
"Sepertinya kelompok tuan Axel sudah mulai melakukan serangan" ucap Loujze yang mulai melihat beberapa prajurit tampak buru-buru berlarian ke arah pintu gerbang utara.
Aksa, Nata, Lily, Val, Rafa, dan Trio pemburu sudah berada di sekitaran tembok gerbang kedua sisi utara.
Mereka bergerak ketika para prajurit penjaga kota sudah mulai dikerahkan untuk menjaga tembok gerbang pertama. Berjaga terhadap kemungkinan adanya serangan dari pasukan Pharos.
Renana mereka adalah membuat kelompok Bintang Api dan para Yllgarian untuk membuat pengalihan dengan melakukan serangan secara langsung di pintu gerbang kedua sisi utara, sementara yang lain akan menaiki tembok gerbang untuk masuk ke wilayah para bangsawan.
"Berarti saatnya mendaki tembok ini" ucap Nata setelah memastikan bahwa para prajurit sudah benar-benar tidak ada.
Setelah menerima gulungan tali tambang dari Hubert, Loujze melakukan lompatan tinggi keatas tembok tersebut. Di susul oleh Lily. Mereka berdua bertugas untuk memastikan situasi diatas tembok.
Tak lama kemudian terlihat Loujze menjatuhkan tali untuk yang lain menaiki tembok tersebut.
Val yang menggendong Rafa juga melakukan lompatan keatas dengan sekali hentak.
Sementara Aksa, Nata, Huebert, dan Deuxter mulai mengantri untuk mendaki tembok tersebut.
Aksa mendapat giliran pertama menaiki tembok itu dengan tali. Setelah itu disusul oleh Nata. Dan meski sedikit lambat, namun kedua pemuda itu berhasil tiba diatas.
Tampak setelah itu Deuxter dan Huebert menyusul.
Nata dan Aksa terlihat banyak mengeluarkan keringat.
"Dari sini kita akan berpisah. Kami akan menuju ke istana yang besar itu" ujar Nata seraya menunjuk sebuah bangunan megah dan luas, yang memiliki dua buah menara tinggi di sisi utara dan selatannya. "Sementara kalian bantulah tuan Axel dan yang lain" perintahnya kemudian.
"Ingat, semakin lama akan semakin banyak prajurit atau orang-orang kuat yang akan datang. Bertarunglah dengan cerdik" tambah Nata memberi nasehat.
"Baik" jawab Deuxter dan yang lain dengan cepat.
Aksa dan Nata tampak berpegang pada Val sebelum mereka berempat terjun turun ke sisi dalam tembok gerbang kedua. Sementara trio pemburu dan Rafa mulai mengendap-endap menyusuri tembok menuju ke arah pintu gerbang utara.
.
Aksa, Nata, Lily, dan Val tidak merasa kesulitan bergerak menuju kearah istana. Karena wilayah bangsawan itu cukup sepi. Para penjaga sudah mulai menuju pintu gerbang utara untuk memberi bantuan.
Dan tak lama kemudian mereka sampai juga di depan pintu gerbang istana.
Meski hampir dari seluruh prajurit di wilayah ini menuju ke gerbang utara, tapi masih ada puluhan prajurit lain berjaga di depan gerbang istana tersebut.
Mereka berempat bersembunyi diantara bayang-bayang dinding pagar rumah bangsawan yang berada tak jauh dari gerbang istana tersebut.
"Kurasa sudah saatnya kita membuat huru-hara" Ucap Nata kemudian.
Aksa mengeluarkan dua pistol dan sebuah senjata laras panjang dari dalam tas yang sedari tadi ia gantungkan dipunggung. Kemudian menyerahkan satu pistol kepada Nata, dan menyangkutkan senjata laras panjangnya tadi di pundak kanan.
Sedangkan Val hanya mengeluarkan sebuah pisau dengan bilah berwarna ungu gelap, sepanjang setengah lengan.
__ADS_1
Sementara Lily mengeluarkan tongkat sihirnya yang biasa.
"Baiklah, ayo kita mulai" ucap Nata seraya membuang nafas panjang. Ia terlihat gugup dan gelisah.
Tak ubahnya dengan Aksa. Tangannya tampak dipenuhi dengan keringat dingin.
"Kita bisa mengurungkannya sekarang. Masih belum terlambat" Lily berucap seraya menatap kearah Nata dan Aksa. "Kita masih bisa menyelesaikan hal ini dengan kalian sebagai pembuat rencana di garis belakang" imbuhnya.
"Tidak. Kami harus melakukan hal ini. Bila tidak, kami tidak akan pernah merasa hal ini nyata" Nata menjawab seraya mengerak-gerakan pergelangan tangannya untuk mengusir rasa cemasnya.
"Aku masih belum bisa mengerti jalan pikiran kalian" Lily berucap menanggapi.
"Baiklah. Kita harus membuat hal yang meriah" ujar Aksa kemudian yang sesebentar mengusapkan telapak tangannya yang basah ke baju dan celannya.
"Benar. Ayo!" Ucap Nata yang seperti menjadi pemicu.
Kemudian Aksa dan Nata mulai berlari keluar dari tempat persembunyian mereka seraya mengarahkan pistol ke para penjaga pintu gerbang istana.
Jelas hal tersebut sangat menarik perhatian. Namun ketika para prajurit itu hendak maju menghadang Aksa dan Nata, tiba-tiba dari arah belakang Lily melesat cepat ke pintu gerbang istana, dan ledakan besar pun terjadi. Puluhan prajurit berhamburan ke angkasa.
