
"Apa kau bilang? Ratu dan kedua anaknya berhasip kabur?" tanya seorang perempuan Narva mepada seorang pria Morra yang baru saja datang.
Perempuan Narva itu berpakaian layaknya seorang ksatria. Mengenakan baju tebal lengan panjang berwarna biru gelap dengan plat pelindung terpasang di dada, pundak, lengan, pinggang, dan kakinya. Rambutnya yang tidak terlalu panjang itu diikat ke belakang dengan gaya ekor kuda. Berwarna emas senada dengan warna tongkat yang dibawanya.
"Sepertinya penjaga keluarga kerajaan yang berada di istana berhasil melarikan mereka melalui salah satu dari jalan rahasia yang ada." Seorang pria Morra dengan pakaian yang serupa dengan perempuan Narva itu menjawab.
Hanya saja pria Morra itu mengenakan pelindung lebih tertutup dari biasanya. Tapi yang paling menarik perhatian adalah, pria itu menggunakan sebuah cadar berwarna biru gelap yang menutupi setengah wajahnya. Dari bawah mata sampai ke bagian dagu. Pria Morra itu juga membawa sebuah tongkat logam berwarna perak, yang ia letakan menyandar di tembok tak jauh dari tempatnya duduk.
Mereka berdua sedang duduk dalam salah satu ruangan di kediaman Sefier di luar kotaraja. Tepatnya di utara kotaraja, di wilayah bernama Novus.
"Dasar prajurit-prajurit tidak becus. Hanya melakukan tugas semudah itu saja tidak berhasil," terlihat perempuan Narva itu merubah posisi kakinya saat duduk dengan kasar. Yang menandakan ia sedang kesal. "Kalau begitu, kita harus segera melapor kepada Tuan Sefier," tambahnya kemudian.
"Kurasa Tuan Sefier tidak akan senang mendengar hal ini." Pria Morra tadi menjawab.
"Sudah pasti." Perempuan Narva itu mulai terlihat sedikit kuatir.
"Apa yang membuatmu sampai kesal seperti itu, Mirinda?" Tiba-tiba terdengar suara dari belakang perempuan Narva tadi.
"Oh, kau Magna. Aku ada berita buruk yang harus dilaporkan kepada Tuan Sefier," ucap perempuan bernama Mirinda itu setelah mendapati rekannya, Magna, sedang berdiri di depan pintu ruangan tersebut.
"Dan apa itu?" Terlihat Magna ikut kuatir setelah melihat wajah serta mendengar ucapan Mirinda tersebut.
"Menurut Narshe, sang Ratu dan kedua putranya berhasil kabur dari istana," jawab Mirinda kemudian.
"Apa? Benarkah itu, Nars?" Magna terlihat terkejut kemudian bertanya kepada si pria Morra bercadar tadi, untuk memastikan.
"Benar. Sekarang pasukan Voryn sedang melakukan pengejaran," jawab pria Morra bernama Narshe itu.
"Kurasa Tuan Sefier tak akan suka mendengar hal ini," ucap Magna menimpali.
"Ya, itu juga lah yang tadi ku katakan," sahut Mirinda menambahkan. "Ada dimana Tuan Sefier sekarang?" tanyanya kemudian.
"Di ruang kerjanya. Tapi kurasa kalian harus menunggu sebentar lagi. Tuan Sefier sedang mengadakan pertemuan dengan Sterne." Magna menjawab seraya duduk di kursi di sebelah Mirinda.
"Apa yang orang itu pikirkan hingga berani menemui Tuan Sefier secara langsung setelah penyerangan ke istana kerajaan, seperti sekarang ini?" Mirinda terlihat menggelengkan kepala tidak percaya.
"Sepertinya pria itu ingin memastikan keberpihakan Tuan Sefier," ucap Magna menjawab.
