
Esok paginya. Tiga anggota Bintang Api itu berencana pamit untuk kembali ke kota Albas.
"Tuan Nata, tuan Aksa" Axel memulai pembicaraan saat mereka berada di ruang tamu rumah Couran. Untuk bersiap-siap.
"Ya tuan Axel?" Tanya Nata penasaran.
Sementara Axel hanya melempar sebuah bayu kristal sebesar ibu jari kepada Nata.
"Apa ini tuan Axel?" Tanya Nata setelah menangkapnya.
"Itu adalah Batu Hexe" jawab Axel.
"Batu Hexe?"
"Benar, batu itu beresonansi pada aliran Jiwa. Dan akan memendarkan spectrum cahaya berdasar dari aliran Jiwa yang beresonansi dengannya" sekali lagi Ende mengambil alih untuk menjelaskan.
"Oh, jadi apakah kristal ini digunakan untuk mendeteksi adanya aliran Jiwa?" Tanya Nata memastikan.
"Coba sini kulihat Nat" Aksa mengambil kristal itu dari Nata kemudian mendekatkannya ke matanya untuk mengamati lebih jelas, "Bagaimana cara kerjanya?" Tanyanya kemudian.
"Benar, kami menggunakannya untuk mengukur aliran Jiwa. Batu itu akan memendarkan sinar dengan warna yang berbeda tergantung siapa yang menyentuhnya" ucap Axel.
"Dan bahkan saat bersentuhan dengan tumbuhan dan hewan cukup lama, batu itu akan bersinar meski sedikit redup" tambah Ende dengan suara meragu karena ia tidak melihat kristal itu menyala saat Aksa memegangnya sekarang.
Mendengar hal tersebut Nata segera paham maksud Axel memberikan batu kristal itu kepadanya.
"Oh, apakah tuan Axel melakukan ini untuk memastikan siapa kami sebenarnya?" Tanya Nata kemudian tanpa basa-basi.
"Benar tuan Nata. Jadi siapa sebenarnya kalian berdua ini?" Jawab Axel tanpa basi-basi pula.
Tampak semua orang yang berada ditempat itu terkejut Axel menanyakan hal tersebut secara lugas.
"Sebentar-sebentar aku tidak mengerti maksudnya Nat?" Sela Aksa yang mewakili sisa orang yang ada ditempat itu.
"Tuan Axel ini pasti memiliki kecurigaan terhadap gelagat kita yang tidak normal dalam menanggapi segala hal. Dan pasti beliau ikut serta ke desa ini juga karena untuk memastikan siapa kita sebenarnya" jelas Nata kepada Aksa sekaligus menebak niatan Axel yang sebenarnya.
__ADS_1
"Benar seperti itu. Maaf bukan saya berniat buruk, tapi saya memiliki firasat bahwa kalian berdua ini bukan sekedar pemuda dari luar daratan ini"
"Firasat anda tajam sekali" ucap Nata yang juga memuji Axel.
"Baiklah kalau terlanjur begini, akan ku katakan yang sehenarnya. Aku adalah utusan dewa" sela Aksa kemudian.
"Apa anda masih belum paham arti dari batu Hexe itu tuan Aksa? Batu itu tidak bersinar sama sekali saat kalian sentuh. Itu berarti kalian tidak memiliki aliran Jiwa sama sekali. Dan bagaimana mungkin utusan dewa tidak memiliki sihir sama sekali?" kali ini Ende yang tampak sewot mendengar ucapan asal dari Aksa.
"Utusan dewa harus tidak boleh Mainstream" jawab Aksa dengan memincingkan mata tidak terima kearah Ende.
"Kurasa bila anda sekalian penasaran tentang kami, baiklah akan ku ceritakan. Tapi tidak ada jaminan bahwa anda akan mempercayainya" jawab Nata kemudian yang merasa kelompok Bintang Api ini orang-orang baik dan bisa ia percaya.
Lalu kemudian Nata mulai bercerita.
-
"Anda berdua dari dunia lain?" Terdengar Margaret tidak bisa percaya, saat setelah mereka mendengar cerita dari Nata.
"Terdengar tidak masuk akal, kan?"
