Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
26.5. -Pelarian-


__ADS_3

Di perbatasan lembah Kabut di tenggara kotaraja, terlihat beberapa orang sedang berlari dengan terburu-buru.


Meski hari belum benar-benar beranjak malam, namun wilayah itu sudah cukup gelap. Hingga orang-orang itu harus menggunakan obor untuk penerangan jalan mereka.


Suara berisik dari beberapa plat besi pelindung yang bergesekan, terdengar menggema menembus keheningan lembah tersebut. Beradu kencang dengan suara engahan nafas orang-orang tadi.


Tampak sebagian besar dari mereka adalah ksatria yang lengkap dengan senjata dan pelindung tubuh.


Sedang sisanya adalah empat orang perempuan. Yang bila dilihat dari pakaian mereka, tiga diantaranya tampak seperti seorang pelayan, sedang yang satu lagi tampak seperti seorang bangsawan.


Lalu juga ada dua orang anak kecil bersama mereka. Yang dalam gendongan salah satu pelayan, masih terlalu muda untuk dapat berlari mengimbangi orang dewasa. Namun yang satu lagi tampak sudah cukup dewasa untuk berlari sendiri bersama yang lain.


Tubuh mereka yang terlihat basah oleh peluh dan embun itu, menunjukan bahwa mereka sudah cukup lama berlari di wilayah lembah kabut tersebut.


Namun meskipun begitu, kecepatan mereka tidak lebih baik dibanding saat mereka sedang berjalan. Karena semak belukar, akar pepohonan yang menonjol keluar, serta permukaan tanah yang licin dan tidak rata, membuat mereka harus berkali-kali berhenti karena satu atau dua orang yang terjatuh. Terutama yang perempuan bangsawan dan anak kecil.


-


"Apa anda baik-baik saja, ratu" Tanya seorang ksatria Narva dengan rambut yang telihat acak-acakan dan kening yang basah penuh keringat.


"Iya, aku baik-baik saja, Nash" seorang perempuan Narva setengah baya yang mengenakan pakaian mewah para bangsawan berucap seraya mengatur nafas. Wajahnya juga basah penuh peluh.


"Sepertinya kita sudah cukup jauh dari mereka" Seorang ksatria Narva yang lain berucap. badan nya terlihat kekar berotot.


"Mungkin mereka sudah kehilangan jejak kita" kali ini ksatria Narva dengan pelindung kepala yang berucap.


"Aku sangsi akan hal tersebut. Mereka ksatria Voryn. Mereka terkenal handal mencari jejak dan berburu" ksatria berotot tadi menjawab.


Terlihat ada sikap tidak nyaman yang ditunjukan oleh para perempuan saat mendengarkan ucapan ksatria itu.

__ADS_1


"Kemarilah" ksatria berpelindung kepala tadi mengajak ksatria berotot menjauh, setelah menyadari sikap tersebut.


Kemudian dua ksatria tadi tampak melanjutkan pembicaraan mereka menjauh dari yang lain. Untuk menghindari wanita yang dipanggil ratu tadi merasa lebih kuatir mendengar percakapan mereka.


"Apa anda baik-baik saja, tuan Alexander?" Ksatria yang dipanggil Nash tadi bertanya kepada seorang bocah laki-laki berumur 14 tahun, yang duduk di sebelah wanita baya bangsawan tadi. Untuk mengalihkan perhatian yang lain dari tema pembicaraan dua ksatria yang cukup meresahkan itu tadi.


"Aku baik-baik saja" jawab bocah laki-laki bernama Alexander itu terlihat masih mengatur nafas. "Aku masih kuat untuk melanjutkan perjalanan" lanjutnya lagi. Wajahnya terlihat pe uh dengan keringat dan sedikit terlihat pucat.


"Anda memang seorang laki-laki yang tangguh, tuan Alexander" Nash membalas dengan pujian.


"Bunda juga merasa bangga dengan mu, Al. Kau seorang pria yang tangguh" wanita baya yang disebut sebagai ratu tadi ikut menambahi, seraya mengusap kepala bocah laki-laki itu dengan lembut.


"Lalu bagaimana dengan keadaan, tuan Eden?" Nash bertanya lagi. Kali ini tentang anak kecil yang berada dalam gendongan salah satu dari pelayan.


"Apa demamnya sudah turun, Rachel?" Sang ratu ikut bertanya untuk memastikan.


"Tuan Eden sedang tidur, ratu. Namun demamnya belum turun juga hingga saat ini" seorang gadis berambut sebahu yang di kuncir kebelakang itu menjawab. Tampak sedang mendekap seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dengan erat. Seolah mencoba menjauhkan hawa dingin yang ada di sekitar tempat itu dari anak laki-laki tersebut.


