Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
29. Putra Kedua


__ADS_3

"Kalau boleh ku tahu. Mengapa kalian memperlakukan para pelayan dengan setara?" Tanya bocah laki-laki sepupu Lucia itu saat mereka sudah berada di jalanan kota Tengah.


Nata, Aksa, Luque, dan Jean, bersama tiga pelayan dan dua sepupu Lucia sedang berkeliling kota, beberapa hari kemudian. Sementara ibu kedua bocah itu, bersama dengan Lucia, Orland, Amithy, dan beberapa mantan bangsawan kerajaan Elbrasta, mengadakan pertemuan lagi. Kali ini untuk membicarakan tentang kondisi wilayah Elbrasta dan keberadaan sang ratu ditempat tersebut.


"Apa menurut anda hal tersebut salah, tuan Alexander?" Nata menjawab dengan pertanyaan balik ke bocah 14 tahun itu.


Alexander sendiri hanya diam seolah menimbang pertanyaan Nata, sebelum kemudian menjawab. "Bila kita melihatnya dalam posisi status. Menurutku, hal itu akan menimbulkan masalah" jelasnya kemudian.


"Masalah seperti apa, tuan Alexander?" Nata bertanya lagi.


"Kebingungan. Sesuatu yang tidak seperti yang seharusnya akan menimbulkan kebingungan. Dan kebingungan akan membawa kekacauan, kesalah pahaman, dan masalah lainnya. Karena akan membuat orang mulai bertanya-tanya" jawab anak laki-laki dengan potongan rambut rapi belah samping dengan bentukan hidung yang mancung itu.


"Kita sampai!" Potong Aksa yang mengejutkan semua orang saat mereka sudah tiba di depan kedai Edward.


Mereka disambut oleh beberapa pelayan baru Edward. Dua gadis manis yang baru beberaia bulan yang lalu pindah dari wilayah Ignus di selatan.


"Selamat datang, tuan-tuan dan nona-nona" Edward muncul dari belakang ketika mendengar suara Aksa yang cukup keras. Lalu tiba-tiba Edward berhenti berbicara saat menatap Alexander. Tampak terkejut. "Tuan Alexander, dan tian Eden?!" Ucapnya kemudian nyaris berteriak. "Syukurlah anda sekalian masih sehat dan selamat tiba ditempat ini"


"Maaf, apa aku mengenalmu?" Alexander bertanya dengan sopan.


"Haha... tentu anda tidak mengenal saya, tuan. Saya dulu bekerja membuka kedai di kotaraja. Dan sering kali melihat anda saat iring-iringan keluarga kerajaan sedang melintasi kota" Edward menjawab lagi dengan ceria. "Baiklah, saya tidak akan menahan anda sekalian lebih lama lagi. Silahkan" tambahnya kemudian.


"Seperti biasa, tuan Edward" Aksa segera menimpali.


"Untuk hari ini, anda tidak boleh memesan yang biasa, tuan Aksa. Saya akan buatkan sesuatu yang istimewa" balas Edward cepat.


"Anda memang yang terbaik, tuan Edward" Aksa mengacungkan ibu jarinya kearah Edward yang bergegas masuk lagi kebelakang.


.


"Kembali ke perbincangan kita tadi" Nata berucap ke Alexander saat mereka sedang menanti makanan selesai dibuat. "Jawaban anda tadi ada benarnya. Kebingungan dan keingintahuan rakyat bisa menimbulkan banyak masalah pada sebuah wilayah. Dari mana ada belajar tentang hal tersebut, tuan Alexander?" Tanyanya kemudian dari meja disebelah bocah tersebut.


"Aku sering mendengarnya saat ayah dan kakak ku sedang berbincang. Memastikan sesuatu tetap dalam keteraturan adalah hal yang penting untuk menjaga sebuah wilayah" Alexander menjawab tepat saat pelayan mulai keluar dengan nampan berisi gelas-gelas tinggi.


Tampak Alexander, adiknya, dan tiga pelayannya terkejut dengan rasa dingin dan manis, saat pertama kali merasakan Froyo yang baru saja dihidangkan. Dan terlihat mereka menyukainya. Sedang Aksa terlihat mendapat dua gelas besar khusus dari Edward.