"Jadi anda berdua adalah utusan sang Oracle? Sudah ku kira anda bukan sekedar Yllgarian biasa" ucap Ende kepada Lily tanpa memperdulikan bahwa Nata dan Aksa berasal dari dunia lain.
Tidak hanya tiga anggota kelompok Bintang Api yang terkejut, namun Couran dan Ellian yang juga belum tahu tentang siapa Lily dan Val sebenarnya ikut terkejut.
"Benarkah?!"
Lily hanya tersenyum sedikit masam, sedang Val memasang wajah malas menatap Aksa.
"Apakah anda benar-benar sang Kilat putih?!"
"Saya hanya seorang Yllgarian biasa bernama Lily, nona Ende"
"Hei, bila kalian sudah tahu bahwa beliau adalah pahlwan perang, mengapa kalian selalu berbicara tidak sopan terhadap nona Lily dan tuan Val?" Ende terlihat sewot terhadap Nata dan Aksa.
"Hal itu bukan masalah. Karena kami berdua sudah bersumpah setia pada mereka, jadi secara status mereka adalah tuan kami" jawab Lily kemudian.
__ADS_1
"Ap- Sum- Sumpah setia? Kalian berdua? Kepada dua pemuda ini?" Tampak Ende tidak mau menerima penjelasan dari Lily yang terkesan tidak masuk akal bagi nya itu.
"Anda dengar Nona Ende? Saya adalah utusan dewa" Aksa memasang wajah sombong yang terlihat menyebalkan bagi Ende.
"Sepertinya anda berdua benar-benar dari dunia lain" timpal Margaret yang terlihat berusaha untuk percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Lalu apa tujuan kalian datang kemari?" Axel menambahi dengan pertanyaan karena merasakan firasat bahwa rombongan orang-orang ini ke desa Baltra pasti bukan hanya sekedar untuk bertemu teman lama mereka.
Nata terdiam mendengar pertanyaan dari Axel, kemudian menghembuskan nafas panjang. "Ini akan jadi semakin tidak masuk akal untuk diceritakan" ucap Nata kemudian.
"Kurasa sudah tidak akan ada lagi hal yang bisa membuat kami terkejut dan tak percaya lagi, setelah mendengar cerita kalian tadi"
"Aku meragukannya"
-
"Apa?!" Terdengar Margaret, Axel, dan Ende berteriak secara bersamaan, sementara Nata hanya memasang wajah seolah berkata, 'apa ku bilang', setelah mendengar cerita Nata tentang tujuannya ada di desa Baltra ini.
"Kalian diminta putri mahkota Elbrasta untuk membangun tanah mati itu?" Ende bertanya namun terdengar seperti sedang marah.
"Benar-benar gila, dan apa kalian akan benar-benar melakukannya?" Tanya Margaret yang di jawab Nata dan Aksa dengan anggukan kepala secara bersamaan.
"Dan apa anda semuanya disini akan membantu mereka?" Tanya Margaret lagi kali ini kepada orang yang ada dalam ruangan tersebut.
"Benar. Aku tahu pasti kalian menganggap kami semua sudah tidak waras, tapi itu karena kalian bertiga belum tahu bagaimana kemampuan mereka berdua. Kurasa membangun tanah mati itu bukan hal berat bagi mereka" jawab Couran kali ini.
"Benarkah begitu?"
"Sulit dipercaya"
-
Dan pada akhirnya Margaret, Axel, dan Ende pun harus menerima dan mempercayai semua cerita tidak masuk akal itu. Mereka membertahukan kepada rombongan Nata dan Aksa bahwa mereka ada di kota Albas bila rombongan Nata dan Aksa membutuhkan bantuan mereka.
Dan siang hari setelahnya mereka pamit untuk kembali ke kota Albas, sementara esoknya rombongan Aksa dan Nata juga berangkat menuju ke tujuan mereka masing-masing sesuai dengan yang telah direncanakan.
__ADS_1
Aksa dengan kereta kudanya bersama Lily, Couran, dan Loujze bergerak menuju ke barat ke tanah mati Pharos. Sementara Nata, Val, Deuxter, dan Huebert dengan kereta kuda milik Couran menuju ke timur ke kota Esta ke tempat Bintang Timur berada.
-