"Aku lupa Lily bisa melakukan hal seperti itu" celetuk Aksa seraya mengikuti Nata dan Val berlari menyusul Lily yang sudah mulai memasuki pekarangan istana.
.
Mereka dengan mudah menembus istana tersebut. Dan memghancurkan beberapa tempat yang memang bertujuan untuk membuat panik seisi istana tersebut.
"Malu bertanya sesat di jalan. Jadi kita akan tanyakan kepada prajurit yang ada di istana ini" Nata menjawab.
"Wow, kau sedang lapar atau gimana, Nat? Itu tadi jawaban paling intelek yang pernah ku dengar selama aku bergaul dengan para ilmuan" timpal Aksa sedikit ketus.
Tiba-tiba ditengah Aksa dan Nata berargumen, tampak puluhan prajurit muncul dari sebuah persimpangan lorong.
"Pucuk dicinta ulam tiba. Kita bisa bertanya pada mereka" Nata berucap.
"Kau coba melucu ya?" Aksa sewot menanggapi ucapan Nata.
Belum sempat Nata dan Aksa membidikan senjata mereka, Lily sudah menyapu bersih para prajurit itu dengan sekali serang.
Nata mendekati seorang prajurit yang masih tersadar. "Hei! Katakan pada kami dimana raja mu berada?" Tanyanya kemudian.
"Dasar penjahat sialan. Aku tidak akan memberitahukannya pada kalian" ucap prajurit itu dengan berani.
"Katakan! Atau kau akan mati mengenaskan" ucap Aksa seraya menodongkan pistolnya ke wajah prajurit tersebut. Mencoba untuk menakut-nakutinya.
"Aku tidak akan menghianati rajaku. Bunuh saja, aku tidak takut" ucap prajurit itu tidak takut dengan gertakan Aksa.
"Baiklah. Kita cari prajurit lain saja. Bunuh saja yang ini, Lily" ucap Nata kemudian.
__ADS_1
Sementara Lily tampak mengangkat tongkat sihirnya. Dan dari ujung tongkat tersebut muncul cahaya berwarna putih yang menyambar-nyambar liar sekitar tempat tersebut seperti petir.
"Apa kau pernah mendengar tentang sihir petir putih yang begitu menyambar akan meninggalkan rasa sakit yang luar biasa tapi tidak langsung membunuh mu?" Lily berucap.
Setelah mendengar ucapan Lily dan melihat cahaya putih yang menyambar liar itu membuat prajurit tersebut mulai ketakutan.
"Ini kesempatan terakhirmu. Katakan sekarang juga" Lily bertanya.
"Di utara. Di menara utara. Ampuni aku, Sage. Ampuni aku" ujar prajurit itu dengan panik, saat Lily mulai mendekatkan tongkat sihirnya ke wajah prajurit itu.
"Dari tadi kek. Bikin lama aja" celetuk Aksa sedikit kesal.
"Baiklah kalau begitu. Kita menuju ke menara utara" ucap Nata yang kemudian meninggalkan prajurit tadi, memimpin yang lain menuju ke utara.
.
Sementara itu makin lama, prajurit yang datang menghadang mereka semakin sering dan bertambah banyak.
"Prajurit yang muncul jadi semakin banyak, Nat" celetuk Aksa ditengah perjalanan mereka setelah berhasil mengalahkan 5 prajurit yang datang menghadang.
"Itu berarti kita berada dijalan yang benar. Karena dengan membuat kepanikan, maka mereka akan mengirimkan paling banyak penjaga untuk melindungi hal yang paling penting" Nata menjawab.
"Jalan yang benar selalu jalan yang susah. Klasik banget" celetuk Aksa menimpali.
Namun meski banyak prajurit yang datang menghadang, Aksa dan Nata nyaris tidak terluka sama sekali. Itu karena para prajurit yang menghadang, tidak ada yang bisa sampai menyentuh kedua pemuda itu.
Entah mereka jatuh karena tembakan senjata api Aksa dan Nata, atau sihir Lily yang agresif.
Sedang beberapa penyihir petarung yang tampaknya adalah prajurit elit dalam istana itu juga tidak bisa berbuat apapun.
Itu karena pisau berbilah ungu yang di bawa Val tadi adalah senjata mistik yang memiliki kemampuan unik memakan seluruh aliran Jiwa yang ada di sekitarnya dalam jarak jangkauan dua kereta kuda.
Yang menyebabkan setiap penyihir petarung yang masuk dalam jangkauan kekuatan pisau mistik tersebut, tidak akan dapat mengeluarkan sihir.
Mereka jadi tak ubahnya seorang petarung biasa yang dapat dengan mudah dilumpuhkan dengan senjata api milik Aksa dan Nata.
Sedangkan untuk menghindari dampak dari pisau mistik Val, Lily selalu berada jauh di depan rombongan. Dan dengan kelincahannya ia masih bisa menangani para prajurit yang muncul entah dari depan ataupun dari belakang rombongan.
.
Setelah cukup lama berjalan melewati beberapa prajurit, akhirnya mereka berempat tiba diujung lorong menara utara. Tampak sebuah pintu besar yang memiliki dua daun pintu dengan ukiran yang terlihat rumit dan mewah. Juga tampak puluhan prajurit berjaga di depannya.
Diantara puluhan prajurit itu tampak pula seorang perempuan ksatria berdiri dihadapan mereka dengan dua buah pedang di kedua tangannya. Satu pedang memiliki bilah berbentuk pipih, dan satu lagi memiliki bilah berbentuk tabung pasang.
"Apakah dia bos dungeon kita?"
-
__ADS_1