
Dua hari kemudian rombongan Nata tiba di kota Esta. Kota yang tidak terlalu besar di pinggiran wilayah timur kerajaan Elbrasta. Kota itu tak beda jauh dengan kota Albas. Rombongan mereka segera mencari Atelir milik kelompok Bintang Timur, begitu sudah memasuki kota.
Tidak susah untuk menemukan Atelir tersebut, dan tanpa menunggu lebih lama lagi rombongan Nata segera masuk dan meminta untuk bertemu dengan Haldin. Sang pemimpin.
"Kami kemari diutus oleh Couran" ucap Nata saat mereka sudah memasuki pekarangan Atelir tersebut dan bertemu dengan seorang pria Morra seumuran Couran namun terlihat lebih kurus dan postur tubuh membungkuk, yang tampak baru saja keluar dari salah satu bangunan yang ada disekitar pekarangan tersebut.
Tampak para pengerajin yang sedang bekerja di sekitaran tempat itu berhenti karena penasaran dengan 3 pemuda Morra dan seorang Elf yang datang untuk menemui ketua mereka.
"Oh, jadi kau yang di bicarakan di surat-surat Couran. Tak kusangka kau lebih muda dari dugaanku" ucap pria yang sebelumnya sudah diperkenalkan oleh salah satu pengerajin di Atelir itu sebagai Haldin.
"Nama saya Nata. Yang ini Val, Deuxter, dan Huebert" Nata memperkenalkan diri dan teman-temannya yang lain.
"Apa benar kau yang menggambar rancangan alat ini?" Tanya Haldin seraya menunjukan sebuah gulungan yang ia bawa yang berisi rancangan kincir air yang digambar Aksa untuk Couran.
"Teman saya yang menggambar, tapi benar saya yang merancang nya" jawab Nata kemudian.
"Menarik. Beberapa hari yang lalu Couran mengirimi ku gulungan ini dan surat yang menjelaskan bahwa kalian butuh bantuan ku"
"Benar. Kami butuh pengerajin besi untuk memenuhi kebutuhan sarana di kota yang akan kami bangun"
"Mendengar tentang membangun kota di tanah mati saja sudah terlihat tidak meyakinkan, lalu apa keuntungan yang ku dapat dengan membantu kalian? Aku hampir yakin bahkan kalian tidak akan punya uang untuk membeli material"
"Benar tuan Haldin. Kami tidak memiliki uang sampai kota yang akan kami bangun bisa mandiri. Tapi kami tidak akan meminta bantuan tanpa imbalan. Sebagai gantinya kami akan menawarkan kerjasama. Kami berniat akan menyewakan peralatan yang akan kelompok anda buat. Dan dari setiap hasil yang didapat maka anda akan mendapat bagian" Nata mengajukan penawaran.
"Hm, bila tidak menghasilkan? Berati itu sama saja dengan kami tidak dibayar"
"Di samping itu kami juga akan berikan semua rancangan setiap benda yang akan kami minta buatkan ke anda. Dengan begitu anda bisa memproduksinya sendiri dan menjualnya dipasaran sebagai hak milik anda tanpa harus membagi hasil dengan kami" Nata masih mencoba untuk memberi penawaran terbaiknya.
"Hanya rancangan? Apa untungnya bila kami menjual barang-barang rancangan mu?"
"Mungkin sekarang tuan Haldin belum melihat guna dari barang-barang yang akan kami buat. Tapi sebagai contoh tuan bisa melihat benda ini" Nata mengeluarkan tabung besi dengan tampak batang besi lagi diantaranya. Itu adalah alat yang Val buat saat berada di kota Albas. Namun kini Nata sudah menyempurnakannya.
"Apa itu? Alat untuk memasang sepatu kuda? Kami sudah punya yang serupa disini" ucap Haldin saat melihat dua tonggak besi pada alat tersebut, yang satunya tampak berdiri tegak dan yang lain terlihat miring beberapa sudut kebawah. Mengingatkannya akan alat untuk memasang tapal besi kuda.
__ADS_1
"Bukan, ini bukan alat pemasang sepatu kuda tuan. Ini adalah alat yang bisa mempermudahkan kita mengangkat benda berat"
"Membantu mengangkat benda berat?"
"Saya akan peragakan"
"Sebagai contoh kereta kuda ini. Bila hendak memasang rodanya berarti kereta harus dibalik kan?"