"Dengan datang langsung ke kediaman Tuan Sefier seperti ini?" Tampak Mirinda mulai sewot sendiri. "Apa orang itu tidak berpikir hal ini bisa menimbulkan kecurigaan keluarga lain, yang mungkin dapat membongkar kerjasama rahasia mereka?"
"Sepertinya memang itu tujuannya. Strene ingin membuat rumor dan memaksa Tuan Sefier untuk segera melakukan pengumuman keberpihakan beliau kepada Voryn dan Roxan," ucap Magna menjelaskan.
"Ck, dasar orang-orang bodoh itu," sahut Mirinda seraya menggelengkan kepala.
"Ya, orang-orang bodoh itu masih mengira mereka melakukan semua ini untuk kepentingan mereka masing-masing." Magna menambahidengan wajah yang terlihat prihatin.
.
Setelah tamu Sefier meninggalkan kediaman tersebut, segera Magna, Mirinda, dan Narshe menghadap Sefier ke ruang kerjanya. Tampak sudah ada Edea di dalam ruangan itu.
"Jadi apa yang hendak kalian laporkan?" tanya Sefier dari tempat duduk di balik meja kerjanya, saat Magna, Mirinda, dan Narshe sudah duduk di kursi di hadapannya.
"Maaf Tuan Sefier, namun kali ini kami membawa berita buruk untuk dilaporkan," ucap Mirinda segera setelah Sefier berhenti berbicara.
"Dan apa itu?" tanya Sefier lagi yang terdengar penasaran.
"Sang Ratu beserta kedua putranya berhasil kabur dari istana," ucap Mirinda dengan nada sedikit ragu.
Terlihat Sefier menutup matanya setelah mendengar ucapan Mirinda tersebut. Tampak mencoba menahan amarahnya, Sefier terlihat berusaha untuk mengatur nafas. Semua orang yang ada dalam ruangan itu hanya terdiam menunggu pria Seithr itu berucap.
"Memang kita tidak bisa berharap terlalu tinggi kepada prajurit bayaran dan pasukan rendahan untuk melakukan sebuah tugas," ucap Sefier setelah beberapa kali menghela dan menghembuskan nafas panjang. "Apa ada pengejaran?" tanyanya kemudian.
"Pasukan Voryn sedang melakukan pengejaran, Tuan Sefier," jawab Narshe dengan cepat.
"Pasukan mereka terkenal handal dalam mencari jejak. Mungkin saat kita sedang berbicara sekarang ini, pasukan itu sudah berhasil menangkap sabg Ratu dan kedua putranya." Terdengar Mirinda menambahi.
"Ya, tapi aku meragukan mereka akan menyerahkan sang Ratu kembali ke istana. Karena setelah berbicara dengan Strene tadi, sepertinya keluarga Voryn juga sedang menyiapkan rencana bila terjadi sesuatu setelah penyerangan ini," ucap Sefier menanggapi perkataan Mirinda tadi.
"Sesuatu? Maksud anda dengan keluarga Roxan?" Mirinda terlihat tidak yakin betul dengan maksud ucapan Sefier.
"Benar, dengan keluarga Roxan. Karena meski mereka berkoalisi, Strene dan Dreanor sama-sama orang yang berambisi. Dan juga sama-sama orang yang cukup cerdas," jawab Sefier menjelaskan maksud dari ucapannya sebelumnya. "Kita harus segera menyelesaikan kedua orang itu sebelum mereka menfurigai kita," imbuhnya kemudian.
"Kalau begitu saya akan mengirim orang untuk memata-matai keluarga Voryn." Segera Magna menyahut.
"Tapi bukan masalah besar bila memang sang Ratu ada di tangan Voryn. Kita bisa mengurusnya belakangan," jawab Sefier kemudian. "Yang jadi masalah adalah bila Sang Ratu berhasil menuju ke wilayah Tanah Mati," lanjutnya menambahi.
