
Dua hari setelah mereka berhasil membuka segel sihir dari dinding gua Ceruk Bintang, Lucia akhirnya mengadakan sebuah pertemuan untuk menentukan nama baru dan mengukuhkan wilayah mereka.
Pertemuan yang diadakan di gedung pertemuan kota Tengah itu, di hadiri oleh seluruh anggota parlemen dan kabinet.
Lucia tampak berdiri di sebuah podium kecil di depan semua orang yang menghadiri pertemuan tersebut.
"Jadi seperti yang sudah kalian tahu sebelumnya. Bahwa wilayah ini sudah mulai membesar. Wilayah ini sudah bukan lagi sebuah kota, bahkan juga tidak lagi setara dengan sebuah Estat" Lucia berucap membuka pembicaraan. Yang lain terlihat diam mendengarkan.
"Maka dari itu, sekaranglah saatnya untuk kita mendirikan sebuah wilayah pemerintahan yang lebih besar lagi. Sebuah kerajaan" Lucia menjedah sebentar. Beberapa orang terdengar bersemangat mendengar ucapan tersebut. Tampak beberapa mulai berbisik dengan yang lain.
"Kita perlu untuk memberitahukan kepada wilayah lain bahwa sekarang kita berdaulat sebagai sebuah kerajaan. Dan juga siap untuk melakukan kerjasama yang setara. Atau bahkan berperang" Lucia melanjutkan. "Dan seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, aku akan naik sebagai pemimpin kerajaan baru kita" ucapnya kemudian dengan tegas.
"Tentu saja dengan masih menerapkan sistem pemerintahan kita sebelumnya. Keputusan ku masih akan melalui para anggota parlemen" ucap Lucia menambahi.
Ruangan terdengar semakin berisik, karena hampir semua orang berbicara secara bersamaan.
"Dan bila ada yang keberatan akan hal tersebut, angkat suara kalian sekarang. Tidak perlu takut, kita akan bicarakan lagi tentang alasan dan jalan keluarnya" Lucia kembali berucap dengan tegas, yang membuat ruangan menjadi sepi kembali.
Semua orang hanya terdiam. Tidak ada yang mengangkat tangan. Bahkan beberapa terlihat sedang tersenyum bangga.
"Bila tidak ada yang mengangkat tangan, berarti kita semua sepakat bahwa Lucia akan menjabat sebagai ratu kerajaan baru kita" Orland angkat bicara untuk memecah keheningan.
Dan ruangan mulai terdengar berisik lagi dengan jawaban setuju yang diucapkan secara bersamaan oleh semua orang.
Lucia hanya tersenyum melihat semua orang setuju dan tidak ada yang menentangnya untuk menjadi pemimpin mereka.
"Baiklah kalau begitu" Lucia kembali mengambil alih ruangan. "Sekarang kita akan mulai memikirkan nama untuk kerajaan baru ini. Karena untuk menghindari masalah dengan kerajaan Elbrasta, juga karena ini bukan hanya kerajaan ku saja, jadi aku tidak ingin menamai kerajaan dan wilayah ini dengan nama dari keluarga ku" tambahnya kemudian menjelaskan.
"Juga kita tidak akan memanggilnya dengan sebutan Pharos lagi. Karena kita tidak memiliki akar dari peradaban Pharos tersebut. Kita adalah sesuatu yang baru. Maka dari itu kita juga akan membuat nama baru untuk wilayah dan kerajaan ini" ucap Lucia melanjutkan. "Jadi kali ini kita akan menentukan nama atas wilayah ini"
Semua orang mulai terdengar saling berbicara dengan orang disebelah mereka. Dan membuat ruangan menjadi bising kembali.
__ADS_1
"Kalau anda, putri? Apa anda memiliki usulan?" Dirk tiba-tiba bertanya dari bangku sebelah kiri di hadapan Lucia.
Semua orang segera menghentikan ucapan mereka, untuk mendengarkan pendapat dari ratu baru mereka itu.
"Aku tidak punya ide sama sekali" Lucia menjawab. "Tapi setidaknya aku ingin nama kerajaan ini berhubungan dengan keragaman dan kemakmuran yang kita punya" ujarnya kemudian.
"Saya setuju. Karena kelak nama kerajaan ini akan terus diingat oleh semua orang, sepanjang masa" ucap Helen menyetujui pendapat dan keinginan Lucia.
"Wah, optimis sekali kalian semua" celetuk Aksa disebelah Nata di bangku paling depan di hadapan Lucia.
