Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Intermezzo


__ADS_3

Dalam ruang altar kuil yang terlihat tidak terawat dan lusuh, tampak seorang pemuda Narva duduk di sebuah kursi para imam.


Pemuda tersebut berpostur tubuh atletis, berambut cepak, serta mengenakan baju kebangsawanan istana. Berwarna putih dengan motif burung elang berwarna emas di bagian pundak dan kerah leher. Lambang kerajaan Elbrasta.


Empat lilin tampak menyala di ujung ruangan di dekat pintu masuk. Sinar redupnya membuat bayangan benda yang ada dalam ruangan tersebut berberak-gerak seperti hidup.


Sedang diluar tampak sedang turun hujan. Meski suaranya tak terlalu nyaring terdengar, namun sesekali cahaya kilat menerobos melewati sela-sela kelambu jendela. Dengan suara gelegar petir yang terdengar jauh.


Dihadapan pemuda tersebut terlihat seseorang duduk di balik naungan bayang-bayang sebuah pilar.


"Bagaimana dengan keluarga Voryn? Apakah mereka sudah mulai bergerak?" Pemuda Narva itu bertanya kepada satu-satunya orang selain dirinya diruangan tersebut.


"Sudah, tuan Grevier. Mereka sudah siap. Dan juga keluarga Roxan" ujar sosok dihadapan pemuda Narva tersebut. "Mereka mudah sekali terhasut" Suaranya terdengar seperti seorang pria dewasa. Dalam dan penuh dengan rasa percaya diri. Nyaris seperti meremehkan.


Meski sosoknya tersembunyi dalam naungan bayang-bayang, namun dari siluet saat cahaya kilat meneranginya dari belakang, tampak pria itu berambut panjang. Dengan sebuah tongkat pipih berbentuk artistik ada dalam cengkraman tangan kirinya.


"Baguslah. Aku tidak ingin semuanya gagal. Rencana ini harus sama sempurnanya dengan rencana di Estrinx" ucap pemuda Narva yang di panggil Grevier itu seraya menyandarkan tubuhnya kebelakang, kemudian menautkan jari di kedua tangannya. Tampak pemuda itu menggunakan sarung tangan yang juga berwarna putih.

__ADS_1


"Jangan kuatir, tuan Grevier. Kami semua hanya tinggal menunggu perintah dari anda saja" jawab sosok tersebut tidak berniat keluar dari bayang-bayang.


"Noel dan yang lain? Apakah mereka juga akan berada disini, nanti?" Tanya Grevier yang kali ini tampak menyilangkan kakinya.


"Mereka ada tugas lain di wilayah Tanah Suci. Tapi jangan kuatir tuan Grevier, kita masih memiliki cukup kekuatan untuk menguasai istana" jawab sosok tersebut.


"Tapi sebelum itu, kita harus pastikan juga bahwa pihak Lucia tidak akan mencampuri masalah kita. Aku tidak ingin semuanya kacau" Grevier terdengar sedikit kuatir.


"Kekuatiran anda tidak beralasan, tuan Grevier. Kota itu tidak memiliki kekuatan sama sekali, bahkan untuk bertahan" suara dalam itu menjawab dengan sedikit terkekeh.


"Tapi, mereka punya dua orang pilihan Oracle itu. Aku tidak bisa tenang karenanya. Aku yakin orang-orang itu memiliki kartu rahasia yang mereka sembunyikan" Terlihat disaat cahaya kilat menerobos masuk ruangan tersebut, kegelisahan tampak di wajah Grevier.


"Bagaimana kau akan menangani mereka? Kota itu penuh dengan orang-orang kerajaan. Jangan sampai orang-orang kita dikenali" Grevier mengingatkan.


"Jangan konyol, tuan Grevier. Kita bisa gunakan tangan orang lain untuk mengurus mereka. Sama seperti Estrinx" Pria itu tertawa kecil yang bernada meremehkan. "Disamping, saya juga tidak ingin menyia-nyiakan kekuatan kita pada hal remeh seperti itu" imbuhnya.


"Aku yakin sekarang mereka pasti sudah mulai mencari informasi mengenai hal yang sedang terjadi di kerajaan ini. Aku tidak ingin semua yang sudah kita rencanakan selama tiga tahun ini terbongkar begitu saja" terlihat Grevier benar-benar serius akan hal tersebut.

__ADS_1


"Anda harus lebih percaya lagi kepada saya, tuan Grevier. Bukankah selama ini rencana saya tidak pernah mengecewakan anda, tuan Grevier?"


"Itu benar. Baiklah, aku akan mencoba untuk tidak terlalu kuatir. Lalu apa rencana mu untuk menangani mereka?"


"Anda lihat, bahwa kota mati itu bertetangga langsung dengan orang-orang bodoh di selatan?"


"Benar. Apa kau hendak menggunakan orang-orang selatan?" Tebak Grevier.


"Tepat sekali. Kita akan buat mereka yang sangat suka berperang itu menjadi pion kita"


"Bagaimana kau akan melakukannya?" Terdengar Grevier mulai tertarik.


"Serahkan pada saya, tuan Grevier. Menurut anda, bukankah akan menarik, bila Tanah Mati berperang melawan Tanah Suci?" Ujar pria tersebut terdengan culas.


Mendengar hal tersebut membuat Grevier tampak menegakan tubuhnya. Pemuda berpakaian mewah itu tampak mulai tertarik.


Cahay kilat kembali menerobos memasuki ruangan. Memperjelas seringai yang tampak mengembang diwajah Grevier.

__ADS_1


-


__ADS_2