Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
25.5. Lugwin Story : Perpecahan Dimulai


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu. Lugwin kini tinggal dirumah salah satu keluarga cabang dari keluarga kerajaan yang ada di pinggiran wilayah timur. Di kota Yahld. Diutara desa Helrd. Di kediaman keluarga bangsawan Salton. Kakak sepupu dari ayahnya.


"Kedua Dux itu semakin menjadi-jadi sekarang. Mereka bahkan mulai tidak segan-segan menduduki kota-kota diluar wilayah pusat." Ujar seorang pria Narva dengan potongan rambut pendek belah tengah yang berwajah lesu, saat sedang menikmati teh di sebuah taman di kediamannya bersama Lugwin dan seorang pria Morra.


"Apa mereka boleh melakukan hal seperti itu paman Eldmo?" Tanya Lugwin kemudian.


"Itu karena mereka keluarga-keluarga besar dan berpengaruh tuan putri" kali ini pria Morra setengah baya yang duduk dihadapan Lugwin itu yang berbicara.


"Setidaknya harus ada seseorang yang memberi tahukan ke mereka tuan Brian. Bahwa rakyat yang sedang menjadi korban sekarang" ucap Lugwin kemudian.


"Bila sudah seperti ini tidak ada seorang pun yang akan mereka dengar, Lug" jawab Eldmo.


"Tapi apakah kita akan baik-baik saja paman?"


"Cepat atau lambat mereka pasti akan bergerak kemari, ke wilayah sisi timur ini. Dan sampai hal itu terjadi, yang perlu kita lakukan adalah cukup dengan bersikap mau bekerja sama dan menuruti apa yang diperintahkan oleh mereka. Dan sebisa mungkin menghindari pertempuran"


"Ya, kuharap daerah sisi timur ini selalu aman dan terhindar dari medan pertempuran" kali ini Brian yang menambahi.


"Tapi itu saja tidak lah cukup paman, kita perlu melakukan sesuatu untuk menghentikan perang konyol ini"


"Aku tahu apa yang kau rasakan Lug, tapi itu diluar kemampuan kita"


"Harusnya mereka mencari tahu siapa yang melakukan peracuanan pada yang mulia raja, bukan malah menyebabkan kekacauan yang meresahkan dan menyengsarakan rakyat seperti sekarang"


"Itu karena kedua Dux itu saling menyalahkan dan menuduh satu sama lain. Dux Laurant yakin bahwa Dux Vincent lah pembunuh yang mulia, begitu pula sebaliknya" jelas Eldmo kemudian.


"Ada sejarah panjang tentang pertikaian keluarga mereka berdua" kali ini Brian yang ikut bicara.


"Tapi rakyat yang sudah kehilangan raja nya kini harus kehilangan kedamaian di tanahnya sendiri" ujar Lugwin.


"Masalah ini bukan untuk dipikir oleh gadis berusia 18 tahun. Sudah lupakan hal itu" jawab Eldmo, sementara Lugwin tampak terdiam masih memegang gelas tehnya. Melihat hal tersebut ia mulai bertanya lagi merubah topik pembicaraan. "Jadi apakah hari ini kau jadi menuju ke kotaraja untuk bertemu Matiu?"


"Iya, setelah ini saya akan bersiap untuk berangkat" jawab Lugwin kemudian dengan wajah yang kembali cerah.

__ADS_1


"Berhati-hati lah di jalan tuan putri" ujar Brian kemudian.


-


"Lug, menyibukan diri memang salah satu cara untuk melupakan sesuatu. Tapi jangan sampai kau memaksakan diri" ucap seorang wanita Narva dengan paras keibuan yang hangat dan rambut yang disanggul elegan itu seraya membantu Lugwin bersiap-siap di depan kereta.


"Saya paham bibi" jawab Lugwin yang tampak sudah siap untuk berangkat.


"Kau harus bisa berdamai dengan dirimu sendiri, anak ku" ucap wanita yang disebut bibi oleh Lugwin itu sambil menatap kereta kuda itu berjalan menjauh.


-


Sesampainya Lugwin di kediaman Matiu, di kotaraja sudah nyaris tengah malam. Tampak beberapa orang menyambut kedatangan Lugwin di depan gerbang masuk.


Tampak wajah Matiu terlihat kuatir saat mendapati Lugwin masuk dari pintu depan, "Akhirnya anda datang juga putri" ujarnya kemudian.


"Tadi ada beberapa prajurit bayaran yang menghadang kereta kuda ku" jelas Lugwin seraya melepas mantelnya.


"Iya aku baik-baik saja. Untung aku ditolong oleh rombongan Lucia yang hendak ke utara"


"Dan siapa Lucia itu?"


"Lucia, putri Elbrasta" Lugwin duduk di salah satu kursi mewah yang ada di ruang tamu itu berhadapan dengan Matiu.


"Eh, kenapa putri mahkota Elbrasta ada di wilayah Estrinx?"


"Mungkin mereka akan berziarah, karena menurut Lucia ia ingin bertemu dengan sang Oracle" jawab Lugwin sambil menerima segelas teh madu dari pelayan.


"Kenapa ada prajurit bayaran yang hendak mencelakai anda? Apakah anda yakin mereka bukan sekedar bandit biasa?"


"Mereka tidak mengambil barang berharga yang ada di dalam kereta dan mereka berniat membawaku ke seseorang"


"Apakah mereka menyebutkan nama penyewa mereka?"

__ADS_1


"Sayang nya tidak" jawab Lugwin, kemudian setelah meneguk teh madu hangat itu ia kembali berucap, "terlebih dari itu, bagaimana hasilnya paman?"


Matiu tampak lesu mendengar pertanyaan dari Lugwin, "Mereka tidak ingin bertemu dengan anda putri. Meski anda adalah seorang Arcdux, tapi menurut keluarga Albern, posisi kedudukan keluarga mereka lebih tinggi dari anda, karena Dux Laurent adalah menantu sang raja"


"Ini bukan masalah status, ini tentang rakyat kecil yang kesusahan"


"Saya paham betul tentang kepedulian anda putri, tapi dua keluarga itu memiliki kekuatan yang bahkan aturan kerajaan saja tidak akan mereka tanggapi" jelas Matiu, "Terlebih Dux Laurent, ia mengambil alih istana dan memberhentikan semua pejabat raja Estros yang tidak ingin melayaninya" lanjutnya kemudian.


"Bukankah ini namanya pembrontakan?"


"Dux Laurent mengatas nama kan tindakannya ini sebagai tindakan penanganan darurat terhadap ancaman kerajaan"


"Dan ancaman itu adalah keluarga Raye?" Lugwin menebak.


"Benar"


"Jadi siapa dari mereka yang berkata benar, paman?"


"Kedua Dux itu tidak ada yang benar putri"


"Apakah ada cara lain lagi untuk berbicara dengan mereka?"


"Saya rasa bila pun kita berhasil berbicara dengan mereka, pasti mereka juga tidak akan mendengarkan perkataan kita tuan putri" jawab Matiu yang membuat Lugwin semakin resah.


"Apa kita tidak punya kenalan yang memiliki kekuatan untuk membantu kita paman?"


"Sayang nya dari keluarga inti hanya anda saja yang paling tua saat ini tuan putri"


Terlihat wajah sedih dan pasrah dari Lugwin seraya bergumam pelan, "Bila ini berlangsung lebih lama, pasti akan lebih banyak rakyat yang menjadi korban" ucapnya kemudian.


"Kita akan mencoba yang terbaik putri, sekarang lebih baik anda beristirahatlah terlebih dahulu" ujar Matiu kemudian.


-

__ADS_1


__ADS_2