Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
12.5. Antology Story : Wilayah Timur


__ADS_3

"Tak disangka sudah hampir setengah tahun kita di tempat ini" ujar Loujze dari tempatnya duduk di bawah sebuah pohon besar bersulur, tak jauh dari rumah para penambang.


"Aku jadi ingin segera melihat seperti apa kota yang sudah dibangun oleh Aksa dan Nata di wilayah tengah sana" tambahnya kemudian seraya mengupasi kulit buah dengan pisaunya.


"Benar. Aku juga sudah mulai bosan ditempat ini" ujar Deuxter yang sudah siap menyantap buah dalam genggamannya.


"Itu karena wilaya timur dan utara gunung Sekai ini sudah sepenuhnya kita jelajahi" Huebert menambahi. Yang sudah menghabiskan buahnya.


"Berarti, sudah saatnya kita menuju wilayah barat gunung Sekai" ucap Deuxter kemudian menyarankan.


"Tapi kurasa sisi selatan, tempat hutan Sekai itu berada akan lebih menantang untuk di jelajahi. Kemungkinan hewan mistik kelas tiga yang jadi rumor selama ini benar-benar ada disana" ucap Loujze memberi ide.


"Maksudmu Gargantuan?" Tanya Huebert memastikan.


"Iya, benar. Rumornya, ada Gargantuan di hutan Sekai"


"Oh, benar juga" terlihat Deuxter mengangguk kecil sedang menimbang.


"Hei, kalian! Jangan bermalas-malasan seperti itu!" Tiba-tiba terdengar suara perempuan menyela.


Terlihat Go datang dengan wajah yang tampak kumal dan kusam. Bajunya dipenuhi dengan debu dan pasir. Berkacak pinggang menatap ke arah tiga pemuda anak asuhnya tersebut.


"Siapa yang sedang bermalas-malasan, bi? Ini kan memang waktu istirahat kami" terdengar Deuxter mencoba membela diri.


"Sudah, kalian pemuda tidak baik banyak beristirahat. Ayo kemari aku memerlukan bantuan kalian" ujar Go menyanggah ucapan Deuxter.


Ketiga pemburu itu tidak berani menyanggah ucapan bibi mereka. Mereka hanya bisa menekuk wajah dengan kesal, "Iya, baiklah" ucap mereka kemudian mengikuti Go.


Tampak didepan dinding padas tempat mereka mengeruk batu kapur, berdiri rumah-rumah kayu yang terlihat kokoh dan tersusun rapi. Itu adalah tempat tinggal para pekerja tambang. Bukan sebuah tenda, melainkan sebuah rumah dari kayu yang layak huni, lengkap dengan dapur dan kamar mandi. Sedang tak jauh dari dinding padas itu ada tempat seperti kawah kecil untuk menambang mineral kristal Cyla.


Selain dua tadi mereka memiliki satu lagi tempat yang digunakan untuk menambang. Tempatnya di selatan tak jauh dari dinding tebing tersebut. Bekas aliran lahar dingin gunung Sekai yang sangat kaya akan debu dan bebatuan vulkanik.

__ADS_1


Sementara jalan di antara ketiga tempat penambangan tadi dengan area perumahan para penambang, terpasang jalur rel kereta dengan troli berwadah serta troli bertungku lokomotif, yang digunakan sebagai sarana pengangkutan barang.


Sedang diujung timur rel kereta tersebut, terdapat tempat untuk menumpuk mineral hasil galian. Dan dari tempat tersebut material-material itu tadj diangkut menyeberangi laut ke pantai Mado, dan kemudian dibawa menuju tanah Pharos.


"Kita memang hanya ber dua puluh saja, jadi pantas bila kalian sudah mulai bosan" ucap Go yang berjalan di depan tiga pemuda itu melewati tebing batu kapur.


Tampak begitu sibuk. Para penambang terlihat ber lalu-lalang dengan mendorong troli. Beberapa terlihat membawa-bawa palu dan wadah yang terbuat dari rotan. Untuk memastikan adanya mineral baru.


"Untung dengan bantuan alat tersebut dua puluh orang saja sudah cukup untuk mendapatkan banyak material" lanjut Go saat melewati kereta besi yang disebut para pekerja dengan 'Kereta Pengeruk'.


