
Fig dengan lincah menghindari serangan pedang para Elf tersebut seraya menghindari tembakan panah dan serangan sihir yang diarahkan padanya dari kejauhan. Namun meskipun beberapa serangan sihir dan tembakan panah itu berhasil mengenainya, zirah yang dikenakannya itu meredam seluruh dampak kerusakan dan mencegahnya terluka.
Dengan begitu Fig bisa dengan tanpa kuatir melakukan serangan kepada para Elf penjaga tersebut dengan kedua pedangnya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Nikea. Namun beda dengan Fig yang menerima sebagian serangan dengan zirahnya, gadis Getzja itu tidak menerima serangan sama sekali.
Ia terus menghindar. Melompat gesit kesana kemari dengan kapak potongnya berkelebatan kesana kemari memotong segala hal yang ada diarah lajunya.
"Benar ternyata. Mereka memang marga paling lemah dari semua marga Elf" ucap Nikea ditengah-tengahnya menghindari serangan sihir dan anak panah.
"Tapi kenapa mereka malah menyembunyikan gelang itu di tempat ini?" Ucap Nikea kemudian setelah ia melompat kebelakang tubuh Gest, disebelah Noel yang tampak masih melakukan rapalan.
Di hadapan tameng besar tersebut serangan sihir dan anak panah tidak ada artinya. Tameng itu tampak di perkuat dengan batu kristal Arcane yang terlihat tertatah berpola segi delapan tadi. Membuatnya mampu menahan segala jenis serangan sihir, juga serangan fisik.
"Mungkin pikiran orang yang menyembunyikannya dulu adalah; bahwa orang tidak akan mengira kalau gelang itu disembunyikan di tempat yang orang mengira tidak akan mungkin" saut Gest dari balik tamengnya.
"Ucapan mu rumit sekali" Nikea tampak mengernyitkan dahinya.
"Persiapan sudah selesai" tiba-tiba Noel berucap disebelah Nikea.
"Lihat, Figor masih belum selesai bersenang-senang" jawab gadis Getzja itu mengintip dari balik pundak Gest.
"Kita tidak punya banyak waktu. Cepat panggil dia kemari" saut Noel yang kemudian kembali merapal sesuatu.
__ADS_1
"Hei, Fig! Sudah saatnya" teriak Nikea dari jauh.
Tampak Fig menoleh kearah Nikea. Dan segera mukanya berubah masam saat melihat Noel sudah merapal sesuatu. Ia belum selesai bersenang-senang dengan para Elf tersebut.
Pemuda berzirah itu dengan mudah menghindar sabetan pedang dari dua arah sekaligus kemudian melompat mundur kembali ke tempat rombongannya.
"Hati-hati! pria yang disana itu akan melakukan sesuatu" ucap salah satu Elf yang tampak memperhatikan gelagat Noel dari pertama.
Kemudian ketua penjaga Elf itu memperhatikan dengan seksama apa yang akan dilakukan oleh Noel, kemudian wajahnya berubah pucat.
"Tidak mungkin dia akan melakukan pelepasan. Bagaimana mungkin para manusia itu bisa tahu tehnik tersebut? Terlebih bagaimana mereka bisa melakukannya? Hanya Elf yanh bisa menanggung beban dari tehnik tersebut" ujar ketua Elf itu tak ingin percayainya.
"Gest, sekarang" ucap Noel kemudian yang dijawab oleh pria bertameng itu dengan sebuah rapalan.
Kemudian tampak delapan batu kristal ditameng Gest mulai bersinar terang. Lalu muncul beberapa potongan kecil seperti kaca tipis berbentuk segi delapan diudara. Terus bermunculan secara bertahap berjajar hingga membentuk sebuah lingkaran melindungi keempat orang tersebut dari berbagai sisi.
Tiba-tiba dari kejauhan, dari tengah-tengah desa, di pohon yang telihat paling besar, sesuatu terjadi. Terdengar teriakan dari arah tersebut dan kemudian tampak seperti hembusan udara dingin menyapu kesagala arah dengan sangat cepat dan terus melebar. Meninggalkan kebekuan seketika disepanjang laju yang dilewatinya.
Empat orang itu aman didalam lingkaran pelindung Gest. Tempat yang mereka pijak tidak membeku sama sekali. Memperlihatkan perbedaan yang mencolok dengan wilayah disekitarnya yang ditutupi oleh warna putih es.
"Seel" ucap Noel kemudian dan udara dingin itu berhenti dan lenyap.
Gest melepas pelindungnya.
__ADS_1
"Wow!" Ucap Nikea melihat pemandangan yang ditutupi es berwarna putih kusam itu.
Sekarang yang tersisa dari wilayah itu adalah tanah yang dipenuhi dengan es. Sungai yang membelah jalan tadi tampak padat membeku, rerumputan dan semak ditutupi oleh kerak es. Bahkan muncul pilar-pilar es kecil dari dalam tanah. Yang disebabkan oleh air tanah yang mengeras.
Dan yang terakhir adalah para Elf penjaga yang berdiri kaku ditutupi es. Ekspresi mereka tampak sangat ketakutan. Hal itu juga terjadi di dalam desa, seluruh penduduk desa tersebut membeku tanpa terkecuali. Entah itu wanita, anak kecil, atau yang sudah berumur.
"Kalianlah para Elf yang terlalu sombong meremehkan manusia. Menyerang tanpa mengetahui kemampuan lawan itu adalah sebuah kebodohan besar" ucap Noel seraya menatap ketua penjaga yang membeku tak jauh dari tempatnya berdiri.
Bahkan tidak hanya di wilayah desa itu saja, tapi juga pepohonan dan seluruh hewan yang ada di dalam hutan yang terkena jangkauan udara dingin tadi. Semuanya mati membeku. Hutan itu sekarang tampak sangat sunyi.
"Gelang itu adalah pusat dari hawa dingin tadi. Ayo segera kita ambil dan cepat pergi dari tempat ini" ucar Noel segera berjalan menuju pohon besar dipusat desa.
Mereka berjalan melewati patung-patung es penduduk desa tersebut yang sedang berpose ketakutan. Suara yang bisa mereka dengar hanya suara retakan es diatas tanah yang berbunyi setiap kali mereka berjalan.
Kemudian mereka masuk kedalam bangunan yang dimaksud Noel, yang didalamnya terdapat lebih banyak patung es para Elf. Sepertinya mereka adalah penjaga gelang tersebut.
"Ironis sekali mereka mati oleh senjata mereka sendiri" ucap Gest seraya melewati patung-patung tersebut, berusaha untuk tidak menyentuhnya.
Kemudian tampak diruangan setelahnya, sebuah gelang seukuran besar lengan pria dewasa tersimpan pada sebuah wadah yang tadinya berwarna hijau dengan ornamen emas cantik disetiap sudutnya.
Gelang itu seperti giok namun berwarna putih bening seperti batu kristal. Secara fisik selain terlihat cantik berkilauan, tidak ada hal lain lagi yang menarik dari gelang tersebut.
Setelah mengambil dan menyimpannya, Noel mengeluarkan batu kristal berwarna unggu sama seperti sebelumnya.
__ADS_1
Dan setelah batu itu pecah dan warna ungu nya membentuk seperti kubangan dilantai, mereka pun mulai melompat masuk satu persatu kedalamnya. Dan begitu keempat orang tersebut sudah lenyap didalamnya, kubangan itu perlahan hilang terserap tanah beku.
-