Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Pelarian Tyrion


__ADS_3

Tyrion akhirnya tiba di daratan utara melalui kota Saziba di wilayah kerajaan Cilum. Setelah berlayar selama empat hari empat malam menyeberangi laut barat menggunakan kapal nelayan dari kota Dang di wilayah kerajaan Jouren.


Begitu Tyrion menginjakan kakinya diatas dermaga kota Saziba, tampak seseorang melambai kearahnya. Seorang pria Narva dengan pakaian bangsawan berwarna biru langit yang dirangkap mantel bulu gelap yang terlihat hangat.


Tyrion melambai balik seraya berjalan menuju kearah pria tersebut. Itu adalah kerabat jauhnya yang merupakan bangsawan kerajaan Cilum di barat daratan Utara.


"Bagaimana kabarmu, paman?" Sapa pria itu ketika ia sudah cukup dekat dengan Tyrion.


"Sedikit mabuk laut, tapi aku baik-baik saja, Harley" jawab Tyrion kepada kerabatnya yang bernama Harley itu.


"Syukurlah kalau hanya mabuk laut, lewat sini paman" ajak Harley kemudian.


Salah satu dari pelayan Harley segera mengangkat barang bawaan Tyrion, yang hanya sebuah tas kulit berbentuk kotak berisi beberapa pasang pakaian. Sedang yang sebuah tas kecil tampak dibawa sendiri oleh Tyrion.


Dermaga kota Saziba itu merupakan dermaga kecil yang hanya diisi oleh para nelayan. Jalan menuju ke dermaga itu cukup sempit dan tidak terlalu rata, membuatnya susah untuk dilalui sebuah kereta kuda. Maka dari itu mereka harus berjalan cukup jauh untuk menuju ke kereta kuda milik Harley.


"Disini lebih dingin dari daratan selatan, paman. Apa lagi sekarang mulai memasuki musim penghujan" ujar Harley memberikan sebuah mantel tebal yang sedari tadi dibawa-bawa oleh pelayannya, ketika beberapa saat sebelumnya ia mendengar Tyrion mulai bersin-bersin.


"Terima kasih. Kurasa aku tidak terbiasa dengan cuaca dingin" ujar Tyrion yang dengan segera mengenakan mantel tersebut.


Dan setelah menaiki kereta kuda yang sangat tinggi, yang merupakan ciri khas kereta kuda wilayah barat daratan utara itu, mereka segera meninggalkan dermaga itu menuju ke utara ke kediaman keluarga Harley.


-


Tyrion tinggal selama seminggu ditempat Harley. Di barat laut dermaga kota Saziba, di pinggiran utara kota Herico. Menunggu kabar dari kenalannya yang berada di kerajaan Elbrasta.


Tyrion sudah berhubungan dengan kenalannya yang berada di kerajaan Elbrasta itu sejak beherapa bulan sebelumnya. Tujuannya adalah meminta bantuan pasukan untuk menyerang tanah mati dari sisi utara.


Kenalannya berhasil meminta bangsawan Elbrasta berpengaruh untuk menggerakan pasukan, namun sebagi imbalannya bangsawan itu meminta sebuah pusaka yang disimpan oleh Tanah Suci.


Tyrion sudah berhasil mengambil pusaka yang dimaksud. Namun sebelum ia sempat melakukan pertemuan dengan bangsawan tersebut, ia terpaksa harus melarikan diri dari kota Guam.


Dan menurut Tyrion sekaranglah saat untuk bertemu bangsawan dari kerajaan Elbrasta itu, dan segera melakukan serangan bali ke tanah mati.

__ADS_1


-


Dua hari kemudian, sebuah surat datang kekediaman Harley yang di tujukan kepada Tyrion. Itu adalah surat yang selama ininia tunggu-tunggu.


Surat itu memberitahukan bahwa pertemuan dengan bangsawan berpengaruh itu akan dilakukan seminggu lagi di sebuah kota bernama Metana di barat bukit Karas wilayah kerajaan Elbrasta.


Dan setelah melakukan persiapan, dua hari kemudian Tyrion bertolak dari kedimanan Harley. Berangkat menuju ke arah timur. Ke kota Metana.


-


Perlu waktu dua hari untuk Tyrion sampai ke kota tersebut. Kota yang disebut Metana itu tidak lebih besar dari kota Xin. Juga tidak lebih ramai. Kota itu berada di kaki bukit yang memiliki medan tidak datar.


Terlihat para penambang yang hilir mudik, keluar masuk kota tersebut, ketika kereta kuda Tyrion sudah mulai memasuki gerbang kotanya.


Kenalannya sudah menanti di depan penginapan kota tersebut. Seorang Jarl bernama Astos.


"Sudah lama kita tidak bertemu, Astos. Bagaimana kabar mu?" Tyrion menyapa saat ia sudah turun dari kereta kudanya.


