah Aksa sampai, mereka kembali mengadakan pertemuan di tenda Lucia di Perkemahan Atas, untuk mendengar laporan dari Aksa. Juga untuk melanjutkan rencana yang akan mereka lakukan kedepannya.
"Jadi bagaimana Aks?" Tanya Nata ketika mereka sudah berkumpul selepas senja.
"Harusnya tak lama lagi air akan sampai ke tempat ini" jawab Aksa sambil lalu.
"Oh, benarkah?" Terdengar Madron tidak percaya.
"Lalu untuk lebih rincinya?" Tanya Nata sekali lagi.
"Jadi untuk waduk sudah dibuat dan sudah terisi. Dibawah nya juga sudah dibuat kolam untuk menampung air, lalu baru dari situ air akan dialirkan melewati kanal sungai buatan ke berbagai tempat" Aksa mulai menjelaskan dengan lebih rinci.
"Dan rencana lembah di depan gerbang utara itu juga akan kita penuhi dengan air, supaya kita punya banyak pasokan air bila suatu saat aliran sungai surut" tambah Aksa lagi.
"Anda benar-benar mengambil air tersebut dari sungai di balik bukit?" Tanya Dirk terlihat tidak yakin.
"Itu benar, tuan Dirk. Saya dan para penyihir hampir mengira sedang bermimpi saat air itu benar-benar naik keatas. Hanya dengan bantuan balok kayu" ujar Couran bersaksi untuk meyakinkan Dirk.
"Kan, benar. Masa saya berbohong" saut Aksa dengan cepat.
"Sulit untuk bisa percaya dengan melihat perangai anda tuan Aksa" kali ini Amithy yang berucap. Yang tampaknya disetujui oleh yang lain.
"Memang kenapa dengan kelakuan saya?"
"Jujur, saya juga berpendapat seperti itu bila tidak melihat secara langsung nyonya Amithy" saut Couran menjawab ucapan Amithy.
"Wah, tuan Couran. Kukira selama ini kita berdua Bro. Ternyata anda menghianati saya" terdengan Aksa seperti tidak terima.
Sementara itu di Perkemahan Bawah.
"Gila sulit dipercaya ada kereta yang dapat berjalan tanpa ditarik" ucap pria Morra botak, yang tampak sedang menyusun balok kayu di depan Atelir Bintang Timur.
"Oh, kau baru di tempat ini? Itu semua belum seberapa. Kau tahu di dalam bangunan beratap kaca itu. Mereka bisa menanam tumbuhan tanpa tanah. Hanya dengan menggunakan air" seorang pria Morra yang lain dengan kapak potong ditangannya menjelaskan panjang lebar. Yang kemudian duduk dipagar kayu seraya menyeka keningnya dengan lengan baju.
"Wah, yang benar?" Pria botak itu duduk diatas pagar kayu mengikuti pria ber kapak tadi, seraya menatap ke langit yang mulai semakin gelap.
__ADS_1
"Kau bisa melihatnya kalau ada kesempatan. Ngomong-ngomong, kau berasal dari mana?"
"Dari desa Lira di timur. Aku kemari karena sepupu ku mengabari kita bisa mendapat tanah bila bekerja di tanah mati. Kupikir sepupuku sudah gila. Bekerja hanya untuk mendapat tanah mati" pria botak itu menjedah "tapi setelah aku kemari. Semua hal ini benar-benar mengejutkanku" tutupnya kemudian. "Kalau kau? Dari mana asalmu?"
"Kalau aku, boleh dibilang sangat beruntung. Aku seorang budak di kotaraja. Dan bekerja untuk keluarga istana. Suatu hari mereka memerintahkan ku mengikuti putri Lucia ke tanah mati" pria berkapak itu menjedah sebentar, "Aku sudah merasa putus asa. Karena kupikir, aku akan ikut bersama sang putri dalam pengasingan. Tapi nyatanya. Kami, semua budak yang ikut bersama beliau malah dijanjikan akan diberi tanah" jelas pria tersebut dengan wajah berseri-seri.
"Syukurlah, aku merasa senang untuk mu"
"Eh, apa kau dengar itu?" Tiba-tiba pria ber kapak itu merubah pembicaraan. Ia terlihat seperti sedang berkonsentrasi akan sesuatu hal.
"Dengar apa?"
"Suara gemuruh itu. Asalnya dari dinding tebing barat. Ayo kita lihat" ajak pria ber kapak itu seraya berjalan pergi.