"Apa kau punya ide untuk nama kerajaan ini, Aks?" Lucia bertanya kepada Aksa.
"Hm.. bagaimana kalau Dinasti Seribu Tahun?" Jawab Aksa dengan nada penuh semangat.
"Kau sebut itu sebuah nama untuk kerajaan?" Nata segera menyahut tampak tidak terima.
"Kan. anti-mainstream" saut Aksa cepat.
"Tapi itu bahasa kuno kaum Elf, kita jangan sampai seperti memihak ke salah satu ras" Amithy segera menentang.
"Bagaimana kalau Ultima? Nama dari sihir tertinggi dan teragung" Ende tiba-tiba angkat bicara menambahi.
"Nama yang bagus" terlihat hanya Parpera yang mengangguk dan menganggap nama pemberian Ende itu nama yang bagus.
"Bagaimana kalau Cerulean?" Haldin berucap. "Itu adalah nama dari dewa langit di pesisir timur" tambahnya menjelaskan.
"Tidak. Lebih baik Themis. Nama dewa di pesisir barat yang mengatur kerja bumi dan dilangit" terdengar Katarina menimpali dengan nada suara tinggi yang terlihat tidak mau mengalah dari Haldin, seraya berdiri mengangkat tangannya.
"Demi Dryad, kak. Sudah hentikanlah" Ellian segera menarik tubuh Katarina untuk kembali duduk dengan wajah sedikit malu.
"Bagaimana kalau gabungan dari nama ras?" Usul Loujze terdengar ragu.
__ADS_1
"Seperti apa? Maelyll?" Terdengar Deuxter tidak terima.
"Yang benar saja, jangan bercanda kalian. Bagaimana kalau Bintang Kilat. Itu adalah nama permata paling bersinar yang hanya bisa ditemukan di kawah gunung berapi" Go terlihat bersemangat mengajukan usulan.
"Phoenix, seekor burung mitologi yang tidak pernah mati, menurutku cocok untuk nama sebuah kerajaan besar" Selene disebelah Huebert ikut berucap mengajukan usulan.
"Bagaimana kalau Nesoi?" Dan hal tersebut terus berlanjut hingga cukup lama.
Hampir semua nama yang sudah disebutkan tidak ada yang mendapat persetujuan bahkan seperempat dari jumlah orang yang hadiri di ruangan tersebut. Atau yang hanya sekedar menarik perhatian Lucia pun tidak ada.
"Bagaimana kalau Rhapsodia?" Rafa tiba-tiba berucap dari sebelah Luque. "Disamping nama itu adalah nama tempat ini sebelum peradaban Pharos, juga adalah sebuah gita puji syukur kepada para dewa. Yang berarti mewakili kejayaan dan kemakmuran karena sebuah gita syukur. Juga mewakili beragam ras yang bersatu harmonis. Seperti tangga nada dalam sebuah lagu" jelasnya kemudian panjang lebar.
"Wah, tepat sekali. Dulu memang seperti itulah arti dibalik nama Rhapsodia di gunakan untuk tanah ini" Luque menimpali.
"Sepertinya nama itu cocok untuk kita gunakan" Lucia terlihat tertarik dengan nama yang diusulkan oleh Rafa. "Bagaimana menurut kalian? Rhapsodia. Bagi yang setuju angkat tangan kalian" tambahnya kemudian seraya mengangkat tangan.
Dan begitu melihat Lucia mengangkat tangannya, satu persatu semua orang yang ada di ruangan itu juga mulai mengangkat tangan mereka.
"Sepertinya, kita sudah menemukan nama untuk kerajaan baru kita" Orland berucap setelah memperhatikan jumlah tangan yang terangkat di ruangan tersebut. Hampir semua orang mengangkat tangan mereka.
"Baiklah kalau begitu. Sudah kita putuskan bahwa nama kerajaan baru ini adalah Rhapsodia" ucap Lucia kemudian. Dan semua orang terlihat mulai bertepuk tangan dan bersorak sorai gembira.
Namun tak lama kemudian, terlihat pintu ruangan terbuka. Dan seorang prajurit tampak tergesa memasuki ruangan.
"Tuan putri!" prajurit itu menunduk hormat kearah Lucia dengan tergesa.
"Kenapa? Apa yang sedang terjadi?" Lucia terlihat cemas, seperti semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Di gerbang utara, yang mulia ratu Elbrasta dan dua putranya ada di gerbang utara" prajurit itu melapor.
"Bibi Daisy?!"
__ADS_1
-