Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
05. Rafa Beraksi I


__ADS_3

"Jangan bercanda kau, Aks" Jean terlihat tidak terima dengan ucapan Aksa yang seperti sedang mengolok Rafa.


"Aku tidak sedang bercanda. Kita akan mengadakan latih tanding. Kalian yang seorang petarung melawan gadis pengurus buku kerajaan yang baru kehilangan satu tangannya..." Aksa segera menghentikan perkataannya. "Memang terdengar tidak benar sih" celetuknya sendiri.


"Hentikan candaan anda, tuan Aksa" Kali ini Cedrik yang berucap.


"Sebentar, sebentar. Sekarang kita tanyakan langsung saja kepada Rafa" Aksa menenangkan orang-orang yang mulai terdengar berisik saling berbicara.


"Bagaimana Raf, apakah kau merasa akan kalah melawan para petarung-petarung itu?" Tanya Aksa kemudian kepada Rafa. Yang membuat orang orang terdiam untuk mendengarkan jawabannya.


"Saya merasa bisa mengalahkan mereka" jawab Rafa dengan penuh percaya diri. Terdengar suara beberapa orang yang terlihat bangga dengan ucapan Rafa tersebut.


"Kalian dengar apa katanya, kan? Rafa saja percaya diri. Apa kalian mengasihani dia, karena dia cacat?" Ucapan Aksa segera memicu banyak tanggapan. Dan membuat suasana kembali berisik.


"Meski pun kami tidak memandang nona Rafa sebagai orang cacat, tetap saja dia bukan seorang petarung" Jean berucap cepat.


"Oh, benarkah? Coba Raf, katakan apakah kau bukan seorang petarung?" Aksa bertanya lagi kepada Rafa.


"Memang bukan" saut Rafa cepat. Yang segera memicu kericuhan lagi dari yang lain.


"Tapi..." Rafa berucap lagi, yang membuat semua orang berhenti berbicara dan mendengarkannya. "Selama ini saya sudah berlatih membidik senjata menggunakan tangan kiri saya. Dan saya rasa saya sudah mulai sedikit mahir.


"Juga setelah penyerangan para Juara kerajaan Urbar kemarin, tuan Aksa mulai melatih saya cara membela diri menggunakan pistol. Meski tidak secara intensif, namun intinya tersampaikan dengan jelas. Anda menyebutnya apa, tuan Aksa?" Rafa menjedah penjelasannya dengan memberi pertanyaan kepada Aksa.


"Aku menyebutnya dengan Gun-Fu" Aksa menjawab dengan wajah sombongnya.


"Saya juga telah menambahkan apa yang saya terima dari tuan Aksa tersebut, dengan kemampuan lain yang saya miliki. Jadi secara sederhananya, saya siap melawan anda sekalian, para petarung" tutup Rafa kemudian dengan percaya diri.


"Kalian dengar sendiri bukan? Kepercayaan diri gadis ini. Lagi pula ini hanyalah latih tanding. Bila Rafa merasa kualahan, dia akan menyerah" Aksa menambahi.


"Baiklah kalau begitu. Aku yang akan melawannya" tiba-tiba Axel maju kedepan mengejutkan yang lain.


"Apa-apaan kau ini, Ax?" Shuri terdengar tidak terima atas kelakuan Axel tersebut.


"Nona Rafa sudah berusaha sekuat tenanganya. Akan sangat menghina, bila kita tidak melawannya hanya karena ia seorang gadis yang kehilangan satu lengan" Axel menjawab seraya berjalan maju mendekati Rafa.


"Terima kasih, tuan Axel" Rafa mengangguk kecil.


"Baiklah. Karena sudah memiliki lawan, kita akan langsung mulai saja" Aksa bersama Axel dan Rafa berjalan menuju ke tengah tanah lapang.

__ADS_1


Terlihat yang lain mulai membentuk pagar melingkar menjaga jarak dari tanah lapang tersebut.


"Latih tanding ini tidak membatasi cara bertarung, tapi dilarang mengeluarkan serangan yang bertujuan untuk membunuh. Pedang yang digunakan tuan Axel terbuat dari kayu dan peluru di pistol Rafa hanya terbuat dari karet. Jadi tidak akan melukai lebih dari memar. Bila merasa sudah tidak mampu, maka segera menyerah. Ingat ini bukan duel yang sebenarnya. Jadi apa kalian berdua sudah paham?" Aksa memberi penjelasan tentang aturan latih tanding tersebut.


"Paham" ucap Axel dan Rafa nyaris bersamaan.


Kemudian mereka berdua mundur menjaga jarak, sementara Aksa menjauh.


"Baiklah. Mulai" teriak Aksa kemudian setelah ia sudah berada di sebelah Nata dan Lucia cukup jauh dari area pertarungan.


Axel dan Rafa terlihat sedang menilai, Axel terlihat sangat hati-hati. Ia tidak ingin meremehkan Rafa. Karena ia tahu, Rafa hampir setiap hari berada di dekat Aksa. Ia yakin setidaknya Rafa pasti menyerap pengetahuan-pengetahuan aneh dari Aksa yang bisa berguna untuk mengalahkannya.


"Saya tidak akan segan, tuan Axel. Saya akan bertarung dengan sungguh-sungguh" Rafa berucap.


"Saya juga berniat untuk tidak memudahkan anda, nona Rafa" saut Axel kemudian.


Dan setelah itu terlihat Rafa mulai menarik pistol di pinggang dengan tangan kirinya dan mulai menembakannya kearah Axel.


Melihat hal tersebut Axel segera bergerak kesamping dengan gesit mencoba menghindari peluru dari tembakan Rafa. Sedang Rafa tidak kalah gesit, terus mengejar sosok Axel.