"Baik, tunggu dulu" pria botak itu menjawab dengan buru-buru menata sisa balok kayu dihadapannya, kemudian berlari mengejar pria berkapak itu.
"Apa kau juga mendengarnya?" Terlihat seorang pria pekerja berjalan keluar dari sebuah area yang terdapat banyak sekali tumpukan tiang besi.
"Iya, kalau aku tidak berhayal itu seperti suara gemericik air" perempuan yang keluar dari pekarangan yang terdapat banyak pot bunga diseberangnya berucap.
"Apa kau bilang? Air? Dimana?" Beberapa orang tampak keluar dari tenda mereka karena penasaran.
Semua orang di Perkemahan Bawah mulai ribut. Hal tersebut menarik perhatian para ksatria dan penyihir yang ada di Perkemahan Atas, yang kemudian segera bergegas mencari tahu.
"Ayo lihat-lihat"
"Ada air dari dinding bukit barat"
"Air terjun"
Tampak orang-orang yang berada dalam tenda Lucia itu segera keluar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Dibawah. Di dinding barat Perkemahan Bawah" terdengar suara seorang pria memberi tahukan teman-temannya, tak jauh dari tenda Lucia.
Mendengar hal tersebut, orang-orang yang tadi berada dalam tenda Lucia, segera berjalan ke pinggiran tebing untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dibawah.
__ADS_1
Terlihat banyak orang berkumpul di dinding barat Perkemahan Bawah. Dan meskipun hanya tampak dari kejauhan, tapi jelas terlihat apa yang sebenarnya di ributkan oleh orang-orang tersebut.
Itu adalah karena kini di dinding barat ada sebuah air terjun. Meski masih kecil dan terlihat keruh, tapi jelas itu adalah sebuah air terjun.
"Benar-benar bocah itu membawa air kedaratan mati ini" ucap Jean tampak tak percaya.
"Kau baru pergi satu setengah bulan, dan sudah bisa membawa air di tanah mati ini?" Kini terdengar Orland yang tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.
"Sungguh mengagumkan" kali ini Helen yang sudah tidak bisa menahan rasa kagumnya.
Sementara Dirk, Madron, Amithy, dan Caspian hanya terdiam tidak bisa berkata-kata.
"Aku sudah yakin bahwa pemuda itu pasti tidak cuma bisa omong saja" Katarina berucap disamping Ellian dan Couran.
"Benar" saut Ellian yang juga terlihat antara kagum dan bergembira, karena setelah ini gilirannya untuk menggarap tanah-tanah mati tersebut.
Orang-orang mulai berlarian menuju kebawah air terjun itu dan mulai menari-nari dengan bernasah-basahan.
Tampak kelompok Bintang Api menatap hal tersebut dari kejauhan bersama rombongan Lumire. Bersiap untuk membuat api unggun.
"Benar ucapanmu, Ax. Sepertinya mengikuti dua orang itu akan lebih menarik dari pada hanya menjadi serikat petarung lepas" ucap Cedrik yang tengah duduk diatas kereta menyaksikan orang-orang dewasa bermain air.
"Aku jadi penasaran bagaimana para penyihir yang hanya handal dalam sihir tanah dan api bisa membawa air ketanah ini" Ende yang duduk disebelah Cedrik tampak penasaran. "Besok harus ku tanya pada para pebyihir yang lain" tambahnya kemudian.
"Selene! Ayo kita juga melihat air terjut tersebut. Ayo, ayo!" Rengek Andele mengajak Selene.
"Sekarang sudah petang Andele. Besok pagi saja ya. Biar lebih jelas juga melihatnya" Fatima berucap menenang kan Andele.
"Tapi memang sangat mengejutkan dua pemuda itu bisa membawa air ke tanah mati seperti ini. Sekarang membangun kota ditanah ini sudah buka jadi hal mustahil lagi" ucap Lumire seraya membakar racikan dalam wadah tembikar ditangannya.
.
Setelah melewati semalaman, air terjun itu mulai terlihat bening dengan aliran yang menjadi sedikit lebih deras.
Banyak orang muai dari sepagian datang silih berganti ke tempat tersebut. Beberapa hanya ingin sekedar melihat. Beberapa bahkan membawa wadah untuk mengambil air, yang akan mereka gunakan untuk mandi.
__ADS_1
-