"Apa kita juga perlu mengadakan pengejaran terhadap sang Ratu, Tuan Sefier?" Kali ini Narshe yang bertanya mengajukan pendapatnya.
"Tidak perlu. Sekarang hal utama yang harus kita lakukan adalah memastikan semua rencana kita untuk melakukan serangan balik berjalan dengan lancar." Sefier menjawab.
"Tapi bagaimana bila putra pertama mencoba untuk mencari atau menyelamatkan sang Ratu?" Magna bertanya.
"Untuk masalah Grevier, biar aku yang urus. Ia sangat patuh mendengarkan nasehatku. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah membuat orang luar tidak tahu tentang sang Ratu yang melarikan diri," ucap Sefier kemudian. "Kabarkan pada Voryn dan Roxan untuk merahasiakan tentang pelarian sang Ratu tersebut," susulnya dengan perintah.
__ADS_1
"Siap, Tuan Sefier. Saya akan segera mengabari pihak Voryn dan Roxan mengenai hal ini," sahut Mirinda dengan segera.
"Baiklah kalau begitu, aku harus ke kota Metana sekarang. Aku harus segera memberi kabar tentang hal ini ke Grevier."
-
-
Dua hari kemudian di sebuah kediaman bangsawan di pinggiran kota Metana di timur kotaraja.
Tampak Sefier dan Edea berada dalam sebuah ruang kerja bersama dengan seorang pemuda Narva berambut pendek dengan tubuh atletis dan wajah yang menawan. Mereka tampak sedang berbicara mengenai hal yang sangat penting. Terlihat dari air muka mereka yang penuh kecemasan dan keseriusan.
"Saya turut berduka atas kehilangan anda, Tuan Grevier," ucap Sefier kepada pemuda Narva itu.
Pemuda yang dipanggil Grevier itu tampak menarik mundur kepalanya kebelakang. Tatapannya menerawang menembus langit-langit ruangan tersebut. Tubuhnya menyandar pada sandaran kursi, menindih jas kebangsawanan berwarna putih dengan motif emas yang tersampir di atasnya. Lalu kemudian terlihat menghela nafas panjang. "Apa ada kabar mengenai Alexander dan Eden?" tanyanya kemudian.
"Saya sudah mengerahkan semua pasukan untuk beradu cepat dengan pasukan Voryn dalam menemukan Yang Mulia Ratu, Tuan Alexander, dan juga Tuan Eden," jawab Sefier dengan sopan dan tenang.
Terlihat Grevier mengangguk kecil masih belum melepaskan tatapannya dari langit-langit ruangan tersebut. Kemudian terlihat ia menghembuskan nafas panjang lagi. "Dan apa kau sudah pastikan lagi bahwa Ayahanda benar-benar gugur dalam penyerangan itu?" tanya sekali lagi.
"Maaf, Tuan Grevier. Tapi sayangnya Narshe sudah memastikan jasad beliau, saat berada di istana kemarin," jawab Sefier masih dengan sopan.
Tampak Grevier menurunkan pandangannya, dan menatap ke arah meja di hadapannya seraya untuk ke sekian kalinya menghembuskan nafas panjang. "Mengapa Ayahanda tidak mau mendengarkan kata-kata ku? Padahal semua ini tidak perlu terjadi bila beliau mau mengerti pentingnya memperkuat posisi dan menyingkirkan keluarga-keluarga penganggu itu," ucapnya kemudian, bukan untuk siapa-siapa.
"Anda benar, Tuan Grevier. Namun sekarang kita sudah memiliki alasan untuk menyingkirkan kedua keluarga itu, beserta para kroninya," ucap Sefier menjawab. "Anda bisa membuat keluarga bangsawan yang lain sadar dan melihat anda sebagai seorang Elbrasta yang sesungguhnya," tambanya kemudian.
Tampak Grevier hanya terdiam. Terlihat seperti sedang berpikir dan sedikit bimbang.
