Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
09.5. - Kerajaan Urbar


__ADS_3

"Apa yang sedang terjadi? Ada masalah apa lagi, sampai kalian harus mengganggu waktu istrahatku" wajah Gladius tampak tidak senang saat ia sudah tiba di ruang tengah.


Tampak dua orang pria denga seragam pejabat istana bersama tiga orang prajurit, juga berada di ruangan tersebut. Salah satu dari kelima orang itu adalah alasan mengapa Gladius harus turun dari tempat tidurnya di waktu istirahat seperti sekarang.


Dan karena mendesaknya, Gladius bahkan tidak sempat mengganti piama nya.


"Ini masalah yang gawat paduka raja. Wilayah kita diserang oleh pasuka tanah mati" seorang pria Morra paruh baya melapor dengan wajah gelisah. Pria ini yang mendesak untuk melakukan pertemuan dengan Gladius.


"Kita memang sedang berperang dengan mereka, Paul. Jadi sudah tidak perlu terkejut dan panik, bila mereka menyerang. Kita tinggal siapakan pasukan untuk membantu wilayah mana yang diserang" Gladius menjawab dengan tenang.


"Tapi paduka, seluruh wilayah telah diserang secara bersamaan" pria Morra yang dipanggil Paul itu mencoba menjelaskan lebih rinci.


"Apa maksudmu dengan seluruh wilayah?" Gladius tampak masih tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Paul.


"Seluruh wilayah kita, paduka. Kecuali wilayah Nabradia dan Ravus" Paul menambahi penjelasannya.


"Apa yang kau maksudmu dengan kecuali wilayah itu, Paul?" Gladius terdengar semakin tudak mengerti.


"Kami baru saja mendapat kiriman surat dengan menggunakan batu Ruang dan Waktu dari wilayah lain, yang meminta bantuan pemerintah pusat untuk mengirimkan prajurit ke wilayah mereka, paduka. Dan surat itu berasal dari delapan wilayah kecuali Nabradia dan Ravus" Paul mencoba memperinci penjelasannya.


"Apa para penguasa itu sedang bercanda?" Gladius terlihat tidak percaya dengan penjelasa Paul.


"Batu Arcane cukup susah untuk di dapat. Batu itu hanya akan digunakan saat terjadi hal mendesak saja, paduka. Jadi tidak mungkin mereka sedang bercanda" Paul menjawab.


"Aku tahu hal itu, Paul. Ucapan ku tadi bukan benar-benar sebuah pertanyaan" Gladius menjawab kesal. "Lagi pula bagaimana mereka bisa memiliki banyak prajurit untuk menyerang semua wilayah secara sekaligus?" Tanyanya kemudian menduga-duga.


"Menurut kabar dari surat-surat tersebut, mereka hanya menyerang dengan satu kereta yang mampu menghancurkan tembok gerbang dalam satu kali serangan" Paul berucap, mencoba menjawab pertanyaan rajanya.


"Apa itu senjata mistik?" Terlihat Gladius kembali menerka-nerka. "Perketat penjagaan gerbang kota! Dan bawa Chris kemari" perintahnya kemudian.


"Siap, paduka. Laksanakan" Paul menjawab cepat seraya meminta ijin meninggalkan ruangan.


-


"Saya sudah tidak bisa berbuat apapun lagi, paduka. Semua sudah terjadi" Chris berucap setelah beberapa saat yang lalu ia di jemput dari penjara kota dan kemudian mendengarkan duduk permasajahan yang tengah terjadi.


"Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk bertahan atau melakukan serangan balik?" Gladius bertanya dengan haraian Chirs memiliki jawabannya.

__ADS_1


"Saya tidak tahu bagaimana cara melawan mereka balik. Namun sekarang yang terpenting adalah segera persiapkan diri paduka untuk melakukan pengungsian dari istana ini menuju ke kota Nezarad" ucap Chris kemudian memberi saran.


"Apa kau mengira tempat ini juga akan diserang, Chris?" Gladius bertanya memastikan. "Dan kau mengira kita tidak akan bisa menghentikannya?" Tanyanya lagi.


"Benar paduka" jawab Chris cepat.


Melihat keyakinan dari ucapan Chris itu membuat Gladius mulai sedikit terlihat panik. "Kalau begitu segera siapkan keberangkatanku. Keluarkan aku dari tempat ini" ucapnya kemudian.


"Siap, paduka. Laksanakan" ucap Chris kemudian.


Namun begitu Chris selesai menjawab, tiba-tiba seorang prajurit datang dengan tergesa.


"Lapor, paduka. Telah terjadi penyerangan di depan gerbang kedua, pintu utara" ujar prajurit itu melapor.


"Apa?! Bagaimana mereka bisa sampai di depan gerbang kedua?" Kini Gladius terlihat mulai benar-benar panik.


"Ada berapa orang penyerang?" Chris segera bertanya pada prajurit pemberi kabar.


