
"Mungkin aku juga akan pergi lagi besok pagi" Yvvone berucap saat ia berada di perkemahan Aksa dan Nata sehari kemudian.
"Jangan lupa bawa teman mu yang Shuuran itu" Aksa menyahut.
"Iya. Nanti aku bawa. Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kau pinjamkan dulu alat pengambil gambar itu padaku, Nat" ucap Yvvone seraya tersenyum manis kepada Nata.
"Bukankah perjanjiannya, kau bawa teman mu, baru aku memberikan Smarthphone ini pada mu" Nata menjawab.
"Ya, cuma pinjamkan ke aku dulu. Nanti ku kembalikan" Yvvone berucap dengan sedikit terdengar merengek. "Lagi pula kau akan pergi berperang kan setelah ini. Kalau ada apa-apa dengan kalian nantinya, kan aku jadi tidak bisa memiliki alat itu" imbuhnya.
"Wah, kau nyumpahin kami, nona Yvvone?" Saut Aksa cepat.
"Sebagai seorang gadis Elf, bicara anda kasar sekali" Nata mengelengkan kepalanya.
"Aku hanya berkata jujur" Yvvone menjawab cepat. "Kan sangat disayangkan bila alat itu tidak digunakan sama sekali" tambahnya lagi.
"Kami tidak akan gampang mati" jawab Aksa yang terdengar sedikit jengkel.
"Baguslah kalau memang begitu" Yvvone berucap lagi. "Jadi aku pasti kembalikan. Bagaimana?" Lanjutnya dengan senyum mengembang.
Nata menatap Yvvone dengan tatapan malas. Kemudian mengeluarkan Smarthphone nya dari saku, lalu menyerahkannya ke Yvvone.
Ivvone terlihat sangat berseri-seri menerima Smarthphone Nata. Segera ia menggunakannya seperti yang pernah Nata ajarkan sebelumnya.
"Jangan sampai rusak. Apa lagi hilang" ucap Nata kemudian. "Alat itu tidak tahan air" tambahnya lagi.
"Iya, iya, aku mengerti" Yvvone menjawab tanpa menatap kearah Nata. Ia terlihat mulai sibuk dengan alat dalam gengamannya tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Aku ketempat tuan Haldin dulu. Aku mau memeriksa, apakah alat pesanannku kemarin sudah jadi atau belum" Aksa kemudian berdiri dan mulai berjalan menuju pintu keluar.
"Oh, aku juga harus bertemu tuan Cedrik untuk mulai menyarankan menarik para Yllgarian menjadi anggota anak kelompoknya" Nata juga beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Ya, hati-hatilah kalian" ujar Yvvone yang terlihat fokus dengan mainan barunya. Tidak perduli dengan lingkungan sekitarnya.
-
Sehari kemudian dua belas orang yang berencana untuk menyusup kota Guam ditambah Vossler dan Caspian mulai bertolak dari kota Barat menuju wilayah Damcyan. Perjalanan menggunakan kapal itu memakan waktu tak lebih dari setengah hari.
__ADS_1
Caspian dan Vossler ikut bersama menuju Damcyan karena mereka akan bersiap untuk melakukan penyerangan ke wilayah Nalbina dan wilayah Harbring beberapa hari kedepan.
Mereka berlayar dengan tiga kapal besi secara bersamaan. Yang dua kapal sisanya berisi 3 buah kereta tempur yang baru. Yang oleh para pengerajin disebut sebagai Kereta Penghancur. Dan juga 5 kereta tempur biasa.
Mereka menyiapkan kereta-kereta tersebut untuk penyerangan nantinya.
.
Sesampainya di pelabuhan wilayah Damcyan, mereka segera menuju ke kota Fu. Ibukota wilayah tersebut. Butuh waktu kurang lebih 3 jam untuk sampai ke kota tersebut dari pelabuhan dengan menggunakan kereta tempur.
Sedang 3 kereta penghancur butuh waktu 2 jam lebih lama untuk tiba ke kota tersebut.
Rencana 1 kereta tempur dan 1 kereta penghancur akan dikirim ke kota Gala, ibukota wilayah Eblan.
.
Kota Fu tidak jauh berbeda dengan kebanyakan ibukota wilayah di kerajaan Urbar. Sehingga Aksa dan Nata merasa sudah cukup mengenal kota tersebut, meski nyatanya mereka baru pertama kali datang ke tempat itu.
Mereka semua tinggal di kediaman bangsawan penguasa wilayah Damcyan ketika berada di kota tersebut.
Dan setelah bertemu dengan kenalan Anna, seorang pedagang Morra bernama Bard, mereka segera bersiap untuk melakukan perjalanan menuju ke kota Guam. Yang bila menggunakan kereta kuda akan memakan satu hari perjalanan.
Hari berikutnya kelompok Aksa, Nata, Lily, dan Val, berangkat menuju pintu gerbang timur kota Guam. Dengan mengaku sebagai pedagang permadani dari selatan.
Kemudian masih di hari yang sama, kelompok Axel, Sigurd, Corvette, dan Maserati berangkat menuju ke gerbang barat. Dan mengaku sebagai kelompok prajurit bayaran dari timur jauh yang hendak mencari pekerjaan di kota tersebut.
