Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
23. Presentasi : Penutupan


__ADS_3

Nata mengisi bola besi itu dengan dua cairan berbeda di kedua katup yang berada di sisi kiri dan kanan bola tersebut. Kemudian ia mengambil lampu minyak yang menyala, dan memasukan sumbu api lampu minyak yang terbakar tersebut kedalam salah satu dari katup dari bola besi tersebut. Lalu setelahnya menutup rapat pintu katupnya.


Dari dalam bola besi itu kini mulai terdengar seperti suara air yang sedang mendidih, bergemuruh pelan saat didekati. Lalu tak berapa lama kemudian dari sisi belakang kubus dibawah bola tersebut, seperti katup ketel air mulai membuka menutup dengan mengeluarkan bunyi-bunyian yang aneh. Seperti dentang sebuah logam berbaur dengan suara jeritan melengking seekor hewan.


Tampak semua orang yang melihat hal tersebut terkejut, lebih-lebih saat terlihat seperti roda gerigi kecil diantara empat rodanya itu mulai bergerak. Dan tak lama kemudian kubus beroda itu mulai maju diatas kerangka jembatan tersebut, berjalan dengan kecepatan tetap menyeberangi ruangan.


Bahkan Lucia, Jean, dan Cornelius pun ikut terkejut melihat nya.


"Apa itu sihir?" Tanya Amithy kepada Parpera di sebelahnya.


"Bukan nyonya, saya tidak melihat adanya aliran Jiwa dari benda tersebut" jawab Parpera setelah benar-benar memastikan kearah benda beroda milik Nata itu.


"Bagaimana alat itu berjalan? Cairan apa yang tadi anda masukan?" Tanya Madron tampak nyaris kehilangan akal.


"Pada dasarnya alat ini menggunakan tenaga uap untuk berjalan. Secara makanisme akan sangat rumit untuk dipahami, tapi untuk sederhanannya alat ini berjalan dengan bantuan air dan api" jawab Nata kemudian.


"Air dan Api?" terdengar pertanyaan lebih tidak paham dari orang-orang yang ada ditempat itu.


"Benar, kurang lebihnya seperti itu. Cairan yang tadi saya masukan adalah air dan minyak. Tapi itu hanya karena alat ini begitu kecil hingga kita tidak bisa menggunakan kayu untuk menciptakan panas yang mampu mendidihkan air. Nanti dalam bentuk akhirnya, alat ini akan sebesar kereta kuda atau lebih. Jadi jangan kuatir untuk biaya minyak yang mahal, karena kita bisa menggunakan kayu bakar yang lebih murah" Nata menjelaskan.


"Jadi kereta itu bisa bergerak dengan sendirinya tanpa ditarik atau di dorong?" Dirk bertanya memastikan. Pikirannya sebagai seorang pedagang sudah mulai liar membayangkan hal apa saja yang bisa dilakukan oleh alat tersebut, dan dampak apa saja yang akan mempengaruhi sektor perdagangan pada umumnya.

__ADS_1


"Benar tuan Dirik. Kita hanya perlu air dan kayu bakar untuk menjalankannya" jawab Nata yang siap untuk memulai penjelasannya lagi mengenai penawarannya.


"Jadi dengan adanya alat ini, yang bahkan bisa kita gunakan untuk mengangkut kereta kuda, sudah dapat dipastikan jalur perdagangan akan berada di tanah Pharos. Disamping para pedagang bisa mengistirahatkan kuda-kuda mereka saat melewati tanah tersebut, juga saya berani jamin kereta uap ini akan memakan waktu lebih cepat dari pada penyeberangan menggunakan kapal laut" Nata berjalan menyeberangi ruangan menuju ke arah miniatur kereta uapnya yang kini sudah berhenti diujung ruangan.


