Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
10. Misi Membawa Air II


__ADS_3

Sementara Aksa mengerjakan pipa air ke bawah, ke sisi luar tebing, mereka yang sedang melakukan pengerukan mulai memasang tiang-tiang besi disisi luar tebing sebagai pondasi. Dan selesai ketika hari mulai beranjak sore.


Tiang besi itu terpasang melengkung berbentuk seperti setengah cawan berbanding lurus dengan cerukan di dinding tebing tersebut. Dua bentuk itu saling melengkapi yang menghasilkan bentuk seperti sebuah cawan utuh melonjong kebawah sedalam 30 kali orang dewasa, atau kurang lebih 2 kali tinggi tembok kotaraja Elbrasta. Dan lebar permukaannya setara dengan 20 kereta kuda yang kemudian semakin mengerucut sempit kebawah.


-


Sehari kemudian para pekerja mulai memasang besi tipis panjang diantara tiang besi tersebut. Kemudian mengisinya dengan pecahan batu yang ukurannya sebesar genggaman tangan, kemudian menguyurnya dengan seperti lumpur hasil percampuran dari air, tanah liat yang terbuat dari pasir vulkanik, dan batu kapur yang sudah dihaluskan. Mereka menggunakan katrol untuk menaikan wadah lumpur berwarna abu gelap yang disebut oleh Aksa dengan 'beton' itu, dari bawah.


Setelahnya penyihir api mulai membakar permukaannya supaya cepat mengering, dan kemudian penyihir tanah melapisi pondasi disisi dalamnya dengan tanah dan memadatkanya agar besi dan beton tersebut tidak bersentuhan langsung dengan air saat nanti waduk itu mulai diisi.


-


Sehari kemudian Aksa menempatkan sebuah roda kincir didepan sebuah pintu air yang dibuat depan atas pondasi waduk tersebut.


"Roda kincir itu untuk apa Aks?" Tanya Couran saat setelah roda kincir itu selesai di pasang.


"Saat ini sih agar keliatan menarik saja, tapi nantinya kincir itu bisa berguna untuk banyak hal. Untuk tenaga penerangan waduk ini, untuk mengukur debit air, dan lain sebagainya" jawab Aksa dengan santai.


-


Setelah dua hari melakukan pembakaran beton dan pelapisan dinding beton tersebut dengan tanah, Aksa mulai menjalankan tahap selanjutnya.


Aksa kembali naik ke tingkatan ketiga untuk mulai menarik air dari sungai. Sementara sisa pekerja sudah mulai menggali sebuah kolam tepat dibawah waduk itu dibuat. Kolam itu sedalam tiga orang dewasa, dan selebar dua puluh kereta kuda dijajar.


"Lalu bagaimana cara untuk menarik air itu naik keatas sini?" Couran tampak berdiri didepan sebuah pipa air yang lubangnya mengarah kedepan. Menunggu jawaban dari Aksa.


"Jadi saat pertama kali kita buat, kita memasang balok kayu kedalam pipa. Balok itu memiliki ukuran yang sama besar dengan lubang pipa. Lalu pasang tali di belakangnya" Aksa mulai menjelaskan seraya menggenggam sebuah tali yang ujungnya ada didalam pipa air tersebut.


"Kemudian rendam mulut pipa yang disumbat balok kayu tadi kedalam air. Setelah itu tarik penyumbat kayu itu ke sisi satunya" tambah Aksa seraya mulai menarik tali tersebut dibantu oleh beberapa penyihir pria.

__ADS_1


"Dan karena sifat benda cair adalah menekan ke segala arah seperti yang kemarin anda sebutkan, ditambah rongga pipa yang kehilangan udara karena gerakan penyumbat yang ditarik ke atas tadi, jadilah air akan terus naik mengikuti penyumbat itu sampai.." ucapan Aksa terhenti saat penyumbat itu terlepas dari pipa, dan tampak air pun juga ikut menyebur dari dalam pipa tersebut.


Couran dibuat terheran-heran melihat apa yang dilakukan oleh Aksa. Itu seperti sebuah sihir.


"Tuan Aksa memancing air seperti sedang memancing ikan" saut salah seorang penyihir yang membantu Aksa menarik penyumbat kayu tadi.


Dan melihat air mulai jatuh ke waduk, para pekerja dan para penyihir segera bersorak kegirangan. Beberapa dari mereka tampak mandi tepat dibawah pipa tersebut, setelah mereka selesai melakukan pekerjaan.


