Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
10.5. - Tanah Suci


__ADS_3

Matahari mulai tampak di garis cakrawala. Cahayanya membuat semburat jingga terang di langit timur.


Bayangan dari bukit Fardis di sebelah timur itu menyelimuti beberapa bagian kota yang baru saja bangun dari lelap malam.


Seekor burung hantu melayang rendah diatas kota. Memekik pelan mengamati jalanan menuju kesebuah bangunan yang memiliki kubah lengkung berwarna putih yang tampak megah diantara bangunan lain di seluruh kota.


Terlihat dari salah satu jendela kaca yang ada di bangunan berkubah lengkung tadi, seorang gadis yang sedang tertidur pulas diatas tempat tidurnya.


Rambutnya berwarna emas panjang terlihat acak-acakan. Diantara bantal dan guling yang terlihat berantakan.


Burung hantu tadi mendarat di pagar kecil bagian luar jendela tersebut. Yang kemudian terlihat mulai berisik mematuk daun jendela dan mencakar-cakar kacanya dengan sembarangan.


Mendengar suara berisik yang mengganggu tersebut, membuat gadis tadi mulai mengeluarkan suara-suara tidak nyaman dan kemudian membuka mata.


"Siapa berisik sekali, pagi-pagi begini?" Gadis itu berucap seperti sedang mengerang


Kemudian dengan masih mengantuk dan mata yang setengah tertutup, gadis itu mulai terduduk diatas tempat tidurnya. Ia mencoba mencari tahu arah dari suara berisik yang mengganggu itu.


Dan saat ia melihat kearah jendela, tampak seekor burung hantu sedang mengais pintu jendela mencoba untuk masuk ke dalam.


"Burung Hantu?" Terlihat gadis itu terkejut melihat ada seekor burung hantu di luar jendelanya. Dan meski dengan malas, gadis itu turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kearah jendela kamarnya.


Seolah tahu bahwa gadis itu sudah hangun dan hendak membukakan jendela untuknya, burung hantu itu pun berhenti membuat suara berisik. Burung hantu itu tenang menunggu.


Gadis itu tampak merapikan rambutnya, kemudian menggelung ke atas sekenanya dengan bantuan tusuk rambut usang yang ia ambil dari atas meja. Sebelum kemudian membuka jendelanya.


"Oh, kau pembawa pesan?" Ujar gadis itu saat melihat ada sebuah wadah kecil terikat di salah kaki burung hantu tersebut.


Burung hantu itu patuh tidak melawan saat tubuhnya diangkat masuk oleh gadis itu.


Kemudian gadis itu mengeluarkan sebuah gulungan kertas kecil dari wadah yang terikat di kaki burung hantu tersebut. Dan lalu mulai membuka dan membacanya.


Gadis itu terlihat menghembuskan nafasnya seraya tersenyum. "Akhirnya tiba juga waktunya" ucapnya kemudian seraya menatap matahari pagi yang mulai naik dari bentangan cakrawala di sisi timur.

__ADS_1


.


Gadis itu sudah selesai mandi dan sudah berganti pakaian, saat kemudian terdengar kamarnya diketuk dari luar.


"Masuk" ucap gadis itu yang masih duduk di depan kaca sedang menyisir rambut emasnya.


"Permisi Primaval" tampak seorang wanita baya dengan pakaian serba putih yang terlihat sederhana menunduk hormat setelah memasuki ruangan.


"Iya, Magda?" Gadis yang dipanggil Primaval tadi bertanya.


"Para klerus sudah menunggu anda diruang tengah, Primaval" wanita yang dipanggil Magda itu menjawab dengan sopan.


"Beri tahu mereka, aku akan segera turun. Terima kasih" jawab gadis itu kemudian.


"Baik, Primaval" wanita baya itu menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan.


Setelah selesai dengan rambutnya, gadis dengan perawakan seorang Narva berusia tujuh belas tahun itu, segera mengenakan jubah berwarna putih yang senada dengan gaun yang dikenakan, dan mulai berjalan keluar meninggalkan ruangan.


.


