
Pagi harinya mereka melanjutkan perjalanan menuju kota Zeraza yang hanya tinggal memakan seperempat hari saja. Rombongan Lumire juga ikut menuju ke kota Zeraza, karena setelah kejadian perampokan kemarin, mereka memerlukan barang untuk dibeli dari kota tersebut.
Rombongan Nata dan Aksa berpisah jalan dengan rombongan Lumire dan Pietro setelah memasuki kota Zeraza. Karena memiliki tujuan mereka masing-masing.
Kota Zeraza ini terasa baru buat Aksa dan Nata, karena kota ini adalah kota dermaga. Kota dagang antar daratan utara dengan daratan selatan. Jadi meski dilihat dari segi tata bangunannya yang seperti kota Albas, namun kota ini sangat padat.
Dari depan kota ini hanya memiliki sebuah tembok pembatas setinggi dada pria dewasa. Yang terbuat dari bebatuan yang tampak tak beraturan. Seolah disusun sekenanya agar setidaknya kota itu memiliki tembok pembatas.
Sedang disisi belakang kota itu yang berhadapan langsung dengan laut. Terdapat dermaga besar dengan banyak kapal layar berlabuh. Di sebelah demarga tersebut berdiri sebuah tembok benteng tinggi yang telihat kokoh. Yang seolah mengkukuhkan secara tidak langsung bahwa bagian depan dari kota ini adalah yang berhadapan dengan laut secara langsung.
Lalu setelah menyerahkan delapan bandit kepada penjaga kota yang ada disana dan meminta mereka untuk melaporkan ke kotaraja, rombongan segera mengikuti Caspian menuju ke tempat temannya.
Dan di sepanjang jalan Aksa dan Nata tak henti-hentinya melakukan hal-hal norak seperti saat mereka baru tiba di kotaraja kemarin. Mereka menunjuk segala hal, mencoba segala hal, menanyakan segala hal. Sama seperti Lily, Lucia selalu senang saat melihat Nata dan Aksa bertingakah seperti itu. Sedang Jean tampak sangat terganggu oleh hal tersebut.
-
Akhirnya mereka pun sampai ketempat tujuan. Sebuah bar kecil yang berada tepat beberapa bangunan dari ujung dermaga. Bahkan jalanan yang mereka lalui kini sudah terbuat dari kayu yang berderak-derak saat di injak. Angin bertiup dingin membawa bau amis dari laut.
"Dia adalah Luna" Caspian memperkenalkan seorang Getzja wanita berambut abu-abu panjang di kepang. Dan tampak di kening diantara kedua alisnya, sebuah tanda seperti bulan sabit dengan posisi yang melengkung kebawah. Mengenakan baju dengan motif yang senada dengan baju yang dikenakan keluarga Lumire, pedagang dari Azure.
"Salam kenal. Jadi kalian orang-orang yang dikabarkan akan membangun kota di tanah Pharos itu?" Tanya Luna seraya mengambil lima gelas keramik dari bawah meja.
"Benar untuk itu saya ingin meminta bantuan anda" ucap Lucia seraya duduk di depan meja bar panjang dihadapan Luna. Rombongannya kemudian duduk berjajar disebelahnya.
"Caspian sudah menceritakan semuanya pada ku" jawab Luna seraya menyudorkan gelas yang sudah berisi minuman beralkohol pada Lucia dan yang lain.
__ADS_1
"Lalu bagaimana?" Tanya Lucia tidak menyentuh gelasnya.
"Lalu apa apa yang akan ku dapat?" Luna balik bertanya.
"Anda akan mendapat kontrak kusus untuk menangani masalah kebutuhan material selama kota kami membutuhkannya" kali ini Nata yang menjawab. Ia duduk tepat disebelah kiri Lucia.
"Dan apa jaminannya kota mu akan terus butuh dan bisa bertahan lama? Ini sama seperti membeli kucing dalam karung. Spekulasinya terlalu besar"
"Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kami memberi anda informasi sebagai imbalannya. Saya dengar dari tuan Caspian anda juga memperjual belikan hal tersebut" Nata memberi penawaran.
"Informasi? Tidak bermaksud meremehkan, tapi untuk hal itu kurasa aku punya lebih dari pada yang kau punya" ucap Luna meremehkan.
"Benar, kurasa kami tak akan menang dengan anda bila mengenai informasi yang sudah beredar di daratan ini. Tapi tidak untuk informasi yang belum pernah beredar sama sekali" jawab Nata dengan senyum percaya diri.
Nata mengambil sebuah gulungan kertas dari dalam tasnya. Kemudian menyerahkan ke Luna.
"Apa ini?" Tanya Luna begitu membuka gulungan tersebut. Kemudian ia terlihat mengamati dengan seksama isi yang ada di dalam gulungan itu. Kemudian tampak mulai merubah raut wajahnya. "Jangan-jangan ini adalah peta bintang?"
"Benar" Nata mengangguk.
"Darimana kau mendapatkan ini?" Tampak Luna terkejut.
Nata hanya tersenyum "Dan itu hanya seperempat dari keseluruhan peta langit ini"
"Seperempat bagian saja?" Terlihat kali ini Luna mulai sedikit tak percaya. "Siapa kau sebenarnya? Sampai bisa memiliki peta bintang yang biasa hanya dimiliki oleh para pendeta kuil Bintang Jatuh?"
__ADS_1
"Anda boleh ambil itu, dan coba tanyakan ke para pendeta ahli itu. Ku dengar kota ini juga punya kuil Bintang Jatuh yang mempelajari tentang perbintangan itu" ucap Nata tanpa menjawab pertanyaan Lina.
"Kita akan bertemu lagi saat anda menginginkan sisanya. Kami berada di penginapan yang sama dengan tuan Caspian" tambah Nata kemudian. "Kalau begitu kami permisi" tutupnya seraya mengajak Nata dan Lucia untuk meninggalkan bar tersebut.
Bersama Jean mereka berempat keluar dari bar tersebut. Sedang Caspian masih tinggal di tempat itu untuk berbicara dengan Luna.
"Dari mana kau temukan bocah-bocah itu, Cas?"
"Akan ku ceritakan bila waktunya sudah tepat" jawab Caspian yang duduk di meja bar panjang dihadapan Luna. Meneguk minuman beralkohol dari gelasnya.
"Dan bagaimana sampai mereka memiliki peta bintang yang terlihat meyakinkan seperti ini?"
"Jangan merasa kaget dulu. Kau akan dibuat lebih kaget setelah kau bergaul dengan mereka lebih lama lagi" jawab Caspian dengan senyum mengembang.
-
"Kenapa kita buru-buru pergi dari tempat itu Nat?" Tanya Lucia kemudian.
"Kita beri waktu nona Luna untuk memikirkan penawaran yang kita punya. Ditambah aku sudah ingin buru-buru melihat laut" jawab Nata.
"Aku ingin mencoba naik kapal layar sungguhan" sela Aksa kemudian.
Kemudian mereka menghabiskan sisa hari itu dengan berkeliling dermaga dan melanjutkan menanyakan segala hal yang mereka temukan. Sebelum kemudian mereka menuju ke penginapan di daerah dekat pintu gerbang kota.
-
__ADS_1