Melihat Grevier yang seperti itu, Sefier pun kembali berbicara, "Lebih baik anda beristirahat terlebih dahulu. Saya tahu hal ini membuat Anda terkejut dan merasa sedih. Kita akan lanjutkan pertemuaan kita besok."
"Tidak perlu, Sefier. Aku tidak apa-apa," sahut Grevier tiba-tiba. "Aku tahu untuk mendapat sebuah kekuatan, aku harus melakukan pengorbanan. Dan ini adalah pengorbanan ku untuk menjadi pemimpin tunggal daratan Elder," lanjutnya kemudian.
Sefier terlihat tersenyum samar lalu mengangguk kecil. "Benar, Tuan Grevier. Perjalanan seorang Raja Tunggal memang tidak pernah mudah," ucapnya kemudian.
"Aku tahu," jawab Grevier cepat. Yang kemudian mulai kembali mengangkat pundak dan meluruskan punggungnya. "Lalu bagaimana persiapan untuk penyerangan balik ke kotaraja?" tanyanya kemudian.
"Mengenai hal tersebut, Anda tidak perlu kuatir, Tuan Grevier. Mirinda dan Narshe telah mempersiapkan semuanya. Mulai dari pasukan sampai senjata mistik." Sefier menjawab dengan sedikit terdengar bangga. "Kita hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk merebut kembali kotaraja tersebut," tutupnya kemudian.
"Baguslah. Aku sudah tidak sabar untuk menghancurkan semua keluarga bangsawan yang berkoalisi dengan keluarga Roxan dan Voryn sampai ke keluarga cabang mereka. Dan memastikan bahwa aku akan mendapat tahta Elbrasta secara penuh, tanpa harus menunggu masa percobaan konyol itu," ujar Grevier dengan nada sedikit geram
"Tenang saja, Tuan Grevier. Tahta dan seluruh kerajaan ini akan menjadi milik anda. Bukan... tapi seluruh daratan Elder akan menjadi milik anda untuk di perintah," ucap Sefier mencoba meyakinkan Grevier.
"Ngomong-ngomong, sepertinya rencanamu untuk wilayah Lucia tidak berjalan dengan baik, Sefier?" tanya Grevier kemudian mencoba beralih dari topik sebelumnya. "Wilayah itu sudah berhasil menaklukan Urbar dan Tanah Suci, bahkan sebelum aku sempat menduduki tahta," lanjutnya kemudian.
"Maaf, Tuan Grevier. Itu semua karena keteledoran saya memilih orang untuk melaksanakan tugas tersebut," ucap Sefier cepat seraya menunduk. "Tapi, Anda tidak perlu kuatir. Saya akan tetap membuat wilayah itu sibuk dan tidak akan mencampuri masalah Elbrasta sampai kita sendiri yang akan mulai berurusan dengan mereka," tambahnya kemudian seraya mengangkat kepalanya.
"Saya mengerti, Tuan Grevier. Mungkin sedikit terlambat, namun setelah mereka berhasil mengambil alih Tanah Suci, saya segera mengirim beberapa orang untuk menyelidiki tentang kedua pemuda itu," jawab Sefier dengan sopan dan penuh kerendahan hati.
"Lebih baik dari pada tidak bertindak," sahut Grevier seraya menghela nafas. "Lalu apa rencanamu untuk membuat mereka sibuk? Jelas kini mereka sudah tidak memiliki lawan lagi di dataran selatan," ucapnya kemudian.
"Memang benar. Bila dilihat dari segi kekuatan, tidak ada satu kerajaan pun yang dapat menandingi mereka saat ini. Tapi lain halnya bila lebih dari satu kerajaan." Sefier menjawab dengan senyum culas mulai terlihat mengembang di wajahnya.
"Apa kau yakin dapat menggerakan banyak kerajaan untuk menyerang wilayah itu?" Grevier terlihat memincingkan matanya menatap ke arah Sefier dengan curiga.
