
"Dan apa itu kalium nitrat? Apa nama bagian dari tubuh kelelawar? Apakah untuk membuat totem?" Tanya Go lagi saat kali ini mereka sudah berada di dalam gua. Obor yang dibawa Go tampak bergerak-gerah setiap kali mereka berpapasan dengan para penambang.
"Bukan, nona Elaine. Kalium Nitrat itu senyawa kimia yang dihasilkan dari mineral alami dan kotoran kelelawar" jawab Aksa yang kali ini berjalan dibelakang Go, karena gua itu sangat sibuk dengan para penambang yang bolak balik disepanjang jalan. Aksa tidak ingin menghalangi jalan.
"Kotoran kelelawar? Apakah itu berguna untuk menyuburkan tanah? Semacam pupuk?" Tanya Go yang mulai tampak terganggu dengan Aksa yang kembali memanggil dengan nama depannya, ditempat umum.
"Kotoran hewan memang bisa digunakan untuk pupuk. Tapi ada hal yang lebih berharga yang bisa kita buat dengan Kalium Nitrat ini. Hal yang akan merevolusi dunia ini. Merubah dunia ini" ujar Aksa dengan nada yang makin lama semakin meninggi intonasinya.
"Dan hal apa di dunia ini yang akan dirubah oleh kotoran kelelawar?" Go terdengar pesimis.
"Kita akan memakainya untuk membuat bubuk mesiu. Yes! Firearm technology has obtained!" Nata tampak berapi-api dalam perkataannya.
"Dan apa itu bubuk misiu? Untuk membuat makanan? Atau untuk membangun?" Tampak Go masih tidak paham dengan ucapan Aksa.
"Bukan nona Elaine. Bukan untuk memasak atau membangun. Melainkan untuk menyaingi sihir api imba yang ada di dunia ini" jawab Aksa masih dengan berapi-api.
"Benarkah? Hanya dengan kotoran kelelawar bisa menyaingi sihir api?" Go yang masih dengan nada bicara yang tidak antusias bertanya memastikan.
"Ya, sebenarnya bukan hanya kotoran kelelawar saja sih. Masih perlu arang dan batu sulfur. Yang kurasa mungkin ada banyak lereng kawah gunung Sekai" jawab Aksa yang sekarang sudah mulai menurun semangat bicaranya.
-
Tak lama kemudian mereka berdua sampai di ujung dari lorong gua tersebut. Disebuah ruangan berbentuk kubah dengan sebagian langit-langitnya tampak terbuka menghadap keangkasa.
Di sekelilingnya tampak banyak pintu-pintu lorong lagi, sama seperti pintu tempat Aksa dan Go datang. Menurut Go lorong-lorong itu semua buntu. Tapi dari lorong-lorong itulah ia mendapatkan semua batu kristal tadi. Dan akan tampaknya akan lebih banyak bila mereka mulai menggali lorong-lorong tersebut.
Tapi Go memang belum memerintahkan anak buahnya untuk melakukan hal tersebut. Sebelum ia tahu apa guna kristal itu, ia akan menambang yang dipermukaan saja.
Tampak Aksa terkagum-kagum melihat ruangan gua tersebut. Ia segera menuju ke bawah kerumunan kelelawar yang menggantung tidur. Kemudian berjongkok dan mulai mengkikis lantai gua dengan pecahan batu kristal yang ia temukan diskitaran tempat itu.
"Jadi selain kristal itu, juga tambanglah kerak berwarna putih kusam di dasar lantai dan dinding gua ini nona Elaine" ucap Aksa setelah memastikan kerak putih tersebut.
__ADS_1
"Baiklah bila itu mau anda. Meski saya masih belum paham apa yang anda maksud" jawab Go kemudian seraya melihat tingkah Aksa yang mulai kesana kemari menyentuh segala hal yany ada di dalam tempat berbentuk kubah tersebut.
-
Siangnya saat Aksa dan Go kembali ke rumah, tampak trio pemburu juga sudah kembali berburu di hutan Sekai. Mereka juga sudah menyiapkan makan siang.
"Tuan Aksa? Tumben sekali anda datang kemari" ucap Loujze begitu melihat sosok Aksa memasuki rumah.