"Ditambah lagi bila kita membuat banyak kereta yang disambung berjajar dibelakangnya, kita bisa mengangkut seberapa banyak pun orang atau benda dalam sekali jalan. Dan kita bisa melakukan penyeberangan sebanyak yang kita mau. Hal itu tidak akan jadi masalah karena alat ini tidak terpengaruh oleh cuaca, tidak ditarik oleh kuda, juga tidak membutuhkan banyak orang untuk menjalankannya" Nata kembali ke posisinya semula setelah mengambil miniatur kereta uap itu. Semua mata mengikuti gerak tubuhnya.


"Lalu dengan menghitung dari semua biaya yang dikeluarkan, maka upah sewanya pun akan jauh lebih murah dari pada kapal laut. Jelas sarana ini akan jadi pilihan paling masuk akal untuk para pedagang" Nata menjedah lagi untuk meneguk minuman diatas meja disebelahnya.


"Nah, setelah melihat dan mendengar penjelasan dari saya tadi, bagaimana keputusan anda sekalian? Apakah anda masih ragu? Ataukah anda sudah menentukan akan membantu kami dengan memberikan pinjaman berbunga atau melakukan perjanjian dagang?" Tanya Nata menutup penjelasannya.


Setelah mendengar pertanyaan Nata, segera ruangan menjadi riuh oleh semua orang yang berbicara secara bersamaan.


-


Kini hanya ada Nata, Lucia, Jean, Cornelius, dan Caspian saja diruangan tengah itu. Hasil dari pertemuan tadi adalah semua bangsawan yang hadir setuju untuk memberikan bantuan. Namun untuk bentuk imbalannya, mereka akan tentukan setelah melihat seperti apa kereta uap itu dalam bentuk nyatanya.


Hal ini membuat Lucia sangat gembira hingga tidak henti-hentinya tersenyum.


"Caspian punya teman seorang pedagang di kota Zeraza" jawab Lucia yang melimpahkan ke Caspian.


"Sebenarnya dia bukan hanya seorang pedagang biasa, dia juga pedagang informasi. Kurasa dia adalah orang yang cocok untuk pekerjaan itu. Hanya saja dia mata duitan. Dia akan meminta bayaran yang mahal, apa lagi bila ia tahu kau seorang putri" jawab Caspian menjelaskan.

__ADS_1


"Apakah teman anda sangat menghargai sebuah informasi tuan Caspian?" Nata bertanya.


"Oh, sangat menghargai. Baginya informasi itu adalah ladang uang" jawab Caspian dengan nada yakin dan terdengar seperti mencemooh temanya itu.


"Kalau begitu tidak perlu kuatir, saya punya imbalan yang paling pas untuknya" jawab Nata kemudian seraya tersenyum. Melihat senyum Nata yang penuh dengan rasa percaya diri itu membuat Lucia semakin tidak bisa berhenti untuk tersenyum.


-


"Apa tadi presentasi mu berjalan lancar Nat?" Tanya Aksa malam harinya saat mereka sedang makan malam bersama.


"Sukses besar" jawab Nata sambil tetap melahap makanannya.


"Jadi kita akan berangkat ke Zeraza besok lusa setelah perbekalan kita sudah siap. Butuh waktu tiga hari untuk sampai ke kota tersebut dari kotaraja" ucap Lucia kemudian.


"Aku ingin berkeliling kotaraja ini, besok" saut Nata.


"Berarti aku masih punya kesempatan lagi untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan istana" ujar Aksa yang terdengar sangat riang.


"Sebenarnya apa nikmatnya membaca tulisan dalam gulungan dan kitab-kitab tersebut?" Terdengar celetukan Jean.


"Karena itu semua adalah informasi Jean, dan informasi adalah kekuatan. Kau tau tidak kalau di kotaraja ini ada festival untuk mencari jodoh tiap setengah tahun sekali? Dan setiap memasuki usia tujuh belas putra dan putri bangsawan mengadakan pesta untuk mencari tunangan?" Aksa tampak terlihat bersemangat memberi tahukan kepada Jean apa yang baru saja ia baca tadi siang.

__ADS_1


"Terserahlah" Balas Jean acuh, ia menyesal sudah memulai pembicaraan dengan Aksa.


-


__ADS_2