Sekarang gadis itu sudah berada di sebuah ruangan berbentuk lingkaran. Terlihat ia sedang duduk disebuah kursi besar yang terbuat dari batu pualam di ujung ruangan tersebut. Bersamanya ditempat itu, ada delapan pria baya berpakaian putih yang berdiri tidak terlalu jauh dihadapan kursinya.


"Menurut penjelasan dari pengawalnya, kerajaan Urbar diserang oleh pasukan dari tanah mati" pria tadi kembali menjelaskan meskipun si gadis tidak bertanya.


"Bila seperti itu, kemungkinan besar mereka juga akan menyerang kota ini" seorang pria lain yang memiliki wajah bulat berucap.


"Jangankan pasukan tanah mati, kerajaan Augra dan Joren pun pasti akan menyerang kota ini, selepas kejatuhan kerajaan Urbar" pria yang lain lagi menanggapi. Pria dengan rambut yang sudah berwarna putih.


"Berarti sebentar lagi peperangan akan terjadi lagi di tanah ini" timpal pria berkepala botak kemudian.


"Memang sudah seharusnya" gadis itu mulai angkat bicara. "Tapi, tak perlu kuatir. Karena menurut nya, ini akan menjadi pererangan terakhir di atas Tanah Suci ini" lanjutnya kemudian.


"Apa menurut anda, perang kali ini adalah perang pengakhiran seperti yang telah dilihat oleh sang Oracle?" Pria berambut putih tadi bertanya dengan sopan. Terlihat ada rasa penasaran dan juga harapan dimatanya.

__ADS_1


"Benar" gadis itu menjawab seraya mengangguk. "Entah kenapa, tapi aku bisa merasakan angin perubahan sedang berhembus" ujarnya kemudian.


Terlihat para klerus mulai berbicara satu sama lainnya. Mereka terlihat gembira setelah mendengar ucapan gadis yang disebut Primaval tersebut.


"Lalu apa yang akan kita lakukan, setelah ini Primaval?" Tanya si pria botak kemudian.


"Bersiaplah untuk bertahan. Perintahkan untuk segera memasang formasi sihir pelindung kota" ujar gadis itu memberi perintah.


"Apakah kita juga perlu melindungi raja kerajaan Urbar itu, Primaval?" Pria berwajah bulat bertanya seperti sedang memastikan sesuatu.


"Tentu saja. Sang raja dan bawahannya, mereka tidak mungkin bisa bertahan diluar kota, bila perang tiga kekuatan itu terjadi" gadis itu menjawab. Meski terdengar tegas, namun gadis itu masih berucap dengan tersenyum.


"Baik, Primaval. Saya mengerti. Saya dan para klerus yang lain akan segera bersiap untuk segera memasang formasi sihir kota" ucap pria berwajah bulat tadi sebagai jawaban bahwa ia sudah paham dan mengerti maksud dari si gadis.


"Terima kasih, semua" gadis itu berucap sebelum delapan pria tadi pergi meninggalkan ruangan tersebut.


-


Sore harinya, gadis itu sudah kembali berada di dalam kamarnya. Burung hantu tadi juga masih berada didalam kamar tersebut. Bertengger di sandaran sebuah kursi tak jauh dari jendela.


Tampak baru saja terbangun. Burung hantu itu mengejapkan matanya bergantian, seraya menguhu pelan. Kepalanya naik turun dengan gerakan patah-patah, seolah penasaran mengamati gadis yang ada di hadapannya itu.


Sedangkan gadis tadi tampak sedang menulis sesuatu pada secarik kertas di atas mejanya. Terlihat suasana hatinya sedang bagus. Karena beberapa kali tampak ia tersenyum sendiri di tengah-tengah sedang menulis.


Kemudian setelah selesai, gadis itu melipat kertas tulisannya dengan rapi dan memasukannya dalam wadah yang menggantung di kaki burung hantu tadi.


Gadis itu mengelus pelan kepala burung hantu tersebut sebelum kemudian melepaskannya lagi keluar jendela.


"Berhati-hatilah dijalan" ucap gadis itu lirih, seraya melambai kecil.


Burung hantu itu terbang menuju kearah timur. Menuju ke langit malam yang mulai bertambah gelap.


-

__ADS_1


__ADS_2