Dan seperti yang sudah di sarankan oleh Nata sebelumnya, bahwa kemungkinan besar dengan menyuap para penjaga gerbang, maka mereka akan dapat lolos dari pemeriksaan dengan mudah.
Tampaknya hal tersebut memang benar dan terbukti. Dengan menyuap para penjaga gerbang, tiga kelompok itu berhasil memasuki kota tanpa adanya kendala yang berarti.
Juga sepertinya penjagaan kota ini tidak seketat penjagaan di perbatasan wilayah sebelumnya. Yang berhasil mereka lewati karena mereka mengambil jalur lain yang telah diberitahukan oleh Bard sebelumnya.
.
Kota Guam ini bisa disetarakan dengan kotaraja. Besar dan sangat ramai. Meski di masa seperti ini, kota ini terlihat sangat hidup. Mungkin karena jauh dari medan peperangan, membuat para warganya kurang terlalu menguatirkan keadaan yang tengah terjadi.
Begitu tiba dibalik pintu gerbang, kelompok Aksa dan Nata langsung disambut dengan sebuah pasar. Suasananya lebih rusuh dibanding pasar-pasar yang pernah mereka lihat di kota-kota lain di dunia ini.
__ADS_1
Itu karena, para pedagang bukannya berdagang di kedai dan kios, mereka malah menggelar dagangan mereka di pinggiran jalan. Hingga menyita sebagian dari penggunaan jalan.
Mulai dari buah-buahan sampa peralatan berburu. Mulai dari senjata sampai peralatan rumah tangga. Semua seolah berserakan dipinggiran jalan.
Kereta kuda Aksa dan Nata tengah berusaha dengan susah payah melewati jalanan tersebut, saat Loujze yang sudah berada di dalam kota tersebut dari sehari sebelumnya, dengan mudah menemukan mereka dan mengantar ke penginapan untuk bertemu dengan yang lain.
Dan setelah itu kelompok Bintang Api dan para Yllgarian pun datang menyusul.
.
Mereka menyewa empat kamar berjajar dilantai dua. Satu kamar untuk trio pemburu. Satu kamar untuk Aksa, Nata, dan Val. Satu kamar untuk Axel, Sigurd, dan Maserati. Dan terakhir satu kamar untuk para perempuan. Rafa, Lily, dan Corvette.
Penginapan tersebut berada ditengah-tengah antara gerbang pertama dengan gerbang kedua. Dari jendela kamar, mereka bisa melihat gerbang kedua dari kejauhan.
"Jadi apa yang sudah kalian temukan selama berada di kota ini?" Nata bertanya saat mereka berdua belas sudah berkumpul dalam kamarnya.
"Mengenai gerbang kedua itu, tidak banyak rakyat biasa yang bisa melewati gerbang tersebut. Mereka harus memiliki ijin khusus. Atau setidaknya bekerja di kediaman para bangsawan" Deuxter menjawab. "Penjagaan mereka dua puluh empat jam. Dengan jadwal rotasi pergantian penjaga setiap delapan jam sekali. Dan sepertinya mereka memasang cukup banyak penjaga dibagian atas tembok gerbang tersebut. Mungkin untuk berjaga dari orang-orang yang berusaha melewati gerbang tersebut dengan memanjat" tambahnya kemudian.
Nata mendengarkan penjelasan Deuxter dengan seksama. "Kira-kira berapa tinggi tembok gerbang kedua itu, tuan Deuxter?" Tanyanya kemudian.
"Mungkin sekitar lima belas kali tinggi pria dewasa" Deuxter menjawab.
Nata terlihat mengangguk paham. "Baiklah kalau begitu" ucapnya kemudian. "Besok rencana penyerangan pasukan kita ke wilayah yang lain akan di lakukan. Kita akan menunggu sampai orang-orang di kota ini mendengarnya dan mulai panik, setelah itu kita akan mulai menyerang"
"Tapi sebelum kita merencanakan penyerangan ini lebih lanjut, bagaimana kalau kita cari makan dulu. Aku lapar sekali" potong Aksa tiba-tiba.
"Oh, benar juga. Aku juga lapar sih. Apa ada makanan enak ditempat ini?" Jawab Nata kemudian. Yang membuat beberapa orang sedikit bingung menghadapi tingkah kedua pemuda itu.
Terutama Axel, Sigurd, Corvette, dan Maserati. Yang belum terlalu lama dekat dengan Aksa dan Nata untuk terbiasa dengan kelakuan aneh dua orang itu.
"Saya rasa kedai di seberang jalan itu punya roti yang cukup enak" Loujze dengan santai menjawab pertanyaan Nata.
"Tapi jangan anda bandingkan dengan roti buatan tuan Edward, ya?" Rafa menimpali.
"Ya, itu sudah pasti" saut Aksa cepat.
Dan dengan begitu saja, pertemuan mereka di jedah untuk kemudian menuju ke kedai di seberang penginapan. Mencari makan siang.
__ADS_1
-