"Anda tidak perlu kuatir, Tuan Grevier. Pada dasarnya, seluruh kerajaan di daratan selatan sekarang ini takut terhadap wilayah tersebut," ucap Sefier mencoba untuk menjelaskan. "Dan ketakutan itu adalah sebuah alasan kuat untuk melakukan sebuah tidakan. Meski tindakan yang sangat agresif sekali pun," lanjutnya kemudian dengan penuh percaya diri.
Grevier hanya diam seraya memperhatikan raut wajah Sefier cukup lama sebelum mulai berucap. "Baiklah. Aku tidak akan kuatir, namun kali ini rencanamu harus berhasil.
"Tentu saja, Tuan Grevier. Kali ini saya sendiri yang akan turun tangan. Saya berani menjamin bahwa mereka tidak akan melakukan apapun terhadap kerajaan ini, sampai Anda benar-benar melenyapkan semua penghalang, dan memegang kekuasaan secara penuh," jawab Sefier masih penuh dengan rasa percaya diri.
"Kalau begitu segera laksanakan," perintah Grevier kemudian.
Yang. segera dijawab oleh Sefier, dengan ucapan tegas, "Siap, Tuan."
.
"Segera hubungi Astos. Minta untuk mengirim surat kepada Tyrion. Katakan bahwa pasukannya sudah siap," ucap Sefier kepada Edea, saat mereka sedang berjalan di koridor hendak menuju ke pintu keluar kediaman Grevier.
"Baik, Tuan Sefier." Edea menjawab pendek seraya tetap berjalan di belakang Sefier.
"Dan minta Mirinda untuk memastikan bahwa para Lycan dan Mugger sudah siap. Mereka akan di kirim ke selatan," ucap Sefier lagi tanpa menatap ke belakang. Ke arah Edea berada.
"Baik, Tuan Sefier. Saya akan segera mengabari Mirinda." Sekali lagi, Edea hanya menjawab pendek dari belakang Sefier.
-
-
Tiga hari kemudian, di kediaman Harley, saudara Tyrion di utara kota Herico. Seorang kurir datang menghantarkan sebuah surat kepada Tyrion.
Tampak surat resmi dari orang penting. Karena terlihat lilin bersegel terpasang di bagian luar amplopnya. Bergambar burung elang mencengkeram anak panah. Lambang dari keluarga Cedona. Dan seketika Tyrion tahu, surat itu dari Astos. Seorang bangsawan Elbrasta yang juga teman akrabnya.
Dengan terburu Tyrion membuka surat tersebut, saat ia sudah kembali berada dalam kamarnya yang dalam kondisi terkunci rapat.
__ADS_1
"Akhirnya... tiba juga saatnya untuk ku melakukan balas dendam," ucap Tyrion dengan senyum mengembang, setelab ia selesai membaca surat tersebut. "Sudah saatnya...."
Setelah Tyrion bebar-benar selesai membaca surat tersebut, segera ia menulis banyak surat dan kemudian mengirimkannya ke beberapa orang.
-
"Jadi paman akan segera meninggalkan tempat ini? Hendak kemana paman akan pergi?" tanya Harley, keponakan sepupu Tyrion saat mereka sedang makan malam bersama, sehari setelah Tyrion menerima surat tersebut.
"Kau tidak perlu kuatir, Harley. Aku akan kembali menuju ke selatan." Tyrion menjawab setelah selesai meneguk minuman dalam gelas di tangannya.
"Ke selatan? Tapi suasana di wilayah itu masih cukup rumit, hukan? Kudengar Raja Urbar baru saja menerima hukuman mati. Apa tidak apa-apa paman kembali kesana sekarang?" Tampak pria Narva dengan potongan rambut belah tengah yang ditata rapi kebelakang itu, benar-benar kuatir terhadap keselamatan pamannya.
