
Sehari setelah pasukan Pharos menduduki kota Varun, mateus dan keluarga berkunjung ke wilayah Pharos bersama Amithy. Untuk sekaligus membicarakan masalah penguasaan wilayah Estat Ignus dari kerajaan Urbar.
Mateus, keluarganya, wakilnya Samuel, dan para pelayannya yang baru pertama kali memasuki tanah Pharos, tampak terkagum-kagum melihat hal yang ada di tanah tersebut. Meski mereka baru tiba di wilayah selatan, belum sampai ke kpta Tengah. Mereka terlihat kagum dengan segala hal yang mereka lihat. Mulai dari kualitas bahan bangunannya, penataan jalan, katrol elevator, kereta besi tanpa kuda, terlebih lagi kereta uap.
"Oh, jadi ini alat yang yang digunakan untuk menyeberangi tanah mati ini? Tidak pernah terbayangkan olehku akan sebegini besar dan kokohnya" ujar mateus saat ia melihat kereta uap tersebut. "Apa ini benar-benar tidak menggunakan sihir, kak?" Tambahnya masih kesusahan untuk percaya dengan penjelasan yang diberikan oleh Amithy sebelumnya.
Terlihat mereka menikmati perjalanan mereka dengan kedeta uap tersebut, dari wilayah selatan ke kota Tengah. Tampak Eureka anak perempuan Mateus bersemangat saat mereka menembus bukit dan menyeberangi Ceruk Bintang.
-
"Apa kalian benar-benar sedang berperang?" Ujar Mateus saat mereka tiba di kota Tengah. Itu karena kota tersebut sangat hidup. Aktivitas sehari-hari berjalan seperti biasa. Tidak seperti kota Varun, dimana para penduduknya tampak ketakutan dan hampir seluruh aktivitas berhenti saat peperangan terjadi.
"Itu karena peperangan terjadi jauh dari wilayah penduduk" jawab Amithy yang menuntun rombongan Mateus menuju ke kereta besi yang lebih kecil, khusu untuk digunakan dalam kota.
Mereka berkeliling kota terlebih dahulu sebelum akhirnya menuju ke kediaman Lucia. Melihat segala fasilitas dalam kota tersebut, serta mencoba beberapa makanan.
Tampak Lucia sudah menunggu di depan rumahnya saat kereta-kereta besi itu memasuki pekarangan kediamannya.
"Lucia!" Eureka segera berlari mendekati Lucia. "Kau tau? Tadi aku makan makanan yang manis sekali di kota" ceritanya kemudian sambil terlihat bergembira mendongak kearah Lucia.
"Benarkah? Apa kau suka?" Lucia kemudian berjongkok agar menyamakan tinggi dengan gadis kecil itu.
"Iya, aku suka sekali. Banyak anak-anak juga di kota. Mereka sedang belajar dan bermain" lanjut gadis kecil itu.
"Apa kau tidak ingin bermain dengan mereka?"
"Aku hanya melihatnya dari dalam kereta besi" jawab Eureka yang terlihat sedikit sedih.
"Oh, begitu. Bagaimana kalau besok ku kenalkan mereka pada mu? Apa kau mau?" Lucia terlihat berusaha menghibur. Sedang Eureka hanya mengangguk yang kemudian kembali tersenyum.
"Kata bibi Amithy disini ada air terjun?"
"Oh benar sekali. Besok juga akan ku ajak kau melihat air terjun itu"
"Benarkah? Asik!"
-
"Benar-benar luar biasa kota mu ini, Luc. Eh, tidak hanya kota ini, tapi seluruh tanah ini" ujar Mateus saat mereka sudah berada di ruang tengah setrlah selesai makan siang. "Aku sudah banyak mendengar kehebatan tanah ini dari para pedagang. Namun aku tidak mengira akan seluar biasa ini" imbuhnya kemudian.
"Terima kasih atas pujiannya paman" Lucia menjawab.
Selain Mateus dan Lucia, diruangan itu tampak pula Nata, Amithy, Orland, dan Samuel. Sementara istri dan anak Mateus sedang berkeliling kota ditemani oleh istri dan anak-anak Dirk.
"Dan setelah melihat tempat para anak-anak belajar di kota tadi, juga hal yang dipelajarinya, kurasa aku akan membiarkan Eureka belajar ditempat ini" tambah Mateus.
"Syukurlah bila memang begitu. Karena saya benar-benar ingin Eureka memiliki pendidikan setidaknya sama dengan anak-anak diwilayah ini" Lucia terasa lega mendengar keputusan mateus. Itu karena ia benar-benar ingin gadis yang sudah ia anggap sebagai adik itu menikmati fasilitas di wilayahnya ini.
__ADS_1
"Juga sepertinya Zanda juga menyukai kota ini" tambah Msteus lagi.
