
Aksa berada dalam sebuah kereta besi bersama Shuri anggota dari serikat petarung Bintang Api, dan dua pria Morra yang seorang pekerja bangunan.
Pagi-pagi sekali mereka bertolak menuju pantai Mado. Sebenarnya dua pekerja itu sedang dalam tugas mengantar bahan makanan untuk para penambang di pesisir timur. Tampak beberapa bungkusan kain berisin bahan makanan, berjubel di gerbong gandengan kereta besi tersebut.
Sebelum jalan dalam antara terowongan Dinding Sekai dengan pantai di pesisir timur selesai dibangun, mereka masih harus melakukan pengiriman bahan makanan melewati jalur luar menuju pantai Mado.
Sedangkan Shuri hanya bertugas sebagai pengantar dan penjaga saja. Gadis pemburu itu hanya akan mengantar sampai pantai Mado saja. Tidak sampai menyeberang ke pesisir timur.
Aksa sendiri hanya menumpang saja. Karena hari ini ia tak memiliki kegiatan apapun. Lucia menyuruhnya berhenti membuat benda-benda secara acak sampai memang diperlukan. Dan juga sudah tidak ada buku sama sekali untuk dibaca.
Jadilah hari ini ia berencana unuk berpetualang. Ia ingin naik kapal laut.
"Apa? Anda hanya ingin naik kapal laut saja?" Shuri merasa sedikit aneh menatap Aksa.
"Kemari aku merasa jenuh sekali, nona Shuri. Sampai tidak bisa tidur. Maka dari itu hari ini kuputuskan untuk memulai petualangan ku" ucap Aksa yang akhir-akhir ini cara berpakaiannya benar-benar berbeda dar pakaian orang pada umumnya.
Kali ini Aksa mengenakan celana berbahan kulit hewan yang dijahit rapi disambung dengan kain tenun kapas.
Memakai baju lengan pendek. Terbuat dari kain tenun kapas, dengan tampak seperti potongan kayu kecil berbentuk persegi panjang dibagian dada. Yang gunanya untuk mengunci tali tanpa harus mengikat atau menjahitnya.
Lalu, mengenakan jaket kulit lengan panjang diluarannya seperti seorang pemburu. Hanya saja dibagian leher jaket tersebut tampak disambung dengan sebuah tudung yang biasa dilihat ada pada sebuah jubah.
Terakhir adalah sepatunya. Tidak ada yang tahu dari apa dan bagaimana itu dibuat. Tapi yang jelas, terlihat menarik dengan bahan dari kain keras tapi bukan kulit. Berwarna hitam. Dengan banyak tali dibagian depannya. Berwarna putih kontras. Walau sekarang sudah mulai terlihat kusam.
Kemudian yang lebih menarik adalah dasar dari sepatu tersebut. Yang kokoh dan nyaman. Tapi bukan terbuat dari besi atau kayu. Dan memiliki semacam ukiran pada bagian telapaknya. Yang sering kali meninggalkan jejak aneh di tanah.
"Oh, jadi pekerjaan anda sudah selesai semua tuan Akas?" Shuri kembali bertanya.
"Sebenarnya masih ada sih, cuma si putri manja itu, tiba-tiba memberiku hari libur secara sepihak. Ingin ku gugat karena pelanggaran hak asasi manusia, tapi disini saja budak masih banyak. Yah, sudahlah. Aku menuruti sajalah apa maunya" jawab Aksa yang kemudian memasang wajah pasrah dan memelas.
"Oh, begitukah?" Shuri tersenyum canggung karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Aksa, tapi tidak cukup berani untuk menyela dan bertanya.
Terlihat dua pria Morra yang duduk didalam kereta bersama mereka juga tampak hanya bisa tersenyum canggung. Saat Shuri menatap mereka dari sebelah Aksa, di tempat duduk kusir, dengan seperti sedang bertanya 'apa kalian memahaminya?'
__ADS_1
"Jadi anda seorang pemburu, nona Shuri?" Tiba-tiba Aksa bertanya merubah topik.
"Benar. Dalam kelompok, saya bertugas membantu dan melindungi dari jarak jauh, dengan menggunakan busur panah" jawab Shuri sedikit menjelaskan.
"Oh, mid-range?" Ucap Aksa kemudian.
"Apa itu mitreng, tuan Aksa?" Shuri belum pernah mendengar kata tersebut sebelumnya.
"Dalam posisi anda, yang benar itu bukan menjadi pembantu dan pelindung" ucap Aksa kemudian tanpa menjawab pertanyaan Shuri.
"Eh, lalu harusnya bertugas sebagai apa?" Tanya Shuri penasaran.
"Field control. Anda harusnya menjadi pengendali medan pertempuran. Posisi anda yang cukup jauh dari lawan, namun dapat menyerang lebih dulu dibanding rekan anda yang ada di garis depan itu, harusnya digunakan untuk mengatur ritme pertarungan" jawab Aksa dengan rentetan penjelasan yang tampak tak akan selesai dalam waktu dekat.
"Apa lagi dengan adanya faktor magic di dunia ini. Jagi semisal, saat ada dua lawan. Pilihan target serangan anda itu akan menentukan ritme dari seluruh pergerakan rekan anda, bila..." tiba-tiba Aksa terdiam. Seolah ia baru saja tersadar akan sesuatu. "Aku berbicara terlalu banyak dan tidak jelas, ya?" Tanyanya kemudian dengan wajah seperti orang yang tak sengaja melakukan kesalahan.
"I-iya. Tapi, pengetahuan anda benar-benar luas ternyata. Saya pikir anda hanya tau hal-hal tentang membangun saja" jawab Shuri yang terlihat mencoba sopan untuk tidak menyinggung Aksa.