"Jangan kuatir, Harley. Aku sudah menghubungi anak buahku untuk menyiapkan segala sesuatunya. Lagi pula aku akan menuju ke wilayah Joren," jawab Tyrion mencoba menenangkan keponakan sepupunya itu. "Banyak orang-orang Urbar yang melarikan diri dan diterima oleh kerajaan itu," lanjutnya kemudian.
"Begitukah? Baiklah bila paman berkehendak demikian." Harley tidak berencana untuk menahan Tyrion lagi.
"Kau tidak perlu kuatir. Aku dapat menjaga diriku sendiri," balas Tyrion cepat.
"Baiklah. Bila paman membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi ku. Aku akan membantu sebisa ku," ucap Harley kemudian.
"Kau tenang saja. Aku pasti akan menghubungimu bila aku membutuhkan bantuan," jawab Tyrion dengan senyum lebar.
-
Sehari kemudian Tyrion mulai terlihat bersiap-siap. Dan tepat sehari setelahnya, ia meninggalkan kediaman Harley untuk menuju ke kota dermaga Saziba yang kemudian melakukan penyeberangan menuju daratan selatan.
Perjalanan Tyrion memakan waktu hampir lima hari lima malam, untuk tiba di pelabuhan kota Dang, kota dermaga kerajaan Joren.
Tampak sudah ada beberapa orang yang menunggu dan menjemputnya begitu ia turun dari kapal.
"Syukurlah, Anda baik-baik saja, Tuan Tyrion," sapa seorang pemuda Narva berbadan atletis, salah satu dari dua orang yang menunggu untuk menjemput Tyrion.
"Bagaimana kabar mu, Xig?" Terlihat Tyrion menyapa balik anak buah kesayangannya itu dengan senyuman yang mengembang lebar.
"Saya benar-benar senang kita bisa bertemu lagi, Tuan," ucap Xiggaz yang terlihat lega dan gembira. "Oh, maafkan saya tidak membalas pertanyaan Anda. Kabar saya baik-baik saja, Tuan Tyrion," tambahnya kemudian.
"Baguslah bila memang kau baik-baik saja. Aku juga senang bisa bertemu dengan mu lagi, Xig," ucap Tyrion seraya menepuk kecil pundak kanan Xiggaz.
.
"Saya sangat terkejut dan benar-benar lega saat menerima surat dari Anda, beberapa hari yang lalu," ucap Xiggaz kemudian, saat mereka sudah berada di dalam kereta kuda.
Mereka berencana akan langsung menuju ke kota Gan, kota perbatasan kerajaan Joren dengan kerajaan Durahan. Yang berjarak dua hari perjalanan dari kota Dermaga Saziba.
"Jadi di mana selama ini Anda berada, Tuan Tyrion?" tanya Xiggaz lagi yang tampak bersemangat dan penasaran.
"Aku bersembunyi di wilayah utara dengan sangat hati-hati agar tidak diketemukan. Kau tidak perlu kuatir akan hal tersebut, Xig," jawab Tyrion dengan senyuman mencoba menenangkan Xiggaz. "Ngomong-ngomong, berada di mana yang lain sekarang, Xig? Coba ceritakan padaku," tambahnya dengan pertanyaan.
"Sebagian orang melarikan diri ke kerajaan Joren ini, dan juga ke kerajaan Augra. Mereka meminta perlindungan kepada saudara atau kenalan mereka di wilayah kerajaan-kerajaan tersebut," jawab Xiggaz bercerita. "Sedang Joan dan beberapa teman kita yang lain masih berada di kota Guam," lanjutnya kemudian.
"Joan tertangkap oleh mereka?" tanya Tyrion yang terlihat penasaran.
"Bukan tertangkap juga sebenarnya," ucap Xiggaz dengan nada ragu. "Mungkin ini akan terdengar aneh, Tuan. Tapi pihak Tanah Mati itu mempekerjakan orang-orang yang mau bekerja untuk mereka. Tidak pandang dia lawan atau kawan. Rakyat biasa atau keluarga bangsawan," tambahnya lagi.
