Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
18.5. Anna Side Story Part 2


__ADS_3

"Sekarang sudah dua minggu lebih An. Penduduk sudah mulai lemas dan beberapa sudah mulai jatuh sakit. Kerang hitam itu bukan makanan yang layak untuk dikonsumsi sehari-hari" ucap Nikolai yang sedang mendebat Anna disuatu siang di dalam kabin kapal karam milik Anna.


"Tunggu sebentar lagi. Pasti sebentar lagi cuaca akan kembali normal, dan kita bisa berlayar mencari ikan lagi" jawab Anna berusaha meyakinkan Nikolai.


"Apa kau mau mengorbankan mereka semua demi ego mu?"


Pertanyaan Nikolai kali ini melukai perasaan Anna.


"Kau pikir aku tidak terbeban Nik? Aku juga memikirkan mereka, tapi aku tidak mau mereka jatuh dalam tipu daya orang-orang Narva busuk itu. Bangsawan-bangsawan sampah itu" ucap Anna yang mencoba untuk membela diri.


"Kau terlalu berhati-hati, An. Kau selalu memandang buruk semua Narva. Sudah lupakanlah dendam mu itu. Rasa kebencian mu terhadap Narva itu" Nikolai yang sempat berdiri tadi kini kembali duduk.


"Kau tahu apa yang akan terjadi bila kau tidak berhati-hati? Mereka akan jadi budak Nik, mereka akan kehilangan hak mereka menjadi orang bebas. Itu lebih buruk dari kematian, kau tau?!" Terdengar Anna masih tidak terima dengan ucapan Nikolai.


Nikolai masih menatap kearah Anna meski tidak berkata apapun.


"Dan lagi, bersyukur karena dengan kebencian dan dendamku ini, aku bisa bertahan hidup sampai saat ini. Melewati neraka ini" Anna menambahi.


"Aku tahu itu, tapi.." ucapan Nikolai tepotong oleh seorang wanita yang tiba-tiba membuka pintu ruangan tanpa permisi.


"Kapten!" Wanita itu terlihat sedikit panik.


"Iya kenapa?" Tanya Anna kemudian.


"Gale hilang!" Jawab wanita itu kemudian.


"Bocah itu, kemana lagi dia sekarang?" Anna terlihat jengkel mendengar laporan dari wanjta tadi.


"Tadi saya lihat dia menuju celah di tebing timur" tambah wanita itu memberi informasi.


"Jangan-jangan bocah itu menuju ke balik tebing" kali ini Nikolai yang menduga-duga.


"Ayo, kita cari!" Ajak Anna sambil mengambil topinya yang gantung di dinding dibelakangnya.


Kemudian Anna dan Nikolai pun pergi ke celah tebing menuju tanah mati.


-


"Apa itu?" Anna terkejut dengan hal ganjil yang ia lihat pertama kali, saat sudah berada dalam tanah mati tersebut.


Tampak sepasang besi terpasang ditanah, hitam mengkilat terbakar sinar matahari. Memanjang ke timur hingga tak terlihat ujungnya. Disamping besi itu, juga memanjang sebuah sungai yang airnya mengalir dari timur menuju ke jurang di sebelah selatan.


"Entahlah, aku juga baru melihatnya sekarang" Nikolai juga tak kalah penasaran dan bingung, dibanding Anna.


"Sejak kapan tanah mati memiliki benda seperti itu? Bahkan ada sebuah sungai dengan air yang mengalir?" Anna merasa sekarang ia ada di dunia lain. Bukan tanah mati.


"Kurasa apa yang diucapkan gadis Narva kemarin itu memang benar. Kurasa, sekarang sudah ada kota di tanah ini" ucap Nikolai kemudian.


"Terlebih dari pada itu, kita harus segera mencari Gale. Kemana perginya bocah itu?" Anna mengingatkan tujuan utama mereka berada ditempat tersebut.


"Kurasa dia pasti mengikuti jalur sungai itu" Nikolai memberikan dugaannya.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita susul" Anna segera berjalan mendahului Nikolai berjalan menyusuri sungai.

__ADS_1


-


Tak lama berjalan menyusuri sungai tersebut, Anna dan Nikolai menemukan sebuah pagar kayu yang membentang cukup panjang. Dan diujung sisi timurnya terdapat sebuah rumah kayu dan sebuah pohon.