"Memang benar. Hal penting dalam menjaga sebuah wilayah adalah dengan tetap membuatnya dalam keteraturan. Tapi untuk masalah memberlakukan orang secara setara itu adalah sebuah tata cara dan sopan santun daerah ini" Nata melanjutkan perbincangannya setelah menyuapkan sendokan pertama Froyo yang berada dalam gelasnya. "Saya tidak bilang hal tersebut salah atau benar. Tapi di tempat ini bila kita tidak memberlakukan semua orang secara setara, maka malah akan menimbulkan kebingungan. Jadi hal itu seperti hal yang sebaliknya. Anda mengerti?" Jelasnya kemudian.


"Aneh sekali. Mengapa seperti itu? Bukankah para bangsawan memang tidak pernah sama dengan rakyat biasa? Para bangsawan memiliki hak istimewa untuk menuntun dan memimpin rakyat biasa. Bila tidak begitu kekacauan akan muncul lagi diatas daratan ini" Alexander menjawab dengan wajah yang terlihat sedikit serius. Karena memang sejauh yang terlihat, Alexander adalah orang yang tidak terlalu banyak berexpresi.

__ADS_1


"Iya. Mungkin memang terlihat aneh, bagi anda saat ini. Tapi setelah anda mulai terbiasa dan lebih sering mengunjungi banyak tempat, hal ini akan jadi hal yang biasa bagi anda" Nata menjawab dengan tidak memberi beban lenjelasan yang rumit kepada Alexander.


.


Setelah dari kedai Edward, mereka melanjutkan menuju ke sekolahan tak jauh dari alun-alun kota.


Nata dan Aksa mendapat permintaan langsung dari Lucia, untuk memperkenalkan kedua sepupunya tersebut kepada anak-anak yang lain di sekolahan kota Tengah.


Bangunan sekolahan itu terlihat memiliki atap tinggi dan menara dengan sebuah lonceng tepat disebelah pintu masuknya. Terdapat sebuah pekarangan luas dengan pagar kayu mengelilingi.


Banyak anak-anak sedang bermain dan berlarian di halaman tersebut. Juga beberapa orang dewasa yang terlihat sedang mengawasi.


"Mereka manis dan lucu sekali" celetuk Luque saat melihat anak-anak tersebut bermain dari kejauhan.


"Oh, anda berada disini, tuan Alexander? Syukurlah anda baik-baik saja" tiba-tiba seorang anak laki-laki Narva yang tampaknya tidak jauh berbeda usia dengan Alexander, menyapa saat rombongan Aksa dan Nata memasuki pekarangan sekolah tersebut.


"Oh, Herman? Jadi selama ini kalian pindah kemari?" Alexander tampak mengenali anak laki-laki itu. "Pantas aku sudah lama tidak melihat kalian di pertemuan istana"


Adik Alexander terlihat sangat tertarik untuk ikut saat melihat beberapa anak yang seumuran dengannya sedang bermain di pekarangan tersebut, namun malu-malu. Berdiri dibelakang kaki salah seorang pelayannya.


"Benar, tuan Alexander. Keluarga kami pindah kemari. Ayah saya memegang perdagangan ditempat ini" bocah yang disebut Herman tersebut menjawab.


"Cukup banyak keluarga bangsawan yang memutuskan untuk pindah kemari" Herman melanjutkan ucapannya saat salah satu perempuan muda memotongnya.


"Ayo, anak-anak. Cepat masuk, pelajaran akan segera dimulai" ujar perempuan muda itu dari depan pintu bangunan sekolahan tersebut.


"Sepertinya saya harus masuk, tian Alexander. Nanti kita akan bicara lagi" ucap Herman lagi seraya berlari menuju pintu masuk.


"Apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan?" Tanya Alexander lagi setelah pekarangan tersebut sepi. Setelah semua anak sudah memasuki gedung sekolah.


"Mereka menghadiri sekolah" Nata menjawab.


"Apa itu sekolah?"


"Seperti pelatihan ksatria dan penyihir di kerajaan, tuan Alexander. Tapi yang ini bukan melakukan pelatihan fisik, mereka belajar tentang pengetahuan" kali ini Jean yang menjawab.


"Apa seperti para cendikia?"


"Benar seperti perkumpulan cendikia di kotaraja"

__ADS_1


"Apa mereka tidak terlalu kecil untuk itu?"


"Belajar itu tidak mengenal umur, kau tahu?" Aksa terdengar menyahut.


"Bukankah di usia mereka, pengetahuan tersebut tidak akan berguna juga?" Alexander bertanya lagi.