"Apakah anda sendirian? Biasanya anda bersama nona Lily" tanya Deuxter yang tidak melihat siapapun datang bersama Aksa, selain Go
"Iya. Tadi pagi aku langsung pergi tanpa memberi tahu Lily. Lagi pula Lily juga ada rencana bertemu dengan The Wisemen nya Yllgarian. Ingin membicarakan tentang sesuatu. Jadi tidak mungkin juga aku ajak"
"De waismen?" Loujze tak mengenal kata tersebut.
"Itu, ketua yang lima Yllgarian" ucap Aksa kemudian.
"Oh, para Bijak?" Loujze baru paham.
"Wah, bibi kalian menemukan harta karun" ucap Aksa dengan nada riang.
"Benarkah? Ada yang menimbun harta karun ditempat ini?" Tanya Loujze tiba-tiba.
"Kenapa kau menelan mentah-mentah perkataan tuan Aksa? Seperti tidak tahu saja" ucap Go seraya bersiap-siap untuk makan siang.
"Maksud ku, bibi kalian menemukan batu kristal yang sangat berguna. Juga kotoran kelelawar" Aksa kemudian menjelaskan.
"Memang kenpa dengan kotoran kelelawar?" Huebert yang kali ini bertanya.
"Sudah. Kalian tidak usah menanyakan hal itu. Kalian juga tidak akan paham apa yang tuan Aksa katakan. Yang penting kita lihat saja hasilnya. Apa yang bisa tuan Aksa dibuat dari hal itu" ucap Go kemudian sambil mulai membagi piring ke yang lain.
"Oh, benar. Pemikiran anda praktis sekali, nona Eliane" ujar Aksa kemudian.
__ADS_1
"Sudah saya bilang, jangan memanggil saya dengan nama depan" terdengar Go mulai sewot lagi.
Kemudian Aksa mengeluarkan kertas dari balik jaketnya. Bukan digulung, melainkan dilipat menjadi empat bagian dengan rapi. Memberikannya pada Huebert yang paling dekat dengannya.
"Apa ini, tuan Aksa?" Tanya Hueber menerima kertas tersebut. Kemudian membuka lipatannya dan membaca isinya.
"Oh, ini rancangan baru?" Tanya Loujze setelah ia ikut melihat dari balik tubuh Huebert.
"Itu jebakan hewan. Rencana aku mau meminta Val membuatkannya untuk kalian. Tapi tidak jadi" jelas Aksa sambil memulai acara makannya.
"Mengapa, tuan Aksa?" Tanya Loujze penasaran.
"Oh, apa ini jebakan yang akan mencepit saat terinjak?" Tanya Deuxter setelah menerima kertas tersebut dari Huebert. Yang hanya dijawab anggukan oleh Aksa.
Go tampak memberi tanda pada Deuxter untuk menunjukan kertas tersebut.
"Karena alat itu terbuat dari besi. Dan sekarang Hutan Sekai sudah dihuni para Yllgarian itu. Jebakan ini bisa berbahaya bagi mereka" lanjut Nata setelahnya.
"Oh, benar juga. Jebakan ini bisa untuk menangkap beruang di hutan utara" ucap Go setelah melihat rancangan dalam kertas tersebut.
"Ya, anda bisa memakainya disana. Atau pada saat kalian sedang berada dihutan-hutan yang lain. Mintalah pada Val, Marco, atau tuan Haldin untuk membuatkannya. Mereka pasti bisa. Itu rancangan sederhana kok" tambah Aksa lagi
"Terima kasih, tuan Aksa" ucap Huebert kemudian.
"Lalu setelah ini apa yang akan anda lakukan tuan Aksa?" Tanya Loujze ditengah makannya.
"Tadinya aku ingin berjemur santai dipantai. Tapi sepertinya aku rubah saja. Berhubung aku sudah bersemangat lagi, jadi kuputuskan untuk menuju desa tempat tinggal Fla, melewati lorong gua tadi" ujar Aksa sambil menggigit potongan daging.
"Butuh seharian berjalan kaki tuan Aksa. Apa anda yakin?" Duexter memastikan.
"Sebentar kalau begitu" tampak Aksa diam berpikir. "Bagaimana kalau salah satu dari kalian menemani ku? Jadi kalau umpama kita harus bermalam di alam bebas, setidaknya ada teman yang bisa membuatkanku api unggun" jawab Aksa dengan senyum mengemang.
__ADS_1
-