"Apa aku tidak salah lihat, Nik? Apa itu sebuah rumah dan sebuah pohon?" Tanya Anna memastikan ia tidak sedang melihat bayang fatamorgana.


"Aku juga melihatnya, An" jawab Nikolai dengan beberapa kali menggosok matanya.


Dan begitu Anna dan Nikolai sudah cukup dekat, terlihat bocah laki-laki yang bernama Gale itu tampak sedang duduk di pelataran rumah tersebut. Sedang memakan sesuatu dengan riang.


"Bocah itu, memang..." melihat bocah yang sedari tadi ia kuatirkan tampak sedang bersenang-senang, membuat Anna jengkel. "Gale!" Teriak Anna seraya berjalan dengan cepat menuju kearah bocah tersebut.


Dan begitu Anna dan Nikolai memasuki pekarangan rumah tersebut tiba-tiba muncul seekor serigala sebesar kuda dihadapan mereka. Berjalan tenang menghadang Anna.


"Se-Serigala Perak?" Anna terkejut melihat serigala yang harusnya berada di belantara hutan dan lembah daratan tinggi itu, berada di hadapannya.


"Benar namanya Popo, dia adalah serigala saya" ucap seseorang yang muncul dari samping pekarangan dengan membawa bungkusan ditangannya. Seorang pemuda Morra dengan pakaian yang tampak tidak sejajar.


"Si-siapa kau? Cepat lepaskan bocah itu!" Anna mulai memasang kuda-kuda siap mencabut pedangnya. Meski ia tak yakin bisa menang melawan Serigala Perak tersebut.


"Apakah kau keluarga anak ini?" Tanya pemuda itu seraya berjalan mendekati Gale.


"Dia bibiku, paman. Dia seorang kapten kapal" ucap Gale yang menjawab pertanyaan pemuda Morra itu, dengan nada bangga.


"Oh, anda bibinya? Maaf, saya telah tidak sopan. Popo, biarkan mereka lewat" ucap pemuda Morra itu seraya mengambil kursi lebih yang diletakkannya di depan halamannya.


Sementara itu Serigala Perak tadi berjalan kebelakang, kemudian duduk meringkuk di sebelah kursi Gale.


"Apa yang terjadi disini?" Anna bertanya masih tidak mengerti.


Tampak Anna dan Nikolai terlihat lebih bingung. Kemudian duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh pemuda Morra itu.


"Apakah anda semua berasal dari desa nelayan di balik tebing barat?" Tanya pemuda itu sambil menyuguhkan dua gelas air kepada Anna dan Nikolai.


"Benar. Kami memang dari sana. Apa ada masalah?" Tanya Anna ketus. Sementara Nikolai meliriknya dengan sinis, seraya menerima gelas air tersebut.


"Tidak, tidak ada masalah. Saya hanya menduga-duga saja tadi" ucap pemuda itu kemudian.


"Apakah sekarang ada kota di tanah mati ini, tuan..." Nikolai menjedah ucapannya, karena belum tahu siapa nama pemuda Morra tersebut.


"Oh, maaf. Saya Selene" terlihat baru saja menyadari bahwa mereka belum berkenalan, pemuda itu segera mengenalkan namanya.


"Saya Nikolai, dan dia adalah Anna. Jadi apakah benar di tanah ini sekarang berdiri sebuah kota, tuan Selene?" Kali ini Nikolai mengulang pertanyaannya dengan perkataan yang lebih pantas.


"Benar, tuan Nikolai. Tanah ini sekarang sudah melepaskan diri dari kerajaan Elbrasta. Dan akan membuat sebuah kota sendiri" jelas Selene yang mengejutkan Anna dan Nikolai.


"Oh, jadi benar ternyata. Lalu sungai itu, bagaimana bisa ada sungai ditanah mati ini. Apakah kalian menemukan sumber mata air?" Nikolai kembali menanyakan rasa penasarannya seraya memandang berkeliling.


"Bukan tuan Nikolai, pemimpin kami menarik sungai dari balik dinding tebing utara itu dan kemudian membuatnya menjadi air terjun yang jatuh ketanah Pharos ini" jawab Selene yang seperti sedang mendongengi anak kecil.


"Yang benar saja?!" Anna tampak tersinggung karena merasa dipermainkan oleh Selene.


"Bila anda tidak percaya, anda bisa memeriksanya sendiri. Tak jauh dari sini kearah timur, anda akan melihat sebuah kincir air diatas tebing. Itu adalah air terjunnya. Cukup besar jadi pasti kelihatan dari kejauhan" ucap pria Morra itu dengan santai.

