
Dua hari berlalu saat akhirnya Fla menemukan cara untuk masuk ke dalam kediaman walikota, setelah ia menghafal rotasi waktu penjagaan dan siapa saja orang luar yang sering keluar masuk kediaman itu.
Dan kebetulan hari ini walikota sedang mengadakan pesta untuk anak perempuannya. Jadi Fla merasa inilah saatnya.
Fla sudah berada di halaman belakang kediaman walikota. Ia masuk bersama dengan para pengantar susu salah satu kenalan James melewati pintu belakang.
Setelahnya Fla dengan hati-hati masuk kedalam dapur yang terlihat sangat sibuk, kemudian mencari keberadaan Livia. Sayangnya Fla tidak menemukan sosok Livia setelah ia memutarkan pandangannya ke segala tempat dalam dapur tersebut. Dengan tidak menyerah Fla berjalan keluar, ke arah area diseberang dalam halaman belakang kediaman walikota tersebut.
Dan setelah Fla berada di area itu, pandangan matanya langsung terhenti oleh sesosok wanita mungil yang tampak kesusahan menuang air dari sebuah periuk besar kedalam sebuah guci-guci tembikar. Meskipun Fla melihat sosok itu dari belakang, ia sudah yakin bahwa itu adalah Livia.
Dan dengan cepat Fla berlari mendekat kemudian membantu gadis itu dengan menahan periuk besar tersebut.
"Terima kasih" ucap gadis itu yang masih fokus menuangkan air tanpa menatap kearah penolongnya.
Sedang Fla hanya diam melihat Livia. Jantungnya berdegup dengan kencang. Kebahagiaan meluap-luap di dalam dirinya, namun ia menahannya.
Setelah guci-guci periuk itu sudah terisi penuh dengan air, Livia menghelai nafas kemudian mengusap keringat di dahinya dengan lengan seraya menatap kearah penolong nya berniat akan berterima kasih lagi secara lebih pantas.
"Terima kas..." suara Livia langsung tercekat mendapati sesosok Fla berdiri dengan senyuman dihadapannya.
"Hai, Livia. Apa kabar?" Ucap Fla menyapa.
"F,Fl-Fla?!" Teriak Livia kemudian karena terkejut.
"Ssttt, jangan berteriak"
"Kau, kau, bagaimana kau bisa ada disini? Apa yang terjadi padamu? Kau hilang ditengah hutan," Livia tampak mendera Fla dengan pertanyaan. Wajahnya terlihat serius, terlihat kuatir yang lebih kearah jengkel.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Livia, ceritanya panjang"
"Kau ini, aku bersyukur kau baik-baik saja" ucap Livia yang kemudian mendekat kearah Fla dan mulai terisak tanpa suara di dada Fla.
Fla hanya diam sambil memeluk tubuh mungil Livia yang berguncang karena tangis yang tertahan.
-
"Apa kau bilang?" Terdengar tanggapan tidak percaya dari Livia mendengar cerita Fla, saat mereka sudah berada dibalik salah satu pilar menyembunyikan diri untuk bercakap-cakap.
"Iya, kemarin James juga bereaksi hal yang sama sepertimu. Tapi aku tidak ingin menjelaskan padamu terlalu detail karena tidak ada waktu lagi. Yang ku minta darimu adalah : percayalah padaku"
"Kapan aku tidak percaya padamu?" Jawab Livia tanpa jeda. Hal itu membuat perasaan Fla jadi terasa ringan dan diluapi semangat untuk terus menjalankan tugasnya.
"Baiklah kalau begitu, dua minggu lagi kau siapakan segala keperluan yang kau butuhkan, aku akan datang menjemputmu"
Livia hanya mengangguk dan kemudian Fla berlari pelan dengan waspada keseberang halaman dan kembali berkumpul dengan para pengantar makanan yang hendak keluar di pintu gerbang belakang.
-
Sehari kemudian Fla berhasil berhubungan dengan para pemburu secara rahasia, dan kemudian memberikan beberapa informasil yang sudah ia dapat sampai sejauh ini.
Sorenya ia kembali untuk menemui James yang kali ini sudah tidak sendirian. Mulai dari dua hari yang lalu sudah ada tiga orang selain James dan Fla yang ikut serta dalam pertemuan rahasia yang diadakan selepas senja itu.
Yang pertama adalah seorang pria Morra yang terlihat berotot. Gills namanya, ia bekerja untuk majikannya sebagai pengangkat barang di pasar.
Kemudian seorang pria Morra setengah baya bernama Socrates. Ia berkerja sebagai pengurus kuda disalah satu kediaman bangsawan di kota itu.
__ADS_1
Dan yang terakhir adalah Yllgarian muda dari klan Lycan. Sosoknya serupa manusia srigala yang menakutkan. Namun tampak ia kehilangan lengan kiri dan kaki kirinya. Terlihat sebuah tongkat kayu menggantikan kaki kirinya yang hilang. Bahkan telinga kirinya pun terpotong setengah. Lycan itu bernama Luke. Ia bekerja sebagai penarik kereta barang untuk majikannya.
"Tadi siang aku sudah bertemu dengan temanku dan sudah menyerahkan informasi yang kita dapat. Dan temanku berkata bahwa rencana sudah berjalan sesuai jadwal" jelas Fla membuka pertemuan.
"Menurut kabar yang ku dengar dari orang-orang di pasar tadi siang, kota dan desa wilayah timur ini mulai di duduki oleh pasukan dari Arcdux Lugwin. Mereka juga berkata bahwa Arcdux Lugwin adalah utusan sang Oracle untuk menghentikan perang ini" ujar Luke menambahi.
"Benar. Jadi dua minggu lagi pasukan Arcdux akan datang menyerang kota ini. Dan kita akan membantu pasukan itu masuk kedalam kota, kemudian kita akan melarikan diri dari kota ini" jelas Fla kemudian.
"Paman Otis dan beberapa orang tidak ingin terlibat dengan rencana ini" kali ini Gills yang berucap.
"Memang rencana ini berbahaya. Tapi mereka tidak akan bicara apa-apa kepada orang-orang kan?" Terdengar Fla kuatir.
"Maksudmu mengadu? Ku rasa paman Otis tidak akan melakukan hal tersebut, tapi aku ragu dengan yang lainnya" balas Gills.
"Yah, kuharap hal itu tidak terjadi sampai rencana ini selesai" timpal Socrates kemudian.
"Tapi mereka akan tetap ikut kita keluar dari kota ini kan?"
"Ku rasa tidak. Mereka tidak akan ikut kita" jawab Gills yang membuat Fla terkejut.
"Mengapa? Apa mereka tidak ingin bebas? Apa mereka tidak ingin menjalani hidup yang layak?"
"Tidak semua orang merasakan hal seperti yang kita rasakan Fla, mereka merasa mereka tidak perlu diselamatkan" kali ini James yang menjawab.
"Tidak semua orang ingin diselamatkan, aku paham itu. Tapi apakah ada yang melebihi sebuah kebebasan?"
"Tidak semua orang berfikiran sepertimu. Mereka meskipun budak, tapi ada yang memiliki majikan yang baik dan tidak ingin meninggalkan majikan mereka. Ada pula yang sudah menyerah, mereka tidak akan tahu apa yang harus mereka kerjakan saat mereka bebas. Bagaimana mereka akan mencari makan? Tidak semua orang punya mental yang sama seperti mu"
__ADS_1
Fla terdiam berfikir "kau benar" ucapnya kemudian.
-