
Kapal besi Aksa bergerak maju dengan kecepatan yang sama seperti kecepatan kapal layar disaat angin sedang kencang berhembus.
Sedang di depan mereka kapal-kapal kerajaan Urbar terlihat berderet berlapis. Tampak 8 kapal pada tiga baris pertama. Kemudian ada 3 kapal di dua baris terakhir.
"Ayo kita habisi mereka, dan segera kembali pulang" ujar Aksa setelah dirasa bahwa kapalnya sudah cukup dekat dengan kapal lawan. "Siapkan torpedo" tambahnya dengan perintah.
"Torpedo siap" ucap suara dari balik corong besi yang terhubung dengan lantai paling bawah, tempat peluncur torpedo berada.
Kemudian tampak Aksa mengintip kesebuah alat seperti teropong namun terpasang menghadap kebawah, disebelah roda kemudi. Tampak dalam alat tersebut, sebuah pemandangan yang terlihat dari diujung kapal. Dengan banyak garis-garis disekitarnya.
"Dua derajat ke kanan, tuan Nikolai" ucap Aksa memerintah Nikolai dengan masih menatap kedalam alat tersebut.
Dan setelah Nikolai menggerakan posisi kapal, dan Aksa merasa sudah tepat, segera ia memerintahkan untuk menembakan torpedo tersebut.
"Torpedo luncurkan!"
Dari dua lubang di bagian depan badan kapal yang terendam air, terlihat meluncur dengan kekuatan tekanan udara, dua buah tabung besi berbaling-baling dibagian ekor, dan meruncing seperti mata bor sebesar kepala orang dewasa, dibagian depannya.
Dan karena bergerak didalam air, maka tidak ada yang menyadari keberadaan tabung yang disebut torpedo tersebut. Dan bahkan setelah berhasil menabrak dan merusak bagian lambung kapal, tetap tidak ada yang menyadarinya.
Itu karena torpedo tersebut tidak meninggalkan suara ledakan. Dan suara saat tabung besi itu menghantam bagian lambung kapal juga tidak terdengar kencang dari luar kapal. Suaranya teredam karena berada dibawah permukaan laut.
Melihat serangan pertamanya berhasil, Aksa segera membidik kapal yang lain dan meluncurkan torpedo yang lain ke kapal lawan.
Dan tidak hanya satu, beberapa torpedo diluncurkan secara rahasia dibawah permukaan air setelahnya. Yang menyebabkan kebingungan di pihak lawan, saat mengetahui satu persatu kapal mereka mulai tenggelam tanpa sebab.
"Apa torpedo itu sama seperti senjata api milik anda, tuan Aksa?" Anna terlihat kagum dan penasaran setelah melihat hasil dari senjata tersebut. Sekarang 4 kapal sudah mulai tenggelam bahkan sebelum mereka berhasil mendekat.
"Bukan. Itu sama seperti pelontar harpun. Menggunakan tenaga tekanan udara. Hanya saja di dalam air" Aksa menjelaskan saat ia menunggu Nikolai memindahkan posisi kapal mereka sedikit ke utara agar dapat membidik kapal-kapal di sisi kanan.
"Bagaimana anda bisa membuatnya meluncur sampai sejauh itu dalam air? Biasanya pelontar harpun hanya sampai pada kedalaman tertentu saja sebelum kehilangan tenaga dan tenggelam" Anna bertanya lagi.
"Dengan menambahkan baling-baling dibagian belakangnya" Aksa menjawab. "Begitu tekanan udara tersebut mendorong peluru torpedo itu kedalam air, maka baling-balingnya akan berputar karena gesekan air laut. Dan putaran baling-baling tersebut akan mengerakan pegas yang berada dalam tabung tersebut, dan setelah itu tenaga pedas tadi akan menggerakan mekanis yang membuat baling-baling itu terus berputar hingga menabrak sesuatu" jelasnya panjang lebar yang tidak juga dimengerti oleh yang lain.
Dan setelah empat serangan mereka berhasil menenggelamkan empat kapal disisi utara, segera mereka beralih ke sisi selatan.
__ADS_1
"Kecepatan penuh kearah kapal di sisi selatan" seru Aksa.
\=\=\=
Diatas kapal mewah dengan lambang kerajaan Urga yang berada di barisan paling belakang.
Seorang pemuda Morra dengan pakaian pelaut tampak menghadap keseorang pria Narva berwajah penuh brewok yang mengenakan pakaian seorang kapten lengkap dengan jaket panjang dan topi segitiganya. "Admiral Colgre, armada kita sedang dalam bahaya"
"Bahaya?" Terlihat sang Admiral tidak mengerti maksud dari ucapan pemuda tersebut.
"Kapal kita mulai tenggelam satu persatu" jelas si pemuda kemudian.
"Bagaimana bisa? Aku tidak melihat adanya peperangan? Apakah mereka menggunakan senjata mistik? Tapi aku juga tidak melihat ada cahaya atau suara ledakan bila mereka memang menyerang dengan sihir" Wajah pria yang disebut Colgre itu semakin terlihat bingung.
"Tidak, Admiral. Mereka tidak menggunakan sihir. Namun tiba-tiba, satu persatu kapal-kapal kita mulai tenggelam begitu saja"
"Apa itu sihir angin, atau sihir air?"