__ADS_1


"Yang benar? Apakah pemimpinmu itu penyihir sakti?" Kali ini Nikolai yang berucap karena tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Selene. Sedang Selene hanya tertawa kecil.


"Lalu pagar dibelakang itu untuk apa tuan Selene, memanjang sampai hampir ke tebing barat" Nikolai bertanya lagi.


"Oh, itu? Disana ada sarang Antelope Cinder. Jadi untuk keselamatan, kami memberinya penghalang" jawab Selene sambil menengok ke pagar di samping pelataran rumahnya.


"Antelope Cinder? Sarang nya dibelakang itu?" Anna kembali dikejutkan oleh jawaban pemuda Morra itu.


"Jangan kuatir mereka sudah jinak, sebenarnya kami memasang pagar tersebut untuk keselamatan mereka"


"Anda mementingkan keselamatan hewan mistik?" Anna merasa tidak ada hal yang masuk akal ditempat ini.


"Hewan atau manusia itu sama-sama mahluk hidup nona Anna" jawab Selene mendengar ucapan Anna.


"Baiklah kalau begitu, kami permisi dulu. Ayo Gale pulang!" Anna menyudahi perbincangan seraya berdiri dari kursinya.


"Oh, dan ini untuk yang lain. Tidak banyak tapi kuharap cukup" pemuda Morra itu memberikan dua bungkusan dari kain, kepada Anna.


"Apa ini?" Anna bertanya tanpa menyentuh bungkusan ditangan Selene itu.


"Itu roti gandum"


"Mengapa kau berikan ini pada kami?"


"Hanya sekedar pemberian kepada tetangga. Bukan kah kita bertetangga sekarang?" Jawab Selene dengan senyum mengembang.


Anna hanya diam, kemudian membuang muka, "Ayo, kita pulang. permisi tuan Selene" ucarnya seraya berjalan pergi.


"Terima kasih untuk pemberiannya ini. Kami permisi tuan Selene" dengan segera Nikolai menerima dua bungkusan tersebut dan berjalan pergi menyusul Anna dan Gale yang sudah berjalan lebih dulu.


"Sama-sama, jangan sungkan bila kalian memerlukan bantuan" jawab Selene sambil kemudian melambaikan tangan. Yang di balas Gale, juga dengan lambaian tangan.


"Sampai bertemu lagi paman!"


-


"Kau itu kenapa, An? Kelakuanmu itu tadi benar-benar memalukan" Nikolai mengeluh saat mereka sudah kembali dalam kabin ruang kapten di dalam kapal.


"Kenapa memangnya kelakuan ku?" Anna memasang muka pura-pura tidak tahu.


"Aku tahu kau ingin mempertahankan sifat mu yang menjengkelkan itu, tapi untuk bertindak tidak sopan dan tidak menghargai orang seperti itu, kau benar-benar sudah keterlaluan. Apa lagi kau menolak pemberian orang karena mempertahankan ego mu sendiri? Hal itu yang paling tidak bisa dimaafkan" Nikolai marah-marah tidak terima.


"Bila kau tidak suka dengan kelakuan ku, sana pergi ketempat mereka. Mengemislah makanan pada mereka" jawab Anna ketus.


Nikolai menatap tajam kearah Anna. "Kau tau, An? Aku akan pergi kesana. Dan aku akan membawa orang-orang bersamaku" ucapnya kemudian.


"Jangan berani-benraninya kau melakukan hal itu" terlihat Anna juga mulai emosi.


"Aku rela menjatuhkan harga diriku agar mereka bisa makan dan terus hidup"


"Kau pikir aku tidak memikirkan mereka?"


"Bersama mu mereka tak beda dengan seorang budak. Tidak memiliki kehendak bebas" ucap Nikolai seraya berjalan pergi menuju pintu keluar. "Oh, bukan" Nikolai berhenti di ambang pintu, kemudian berpaling menatap Anna, "Mereka lebih sial dari para budak. Karena kau membawa mereka dalam kematian demi obsesi harga dirimu" ucapnya kemudian seraya pergi sambil membanting pintu.

__ADS_1


Anna meraih sebuah penahan lilin dari tembaga diatas meja dan melemparkannya kearah pintu yang kini sudah tertutup.


-


__ADS_2