
"Putri Lugwin itu gadis yang tegas" ucap Nata saat makan malam bersama setelah rombongan Lugwin kembali ke penginapannya dipusat desa.
"Cantik lagi" saut Aksa.
"Benar. Dia gadis yang cantik dan juga tegas" ucap Lucia kemudian.
"Sekarang yang jadi pertanyaan adalah siapa anda sebenarnya tuan putri? Apakah keluarga Dux anda sangat berpengaruh? Sampai-sampai putri Lugwin meminta bantuan pada anda?" Tanya Nata yang terlihat mengejutkan Lucia.
"Apa kekuatan yang anda sembunyikan dari kami selama ini? Apa anda keturunan dari ras dewi? Atau selama ini anda menyimpan dan memiliki relik legenda yang sedang saya cari-cari?" Imbuh Aksa yang langsung di acuhkan oleh yang lain.
Lucia menatap kearah Jean dengan tampak ragu. Kemudian dia mulai berucap "Mungkin saatnya kalian tau siapa aku sebenarnya"
"Ini dia! Turning point cerita kita!" Aksa melompat berdiri dari tempatnya duduk.
"Aku adalah Lucia Eleanor Elbrasta VI, putri tunggal dari raja Elbrasta"
"Heh?!" Teriak semua orang yang ada disitu karena terkejut.
"Anda putri mahkota kerajaan terbesar dataran ini?" Huebert terdengar tak percaya.
Dan kemudian trio pemburu itu segera berdiri dari tempat duduk mereka dan berlutut dihadapan Lucia. Disusul Fla, Lily, dan Val. Saat Lucia mengeluarkan emblem giok keluarga kerajaan sebagai bukti.
"Jadi kau hanya seorang putri? Bukan ras dewi atau pemegang relik legenda? Mengecewakan" reaksi Aksa kemudian seraya kembali duduk dikursinya dengan kecewa.
Segera Jean mengangkat sendok ditangan kanannya dan menghunuskan kearah Aksa seolah itu adalah pedang yang siap dia tusukan.
Namun kemudian Lucia mencegahnya dengan menurunkan lengan Jean yang mengarah pada Aksa, kemudian ia membantu Lily dan Fla yang ada disebelah nya berdiri, "berdirilah kalian" ujar nya kemudian.
"Dan kenapa tadi anda menolak membantu putri Lugwin? Seperti bukan anda saja, yang biasanya tanpa pikir panjang untuk ikut campur dalam masalah orang lain" ujar Aksa semaunya.
__ADS_1
"Karena aku tidak mampu. Sebenarnya aku adalah putri mahkota yang dibuang"
"Maksudnya?" Tanya Aksa lagi.
"Penerus tahta harus seorang laki-laki" ucap Lucia seraya kembali ketempat duduknya. "Tiga tahun yang lalu ketika ayah ku--raja Elbrasta wafat di saat usiaku belum memenuhi syarat sah untuk menikah, secara peraturan pamanku akan menggantikannya menjabat sampai aku memiliki suami yang layak untuk meneruskan tahta tersebut" jelasnya kemudian. Semua orang mendengarkan dengan seksama.
"Atau?" Tanya Nata.
Lucia menatap Nata yang seolah bisa membaca apa yang dipikirkannya. "Atau aku memberikan tahta tersebut secara sah kepada pamanku" tambahnya kemudian.
"Jadi sebelumnya anda berusaha mengulur waktu apakah harus menikah atau melepaskan tahta?" Tebak Nata kemudian yang dijawab Lucia dengan anggukan.
"Oh, padahal ku kira putri suka dengan salah satu dari kami berdua" celetuk Aksa yang ditanggapi Jean dengan tatapan tajam dengan ucapan tanpa suara 'mati kau bocah'.
"Tapi sekarang pasti anda sedang mempertimbangkan untuk kembali dan menikah, kan? Anda menginginkan kekuatan, setidaknya sebagai seorang ratu, kan?"
Lucia terlihat terkejut Nata bisa menebak jalan pikiran lebih lagi. "Melihat orang-orang mengungsi ke desa ini karena perang, karena kehilangan segalanya, aku merasa tidak berdaya" ucap Lucia kemudian.
"Setidaknya aku melakukan sesuatu. Tidak hanya diam saja melihat" ujar Lucia.
"Wah, berpikir pendek karena terdorong emosi sesaat dan rasa tidak percaya diri sendiri? Kurasa anda akan jadi seorang ratu yang buruk" ucap Aksa kemudian karena merasa jengkel dengan sikap naif Lucia.
"Jaga kata-katamu bocah!" Terdengar Jean tak terima dengan ucapan Aksa.
Sementara Lucia hanya terdiam mendengar perkataan itu. Ia tau ucapan Aksa itu benar. Bahwa dia bukanlah seorang pemimpin yang baik.
"Hei, kenapa kau marah Jean, aku menyebut putri dengan sebutan anda dan bukan kau" jawab Aksa membela diri.
"Bila ada cara yang lain tunjukan padaku, aku akan melakukan apapun bila hal itu dapat menolong mereka" ucap Lucia kemudian.
__ADS_1
"Berhentilah berkata akan melakukan apapun demi menolong, putri. Suatu saat hal itu akan membawa anda dan orang-orang disekitar anda kedalam masalah dan penderitaan" saut Aksa yang masih terdengar jengkel.
Mendengar ucapan Aksa membuat Lucia kembali terdiam. Tampak pula Jean tidak bereaksi atas kemarahan Aksa. Karena ia juga sadar, sifat Lucia yang seperti itu akan membahayakan dirinya sendiri.
"Kau tahu dia putri mahkota Aks, kau bisa dipenggal karena marah-marah seperti itu" ujar Nata kemudian dengan nada suara seperti sedang bercanda.
"Oh, benar juga. Maafkan hamba tuan putri Lucia, ampuni nyawa hamba" ucap Aksa kemudian sambil mengangkat senyum konyol.
"Kau memang tidak tau di untung bocah!" Kali ini Jean berdiri dan meraih pedang yang tersandar di tembok belakang tempat duduknya.
Untuk kali ini yang lain memang setuju bahwa Aksa dan Nata sudah kelewatan batas.
"Eh, tunggu dulu Jean!" ucap Aksa kemudian. "Putri Lucia ingin membantu putri Lugwin kan?" Tambahnya kemudian.
"Apa kau punya ide bocah?" Jean menurunkan pedangnya setelah mendengar ucapan Aksa barusan.
"Wah, sekarang kau makin terampil dalam bertahan hidup Aks" ucap Nata dengan terlihat kagum yang dibuat-buat.
"Jadi Nat, bagaimana caranya?" Tiba-tiba Aksa bertanya pada Nata.
"Kenapa kau malah bertanya padaku? Kau melemparkan tanggung jawab" Nata tampak tidak terima.
"Aku sudah tahu kalau kau pasti sudah menyiapkan rencana untuk membantu seorang gadis cantik yang sedang dilanda kesusahan"
"Ck, kau ini. Sebenarnya aku tidak suka melibatkan diri dengan hal yang tidak menguntungkan, apa lagi peperangan seperti ini" ujar Nata kemudian.
"Namun karena putri Lugwin yang cantik itu sedang berusaha untuk mengakhiri perang ini, maka," ucap Aksa yang sengaja ia gantung.
"Kita harus membantunya menyelesaikan perang ini" lanjut Nata kemudian melengkapi.
__ADS_1
-