Haldin mengangguk kecil.
"Dan anda perlu waktu dan pekerja setidaknya dua orang atau mungkin lebih untuk membaliknya kan?"
"Kami memerlukan empat orang tergantung dari ukuran kereta"
Kemudian Nata meletakan alat itu dibawah kereta kudanya, tepat ditengah-tengah, lalu memasang tiang besi hingga menyentuh kolong keretanya. Setelah itu dia memasang pengungkit, dan mulai menggerakan pengungkit tersebut seperti sedang menimba.
Para pengerajin segera berkumpul untuk melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan tamu mereka.
"Bila alat ini dibuat sedikit lebih besar dengan besi penyangga yang lebih tinggi dan kokoh. Kereta ini bisa diangkat setinggi pria dewasa. Yang mana akan memudahkan kita untuk memasang rodanya. Dan yang seperti kalian lihat, cukup 1 orang untuk menggunakan alat ini. Pikirkan efisiensi waktu dan upah tenaga kerjanya"
Haldin tampak tak menghiraukan ucapan Nata barusan. Dia masih terperanga kaget melihat alat yang tak lebih dari panjang lengan pria dewasa itu bisa mengangkat sebuah kereta kuda yang terisi barang-barang.
"Apa rahasia yang kau gunakan untuk membuatnya mampu mengangkat beban seberat itu?"
"Air"
"Air?"
"Lebih tepatnya tekanan benda cair"
"Maksudmu di dalam alat itu hanya diisi air dan mampu menahan berat kereta?"
"Ya kurang lebih" ucap Nata seraya memberikan sebuah gulungan berisi gambar rancangan alat tersebut kepada Haldin.
__ADS_1
Melihatnya Haldin terlihat terkejut. "Kau sebut apa alat ini?"
"Dongkrak Hidrolik"
"Dan apa alat ini yang akan kau minta untuk kami buatkan?"
"Bukan. Tapi yang ini" ucap Nata seraya menyerahkan gulungan lain ke Haldin.
"Apa ini?!" Terdengar Haldin tak dapat menahan rasa keterkejutannya. "Apa ini adalah pengubahan tenaga panas menjadi tenaga gerak?" Tambahnya kemudian dengan pupil mata yang masih bergerak liar menjelajah gambar rancangan dalam gulungan tersebut.
"Wah, tuan Haldin bisa tau dengan hanya sekali lihat. Luar biasa. Benar itu disebut mesin uap. Kita bisa menggunakan arang atau air sebagai bahan pembakarannya. Dan karena di buat sekecil mungkin. Jadi bisa dengan mudah di pasang pada sebuah kereta"
"Dan membuat kereta bisa bergerak tanpa ditarik oleh kuda?"
Sebegitu mendengar ucapan Haldin, semua orang yang ada disitu langsung kembali riuh.
"Jadi bagaimana tuan Haldin? Apakah serikat pengerajin Bintang Timur menerima tawaran kami?"
Hilda hanya mengangguk masih memandang gulungan ditangannya tanpa menatap kearah Nata. Hal ini mengingatkannya pada reaksi yang dikeluarkan oleh Couran saat melihat rancangan katrol dan pengungkit sederhana untuk pertama kalinya.
"Bagaimana kau membuat cetakan besi berbentuk tabung secara pas hingga air tidak merembes keluar dari alat ini?" Tanya Haldin sambil mengamati dongkrak hirolik tersebut.
"Itu karena pria Realn ini yang membuatkannya pas dan sempurna. Juga karena saya memakai serabut kelapa yang dibalut dengan kapas dan dilumuri minyak sayur, sebagai penjaga agar cairan tidak merembes keluar dan kehilangan tekanan"
"Kau hanya menggunakan bahan-bahan itu?"
"Benar"
"Lalu akan kau buat apa benda yang kau sebut mesin uap itu di tanah yang dipenuhi jurang dan tebing itu?"
"Pada dasarnya mesin uap itu tidak hanya bisa digunakan untuk mengerakan kereta tanpa kuda. Tapi bisa untuk mengerakan segala hal. Saya berencana menggunakannya untuk membuat jalan, membangun jembatan, menggali bukit, dan lain sebagainya"
"Begitukan? Menarik sekali" Haldin menggaruk-garuk jenggotnya yang jarang dan sudah mulai beruban.
__ADS_1