"Apa mereka tidak takut di khianati, bila memperkerjakan bekas lawannya?" Tyrion terlihat tak habis pikir mengetahui hal tersebut.
"Saya tidak tahu jalan pikiran dan rencana mereka, Tuan. Bahkan meniadakan status bangsawan itu saja sudah sesuatu yang tidak masuk akal," sahut Xiggaz menimpali.
"Mereka memang wilayah yang ganjil," ujar Tyrion setelah tampak ia sudah menyerah untuk memikirkan alasan dari kelutusan aneh wilayah Tanah Mati itu. "Lalu, apa Joan sekarang bekerja untuk mereka?" tanyanya kemudian.
"Tidak, Tuan Tyrion. Joan hanya mengurus panti asuhan di kota Guam tersebut. Dia masih akan dengan segera menjawab panggilan kita," jawab Xiggaz mencoba menjelaskan kepada Tyrion.
"Ya, aku percaya Joan tidak akan berpaling menghkianati kita." Tyrion menjawab dengan wajah penuh keyakinan. Yang diikuti anggukan kepala kecil oleh Xiggaz. Tanda ia juga setuku dengan perkataan Tyrion.
.
"Lalu apa yang yang kali ini sedang Anda rencanakan, Tuan Tyrion? Sampai Anda harus kembali lagi ke daratan selatan ini lagi?" tanya Xiggaz saat mereka sedang beristirahat dan makan malam di tengah sabana luas di antara kota Saziba dan kota Gan. Mereka juga berencana akan menginap di tempat itu sekalian. Dan kembali meneruskan perjalanan esok paginya.
"Sudah jelas untuk menuntut balas, Xig. Aku tidak akan berhenti sampai bisa menjatuhkan orang-orang itu," jawab Tyrion setelah ia selesai dengan gigitan terakhir dari daging domba panggang yang mereka bawa dari kota Saziba sebelumnya.
"Tapi, bukankah sekarang mereka sudah terlalu kuat untuk bisa kita hadapi, Tuan?" Xiggaz mencoba mengungatkan Tyrion akan hal tersebut.
"Ya, aku tahu itu, Xig. Maka dari itu kita juga akan mulai mengumpulkan kekuatan untuk menjatuhkan mereka," ujar Tyrion membalas.
"Mengumpulkan kekuatan? Maksud Anda meminta bantuan kepada kerajaan-kerajaan daratan selatan yang lain?" Tampak Xiggaz masih terlihat tidak sepenuhnya yakin rencana Tyrion itu akan berhasil.
"Benar sekali. Karena sudah jelas bahwa wilayah itu akan jadi sebuah ancaman bila kita tidak segera menjatuhkannya. Harusnya kerajaan-kerajaan yang lain juga menyadari hal tersebut. Dan saat ini masih belum terlambat bagi kerajaan-kerajaan lain untuk bersatu menjatuhkan wilayah Tanah Mati itu," ucap Tyrion terlihat antusias dalam menjelaskan rencananya.
"Jadi karena hal itu Anda mengumpulkan sisa dari para Panglima Besar?" Xiggaz bertanya lagi. Tampak ia sedang mencoba memahami apa yang sedang dipikirkan oleh Tuannya, Tyrion.
"Benar," jawab Tyrion cepat.
"Saya minta maaf sebelumnya, tapi apakah para Panglima Besar itu mau mendengarkan Anda, setelah melihat reputasi Anda sebelumnya, Tuan Tyrion?" Xiggaz memberanikan diri bertanya untuk mengingatkan Tyrion.
__ADS_1
"Untuk yang kali ini, aku sudah memiliki caranya," jawab Tyrion kemudian dengan senyum yang lebih seperti sebuah seringai terpasang di wajahnya.
-