"Jangan kuatir, ratu. Kita pasti akan tiba tepat waktu" Nash terdengar mencoba menghibur dan memberi harapan kepada sang ratu.


"Lalu bagaimana dengan Grevier? Apa kalian mengetahui kabarnya?" Sang ratu terlihat masih gelisah.


"Maafkan kami, ratu. Sampai saat ini kami belum mendengar kabar apapun tentang tuan Grevier" Nash menjawab dengan lesu.


"Semoga dia baik-baik saja. Semoga para dewa melindunginya" doa sang ratu.


"Kami semua berharap seperti itu, ratu" Nash menambahi saat tiba-tiba terlihat pendaran cahaya kuning diantara kabut dari arah belakang mereka. Yang kemudian disusul dengan suara-suara berisik orang berteriak.


"Oh, sial. Mereka masih belum menyerah juga" ucap salah satu dari ksatria yang berada tak jauh di belakang Nash.

__ADS_1


"Apa mereka membawa hewan pelacak? Bisa-bisanya mereka menemukan jejak kita di lembah kabut ini" ksatria berpelindung kepala tadi berucap.


"Entahlah, tapi sekarang mau tidak mau, kita harus mulai bergerak lagi" ucap Nash setelah ia mendekat dengan kumpulan ksatria yang lain.


"Benar. Tapi percumah bila kita terus melakukan pelarian dengan cara seperti ini. Cepat atau lambat mereka pasti akan mengejar kita" kali ini ksatria lain dengan sebuah tameng besi kecil terpasang di lengan tangan kirinya, yang berucap. "Hanya tinggal menunggu waktu hingga stamina yang lain habis saja, dan mereka pasti akan menangkap kita" imbuhnya kemudian.


"Apa anda memiliki rencana, kapten?" Nash bertanya kepada ksatria bertameng itu.


"Aku punya. Satu-satunya cara untuk terlepas dari kejaran pasukan Voryn itu, kita harus membagi menjadi dua kelompok" jawab ksatria yang di panggil kapten oleh Nash itu. "Kau, bersama dengan Rob, bawa yang mulia ratu ke selatan. Sementara aku dan yang lain akan mengecoh mereka ke arah yang berlawanan" jelasnya kemudian.


"Tapi, kapten..." terlihat Nash sedikit kuatir dengan rencana tersebut. Karena menurutnya, akan lebih baik bila mereka tetap bersama agar dapat menghadapi prajurit Voryn, bila mereka terkejar.


"Sudah tidak ada waktu lagi, Nash" sang kapten berucap. Yang kemudian berjalan mendekati sang ratu.


"Yang mulia ratu, kali ini anda dan yang lain hanya akan di dampingi oleh Nash dan Rob, untuk melanjutkan perjalanan menuju selatan" Sang kapten tampak menunduk hormat dihadapan sang ratu. "Sementara saya dan yang lain akan melakukan pengecobah terhadap mereka ke arah yang lain" ucapnya kemudian.


"Tapi mereka banyak, dan kalian hanya berlima saja, kapten?" Terdengar sang ratu bertanya kuatir.


"Anda tidak perlu kuatir, ratu. Kami tidak akan melawan mereka. Kami hanya akan memancing mereka saja. Kami juga tetap akan melarikan diri" sang kapten menjelaskan untuk menenangkan sang ratu. "Jadi setelah ini, anda dan rombongan akan di dampingi oleh Nash untuk menuju ke selatan" imbuhnya lagi.


"Baiklah, kapten. Jaga diri kalian baik-baik. Dewa menyertai kalian" sang ratu berucap mendoakan.


"Terima kasih, ratu. Dan Nash, lindungi yang mulia ratu, tuan Alexander, dan tuan Eden. Pastikan mereka tiba di tempat putri Lucia dengan selamat" ucap sang kapten yang tampak sudah bersiap.


"Siap. Saya mengerti, kapten" Nash menjawab cepat dan tegas.


"Baiklah kalau begitu. Ayo segera bergerak!" perintah sang kapten yang langsung di tanggapi oleh yang lain dengan mulai bergerak berpencar.


Lima orang ksatria tampak berlari menuju ke timur dengan sengaja membuat gaduh dan menarik perhatian.

__ADS_1


Sementara dua ksatria lainnya bersama para perempuan dan anak-anak, melanjutkan perjalanan mereka menuju ke hutan di selatan.


-


__ADS_2