"Kurang lebih empat orang, tuan Chris" prajurit itu menjawab.


"Kirim semua Juara untuk menghentikan mereka" perintah Gladius kemudian.


"Bila mereka bisa menyusupkan orang kedalam kota ini, pasti mereka tidak akan menyusupkan hanya empat orang saja. Mereka pasti masih memiliki orang yang lain yang mungkin sedang menuju ke istana ini" ucap Chris ditengah perjalanannya mengawal Gladius menuju ke ruang ganti.


"Siapkan banyak prajurit untuk mengawalku" perintah Gladius lagi kepada salah satu kepala prajurit yang ikut berjalan bersamanya menuju ruang ganti.


"Baik, paduka. Laksanakan" prajurit itu segera menjawab dan hendak berbalik badan dan pergi, saat kemudian Chris menyela.


"Sebentar. Paduka tidak akan keluar dengan banyak penjaga. Itu malahan akan menimbulkan perhatian. Mereka akan tahu dimana posisi paduka" ucap Chris yang membuat sang raja dan yang lainnya berhenti.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Gladius bertanya.


"Anda bersiaplah dahulu, paduka. Saya akan mengurusnya" Chris berucap mencoba menenangkan Gladius.


"Baiklah, kuserahkan semuanya padamu, Chris" jawab Gladius yang terlihat resah seraya bergegas menuju ke ruang ganti untuk bersiap.


"Paul, panggil Agoros, dan juga bawa gadis bernama Joan yang ada di penjara kota, kemari" ucap Chris memerintah seraya berjalan ke arah yang berlawanan dengan sang raja.

__ADS_1


-


Tak lama kemudian tampak dua orang berada di ruang pertemuan istana bersama dengan Chris. Mereka adalah Joan, seorang gadis mantan anak buah Tyrion. Dan Agoros, salah satu Juara pengguna senjata mistik berbentuk tombak, yang berhasil melarikan diri saat penyerangan ke gerbang selatan tanah mati, berujung pada kegagalan.


"Seperti itulah keadaannya sekarang. Bahkan mereka sudah berhasil memasuki istana sekarang" Chris melakukan penjelasan singkat kepada kedua orang tersebut.


"Jadi Joan, aku tahu kau pasti mengenal kota ini dengan baik. Aku minta kau untuk mengeluarkan paduka raja dari kota ini menuju ke tanah suci dengan sembunyi-sembunyi" ucap Chris lagi seraya memberi perintah pada Joan.


"Baik, tuan Chris. Saya akan melakukan yang terbaik yang saya mampu untuk membawa paduka dari tempat ini" Joan menjawab dengan tegas.


"Kau juga, Agoros. Lindungi paduka selama dalam pelarian ini hingga selamat tiba di tanah Suci" kali ini Chris memberi perintah pada Agoros.


"Siap, tuan Chris. Serahkan pada saya. Saya akan melindungi paduka raja hingga tiba di Tanah Suci" Agoros menjawab dengan percaya diri.


"Baiklah kalau begitu. Ku serahkan paduka ketangan kalian berdua. Antar dan lindungi paduka sampai ke Tanah Suci" Chris mengulangi perintahnya.


"Siap" jawaban serentak dari Joan dan Agoros.


Dan tak lama kemudian terlihat Gladius tiba di ruang pertemuan. Ia sudah berpakaian lengkap sekarang. Setidaknya tidak lagi menggunakan piama. Meski juga tidak menggunakan baju kebangsawanannya, atau baju para ksatria.


Kini Gladius hanya mengenakan baju bangsawan pada umumnya. Dengan sebuah jubah cokelat bertudung kepala.


"Mereka berdua yang akan mendampingi anda untuk keluar dari kota ini menuju Tanah Suci, paduka" Chris berucap begitu Gladius mendekat.


Joan dan Agoros segera berlutut dihadapan raja mereka.


"Kau anak buah Tyrion?" Gladius mengenali Joan.


"Benar, paduka raja" Joan menjawab singkat seraya menundukan kepalanya menatap lantai.


"Dia adalah orang yang setia pada kerajaan ini. Dan yang terpenting, dia tahu benar seluk-beluk kota ini. Jadi dia akan menuntun anda untuk keluar dari kota ini tanpa sepengetahuan orang" Chris mencoba menjelaskan kepada Gladius mengapa gadis yang seharusnya berada di dalam penjara, ada diruangan tersebut sekarang.


Terlihat Gladius diam sejenak. Seperti sedang menilai ucapan Chris. "Baiklah kalau begitu. Siapa namamu?" Ucapnya kemudian bertanya.


"Joan Illiad, paduka" Joan menjawab cepat.


"Kalau begitu cepat berdiri. Kita segera pergi dari tempat ini" perintah Gladius yang terdengar tidak sabar.

__ADS_1


Kemudian Gladius bersama Agoros, Joan, dua ksatria, dan dua penyihir petarung pergi meninggalkan istana.


-


__ADS_2