"Ya, Zanda bukan yang pertama. Banyak istri-istri dari bangsawan utara yang ikut kemari berakhir dengan pindah dan hidup diwilayah ini" Amithy menyahuti. Yang ditanggapi dengan tawa oleh yang lain.
"Lalu apa yang ingin kau bicarakan dengan ku. Tentang pasukan yang menduduki kota Varun itu?" Mateus kemudian membuka topik pembicaraan yang sesungguhnya.
"Jadi begini paman, setelah penyerangan kerajaan Urbar kemarin, kami harus sebisa mungkin menunjukan ketegasan. Agar tidak dipandang remeh dan tidak ada kerajaan yang berani mengganggu kita kedepannya" Lucia mulai mencoba menjelaskan.
"Dan untuk menunjukan hal tersebut, kami harus melakukan serangan balik ke kerajaan Urbar. Sebenarnya kami bisa saja hanya menyerang kota Xin. Tapi bila hanya kota tersebut, maka akan menimbulkan kecurigaan kalau kota Varun yang lebih dekat dengan wilayah ini malah tidak kami serang" Lucia melanjutkan penjelasannya.
"Kau melakukannya agar pihak kerajaan tidak mengira aku sedang melakukan perjanjian rahasia dengan wilayah Pharos, atau hal semacamnya?" Mateus terlihat mencoba memastikan.
"Ya kurang lebih seperti itu" jawab Lucia kemudian.
"Disamping untuk sementara waktu ini kami bisa mendapat jalur ke daratan selatan" kali ini Nata yang berucap.
Mateus terlihat tersenyum mendengar ucapan Nata tersebut. "Ya, aku yakin pasti anda akan berpikiran demikian, tuan Nata" ucapnya kemudian.
"Tapi hanya sampai kerajaan Urbar menjawab tuntutan dari kita. Dan setelah itu kita akan mengembalikan wilayah-wilayah tadi kepada mereka" Lucia segera menambahi.
"Maksudmu kau akan menarik pasukanmu dari kota Varun dan kota Xin bila kerajaan mau memenuhi permintaanmu? Kenapa kau melakukan hal tersebut?" Mateus tidak mengerti dengan rencana Lucia yang menurutnya sangat aneh itu.
"Menunjukan iktikad baik, bahwa kita ingin berdamai dan tidak ingin melanjutkan peperangan ini" Lucia menjawab.
"Lalu apa yang kau minta sebagai gantinya? Meminta kerajaan untuk tidak lagi menyerang wilayah mu? Itu bukan tidakan untuk menunjukan ketegasan, Luc" Mateus masih tidak mengerti dengan rencana Lucia. Kemudian tampak menatap kearah Nata untuk meminta bantuan menjelaskan maksud dari rencana aneh tersebut.
"Oh, jadi pada dasarnya kau meminta Tyrion untuk diadili?" Mateus memastikan lagi.
"Benar" Lucia menjawab cepat.
"Itu berarti kau akan menciptakan gejolak baru didaratan selatan yang baru saja tenang ini" ujar Mateus kemudian.
"Maksud paman?" Kali ini Lucia yang ganti tidak mengerti dengan maksud Mateus.
Sedang Mateus sendiri tampak bingung kenapa Lucia tidak mengerti tentang hal tersebut. Kemudian ia menatap kearah Nata seperti sedang bertanya. Sementara Nata hanya diam sambil menggeleng kecil. Memberi isyarat untuk Mateus berhenti membicarakan hal tersebut.
"Apa maksud dari gejolak baru, paman?" Lucia bertanya lagi untuk memastikan. Wajahnya terlihat resah.
Sementara Nata menggeleng semakin cepat saat Mateus mulai berkata-kata.
"Kau akan menciptakan kekosongan kekuasaan di daratan selatan secara umum, dan wilayah kerajaan Urbar pada khususnya" ucap Mateus tidak memperdulikan isyarat Nata. "Karena kau mengambil kekuatan dan orang yang memiliki pengaruh paling besar diseluruh kerajaan Urbar" lanjutnya kemudian.
"Hal tersebut bisa berujung pada terjadinya peperangan antar penguasa Estat dalam kerajaan Urbar untuk memperebutkan wilayah dan kekuasaan yang kosong, atau malah bisa jadi peperangan tiga kerajaan berkobar kembali, karena tidak ada pihak yang memiliki kekuatan untuk menggungguli yang lain" Mateus melanjutkan penjelasannya.
Lucia terlihat kebingungan dan tidak percaya mendengar penjelasan dari Mateus. Ia tidak pernah tahu bila hal tersebut akan terjadi diwilayah selatan bila ia menyingkirkan Tyrion dari kerajaan Urbar.
Kemudian Lucia menatap kearah Nata. "Apa memang akan seperti itu, Nat?"