"Saya tidak begitu mengerti apa yang anda maksudkan, tapi saya tetap merasa tuan Aksa memiliki pengetahuan yang sangat luas" ucap Shuri yang mencoba untuk kembali meninggikan hati Aksa.
Mendengar hal tersebut Aksa menatap kearah Shuri, dan kemudian tersenyum lebar. "Aku suka sekali kalau dipuji seperti itu" tambahnya dengan tawa. Yang kemudian disusul oleh tawa yang lain.
"Sudah berapa lama anda menjadi anggota Bintang Api, nona Shuri?" Tanya Aksa lagi. Sesaat setelah mereka berhenti tertawa.
"Sudah lima tahun ini" jawab Shuri dengan masih tetap menatap ke depan.
"Apa cidera lutut anda itu, anda dapat saat baru bergabung atau sebelum bergabung dalam Bintang Api?" Tanya Aksa kemudian. Yang langsung membuat Shuri berpaling menatapnya.
"Da-dari siapa anda bisa tahu lutut saya cidera?" Terlihat wajah Shuri tampak terkejut dan penasaran.
"Aku kan, utusan dewa" jawab Aksa cepat. Tampak Shuri menatap dengan tatapan curiga. Matanya menyipit sinis kearah Aksa.
"Aku bisa melihatnya dari bentuk tubuh anda" jawab Aksa kemudian, karena tidak betah menerima tatapan 'butuh penjelasan' itu dari Shuri.
__ADS_1
"Dari tubuh saya?" Shuri segera menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.
Sementara Aksa hanya menggeleng kecil. "Bukan seperti itu" jawabnya cepat.
"Aku perhatikan, cara berdiri anda tampak tegap dan tegak. Tidak memiliki kebiasaan menopang tubuh dengan satu kaki. Namun pada kenyataannya bentuk tubuh anda sedikit miring ke kiri. Itu menandakan kaki kanan anda jarang dibuat tumpuan.
"Sedangkan bila dilihat dari posturnya, kaki anda tidak terlihat cacat atau beda ukuran. Lalu, pergelangan kaki anda juga terlihat baik-baik saja saat menapak. Dan itu berarti, pasti masalahnya ada pada lutut anda.
"Namun dilihat dari kemampuan anda sebagai salah satu anggota serikat petarung yang handal, berarti, kecil kemungkinan masalah lutut tersebut adalah bawaan lahir. Karena pasti akan membebani latihan anda ketika masih muda.
"Nah, jadi apa lagi yang mungkin terjadi bila bukan karena bawaan lahir? Jelas karena cidera. Disamping hal tersebut, juga di dukung oleh pekerjaan anda yang memang sangat beresiko. Jadi aku coba untuk menebaknya. Kira-kira cidera itu anda dapat tidak dalam waktu empat tahun kebelakangan. Karena butuh waktu lama untuk sebuah kebiasaan bisa sampai merubah bentuk tubuh seseorang. Jadi entah lima atau enam tahun yang lalu" Aksa akhirnya berhenti juga.
Sementara Shuri tampak mengejap-kejapkan mata dengan wajah tak percaya menatap Aksa. "Apa anda benar-benar utusan dewa? Tebakan anda benar. Saya terjatuh dari jurang lima tahun yang lalu. Di tugas pertama saya dalam kelompok" jawab Shuri kemudian. "Dan bagaimana anda bisa tahu tentang postur yang benar atau yang sehat, hanya dengan sekilas pandang saja?" Shuri masih dipenuhi rasa tidak percaya.
"Aku pernah belajar tentang kedokteran, eh maksudku ketabiban? Iya. Aku pernah belajar hal tentang tubuh manusia, penyakit, dan sebagainya itu saat aku berusia lima belas tahun" jelas Aksa kemudian.
"Anda bahkan juga tahu perihal ketabiban? Anda benar-benar luar biasa, tuan Aksa" ucap Shuri kemudian yang tampak bersungguh-sunguh.
"Haha... jujur, aku tadi cuma mau pamer kemampuanku saja, karena aku ingin dipuji sekali lagi. Ternyata berhasil" saut Aksa kemudian dengan tawa. Yang kemudian menular ke yang lain.
Dan kemudian sisa perjalanan mereka mulai diisi dengan Shuri yang bertanya hampir tentang segala hal yang ia bisa tanyakan kepada Aksa.
"Wah, menyenangkan sekali. Terima kasih nona Shuri, dan kalian berdua yang hanya menyumbang senyum dan tawa selama dalam perjalanan. Saya merasa bersemangat kembali sekarang" ujar Aksa kemudian saat mereka sudah tiba di pantai Mado.
Pantai itu sudah cukup ramai meski matahari baru saja terlihat di ufuk timur.
"Syukurlah kalau begitu. Saya juga berterima kasih atas semua nasehat yang telah anda berikan" jawab Shuri dengan sedikit membungkuk. Sekarang gadis itu memiliki rasa hormat lebih kepada Aksa.
"Jadi sudah kuputuskan. Sepanjang hari ini aku akan memamerkan kemampuanku agar orang-orang takjub dan memujiku!" ucap Aksa seraya mengangkat kepalan tangannya ke udara, yang mengejutkan Shuri dan yang lain. "Baiklah kalau begitu, sampai jumpa" ucanya kemudian seraya berjalan menuju ke dermaga.
Tampak Shuri menatap Aksa dari belakang. Ia belum beranjak dari tempatnya. "Mungkin dia benar-benar adalah utusan dewa" ujarnya sendiri.
-
__ADS_1