Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
03. Memeriksa Peta


__ADS_3

"Apa kabar paman Orland. Saya dengar kemarin anda dari kota Marda? Apa danau Musim Gugur disana masih cantik seperti dulu?" Sapa Lucia begitu ia memasuki ruangan kerja pamannya itu selang beberapa hari kemudian.


"Lucia. Kau terlihat lebih, bersemangat dibanding setahun yang lalu kita bertemu" ucap Orland yang tampak terkejut mendapati Lucia masuk keruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu. "Iya danau itu masih terlihat cantik seperti biasa" Orland menjawab pertanyaan Lucia seraya bangkit dari kursi tempat kerjanya.


"Aku sudah mendengar dari Cornelius bahwa kau akan resmi melepaskan tahta mu. Apa kau yakin dengan hal itu?"


"Itu sudah menjadi keputusan saya paman"


"Jadi sekarang apa yang bisa ku bantu sampai kau harus repot-repot datang kemari?" Lanjut pria baya dengan perawakan mirip seperti Cornelius hanya saja sedikit lebih pendek itu.


"Maafkan saya merepotkan paman Orland. Tapi saya perlu bantuan paman untuk mengurus semua hal tentang kepemilikan wilayah yang akan diberikan kepada saya nantinya" ujar Lucia kemudian yang mulai terdengar lebih serius.


"Wilayah yang akan kau terima? Tanah Pharos itu?" Pria yang sudah mulai botak itu mengusap dahinya.


"Benar paman" jawab Lucia kemudian.


"Kenapa kau harus repot memastikan bahwa wilayah itu benar-benar jadi milikmu, seolah akan ada yang akan merebutnya darimu. Itu tanah terbuang. Tak akan ada bangsawan yang akan bersusah payah untuk merebutnya dari mu" jelas Orland.


"Benar, saya paham paman. Tapi saya berniat untuk mendirikan kota di wilayah tersebut. Dan saya berniat melepaskan diri dari kerajaan" jelas Lucia.


"Kota? Melepaskan diri dari kerajaan? Kali ini kau sudah benar-benar gila. Ditanah mati seperti itu? Di perbatasan wilayah kerajaan dataran selatan itu?" Terdengar reaksi yang serupa seperti Cornelius keluar dari Orland. Sedang Lucia hanya mengangguk dalam diam.


"Tanpa perlindungan prajurit kerajaan, bisa-bisa kau akan jatuh ketangan kerajaan selatan. Kurasa Sebastian tak akan membiarkan hal tersebut terjadi" ujar Orland lagi.


"Tenang saja paman. Saya akan baik-baik saja. Jadi maukah anda membantu saya?" ujar Lucia memastikan.


"Apa yang kau temukan selama menghilang tiga bulan ini. Muncul-muncul dengan ide tidak masuk akal seperti itu?" Ujar Orland seraya menggelengkan kepalannya.


-


Lucia kemudian memperkenalkan yang lain kepada Orland sesaat setelah mereka selesai dengan sarapan pagi mereka.


"Bolehkah saya melihat peta wilayah Pharos tuan Orland?" pinta Nata saat mereka kini sudah berada di ruang kerja Orland.

__ADS_1


"Sebentar" ucap Orland seraya berjalan menuju sebuah lemari besar dibelakang meja kerjanya. Mengambil sebuah gulungan kain yang panjang kemudian menuju meja di tengah ruangan. Lalu mengelar kain itu diatas meja. Tampak gambar sebuah peta terlihat diatas kain yang digelar tersebut.


Nata dan Aksa mengamati sambil saling memandang dan tanpa perlu bertanya penjelasan tentang peta tersebut, mereka berdua mulai tersenyum kecil.


Melihat hal tersebut membuat Lucia ikut tersenyum. Ia tahu sekarang Nata dan Aksa sudah yakin bahwa wilayah Pharos ini memenuhi syarat yang mereka butuhkan.


"Tanah ini strategis sekali" ujar Nata kemudian.


"Benar bila dilihat dari posisi geografisnya. Namun sayangnya tanah ini bukan saja tidak menghasilkan, tapi juga terlalu membahayakan" ujar Orland.


"Maksud anda tuan Orland?" Tanya Nata penasaran.