Karena dirasa tidak menguntungkan untuk tetap menjaga jarak menghadapi pengguna senjata jarak jauh, maka Axel segera berlari mendekati Rafa sambil tetap mencoba menghindari tembakan dari Rafa.


Dengan cekatan Rafa mengeluarkan wadah peluru kosongnya dengan satu tangan, kemudian memasukan wadah peluru baru yang sudah ia siapkan di bagian pinggang kanannya.


Yang perlu Rafa lakukan hanya mendorong wadah peluru yang sudah pada posisi yang benar itu kedalam gagang pistolnya.


Namun Axel sudah mengayunkan pedang kayunya kearah Rafa disaat gadis itu mencoba mengganti wadah pelurunya. Dan dengan cekatan Rafa menahan pedang tersebut dengan lengan besinya.


Melihat pedangnya berhasil ditangkis, Axel segera memasang kuda-kuda untuk melakukan tebasan kedua. Ia menarik pedangnya kedalam, kemudian bersiap melakukan tebasan kesamping kiri tubuh Rafa yang tidak terlindung.


Bukannya menghindar kebelakang Rafa malah melangkah maju mendekat ke arah Axel. Ia mengarahkan pistolnya ke lengan kiri Axel yang menyilang di depan dada karena hendak melakukan tebasan kearah kiri. Dan kemudian menarik pelatuknya.


Hal tersebut mengejutkan Axel. Rasa nyeri dari hantaman peluru karet itu membuat lengan kirinya kehilangan tenaga dan membatalkan tebasannya tadi.


Axel secara naluri melangkah mundur untuk menjaga jarak. Namun Rafa masih terus maju dengan mengarahkan senjatanya ke arah paha kanan Axel dan menembakan pelurunya. Setelah itu ia lanjutkan melakukan aksi yang sama kearah perut Axel. Peluru dari senjata Rafa itu menyengat paha dan perut Axel seperti serudukan kambing Hutan.


Dan saat Rafa hendak mengarahkan senjatanya ke wajah Axel, dengan sigap Axel melakukan tusukan kearah perut Rafa dengan tangan kanannya.


Rafa tidak pernah meluruskan lengannya saat membidik dan menembak. Hingga ia harus sangat dekat dengan Axel untuk dapat menembakan senjatanya.

__ADS_1


Dan oleh karena itu Rafa tidak akan sempat untuk mundur menghindari tusukan Axel tersebut. Pilihan satu-satunya adalah menghindar kesampiang.


Dan dengan cekatan Rafa memutar tubuhnya ke kanan, kemudian dengan gagang pistolnya Rafa memukul bagian atas lengan besinya dengan keras.


Terdengar seperti sebuah pasak besi yang terlepas, tongkat kecil di sisi belakang lengan besinya itu, tiba-tiba seperti terdorong kebawah dengan cepat. Dan kini tampak sebuah tongkat sihir diujung lengan besi Rafa.


Axel dalam posisi tubuh melakukan serangan menusuk tadi, tidak menyadari adanya tongkat sihir Rafa.


Sedang kini Rafa yang berada di sebelah kiri Axel, segera mengarahkan pistolnya ke wajah Axel seraya merapal sesuatu.


Melihat hal tersebut Axel segera menghindar dengan menarik tubuhnya kebelakang. Kemudian dengan cepat tanah yang ada dibelakang Axel melengkung kebawah akibat sihir yang dirapal Rafa sebelumnya.


Meski tidak terlalu dalam, namun masih dapat membuat Axel kehilangan keseimbangan karena mendarat di tanah yang tidak sama tingginya.


Dengan cepat Rafa mendorongkan tubuhnya ke arah Axel, agar pria itu terjatuh. Kemudian segera kembali merapal sesuatu.


Axel yang terdorong kebelakang tadi berhasil menahan tubuhnya dengan kaki kanannya. Namun tak lama setelah itu, penggalan tanah muncul dengan cepat menutupi dan mengunci pergerakan kaki kanan Axel tersebut. Itu adalah sihir tanah Rafa.


Melihat kaki kanannya terkunci, Axel segera memindah pedangnya ke tangan kiri dan menarik kaki kirinya kebelakang agar ia bisa melakukan tebasan kearah Rafa yang berada disisi kirinya.


Namun seperti yang sudah Rafa duga bahwa Axel akan menarik kaki kirinya, Rafa segera menendang kaki kiri Axel tersebut kesamping dalam. Hingga membuat Axel terjatuh dalam posisi duduk berlutut dengan satu kaki.


Namun dengan sigap dalam posisi berlutut dengan satu kaki tersebut, Axel menebaskan pedang kayunya dengan kedua tangan ke arah kiri atas. Ke posisi Rafa berada. Dengan harapan Rafa akan mengelak mundur dan ia memiliki kesempatan untuk menghancurakan penggalan tanah yang mengunci kaki kanannya itu.


Namun bukannya menghindar, Rafa malah maju dan menangkis pedang Axel dengan tongkat sihirnya. Dan kemudian mengarahkan pistolnya tepat ke depan wajah Axel.


Semua orang menahan nafas melihat pertarungan yang cepat dan menegangkan itu.


Axel tampak menjatuhkan pedang kayunya dan kemudian dengan perlahan mengangkat kedua tangannya keatas. "Saya menyerah" ucapnya kemudian.


Segera riuh penonton bersorak dan bertepuk tangan untuk Rafa dan pertarungan menakjubkan yang Axel dan Rafa tunjukan.


"Apa itu tadi?" Jean terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Itu tadi nona Rafa?" Shuri juga terlihat tidak percaya.


"Kau apakan nona Rafa, Aks?" Lucia bertanya kuatir.


-

__ADS_1


__ADS_2