"Anda memang orang yang cerdas dan kritis, tuan Alexander" Nata menjawab dengan senyuman. Ia dan Aksa menyukai bocah itu. "Jadi yang menjadi tujuan kami membuat mereka belajar sejak kecil adalah; agar mereka terbiasa dengan ilmu pengetahuan. Kami juga tidak mengajarkan pengetahuan yang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Kami hanya mengajarkan mereka pengetahuan paling dasar. Seperti membaca, menulis, berhitung, dan tata krama" lanjunya menjelaskan.


"Dan untuk apa mereka mempelajari hal tersebut? Bahkan sebagian besar dari mereka bukan seorang bangsawan?" Alexander masih terus memberi pertanyaan.


"Pertama-tama, mungkin anda lupa kalau di tempat ini bangsawan dan rakyat biasa tidak dibedakan. Lalu kemudian, sangat penting bagi sebuah wilayah untuk memastikan anak-anak memiliki pengetahuan-pengetahuan dasar tadi" Nata kembali menjelaskan kepada Alexander.


"Mengapa demikian?"


"Untuk menjaga kestabilan sebuah wilayah, salah satunya adalah memastikan rakyat mendapat pekerjaan dengan upah yang cukup untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga mereka. Agar tidak timbul sebuah perlawanan, pemberontakan, dan lain sebagainya" Nata menjawab lagi.


"Dengan bertambahnya penduduk, yang tidak disertai dengan bertambahnya wilayah, maka lapangan pekerjaan yang ada akan semakin susah didapat. Contohnya, dengan luas tanah yang sama, maka jumlah petani yang dibutuhkan untuk menggarap tanah tersebut juga tidak akan bertabah, kan? Sedang jumlah penduduk terus bertambah" terlihat Alexander menyimak penjelasan Nata dengan serius.


"Jadi bila hal tersebut dibiarkan maka akan banyak pengangguran. Dan yang ujung-ujungnya menjadi kriminal dan bandit yang malah meresahkan wilayah kita sendiri" Nata melanjutkan.


"Masih ada jenis pekerjaan lain. Seperti pemburu, prajurit, dan penyihir" Alexander menjawab lagi.


"Benar. Tapi tidak semua orang berbakat dengan sihir, atau dianugrahi fisik yang baik untuk menjadi petarung, pemburu, dan bahkan prajurit. Dan bila dipaksakan, maka wilayah itu sendiri yang akan dirugikan. Prajurit dari orang-orang yang tidak memiliki fisik yang bagus akan mudah dikalahkan, begitu juga penyihir atau penyembuh"


"Lalu apa hubungannya dengan memiliki pengetahuan?"


"Nah, jadi solusi untuk masalah itu tadi adalah dengan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Dan hal itu tidak akan bisa dilakukan bila rakyat tidak memiliki pengetahuan yang mendukung. Kita ambil contoh, dengan terbiasa berhitung maka saat mereka mulai remaja mereka bisa langsung menjadi seorang pedagang tanpa perlu belajar lagi yang akan menghambat pembuatan lapangan pekerjaan baru tersebut.


"Atau dengan biasa menulis dan membaca, maka saat dewasa nanti, mereka bisa bekerja sebagai juru tulis di sebuah penginapan atau balai Pertukaran Jasa. Jadi pilihan lapangan pekerjaan mereka jadi semakin banyak dan beragam.


"Bahkan dengan pengetahuan tersebut, mereka yang memiliki kemampuan bertarung dan sihir pun, juga dapat lebih berkembang. Karena mereka jadi memiliki nilai lebih. Pemburu dapat menulis sebuah panduan, atau peta. Penyihir dapat membagi metode pengendalian aliran Jiwa, dan bahkan prajurit bisa membuat sebuah buku strategi pertarungan atau cara latihan mereka.


"Dan disamping bisa menghasilkan uang, hal itu juga akan membantu meningkatkan kemampuan orang yang lain, tanpa kita harus bersusah payah mengupayakannya. Yang juga pada akhirnya akan berdampak pada wilayah kita yang menjadi semakin kuat" Nata kemudian menutup penjelasan panjangnya untuk Alexander.


Sedang Alexander hanya diam dengan wajah yang terlihat tanpa ekspresi seperti biasanya.


"Aku baru pertama kali mendengar hal seperti itu. Meski ada beberapa hal yang tidak kumengerti, namun menurutku ucapan anda masuk akal, tuan Nata" ucap Alexander.


"Mungkin anda akan lebih memahaminya bila anda juga ikut bersekolah dengan mereka" ucap Aksa yang tiba-tiba menyeletuk.

__ADS_1


-


__ADS_2