__ADS_1
Nata mengangguk. "Saya tidak memberitahukan hal ini, karena pasti anda akan bertingkah dan jadi sangat merepotkan" ucapnya kemudian.
"Apa maksudmu? Kenapa kau tidak menceritakan hal sebesar ini padaku, Nat?" Lucia terdengar tidak terima.
"Ya karena hal tersebut tidak ada hubungannya dengan wilayah kita" Nata menjawab kemudian. "Itu adalah urusan mereka sendiri" tambanya lagi.
"Perang mereka sebelumnya memang urusan mereka sendiri, karena tidak ada campur tangan dari kita. Tapi sekarang ini lain, Nat. Itu karena tindakan yang kita lakukan" Lucia mencoba menyanggah ucapan Nata.
"Mereka yang menyerang kita, putri. Inilah salah satu hal kenapa saya tidak memberitahukan hal ini kepada anda. Karena anda akan berkelakuan seperti ini" Nata menjawab dengan nada yang terdengar sedikit kesal. "Kecuali anda ingin menjadikan wilayah mereka menjadi wilayah anda. Maka saya akan ceritakan semuanya beserta cara untuk menghindarinya" lanjut Nata.
Semua orang yang ada ditempat itu tampak terdiam melihat ketegangan antara Nata dan Lucia. Bahkan Mateus pun tidak berani menyela atau berbicara sama sekali.
"Apa anda ingin menguasai wilayah kerajaan Urbar, tuan putri? Apakah itu keinginan anda?" Nata seolah sedang menantang Lucia dengan pertanyaan itu.
Sedangkan Lucia hanya terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Nata. Batinnya sedang bergejolak.
Nata membuang nafas panjang melihat Lucia yang hanya terdiam. "Sudah kukira" ujarnya kemudian.
-
Keesokan harinya rombongan Mateus berkeliling melihat seluruh wilayah di tanah Pharos tersebut. Kemudian Mateus berbicara banyak hal dengan Orland dan Madron tentang fasilitas dan peraturan. Juga menyempatkan diri berbicara dengan Dirk untuk membahas masalah perdagangan.
"Aku rasa aturan dan fasilitas yang ada ditempatmu ini lebih tinggi tingkatan dan kualitasnya dibanding kerajaan manapun di dunia ini" Mateus berucap saat ia dan Lucia kembali berada di ruang pertemuan dikediaman Lucia setelah makan siang.
"Paman terlalu melebih-lebihkan" ujar Lucia menjawab.
"Maaf kemarin aku membuat mu jadi merasa kesulitan" Mateus berucap lagi.
"Bukan salah anda, paman. Ini hanya karena aku belum bisa berpikir secara dewasa" Lucia menjawab dengan nada serius.
"Dan setelah berdiskusi dengan Zanda dan Samuel, aku merasa menjadi bagian dari wilayah mu akan menjanjikan masa depan yang jauh lebih cerah bagi wilayah dan para penduduk kami. Dibandingkan saat menjadi bagian dari kerajaan Urbar" ucap Mateus kemudian.
"Maksud paman?"
"Estat Ignus ingin bergabung dengan tanah Pharos, Luc. Apakah kau menerimanya?" Mateus bertanya dengan terus terang.
"Sebentar paman. Apa paman bersungguh-sungguh? Bila itu tentang teknologi untuk membangun atau ilmu pengetahuan untuk para penduduk, paman tinggal memintanya. Saya akan memberikan semuanya" Lucia menjawab.
"Bukan. Aku ingin menjadi bagian dari kekuasaan tanah Pharos. Kau tahu kan, cepat atau lambat dataran selatan akan begejolak. Dan cara yang paling cepat dan mudah untuk bisa bertahan dari hal tersebut adalah menjadi bagian dari wilayah yang memiliki kekuatan yang besar" Mateus tampak tidak berbasa-basi dalam menjelaskan alasannya kepada Lucia.
"Tapi itu berarti posisi dan hak paman sebagai Dux akan hilang. Karena aturan wilayah ini meniadakan perlakuan khusus terhadap bangsawan atau pemimpin Estat seperti di kerajaan Urbar. Dan besar kemungkinan Ignus akan menjadi sebuah nama keluarga saja" Lucia seperti sedang menegaskan.
"Aku sudah membahas peraturan ini dengan tuan Orland sepagian tadi. Dan kami keluarga Ignus bisa menerimanya. Aku sudah siap tidak memegang kekuasaan tertinggi diwilayah ku itu. Asal wilayah itu tetap aman dari gejolak, dan syukur-syukur bisa berkembang menjadi lebih baik" Mateus terlihat sudah membulatkan keputusannya.
Lucia terdiam. Ia masih terlihat ragu. "Kalau begitu, kita akan membicarakan hal ini lagi dengan semua anggota parlemen" ucapnya kemudian.
"Terima kasih, Luc" Mateus terlihat sedikit lega.
__ADS_1
-