"Di bagian barat sebelum bukit yang membatasi pantai terdapat daerah yang diisi oleh banyak hewan buas. Belum lagi di perbukitan sisi timur nya terdapat banyak sekali sarang bandit" jelas Orland.


"Jadi tanah ini termasuk wilayah liar? Wilayah tanpa penguasa?" ujar Aksa kali ini.


"Benar, bisa dibilang seperti itu"


"Tapi secara kerajaan wilayah ini masih merupakan wilayah bagian dari kerajaan Elbrasta?" Tanya Nata lagi.


"Meski tanah itu tidak menghasilkan sama sekali untuk kerajaan? Atau tanah itu benar-benar tanpa penduduk?" Tanya Aksa kali ini.


"Benar. Kerajaan tetap akan bertindak bila kerajaan lain menguasainya" jawab Orland cepat.


"Serakah sekali" timpal Aksa kemudian.


"Lalu apakah ada cara untuk membuat sebuah wilayah keluar dari kepemilikan Wilayah Otoritas kerajaan dengan sah tanpa di sebut sebagai tindakan penjajahan itu tadi tuan Orland?" Nata kembali bertanya.


"Hal itu belum pernah terjadi sebelumnya, tapi ada aturan yang membuat kerajaan melepaskan penguasaan atas sebuah wilayah" tutur Orland menjawab. "Yaitu dengan memerdekaan wilayah tersebut. Atau mengakui bahwa wilayah tersebut sebagai sebuah kerajaan yang sejajar" tambahnya.


"Kurasa kerajaan tidak akan mau melakukan hal tersebut" ujar Aksa yang di setujui Nata dengan anggukan.


"Benar. Itu akan menodai kedaulatan sebagai sebuah kerajaan" ucap Orland.

__ADS_1


"Apakah tidak ada celah lain lagi paman?" Tanya Lucia kali ini yang dijawab Orland dengan gelengan kepala.


"Anu, tuan Orland" tiba-tiba Aksa menyela. "Apakah semua aturan-aturan kerajaan itu ditulis dalam sebuah buku atau gulungan?" Tanyanya kemudian.


"Benar. Aturan-aturan itu ditulis dalam Kitab Aturan Kerajaan. Aku memiliki salinannya disini" jawab Orland.


"Bolehkah saya melihatnya?"


"Memlihat? Untuk apa?"


"Saya hanya penasaran seperti apa kitab yang hanya dimiliki oleh bangsawan-bangsawan kerajaan itu" jawab Aksa dengan senyum yang melebar. "Saya tidak akan merusak atau membawanya pergi dari kediaman anda. Saya hanya akan melihatnya sebentar saja" tambahnya kemudian.


"Baiklah kalau begitu. Tapi itu sebuah Kitab yang sangat tebal"


"Tidak masalah tuan Orland" jawab Aksa dengan singkat dan masih tersenyum.


Orland menuju kesalah satu lemari yang berjejer panjang dibelakang meja kerjanya, kemudian menarik keluar sesuatu. Tampak mata Aksa berbinar melihat apa yang dibawa oleh pria tua itu. Sebuah kertas seukuran gulungan yang biasa ditemui Aksa namun di susun dan di satukan dengan semacam ranting atau akar tumbuhan hingga menyerupai sebuah jilid. Tebalnya nyaris setebal dua kali jengkal Aksa.


"Apakah saya boleh membuka dan melihat isinya tuan Orland?" Tanya Aksa kemudian.


"Apa kau berniat untuk membacanya?"


"Apakah tidak boleh? Apakah ada sesuatu yang rahasia di kitab ini?"


"Tidak juga. Kitab ini hanya berisi tentang semua peraturan yang memang harus di ketahui oleh seluruh orang di kerajaan"


"Baiklah kalau begitu?"


"Tapi aku tidak kan meminjamkan kitab itu terlalu lama. Kau bisa membacanya sampai selepas sore esok hari" ucap Orland memperingatkan Aksa.


"Jangan kuatir tuan Orland, saya hanya memerlukannya sampai tengah malam nanti"


"Mau kau apakan kitab itu sebenarnya?" Tanya Orland yang mulai curiga terhadap Aksa.

__ADS_1


"Tenang saja paman, Aksa tidak akan melakukan hal-hal yang aneh. Percayalah pada ku" potong Lucia kemudian sebelum Orland mulai naik pitam karena salah paham.


-


__ADS_2