"Kami tidak tahu, Admiral. Karena para penyihir tidak merasakan adanya pergerakan aliran Jiwa yang mendekat kearah mereka saat kapal mereka kemudian mulai tenggelam" si pemuda Morra menjelaskan lagi.
"Hanya satu, Adimral. Namun bentuknya sangat aneh. Seperti sebuah hiu yang terbuat dari besi"
"Apa-apaan itu? Apa itu benar-benar sebuah kapal? Kalau begitu segera serbu dan duduki kapal tersebut" perintah Colgre kemudian yang terlihat semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi.
"Maaf, Admiral. Tapi kapal itu bergerak terlalu cepat. Kapal-kapal kita susah untuk mengejar kecepatannya" jawab pemuda itu seraya menundukan wajahnya.
"Ck, ini pasti karena penggunaan senjata mistik. Sudah kukira kalau rumor tentang tanah mati memiliki senjata mistik itu pasti benar" Colgre tampak sudah mendapat sebuah kesimpulan. "Panggilakan para Juara. Katakan, sekarang saatnya mereka bekerja" perintahnya kemudian.
"Baik, Admiral!"
\=\=\=
Kapal besi Aksa mulai melaju semakin cepat menuju ke selatan. Menghindari serangan sihir berupa bola api, pilar es, tembakan petir, dan lemparan batu dari kapal-kapal kerajaan Urbar yang lain.
Kecepatan kapal besi Aksa membuat semua serangan sihir tadi tidak mampu mengenainya.
__ADS_1
"Kurasa kita tidak bisa lagi berhenti untuk membidik. Jadi sudah saatnya kita melakukan melee combat. Jadi, kecepatan penuh, tabrak kapal-kapal tersebut!" Teriak Aksa yang ditanggapi dengan tatapan bingung dan takut dari orang-orang yang ada disekitarnya.
.
Lalu kapal besi itu mulai melaju kencang kearah salah satu kapal diantara barisan kapal kerajaan Urbar di sisi selatan.
Puluhan sihir mulai menghantam kapal besi itu dengan bertubi-tubi. Namun karena jarak para penyihir yang cukup jauh dari posisi kapal, dan juga tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menghancurkan logam Dracz, membuat semua serangan tersebut menjadi sia-sia.
Kapal besi Aksa terus maju hingga menabrak bagian sisi kiri kapal tersebut. Hal ini menurunkan kecepatan kapal besi tersebut. Dan tampaknya digunakan oleh kapal-kapal kerajaan Urbar lainnya untuk merapat dan mengepung kapal dengan bentuk seperti ikan hiu tersebut.
Kini kapal besi tersebut sudah di kepung oleh 5 kapal lawan. Baik di sisi kiri, sisi kanan, maupun dibagian belakang.
"Bagaimana sekarang, tuan Aksa? Pasukan mereka akan segera mendarat ditempat ini" ujar Anna yang sudah meletakan tangan kanannya pada gagang pedang dipinggangnya.
"Jangan kuatir, nona Anna. Mereka masih terlalu cepat satu milenial untuk bisa menginjakan kaki mereka di atas kapal ini" ujar Aksa dengan senyuman. "Tembakan semua meriam pengait!" Teriaknya kemudian memerintah.
Seketika itu juga semua meriam bertenaga tekanan udara yang ada di sisi kiri dan kanan, juga bagian depan kapal besi itu, meluncurkan sebuah tonggak besi besar dengan seperti mata kail pancing dengan tiga pengait dibagian ujungnya.
Semua besi pengait yang ditembakan itu dengan mudah menembus kerangka kapal-kapal lawan yang mengelilingi. Dan tampak di belakang besi pengait tersebut ada rantai besi yang masih menyambung pada bagian dalam kapal besi tersebut.
"Unleashed the beast" imbuh Aksa dengan sebuah seringai mengembang diwajahnya.
Dan kemudian plat besi yang ada didepan kapal besi tersebut terangkat. Disaat yang bersamaan, kapal tersebut mulai berjalan maju. Mendorong kapal lawan yang ada di depannya. Gerakan kapal yang tiba-tiba itu tampak mengejutkan pasukan lawan yang hendak menyeberang masuk kedalam kapal besi tersebut.
Tak lama, tampak plat besi bergerigi itu jatuh lagi ke bawah. Kali ini tepat diatas dek kapal yang tadi didorong. Dan seketika menghancurkan dek kayu tersebut.
Tampak kecepatan laju kapal besi Aksa tidak juga menurun. Yang membuat kapal lain yang berada di sekitarnya mulai bergerak mendekat karena tertarik oleh rantai besi yang terkait pada badan kapal mereka.
Dan setelah dua-tiga kali plat besi bergerigi itu menghantam dek, akhirnya ditambah dengan dorongan dari kapal besi tersebut, kapal kerajaan Urbar itu terbelah menjadi dua.
Sementara itu, beberapa kapal yang tadi tertarik rantai pengait, mulai bertabrakan. Yang membuat rantai pengait tersebut terlepas, dan menyisakan sebuah lubang besar di dinding samping kapal-kapal itu.
"You are gonna need a bigger boat!" Ujar Aksa bahagia, saat kemudian terlihat sebuah angin tornao mendekat ke arah kapalnya.
-
__ADS_1