-


Esok paginya mereka melanjutkan memasang pipa besi dari waduk tersebut memanjang di sepanjang bukit itu menuju ke timur kearah lembah Gerbang Utara, seraya menunggu waduk dipenuhi oleh air.


Aksa, Lily, 5 penyihir tanah, dan 15 pekerja mulai membuat jalan di pinggiran bukit setinggi dengan permukaan waduk kearah timur.


Para penyihir tanah bertugas meratakan permukaan lereng bukit tersebut agar muat untuk dipasang sebuah rel kereta kecil.


Diatas rel tersebut terpasang sesuatu yang disebut Aksa dengan 'troli'. Bentuknya seperti gerbong kereta namun lebih kecil dan terdapat sebuah wadah untuk mengangkut barang diatasnya.


Sebenarnya troli ini sudah Aksa gunakan saat ia melakukan penambangan di pesisir timur kemarin. Dan masih digunakan oleh trio pemburu dan bibi mereka.


Mereka menggunakan troli itu untuk mengangkut pipa air yang cukup berat, sebelum kemudian memasangnya di sisi tebing tersebut. Saat malam tiba mereka menggunakan troli tersebut untuk kembali perkemahan mereka di tepian permukaan waduk.


Mereka bermalam ditempat itu. Dan paginya mereka kembali melanjutkannya sampai akhirnya tiba di lembah Gerbang Utara.


-


Sementara itu kolam yang digali dibawah waduk tersebut sudah selesai saat dua hari kemudian pipa yang menuju ke lembah Gerbang Utara pun juga selesai terpasang.


Dan untuk sentuhan akhirnya para penyihir itu menutupi pipa itu dengan tanah menyamarkannya dengan tebing tersebut.

__ADS_1


Pemasangan pipa itu selesai dalam waktu dua minggu, saat air dalam waduk itu sudah mulai penuh.


-


Dan dua hari kemudian pintu pipa air kearah timur tersebut dibuka. Bersamaan dengan itu, air mulai mengalir dalam pipa menuju ke lembah Gerbang Utara.


Pintu air waduk itu pun juga dibuka. Air tampak memutar roda kincir, sebelum kemudian jatuh kebawah seperti sebuah air terjun. Jatuh kedalam kolam buatan dibawahnya.


-


Atas perintah dari Aksa, mereka libur dari pekerjaan selama dua hari. Mereka membuat pesta di perkemahan di tepian waduk tersebut. Menggunakan bahan makanan yang seminggu lalu dikirim dari Perkemahan dengan menggunakan kereta uap. Kini hanya perlu setengah hari perjalanan dari waduk tersebut ke Perkemahan Atas, dengan mengunakan kereta uap.


"Saatnya berenang!" Teriak Aksa seraya melompat kedalam waduk tersebut ditengah hari yang terik saat hari libur mereka.


Tak lama yang lain pun mengikuti Aksa melompat masuk kedalam waduk tersebut.


Couran tampak menghindari cipratan air dari waduk tersebut. Kemudian duduk disebelah Lily menatap puluhan orang berenang bahagia bersama Aksa.


"Benar-benar, bocah itu bahkan membuat sebuah kolam diatas tebing ditengah tanah gersang seperti ini" Couran berucap. Yang hanya ditanggapi Lily dengan terseyum ikut mengamati tingkah Aksa dari jauh.


"Hei, teman-teman! Ingat jangan sampai kencing didalam air" ucap Aksa tiba-tiba, yang langsung ditimpali dengan tawa dari yang lain.


-


Setelah dua hari beristirahat, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Mereka membagi diri menjadi dua kelompok. Yang pertama 15 pekerja, 7 penyihir, dan 4 pengerajin, melanjutkan membuat jalur rel kereta ke arah barat. Juga sekaligus menggali tanah membuat aliran sungai dari kolam buatan yang sudah mulai setengah terisi. Sedang Aksa, Couran, Lily, 5 pekerja dan 6 penyihir sisanya membuat aliran sungai menuju ke arah dinding tebing sisi barat Perkemahan Bawah.


-


Empat hari kemudian galian sungai yang menuju ke timur itu sampai di batas dinding bukit sisi barat Perkemahan Bawah.

__ADS_1


-


__ADS_2