Bentuknya terlihat seperti sebuah kereta besi yang memiliki 3 as roda kecil yang di lingkari dengan sabuk besi, yang membuatnya bisa berjalan dengan mudah di jalur berbatu. Salah satu bentuk lain dari 'roda tank' yang juga terpasang pada alat 'Pengerat Bumi'.


Dibagian belakannya terpasang tungku lokomotif, sebagai sumber tenaga. Sedang sebuah katrol besi terpasang bagian depan kereta besi tersebut. Yang ujung katrolnya memiliki bentuk seperti sendok dari logam. Alat itu digunakan untuk mempermudahkan saat hendak mengeruk pasir atau dinding batu kapur.


Kereta penggaruk tersebut dikirim beberapa saat setelah Aksa meninggalkan pesisir timur, sekitar 3 bulan yang lalu. Dan sekarang para pekerja sudah sangat ahli menggunakannya.


"Dengan adanya alat seperti ini, jumlah penambang pun tidak akan jadi masalah" Go kembali berucap. Tampak ia sangat puas dengan hasil kerja dari alat tersebut.


Tak berapa lama Go dan trio pemhuru berhenti didepan sebuah tebing di samping kawah kecil tempat mereka menambang kristal Cyla.


"Apa bibi meminta kami untuk masuk dan menjelajahinya?" Loujze terlihat bertanya dengan ragu.


"Itulah tugas kalian sebagai seorang pemburu ditempat ini" saut Go dengan cepat.


"Sudah kuduga" Loujze kembali menekuk wajahnya.


Dan tak berapa lama setelah itu. Hanya dengan berbekal tongkat terlilit kain yang dilumuri lemak hewan. Mereka bertiga memasuki gua tersebut.


Udara dingin dan lembabnya segera terasa sejak pertama mereka menginjakan kaki kedalam.


Setelah sudah masuk cukup jauh, dan sudah mulai tak mendapat cahaya dari luar, Loujze mulai mengeluarkan batu apinya, dan membakar kain berlumur lemak hewan pada tongkat tadi.

__ADS_1


Tampak pula Deuxter mengetuk dinding gua tersebut dengan batu, dan mengamati suara gaung nya. Seperti sedang menilai.


"Kau dengar suara itu Loujze?" Tanya Deuxter masih dengan berkonsentrasi mendengarkan sesuatu.


"Kelelawar" ucap Loujze singkat.


"Sudah kuduga. Bau ini adalah bau kotoran kelelawar gua"


"Kau pikir apakah gua ini memiliki jalan keluar diujung sana?" Tanya Loujze yang memegang tongkat yang sekarang menjadi obor penerang.


"Entahlah? Kita baru akan mengetahuinya bila kita sudah masuk lebih dalam lagi" jawab Huebert yang berjalan tepat dibelakang Loujze.


Dan akhirnya mereka berhenti setelah menemukan sebuah percabangan. Memberi tanda, kemudian bergegas kembali. Karena menurut perkiraan mereka, hari sudah menjelang malam.


-


"Tidak dikira, ternyata gua itu sangat panjang dan kemudian bercabang. Setengah hari kami menjelajahinya, masih belum menemukan ujungnya" ucap Deuxter ditengah-tengah makan malam nya bersama yang lain.


"Apakah mrnurutmu ujungnya buntu, Dewey?" Tanya Go kepada Deuxter.


"Kemungkinan besar ada pintu keluar disisi lainnya. Mungkin saja menembus hingga ke wilayah sisi barat guning Sekai" kali ini Huebert yang menjawab.


"Kenapa kau bisa yakin, Huey?" Go bertanya lagi.


"Karena disamping udara tidak berkurang meski semakin dalam kami masuk, juga kami menemukan kelelawar yang tinggal didalamnya" Hueber menjelaskan. "Karena bila pintu gua tempat kita masuk itu, tadinya tertutup oleh rimbunnya tumbuhan. Lalu bagaimana kelelawar itu bisa masuk kedalam gua bila tidak ada pintu yang lainnya?"


"Benar juga" terlihat Go mengangguk paham.


"Jadi, besok kami akan melanjutkan penjelajahannya, setelah itu kami akan mulai mengambil jalur cabangan yang lain" ucap Loujze krmudian.


"Baiklah kalau begitu. Beristirahatlah kalian sekarang. Selamat tidur"

__ADS_1


"Selamat tidur, bi"


-


__ADS_2