"Dua hari di perjalanan itu cukup melelahkan" Tyrion menjawab. "Hanya dengan mengingatnya saja membuatku malas untuk melakukan perjalanan pulangnya" imbuhnya kemudian.


Tampaknya Astos sudah mengurus semua hal di penginapan tersebut, hingga Tyrion tidak perlu lagi melakukan pendaftaran. Astos langsung mengantar Tyrion ke kamarnya.


"Mengapa anda memilih tinggal di wilayah Cilum dan harus bersusah payah pulang pergi menuju wilayah Elbrasta ini, tuan Tyrion?" Astos bertanya lagi saat mereka sudah tiba di dalam kamar Tyrion. "Anda bisa tinggal di kediaman saya di kotaraja bila anda mau" imbuhnya lagi.


"Tidak perlu. Aku sedang dalam pelarian. Aku tidak ingin mempersulitmu" Tyrion menjawab seraya duduk di salah satu kursi yang ada diruangan itu. "Anak buah ku tau aku memiliki kerabat di wilayah Elbrasta, dan bila ada dari mereka yang buka mulut dan menjualku, maka saat mereka mencoba mencariku di daratan utara, pasti wilayah Elbrasta yang pertama kali dituju" jelasnya kemudian.


"Anda sangat cerdik dan berhati-hati sekali, tuan Tyrion" ucap Astos terlihat sangat kagum.


"Itu keahlian yang kita butuhkan untuk bisa bertahan di dunia yang keras ini, Astos. Ingatlah itu" Tyrion menambahkan.


"Baik, saya akan mengingatnya"


-

__ADS_1


Setelah sehari menginap di penginapan kota tersebut, akhirnya Astos mempertemukan Tyrion dengan bangsawan yang selama ini ia maksud.


Mereka bertemu secara rahasia di gudang sebuah rumah di pinggiran kota.


Meskipun bangsawan yang kini sudah berdiri di hadapan Tyrion itu adalah seorang Seithr, namun bila dilihat dari caranya berpakaian, tampaknya pria dengan rambut panjang yang nyaris seperti seorang perempuan itu adalah orang yang cukup penting.


Dan karena membawa sebuah tongkat, Tyrion menduga bangsawan itu juga adalah seorang penyihir.


Kemudian tampak berdiri dibelakangnya seorang gadis Getzja dengan baju berwana putih biru yang cukup sederhana. Dan menilai dari wajah dan gerak-gerik tubuh gadis tersebut, Tyrion menduga gadis itu adalah seorang petarung.


"Perkenalkan nama saya Seifer. Senang berkenalan dengan anda, tuan Tyrion" pria Seithr itu memperkenalkan diri.


"Sama-sama, tuan Seifer. Saya juga senang bisa berkenalan dengan anda" Tyrion menjawab.


Dan setelah itu Seifer mempersilahkan Tyrion untuk duduk di salah satu dari empat kursi sederhana yang sengaja disiapkan ditempat tersebut. Mengelilingi sebuah meja kayu yang juga sama sederhananya.


"Kita langsung saja, tuan Tyrion. Jadi bagaimana? Apa anda membawa pusaka itu?" Seifer terlihat tidak sabar meski mencoba untuk tetap berlaku sopan.


"Tenang saja, tuan Seithr. Saya membawanya" Tyrion mulai membuka tas kecil yang sedari tadi berada dalam genggamannya.


Sebuah tabung besi seukuran lengan pria dewasa dengan panjang kurang dari dua kali telapak tangan. Memiliki motif bunga berwarna emas, serta beberapa tatahan permata kecil berwarna merah ruby.


Tabung itu biasa dikenal sebagai wadah sebuah gulungan kertas. Dan menilai dari bentuk tabungnya, membuat apapun isi gulungan yang berada di dalamnya, setara dengan pusaka sebuah bangsa.


"Anda benar-benar luar biasa, tuan Tyrion" tampak wajah Seifer begitu gembira saat melihat tabung mewah tersebut diatas meja. Seifer terlihat ingin sekali menyentuhnya, meski ia mencoba untuk menahan.


"Tidak terlalu susah mengambilnya dari ruang harta kota Nezarad. Ruangan tersebut nyaris tidak memiliki penjaga. Karena hanya gulungan dan kitab saja yang ada ditempat itu" ucap Tyrion dengan sedikit bangga. "Tapi kalau boleh tau, apa sebenarnya yang anda cari dari gulungan ini?" Tanyanya kemudian.


"Anda tidak perlu menguatirkan hal tersebut, tuan Tyrion" Seifer segera menjawab. "Setelah kami berhasil mengambil alih kerajaan Elbrasta, anda akan memiliki kekuatan untuk membalaskan dendam anda kepada tanah mati itu" tambahnya kemudian dengan senyum yang terlihat nyaris bagai seringai.


"Saya akan menantikan saat-saat itu" tak ubahnya Seifer, Tyrion juga memasang senyum seringai nya, saat ia membayangkan hal tersebut terjadi.


-

__ADS_1


__ADS_2